1

1402 Words
Hidup di kota orang memang tidak mudah, bukan karena tidak bisa beradaptasi, namun kerinduan akan suasana rumah menjadi penghalang besar untuk aku menetap di kota orang, ya walaupun sudah hampir enam tahun lebih aku tinggal di kota kecil nan sering disebut dengan kota gadis ini, namun sering kali aku merasakan homesick entah rindu akan masakan Ibu dan Mbah yi, berbincang dengan Bapak sambil menanam bunga, atau bertengkar dengan Aqila, Adek perempuan ku yang terpaut sepuluh tahun dengan ku. Tring Ibu ku :  Lagi sibuk kak? Udah makan siang belum? Hari ini maksi sama apa? Setiap hari, beliau selalu mengirim pesan pada ku. Selalu menanyakan menu makan, atau pun kegiatan ku di kantor. Anindira :  Lagi buat laporan keuangan akhir bulan Bu, belum bentar lagi baru mau cari makan, rencananya sih mau cari soto Bu. Kangen sotonya Ibu sama Mbah Yi Ibu ku :  Semangat ya kak..  Hehe ya sabar, kan hari Sabtu pulang. Jadi kan ? Nanti Ibu masakan soto. "Nin, udah selesai belum? Yuk, kalau udah, aku udah laper nih." ajak Selly teman kuliah ku dulu, dan kebetulan juga kami diterima di satu perusahan kecil ini, namun ya cukup lah untuk kami yang saat itu masih fresh graduate. "Iyaa nih udah selesai, bentar tak balas wasap Ibu dulu." Anindira :  Insyaallah ya Bu..  Semoga hari Sabtu tidak ada acara mendadak, Kakak juga udah kangen rumah.  Yasudah kakak mau cari makan siang dulu, Bu. "Udah yuk, jadi kan soto?" "Jadi dong. Katanya ada yang ngidam pengen makan soto? Ditawarin main ke rumah juga nggak mau, padahal kan bisa minta dimasakin Ibu ku." Omel Selly pada ku "Nggak enak aku Sel, masak main cuma minta dimasakin terus. Gapapa lah, lagian besok Sabtu juga aku mau pulang." "Ya sudah, salam ya buat Ibu mu di rumah, besok jangan lupa kalau balik bawa keripik singkong nya ya, Nin?" "Iyaa itu mah gampang." Balas ku mengakhiri obrolan kami dan kami pun bergegas keluar kantor untuk mencari makan siang. *°*°*° Cuaca siang ini amat panas, 35° rasanya kulit ku terbakar tidak memakai sarung tangan mengendarai motor matic ku, yang hampir sepuluh tahun menemani ku. Bukannya nggak mau ganti motor yang terbaru, namun motor ini punya kenangan tersendiri, ya bisa dibilang kenang-kenangan kado terakhir dari mendiang Mbah Kung ku, orang yang paling berjasa dihidup ku setelah kedua orang tua ku. Tidak terasa juga sudah sepuluh tahun beliau meninggalkan kami. "Gilak! Panas banget Nin, mana nggak pakai sweater lagi." Keluh Selly setelah turun dari motor, dia mah enak aku boncengin nggak kerasa banget panasnya, nah aku yang nyetir tangan berasa kebakar deh, ah lebay kan aku "Ayo buru masuk, aku udah kepengen guyur tenggorokan ku pakai es teh." Balas ku lalu berjalan lebih dulu ke tempat makan langganan kami "Hallo, Bu. Sotonya ada?" Sapa ku ke Ibu Parti yang sudah ku kenal sejak aku di bangku kuliah dulu, sampai sekarang aku langganan di tempat makan yang asri ini "Eh Mbak Anin, masih kok. Ini lagi diangkat dari dapur, masih hangat jadinya. Mau berapa?" "Dua porsi ya Bu, minumnya aku es teh. Hmm Sel, minum mu apa?" "Hmm aku ikutan aja es teh, dua ya Bu aku." "Oke, jadi soto dua porsi, es teh nya tiga gelas ya mbak?" "Iyaa Bu, aku di meja depan." "Siap Mbak.." Jawab Ibu Parti, lalu aku dan Selly pun memilih tempat di depan karena dekat dengan kolam, suasana si tempat makan ini sangat sejuk dan jauh akan polusi, selain itu aku merasa masakan dari Ibu Parti ini cocok di lidah ku. "Tumben, Mas Yudhis mu nggak ikutan makan siang sama kita?" Tanya Selly, karena biasanya kami makan bertiga sama Mas Yudhis ya bisa dibilang dia teman dekat ku tapi belum tahu kemana arah hubungan kita selanjutnya "Nggak tahu, sejak kemarin malam nggak ada kabar sama sekali." "Sebenarnya kalian itu apa sih? Dekat iya, saling perhatian iya, keluar bareng iya, pacaran nggak? Mau sampai kapan Nin, digantung terus?" "Hmm, sebenarnya kemarin aku diajak ketemu sama Mamanya." Kata ku jujur, karena baru kali ini aku bisa berbicara pada Selly setelah merasakan kegundahan beberapa hari ini "Ha ? Seriusan? Kemarin kapan? Kan kemarin kita lembur sampai malam." "Weekend, waktu aku bilang minta doa sama kamu, tapi aku kan nggak kasih tahu kamu doa buat apa." "Ya kamu sih Nin, minta doa juga nanggung-nangung, mana ada minta doa 'Sel, aamiin in doa ku ya, semoga terkabul dan diberi