Bab 23

1071 Words

23 Selama beberapa saat berikutnya, suasana hening. Lilakanti menunduk sambil memilin jemarinya di pangkuan. Sedangkan Farisyasa mengamati perempuan tersebut sembari berpikir cepat. "Belum selesai, La," ujar Farisyasa yang menyebabkan Lilakanti menengadah. "Perjanjian kita begitu, Mas. Hanya sampai orang tua Mas membatalkan perjodohan," kukuh Lilakanti. "Ayah baru ngomong ke kamu, sedangkan ke aku, belum." "Ya, sudah, datangi beliau dan berbaikan." Farisyasa mengangkat alisnya. "Apa Ayah juga memintamu untuk membujukku, supaya mau berdamai dengan beliau?" "Hu um." Lilakanti memberanikan diri beradu pandang dengan lelaki yang balas menatapnya lekat-lekat. "Nggak ada salahnya melupakan perdebatan dulu, Mas. Apalagi beliau sudah tua. Mengalahlah," bujuknya. Farisyasa tetap diam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD