2

1475 Words
Weekend! Akhirnya weekend ini aku bisa pulang, setelah sebulan terakhir ini aku tidak pulang karena banyaknya pekerjaan dan acara kantor yang tidak bisa untuk aku tinggalkan. Pukul tujuh aku meninggalkan kos dan berencana mau sarapan dulu mampir ke tempat sarapan favoritku Mas Yudhis calling "Hallo, gimana Mas?" "Selamat pagi, aku kira udah berangkat." Sapa Mas Yudhis dengan suara serak, pasti baru bangun dia kebiasaan kalau libur kerja bangunnya siang "Udah kok, tapi mampir sarapan dulu. Baru bangun ya?" "Huum, baru bangun terus telepon kamu. Sarapan dimana? Tempat biasa?" "Kok tau? Kamu ngikutin aku ya?" "Iyaa, dimana pun ada kamu disitu pasti ada hati ku akan selalu bersama mu.." "Bangun pak, bangun. Gombal mulu deh, bangun tidur tuh gosok gigi, cuci muka, atau mandi sekalian." "Iya Ibu Anin yang tercantik, nanti aku mandi. Kamu beneran nggak mau aku antar pulang? Kalau kamu berubah pikiran aku siap-siap sekarang." "Nggak perlu Mas, aku kan udah biasa pulang sendiri. Gaya banget padahal kamu lagi di rumah Ponorogo." "Hehe... Ya kan bisa aku kebut kalau kamu mau aku antar." "Nggak, nggak usah. Nikmatin aja hari liburanmu, aku tutup ya. Selamat pagi, Mas." "Selamat pagi juga, hati hati ya, Sayang. Kalau ada apa-apa kabarin aku." Tut "Sayang?" Gumam ku -°-°-°-°-° Aku berbaring di ranjang kamar ku yang masih tetap rapi walaupun tidak selalu aku tempati, tapi Ibu maupun Aqila selalu membersihkan kamar ku. Biasanya hari Sabtu seperti ini Ibu libur kerja, berhubung tadi ada acara Ayah dan Ibu tidak ada dirumah, hanya ada Mbah Yi dan Aqila yang masih tidur di kamarnya. "Kak, nggak makan dulu? Sotonya udah Mbah Yi hangatkan, katanya Ibu kemarin udah ngiler kepengen makan soto." Kata Mbah Yi masuk kamar ku dan bergabung duduk di ranjang ku "Nanti aja Yi, masih pengen rebahan dulu, duh panas banget padahal baru jam segini." "Lha tadi istirahat dulu nggak? Mampir dimana?" "Ya nggak Yi, tadi dari kos mampir beli sarapan dulu, jalan terus sampai rumah nggak mampir-mampir." "Ya kalau capek itu istirahat Nduk, mesti tadi balap-balapan yo kalau nyetir ?" Tanya Mbah Yi membuat ku tertawa, beliau sejak dulu selalu seperti ini, ya maklum orang tua setiap diboncengin naik motor selalu khawatir kalau diajak ngebut dikit "Hehe ya kalau nggak balap-balapan ya nggak bakal sampai rumah, Yi. Yang penting kan kakak udah sampai rumah selamat Yi, kakak juga tau kok harus hati-hati." "Ya sudah, ya syukur sudah sampai rumah. Ya perlu itu, pokok setiap mau melakukan sesuatu segala apa pun itu kamu perlu hati - hati, termasuk kalau kenalan sama cowok, harus benar benar hati - hati biar tidak ditinggalkan, apa lagi di umur kamu sekarang kak, udah saatnya berkeluarga, dulu saja ibu mu diumur kamu yang sekarang punya kamu lho, ya gapopo wong ya sekarang jamannya udah beda, tapi jangan kelamaan ya Nduk, biar Mbah Yi bisa ngrasain gendong cucu buyut dari kamu." Kata Mbah Yi sambil memegang kedua tangan ku dan membuat ku sedikit sedih, tidak ku sadari