“Moommm!!” Harper memekik riang dan serta merta berlari memeluk mommy-nya. Ia menghirup aroma Mom dengan rakus. Betapa Harper begitu merindukan wanita ini. Ia terisak-isak di bahu Mom seolah ingin mengatakan betapa sepi hidupnya satu bulan ini sendirian di Alicante. Tanpa mommy-nya, tanpa ayahnya, tanpa adik-adiknya, dan tanpa Al, lelaki menyebalkan itu. “Hei, kenapa menangis?” Mom mengusap punggungnya dengan lembut. “Aku kangen, Mom,” jawab Harper dalam bisikan pelan. “Iya, Mommy di sini, Nak.” Harper memejamkan mata. Ia tahu dirinya akan baik-baik saja selama Mom ada di sisinya. “Tidak kangen Ayah?” Harper tersenyum mendengar suara itu. Ia menggeleng tanpa melepas pelukannya pada Mom. “Baiklah, Ayah akan membawa Mommy-mu pulang sore ini.” Harper terkikik dan melepas pelukannya,

