10 years before.
Nico.
Aku sampai di tempat yang disebut-sebut sama artis sekolahan ini. Dia bilang makanan di sini paling enak di dunia. Boleh aku tandingi sama punya Mama di rumah nggak?
Sejauh ini, koki hebat yang pernah ada di sejarah kamusku hanyalah Mama, dan Oma. Mereka pembuat makanan paling enak, dan apapun yang mereka buat, pasti akan aku makan.
Tempatnya benar-benar kecil. Imut sekali. Aku heran, kenapa ada orang yang mau membuka kafe kecil-kecilan begini di dalam gang?
Sebenarnya... di bilang kecil, juga tidak terlalu kecil, tapi untuk ukuran kafe, ini kecil sekali maksudku.
"Hai, Ramsey!" Seru Si Artis. "Aku bawa temanku hari ini. Apa kau punya menu yang menarik?"
"Tentu, Sunshine," kata Ramsey, "Aku punya pasta yang pastinya kau sukai. Apa temanmu suka pasta?"
Artis itu menoleh padaku, sehingga aku mengangguk. Jujur, sebenarnya aku tidak suka pasta. Aku lebih menyukai makanan Indonesia, dengan berbagai bumbu pedas yang nikmat, ketimbang makanan yang menggunakan oregano, keju-kejuan dan aneka bumbu hambar lainnya.
"Baiklah. Aku akan buatkan dua untuk kalian. Oh ya, apa ada yang lain lagi, Cia?" Tanya lelaki yang memakai celemek hitam dengan tulisan 'Mr. Mustache.'
"Hm... aku mau minuman dan makanan lainnya yang seperti biasanya. Aku sangat lapar," kata Si Artis dengan wajah yang menggemaskan. Tunggu, maksudnya menggemaskan itu seperti anjing yang memelas. Katakanlah aku jahat mengatai anak ini seperti anjing, tapi memang begitu kenyataannya.
"Duduk di situ yuk?" Ajaknya.
Aku mengekor, duduk di hadapannya, karena meja itu diperuntukkan hanya untuk dua orang dan posisinya berhadapan.
"Eh, gue manggil lo apa nih enaknya?"
"Nico aja."
"Oh oke. Kalo gitu, lo boleh panggil gue Cia aja, yang lain juga manggil gue begitu kok," balasnya.
Mataku tiba-tiba tertuju kepada alisnya yang indah dan tebal. Kalau aku perhatikan, jelas saja Firman minta putus sama Sinta. Yang dia taksir memang cantik secara fisik.
Aku memang tidak suka dengan artis-artis dan gosip mengenai mereka. Tapi aku juga cowok, yang tahu mana cewek cantik, dan jelek yang mutlak. Kalau kasusnya Cia ini, jelas dia cantik. Boleh aku bilang kalau punya wajah yang mirip seperti model Asia favoritku, Georgina Wilson.
Dengan bentuk wajah tirus, mata indah, bibir penuh dan hidung yang mancung. Aku tak tahu apa yang di makannya, tapi dia sangat cantik.
"Lo suka pasta ya? Pasta di sini enak banget lho, Nic."
"Sebenernya gue nggak terlalu suka pasta. Karena rasanya aneh."
Cia mengerucutkan bibirnya, "Oh? Gitu. Tapi gue bisa jamin kalau lo bakalan suka sama makanan di sini. Gue aja nggak bisa berhenti makan kalau udah masuk ke dalam sini."
"Kenapa kafe ini kecil kalau memang makanannya enak?" Tanyaku.
"Karena Ramsey—yang tadi itu—tidak mau membukanya untuk umum. Dia hanya mau orang-orang yang mengenalnya saja yang bisa merasakan makanannya," jelasnya, "Soalnya, dia juga capek. Lo percaya nggak kalau gue bilang Ramsey itu arsitek?"
"Nggak."
"Udah gue tebak!" Balasnya. Senyum lebar merekah itu menghiasi wajahnya. "Nyatanya dia memang arsitek. Kafe baru dibuka setelah dia pulang kerja. Jadi, ya... makanya dia nggak mau kafe ini terlalu ramai. Siapapun yang ke sini, pastinya harus punya janji dulu sama Ramsey."
"Agak aneh ya?" Tanyaku.
"Kafe ini cuma buat hobi Ramsey doang. Bukan untuk benar-benar cari uang."
Aku pun menutup mulutku saat Ramsey kembali dengan sebuah nampan yang penuh dengan berbagai makanan.
"Ini zuppa soup, double oreo cream shake, dan tenderloin blackpepper sauce steak untuk Cia."
Aku melengos. Ini makanan artis? Makanan model? Kok banyak amat!? Nih orang nggak salah nganter pesanan?
"Sepertinya temanmu belum tahu porsi makanmu ya, Cia?" Tanya Ramsey sambil menyunggingkan senyumnya, "Siapa namamu?"
"Nico, Om."
Ramsey tertawa, "Cukup Ramsey, jangan panggil aku Om. Aku bisa tebak kalau kau adalah teman barunya Cia, karena kau kaget melihat porsi makanan Cia yang luar biasa banyak itu kan?"
Aku mengangguk.
"Cia akan selalu ke sini hanya untuk makan. Dia kemari untuk bisa bebas makan sepuasnya tanpa ada orang yang mengomentarinya. Jadi, jangan komentari dia saat makan."
Aku mengangguk lagi. Okelah, aku diam saja ya selama dia makan. Sampai akhirnya, Ramsey mengantar pasta yang tadi aku pesan. Pasta dengan potongan daging has dalam dan bumbu lada hitam. Wow, ternyata pasta di buat versi orientalnya juga bisa ya?
Dan, aku akui, perkataan Cia tadi ada benarnya. Makanan di sini memang enak, walaupun aku tidak menyukainya jika di masak oleh Mama atau Oma.
"Gimana? Enakkan?"
"Lumayan," balasku. "Lo sering ke sini? Sendirian?"
"Biasanya sama Sammy."
"Sammy? Pacar lo?"
Cia menggeleng cepat. "Sammy itu adiknya Ramsey, dia itu manajer, asisten serbaguna. Biasanya gue ke sini sama dia. Tapi hari ini, Sammy nggak bisa nemenin gue makan. Jadi, gue minta lo nemenin gue deh."
"Maksudnya, lo nggak sepenuhnya mau bilang makasih karena gue nolongin lo tadi?"
"Ya kalau nggak ada yang nemenin, gue juga nggak bakal mau makan. Makanya, gue ngajak lo," balasnya, "Lagian rumah kita sebrangan. Jadi kita bisa pulang bareng."
Oh iya. Dia tetangga sebrang rumahku. Bukannya aku tidak tahu, tapi aku tidak terlalu memerhatikan lingkungan di sekitarku. Itu sebabnya aku tidak tahu kalau anak ini adalah tetanggaku.
Yang membuatku menggelengkan kepalaku adalah saat Cia berhasil menghabiskan semua makanan yang sudah dipesannya tadi. Tanpa sisa sedikitpun.
"Hai Cia!" Seru seorang lelaki lain yang memakai baju khas gaya preppy yang menarik. Maksudnya, menarik perhatian. "Ci, siapa nih?"
"Nah, kenalin ya. Sam, ini Nico dan, Nic, ini Sammy, Si Asisten serbaguna nan multitalenta yang tadi gue bilang," jawab Cia dengan sesingkatnya.
"Cakep juga. Jadi, aku tidak menemanimu makan sehari, sekarang kau sudah punya teman makan yan baru ya?"
"Ceritanya panjang, Sam."
Dari hari inilah aku mulai tahu tentang siapa Cia. Dia memang artis dan model yang seringkali muncul di TV maupun majalah. Tapi tidak ada yang tahu kalau Cia harus menjaga cara makannya jika dia sedang berada di hadapan banyak orang. Bahkan di rumahnya sendiri, dia harus memakan makanan yang hanya disediakan untuknya, untuk menjaga badannya agar tetap terlihat bagus.
Di luar itu semua, Cia tetaplah seorang anak SMP kelas dua, yang sedang senang-senangnya makan.
Dia jarang bertemu dengan Bundanya, karena harus bekerja. Baik ibunya yang bekerja di rumah sakit, atau Cia yang harus kerja untuk syuting malam. Ayahnya meninggal saat bertugas, sebagai Kopassus. Makanya, Cia bilang dia tidak mau punya pacar tentara.
Dia punya dua orang adik, yaitu Eric, yang juga teman main basketku sejak SD. Eric punya postur tubuh yang bagus dan potensi yang sangat baik untuk menjadi atlet basket kelak. Sementara Ashley, adik keduanya itu tidak secantik Cia, tapi dis memiliki bakat untuk memasak. Hobinya juga memang makan.
Sammy mengantar aku dan Cia sampai di rumah. Dia tak lupa memperingati Cia untuk menjaga badannya karena lusa nanti Cia harus foto untuk katalog baju.
"Iya Bawel! Dadah, Sammy!!!"
Terlepas dari semuanya, Cia masih memakai seragam SMP. Dengan segudang keberhasilannya sebagai model, dia bukanlah anak yang bisa di golongkan populer di sekolah, karena temannya hanya Tamara.
"Nico," panggilnya sebelum aku masuk ke dalam gerbang rumahku. "Nic, makasih ya buat nemenin gue makan hari ini. Makasihhhhh banget!"
"Jangan lebay. Gue cuma nemenin lo buat kali ini aja. Dan kebetulan juga tadi gue laper, makanya gue mau."
Seketika, Cia langsung memasang puppy eyesnya yang membuat hatiku luluh karena melihatnya memohon, "Nic boleh nggak lo jadi temen gue?"
"Kita emang harus berteman dengan siapapun kan?"
"Maksudnya, gue pengen lo nemenin gue makan. Kapanpun itu. Boleh nggak?" Tanyanya, "Hanya teman makan. Gue sama sekali nggak mau buat makan sendirian. Makanya, mau ya? Mau ya jadi temen gue buat makan?"
"Apa gue juga harus dengerin curhatan dan ocehan lo juga selama gue nemenin lo makan itu?" Tanyaku. Aku tidak suka dengan cewek yang cerewet, tapi tadi, selama makan, aku sama sekali tidaj merasa risih karena ocehannya yang tidak berhenti.
"Iya. Tapi, kalau lo nggak mau denger, lo boleh diem aja kok.."
"Ya udah."
"Apa?"
"Gue bilang, ya udah. Ya udah, gue jadi temen makan lo."
Wajahnya langsung ceria saat aku bilang begitu. Jujur saja, dia memang cantik, dan aku memang tidak keberatan dengan hal teman makan ini.
Aku pun hanya menganggapnya sebagai sahabat, dan tak ada pikiran di dalam benakku untuk beranjak dari zona sahabat yang aku miliki dengannya seperti saat ini. Hanya itu yang kupikirkan