Usia kandungan ku kini sudah memasuki tiga puluh minggu, seminggu setelah acara tujuh bulanan ku aku diminta ibu mertua untuk cuti, namun aku belum juga mengabulkan aku lebih memilih cuti ku mepet di hari menjelang kelahiran dan lebih lama di rumah setelah melahirkan nanti bersama baby. Untuk liburan bersama keluarga Ibu mertua, Mas Dhimas benar-benar melarangku untuk ikut. Padahal waktu kami periksa bulan ini Dokter mengatakan aku dan baby baik-baik saja apabila diajak bepergian jauh, yang penting aku dalam kondisi selalu nyaman dan tenang. Namun karena si calon Bapak posesif akhirnya Ibu mertua ku pun membatalkan liburan keluarga kami, dan diganti dengan perayaan malam tahun baru nanti bersama keluarga. "Yang, bosen." "Terus?" Tanya Mas dhimas masih belum mengalihkan pandangannya dari

