Mata Al menyipit menatap Enrique. Tangannya mengepal erat di kantong celana. “Apa maksudmu dengan 'menyukainya'?” Tanyanya dengan dingin. Saat ini yang ingin dilakukannya adalah memukul sesuatu. Entah mengapa.
Enrique tidak memandangnya. Matanya terus menatap Harper yang masih berbicara dengan ibunya sambil tertawa-tawa.
“Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku tertarik padanya, Aldrian.”
Sesuatu dalam diri Al ingin berteriak pada Enrique. Dia ingin lelaki itu menjauhi Quin-nya. Namun apa haknya? Harper bahkan tidak menyukainya.
“Kau baru mengenalnya, jangan menyimpulkan terlalu cepat. Ada bagian dari dirinya yang tidak kau tahu.”
“Kau menyukainya?”
s**t!
“Ti... ngg... tidak, dia sudah seperti adik perempuanku. Aku hanya tidak ingin dia kecewa.”
Detik di mana ia menutup mulutnya, detik itu juga penyesalan datang dari dirinya atas apa yang ia ucapkan pada Enrique.
Adik? Seorang adik tidak akan membuat jantungnya berdebar. Seorang adik tidak akan membuatnya ingin memukul Enrique saat ini juga.
“Aku tidak akan mengecewakannya, Kakak ipar!” Enrique menepuk bahunya dan meninggalkannya.
What the hell! Kakak ipar??
~~~~
Harper terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan Enrique padanya. Sejak pulang dari hotel tadi, tidak lama kemudian Enrique kembali lagi menemaninya. Hari ini Al akan berangkat ke Barcelona, Enrique menawarkan diri untuk mengantar dengan mobilnya. Tadinya Al menolak, tetapi Enrique memaksanya. Sekarang Al sedang membereskan bawaannya. Harper dan Enrique menunggunya di rumah.
“Kau mau kopi, Enrique?”
Enrique menggeleng. “Aku tidak suka kopi.”
“Really? Biasanya lelaki sangat menyukai kopi. Seperti ayahku dan Aldrian. Padahal, apa sih enaknya kopi? Aku sampai heran pada mereka.”
Enrique terkekeh. “Itu karena kita belum tahu letidak kenikmatan kopi.”
Harper cemberut. “Al juga selalu bilang begitu!”
“Kalian saling mengenal dengan baik ya?”
Harper mencibir mendengar pertanyaan itu. “Aku juga sebenarnya malas dekat dengannya, tetapi dia seperti penguntit, selalu mengikutiku dan menggangguku setiap hari.”
Sebuah tangan besar mendarat pelan di kepalanya. “Sembarangan saja kau bicara, Gadis kecil! Siapa yang menguntitmu!”
Harper mendongak dan memutar bola matanya menatap Al. “Memang begitu ‘kan! Kau mengikutiku setiap hari di cake shop Aunty Nan!”
“Tidak! Aku juga malas mendekatimu tahu! Ayahku yang memaksa!”
“Aku tidak percaya! Kau ...”
“Stop kalian berdua! Kita akan berangkat jam berapa?” Enrique memotong pertengkaran mereka.
“Kita berangkat!” Al keluar dari rumah mungil Harper lebih dulu.
Harper bangkit dengan cemberut. Ia menatap Enrique yang tersenyum menatapnya. “Kau lihat kan bagaimana menyebalkannya dia?”
Enrique tertawa dan meraih tangannya, menggenggamnya erat. Harper tersentak, tetapi tidak menarik tangannya. Genggaman tangan Enrique terasa mantap dan hangat. Ini bukan seperti dirinya yang biasa, jika ini dirinya yang biasa, ia pasti sudah menarik tangannya dari genggaman Enrique. Bahkan, Harper merasa wajahnya memanas.
Harper menatap Al yang melihat tangannya dan Enrique yang saling bertautan. Rahang lelaki itu mengeras dan ia membuang muka ke arah lain, lalu masuk ke mobil tanpa bicara apa-apa.
“Al, kau sudah membawa semua barang-barangmu?”
Al mengangguk kaku tanpa menoleh padanya.
“Apartemenmu di sana sudah siap ‘kan?”
Lagi-lagi Al hanya mengangguk. Harper berdecak kesal. Sikap Al yang seperti ini yang membuatnya sebal. Lelaki ini kadang tampak hangat, kadang lembut, kadang lucu, tetapi lebih sering dingin seperti ini. Dan Harper tidak suka itu.
Jujur, kadang Harper ingin memulai lagi dengan Al, sebagai teman, atau saudara mungkin. Akan tetapi lelaki itu sulit ditebak, dan Harper akui, dirinya bukan orang yang sabar. Ia tidak pernah membenci Al ataupun menyimpan dendam karena anak itu pernah mendorongnya dari tangga, tidak pernah. Ia hanya bingung bagaimana harus bersikap.
Harper menjadi anak yang pendiam dan cenderung anti sosial setelah peristiwa penculikan itu. Ia tidak pernah punya teman atau dekat dengan seseorang, kecuali Chelsea. Dan perhatian Al saat itu membuatnya takut. Harper takut ia akan memiliki perasaan lain untuk Al. Dan ia tidak mau itu terjadi. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta sebelum bisa membahagiakan kedua orangtuanya.
Harper tahu rencana Om Pierre untuk menjodohkan mereka, mungkin jika mereka bisa akur sebentar saja, mereka bisa bekerjasama untuk menolak rencana itu. Akan tetapi jangankan akur, baru berdekatan dua hari saja, mereka selalu beradu mulut seperti kucing dan anjing. Tentu saja ia yang menjadi kucingnya.
“Harper, kau mau donat?” Pertanyaan Enrique membuyarkan pikiran Harper.
Harper memandang keluar mobil. Sudah berapa lama ia melamun? Ia bahkan tidak sadar hari sudah hampir gelap. “Kita sudah di mana?”
“Vila-Real,” Enrique menjawab seraya membukakan pintu mobil untuknya.
Wajah Harper kembali memerah. Lelaki ini begitu gentle. Enrique kembali meraih tangannya dan menuntun Harper masuk ke kafe di mana Al sudah duduk lebih dulu dan memesan sekotak donat.
“Jauh-jauh ke Vila-Real dan kau hanya membelikan aku donat?” Harper menggerutu di sambut tawa riang Enrique.
“Cobalah dan kau akan ketagihan.” Enrique meraih satu donat bertabur gula putih dan memakannya.
Harper meraih satu dan memakannya, lalu seketika memejamkan mata. Ia tidak pernah makan donat seenak ini. Manisnya terasa pas di lidah. Rotinya yang tampak gemuk itu begitu lembut saat di gigit. Ia bahkan tidak sadar sudah mengambil donat keduanya.
“Lapar, Quin?”
Harper cemberut menatap Al yang terkekeh. Lelaki itu sudah kembali dari mode es-nya. Dan jujur, Harper lebih suka Al yang seperti ini. Al yang lembut. Al yang manis. Harper baru akan meraih donat ketiganya saat tiba-tiba dua lelaki yang duduk di samping kanan dan kirinya itu mengulurkan tangan mereka masing-masing dan mengusap sudut bibir Harper yang terkena lelehan coklat. Dan saat itu juga, Harper merasa jantungnya berhenti berdetak!