Harper menutup telinga dan membenamkan wajahnya di balik bantal bulu yang tebal. Ia tidak ingin mendengar suara itu lagi. Suara penuh kesakitan yang memintanya untuk mendengarkan. Air mata yang sejak tadi jatuh belum juga berhenti. Hatinya terlalu sakit. Betapa Tuhan begitu pandai menjungkir balikkan hatinya. Ia masih ingat bagaimana Al menciumnya. Bagaimana rasa itu akhirnya tidak sanggup lagi ditahannya saat kedua lengan kokoh Al memeluknya, membisikkan kata cinta untuknya. Apakah ini adil untuk dirinya? Sekian lama ia menyangkal perasaannya pada Al. Sekian lama ia membangun benteng pertahanan diri yang ternyata begitu mudah hancur hanya dengan satu ciuman, dan kini tiba-tiba pisau itu ditikamkan tepat ke jantungnya. Tepat di mana rasa baru itu tumbuh. Dirinyalah yang bodoh karena pe