bertambahnya hari beliau bertambah tua, begitu pula orang tua ku, dan sampai saat ini aku belum bisa memberi sesuatu yang mereka inginkan. "Inggih, Mbah Yi. Doakan saja, kakak diberikan yang terbaik untuk kakak. Begitu juga, Mbah Yi harus sehat selalu jangan banyak pikiran, biar diberi umur panjang, terus bisa gendong cucu buyutnya Mbah Yi nanti. Udah ah, jangan sedih-sedih Yi, mending Mbah Yi temani kakak makan, udah lapar lagi nih." Kata ku sembari mengelus perut ku menandakan kalau aku lapar, Mbah Yi pun terkekeh melihat ku dan kami beranjak untuk menemani ku ke ruang makan. -°-°-°- "Lho, udah sampai rumah anaknya Ayah. Kapan sampainya Kak? Kok nggak telepon tadi?" Sapa Ayah melihat ku berbaringan di kasur depan televisi bersama Aqila, Adek perempuan ku yang sudah bangun dari jiwa jiwa magernya "Udah dari tadi, udah habisin sotonya Mbah Yi juga, hehe.. lagian Ayah sama Ibu kan di nikahan pasti juga ramai disana." Jawab ku lalu mencium tangan Ayah ku yang telah keriput, dan beliau pun ikut berbaring disamping ku "Iyaa, kapan ya gantian anak Ayah yang menikah." Goda Ayah "Kalau nggak Sabtu ya Minggu, Yah." Jawab ku lalu memeluk Ayah dari samping, kalau lagi hangat gini suka banget nempel sama Ayah, tapi kalau Ayah sudah keluar galaknya jangan kan bicara, natap mata aja nggak berani "Lho beneran lho ya? Ayah tunggu." "Doa kan saja Yah." "Kalau itu sudah pasti, Ayah pasti doakan. Udah ke rumah Mbah uti?" Tanya Ayah, Mbah Uti panggilan ku ke nenek dari Ayah ku, sedangkan kalau Mbah Yi dari Ibu ku, Mbah Uti tinggal di rumahnya bersama keluarga Om Ardi adik bungsu Ayah. "Nanti sore siangan aja Yah, sekalian mau keluar sama Adek." "Eh, mau kemanaa?" "Mau minta traktiran kakak dong Yah, salah siapa lupa bawa pulang tas yang Adek titipin." "Ya namanya lupa Dek, besok deh kalau balik kakak paketin tasnya." Jawab ku ke Aqila yang sejak tadi ngambek gara gara aku lupa bawa tas titipannya yang sudah lama dia inginkan "Beneran ya? Tapi gantinya tetap harus traktir aku, lah." "Iyaa-iyaa. Bawel banget sih." "Nanti Ayah kasih uang jajan buat berdua, jangan pakai uang kakak, uang kakak biar ditabung aja." "Eh beneran Yah? Hehe makasih Yah, uang ku aman dong." "Yahhh sama aja dong, padahal aku pengen nguras dompet kakak." Gerutu Aqila membuat aku dan Ayah terkekeh. -°-°-°- "Lho, kakak pulang?" Sapa Tante Ema, istri Om Ardi melihat ku dengan Aqila memasuki halaman rumah "Hehe iyaa te, udah kangen rumah, sebulan lebih nggak pulang." Memang biasannya aku sebulan sekali atau tiga minggu sekali menyempatkan diri untuk pulang, toh rumah ku dengan Madiun sekitar satu sampai dua setengah jam bila ditempuh dengan motor, jadi tidak terlalu jauh dan sulit untuk aku pulang sendiri. "Iyaa, baru aja kemarin Mbah Uti bilang, kakak kok nggak ada pulang, apa nggak kangen rumah. Ya udah sana masuk, Mbah Uti habis makan tadi." Kata Tante lalu aku dan Aqila masuk rumah dan menemui Mbah Yi. -°-°-°- Setelah menjenguk Mbah Uti, aku dan Aqila pergi untuk menuruti keinginan Adek