kelancaran' nah aku nya ya bingung dong, apanya yang dikabulkan dan diberi kelancaran orang aku aja nggak tau kamu mau apa." Jawab Selly kesal "Aku cuma nggak mau ngomong-ngomong dulu ke orang, takutnya nanti endingnya nggak sesuai apa yang aku harapkan." "Kenapa jadi pesimis gini sih, Nin?" "Mama nya kayak nggak suka gitu, ya entah perasaan ku aja atau emang iya, orangnya nggak bisa welcome gitu. Kan aku jadi canggung Sel mau ngajak ngobrol takut nggak nyambung, ya gitu deh akhirnya cuma diam dan jawab aja kalau ditanya." "Gila sih seorang Anindira Kayla Pratista yang dikenal ramah banget seorganisasi kampus dan sampai sekarang pun sedivisi pemasaran aja tau kamu terkenal dengan wanita yang santun, nggak aneh-aneh dan terkenal ramah, bisa secanggung itu dengan orang? Padahal kamu sering menghadapi orang orang baru di luar sana dengan berbagai karakter yang jelas berbeda-beda. Gila sih Nin, kalau kamu sampai bisa mati kutu gitu." Tanggap Selly dengan heran, ya walaupun yang dikatakan dia terkesan berlebihan tapi ada benarnya juga sih "Aku juga manusia kali, Sel. Mungkin ada kala nya juga aku mati kutu dan nggak bisa ramah sama orang. Udah lah nggak usah dibahas, jadi nggak enak nih suasana hati." "Ya udah deh, walaupun aku sebenarnya udah kesel banget ya sama Mas Yudhis mu itu, tapi aku usahakan selalu ada untuk mu, jangan dipendam sendiri Nin, ada orang-orang disekitar kamu yang masih ada untuk kamu. Ada kalanya kamu juga butuh sandaran untuk menumpahkan lelah mu, nggak harus berdiri tegak dengan sendiri untuk menjadi seorang wanita yang mandiri dan hebat." Kata Selly benar benar menusuk hati ku, benar. Selly benar, nggak selamanya aku akan bersikap seolah aku kuat sendiri, seakan semua baik-baik saja. Namun, kali ini belum ada tempat bersandar yang benar benar nyaman untuk ku selain pelukan dari Ibu ku, penguat dari segala apa pun.❤️ °*°*°*°* Mas Yudhis :  Anin...  Lagi apa?  Udah makan belum?  Yuk cari makan, aku baru pulang meeting belum makan nih Anindira : Lagi santai aja Mas, baru selesai mandi. Belum makan sih, rencananya emang mau keluar cari makan. Ya udah, cari makan bareng aja, berhubung masih sore Mas Yudhis :  Pas banget..  Aku on the way Anindira : Hati-hati Mas Setelah membalas pesan dari Mas Yudhis aku segera bersiap diri, cukup dengan memakai celana jeans dan baju model sabrina warna hitam, lalu ku poles wajahku dengan make up tipis. Tak lama Mas Yudhis pun telepon dan mengabarkan kalau sudah didepan. *°*°*°          "Nih, lihat bagus nggak?" Tanya Mas Yudhis dengan mengulurkan tangannya memberikan ponselnya pada ku "Bagus, nanti kirim ya Mas." Kata ku dan mengembalikan ponselnya, dia yang tadi tersenyum lebar kini agak menghilang dan memandang ku serius "Kenapa?" Tanya ku tidak nyaman ditatapnya dengan intens "Kamu yang kenapa, nggak biasa banget, dari tadi diam aja." "Ya emang aku harus gimana?" "Ya seperti biasa, kenapa ? Ada yang kamu pikirkan?" "Nggak kok, cuma ya agak capek aja, tadi kerjaan banyak." "Laporan keuangan?" "Huum, tadi gimana meetingnya? Jadi bareng Mbak Widi?" Tanya ku mengalihkan pembicaraan kami "Ya lancar aja, jadi kok jadi sama Widi." Aku terdiam, jujur saja aku ingin menanyakan kejelasan dari Mas Yudhis tentang pertemuan kami dengan Mamanya, dan kenapa setelah itu dia memberi kabar pada ku secara intens? Ada apa sebenarnya, ah capek sendiri kalau harus bertanya-tanya terus dalam hati "Mas-" "Nin-" Panggil kami bersamaan "Iya? Mas aja dulu." Kata ku mengalah dan ku lihat Mas Yudhis seperti gelisah namun setelah itu dia menarik nafas panjang dan meraih tangan ku yang ada di atas meja. "Anin, aku mohon, kasih aku waktu untuk kejelasan hubungan kita, aku janji aku akan perjuangkan hubungan kita. Kamu cukup selalu berada disamping ku dan kali ini, maaf aku belum bisa menjelaskan atau pun menjawab pertanyaan kamu tentang apa yang terjadi tapi aku janji, secepatnya aku akan melamar kamu. Aku janji." Kata kata Mas Yudhis, terlihat gelisah namun aku menatap matanya memancarkan kesungguhan, dan aku hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan dia, berharap dia benar bersungguh - sungguh untuk hubungan kita selanjutnya.                                                                                    _*_*_*_*_*_
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD