24

1501 Words

Satu bulan selang kepergian Uti, aku sudah bisa membiasakan diri, namun untuk berinteraksi dengan Om Ardi dan Tante Ema rasanya masih sulit, meskipun Tante sudah meminta maaf namun aku masih enggan untuk kembali akrab dengannya. Pekerjaan Mas Dhimas di kantor barunya pun diberi kelancaran. Hanya saja saat ini aku sedang berusaha untuk tidak stress dan memikirkan kapan aku akan hamil, Mas Dhimas selalu mengingatkan ku untuk selalu rileks dan santai saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari beberapa orang, toh, kami juga belum ada satu tahun menikah. Mungkin sisi positifnya memang Allah ingin memberikan waktu untuk aku dan Mas Dhimas berdua lebih dulu. "Mau makan siang di luar, Mbak Anin?" Sapa Mas Tian rekan kerja ku yang juga akan keluar kantor "Eh iya Mas, Mas Tian juga? Tumben sendir

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD