Al tidak pernah merasa sebahagia ini selama hampir tiga minggu terakhir. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena Harper ada di sini. Dia bahkan masih tidak percaya saat gadis itu berkata bahwa dia akan tinggal. Harper akan ada di sini untuknya. Al hampir yakin ini mimpi karena dia tahu Harper tidak mungkin melakukan ini untuknya. Namun saat gadis itu marah-marah karena Al menolak untuk disuruh tidur dan mencubitnya, barulah Al yakin jika ini bukan mimpi. Lelaki itu tersenyum dalam tidurnya dan kembali memeluk bantalnya. Dia tidak pernah tidur nyenyak selama di Barca, karena itulah hari ini dia ingin tidur lebih lama. Atau tidak karena ketukan keras itu terdengar di pintu kamarnya. Senyumnya semakin lebar tetapi ia tetap tidak beranjak. It was like a dream come true. “Aldriaaan, wake up!!”