manja ku. Meskipun jarak kita terpaut jauh, namun karena perawakan Aqila yang tinggi membuat kami terlihat seperti teman sebaya. "Kakak mau yang apa?" "Aku coffe latte aja." "Oke, coffe latte satu sama matcha satu, Mas." Ulang Aqila pada Mas barista "Do, Americano dua." Sela Mas Mas dari samping ku ke cowok yang tertera nama Edo di apron baristanya "Eh iya Mas, hot kan?" "Iya." Balasnya lalu menaiki tangga. Dingin, sombong. Batin ku "Ayok, kak." Ajak Aqila menyadarkan ku "Eh, iya. Duduk di sana aja ya, Dek?" Tunjuk ku di tempat duduk dekat pintu keluar, yang terlihat lebih sepi "Oke." "Kakak, lagi ada masalah ya?" Tanya Aqila setelah kita duduk di tempat yang aku tunjuk tadi Aku terkekeh mendengar pertanyaannya dengan raut wajah khawatirnya "Kelihatan kakak ada masalah?" "Dari tadi diam terus." "Kadang kakak tuh bingung Dek, kamu itu umurnya berapa sih? Bener emang jarak kita terpaut sepuluh tahun?" "Ih kakak, emang aku kelihatan tua banget gitu? Anak kecil umur lima tahun pun juga paham kak, kalau lihat raut wajah kakak kayak gitu pasti juga akan tanya kenapa? Nggak Kakak banget tau." "Gapapa, kakak cuma mikir sesuatu aja. Nggak penting kok, yang kamu pikirkan sekarang kudu rajin sekolah sama jangan kebanyakan jajan aja, bisa tekor Kakak nanti kalau kamu minta tambahan uang jajan terus." "Tuh kan, malah gantian aku yang diomelin, ya asal kakak tau ya, Adek kakak ini juga udah bisa diajak curhatan, ya walaupun nggak bisa kasih solusi setidaknya aku bisa jadi pendengar yang baik, dan nggak ada salahnya kakak itu terbuka sama orang, jangan dipendam sendiri kak kalau ada masalah, aku akuin kakak itu selalu jadi pendengar yang baik buat semua orang termasuk Ayah dan Ibu, tapi ada kalanya kakak juga butuh pendengar yang baik. Dan jangan sampai kakak salah pilih orang untuk kakak jadikan pendengar cerita dan keluh kesah kakak, tidak semua orang bisa mendengarkan cerita kakak. Itu tergantung kepercayaan kakak pada orang tersebut." Prok Prok Prok Tepuk tangan ku pelan dan tersenyum bangga menatap Adek ku. "Duhh, terharu banget sih. Adek aku udah dewasa gini. Sini peluk peluk." "Ih apaan sih kak, lebay banget. Eh by the way, kakak masih sama Mas Yudhis itu?" "Hmm, kenapa emang?" "Sampai mana hubungan kalian? Eh bukan nya apa-apa lho aku nanya gini, karena tiap hari yang dibicarakan Ayah sama Ibu itu angan-angan kepengen punya mantu dalam waktu dekat, kayaknya mereka udah ngebet banget kak, dan padahal aku tahu Kakak belum ada kejelasan sama Mas Yudhis." Ini Dek, ini memang yang sedang kakak pikirkan sampai saat ini. Kakak takut kalau Ayah dan Ibu kecewa suatu hari nanti. "Doa kan aja ya, doa kan jodoh kakak datang dalam waktu dekat." Jawab ku dan Aqila mengangguk paham. "Anin?" Sapa seseorang lelaki dari tangga dan menghampiri ku "Ehh, Ham-mas?" "Hallo Nin, apa kabar? Lama banget ya kita nggak ketemu?"                                                                             _*_*_*_*_*_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD