05
*Grup Tim 3 PC*
Yoga Pratama : @Kang Farisyasa, posisi di mana?
Farisyasa Kagendra : Di ruang tunggu bandara.
Idris Darusman ; Mau ke mana, @Farisyasa?
Farisyasa : Singapura, @Bang Idris.
Hendri Danantya : Bohong. Kang Farisyasa mau ke Yunani.
Farzan Bramanty : Dia ngapel Dewi Athena?
Nandito Sumitro : Bukan. Kang Farisyasa mau mandiin patung Dewa Zeus.
Bertrand Luiz : Salah. Dia mau ngapel aku.
Jevera Patibrata : Muncul aja orang Spanyol, chat langsung kacau.
Olavius Aristide : Aku lagi meeting, nahan ketawa sampai kentut.
Darius Prabaswara : Ya, ampun, Mas @Olavius. Aku ngakak!
Farisyasa : Baek-baek ada ampasnya, @Olavius.
Yoga : Buruan cebok!
Idris : Aku ngikik, dipandangi Pak Sultan.
Hendri : Yang lagi rapat, dimohon serius, ya.
Farzan : Mana bisa serius kalau chat grup ini on.
Nandito : Grup utama lagi heboh.
Bertrand : Ada apaan? Aku belum cek ke sana.
Jevera : Katanya, PC mau dipecah dua.
Olavius : Beneran?
Darius : Aku baru dengar.
Farisyasa : Masih wacana, Gaes.
Yoga : Ya, masih dirembukkan Pak Tio dan tim satu PG.
Idris : Sebetulnya nggak apa-apa, sih, kalau dipecah. Kasihan juga Zafran pontang-panting ngatur jatah proyek anggota PC.
Hendri : Aku setuju sama Bang Idris.
Farzan : Yups, betul. Zafran jadi kurang fokus ke perusahaan keluarganya. Padahal harusnya itu yang utama.
Nandito : Mau dipecah atau nggak, kita tetap solid. Pasti itu.
Bertrand : Tapi aku nggak mau pisah sama kalian. Nanti aku nangis.
Jevera : Mulai!
Olavius : Bule tukang drama!
Darius : Bertrand adiknya Bang Yanuar.
Farisyasa : Yoih. Usilnya pun sama.
Yoga : Coba aja Bertrand berani merengek. Tak hajar!
Bertrand : Jangan gitu, @Bang Yoga. Bukankah Abang masih mencintaiku?
Yoga : Emoh!
***
Farisyasa terkekeh, hingga menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar. Seseorang menyentuh lengannya dari kanan dan Farisyasa spontan menoleh.
"Kunaon cekikikan?" tanya Wirya Arudji Kartawinata, komisaris 6 PBK sekaligus anggota tim satu PC.
"Biasa. Bertrand kumat jahilnya," jawab Farisyasa.
"Tim Spanyol nggak ada yang genah memang," sela Zeinharis Abqary, komisaris HWZ, sekaligus anggota tim 2 PC. "Di kelompokku juga gitu. Hugo berantem mulu sama Riko," selorohnya.
"Di tim empat, Delmar berdebat terus sama Henley," papar Samudera Harjasa yang berada di kursi samping kanan Wirya. Samudera merupakan CEO Harjasa Grup, sekaligus anggota tim 4 PC.
"Regu lima, pengacaunya Mas Yon dan Ghael," keluh Mark Dhananjaya, direktur utama Dhananjaya Grup. Dia merupakan anggota tim 5 PC.
"Kelompokku adem," timpal Rylee Maglorius Ghawani, direktur utama Ghawani Grup dan anggota tim 6 PC. "Cuma Arshaan dan Sagara aja yang rada kocak. Lainnya cool," sambungnya.
"Reguku, tim paling rusuh. Drew, Ekyavan, Ghaziya, Zijl dan Arudra, gila semua," ungkap Arya Himawan, komisaris Dartomo Grup, sekaligus anggota tim 7 PC.
"Mas-ku memang paling humoris di keluarga. Casugraha, termanis. Aku, paling cool dan kalem," seloroh Bhadra Janardana, direktur operasional Janardana Grup dan anggota tim 8 PC. Bhadra adalah Adik Arudra.
"Cool belah mana? Sarua gilanya," ledek Wirya.
"Bhadra ngaku kalem, setan ketawa," kelakar Zein.
"Anak-anak keluarga Janardana ricuh semua. Kecuali Delissa," ungkap Farisyasa.
"Ahh! Aku baru inget." Samudera memandangi rekannya sejak masih kuliah, dulu. "W, Chairil beneran lagi pacaran sama Delissa?" tanyanya.
"Harusnya kamu nanya ke Bhadra, bukan aku," kilah Wirya yang akrab dipanggil W saja.
"Bhad, benerankah?" Samudera mengalihkan perhatian pada pria termuda di kelompok tersebut.
Bhadra meringis. "Aku nggak tahu, Mas."
"Masa pacar saudara sendiri aja nggak tahu?"
"Delissa rada tertutup. Dia cuma berani curhat ke Teh Zivara."
"Dia memang harus tutup mulut. Karena keempat saudara laki-lakinya ember semua," cibir Mark, yang langsung didorong bahunya oleh Bhadra.
***
Hari berganti hari. Lilakanti mulai sering ditanyai Azrina, tentang Farisyasa yang tidak kunjung datang. Meskipun sudah dijelaskan Lilakanti jika sang om tengah dinas ke luar negeri, tetapi Azrina tetap mengulang pertanyaan itu setiap hari.
Sore itu, Lilakanti baru tiba di rumah, kala Azrina berlari ke teras dan kembali menanyakan Farisyasa. Sang mama berpura-pura sibuk membuka helm, kemudian Lilakanti memasang kunci ganda di dekat ban depan.
Perempuan berjaket cokelat itu sengaja mengulur waktu, sambil berpikir untuk menjawab pertanyaan putrinya. Namun, belum sempat Lilakanti menyahut, seunit mobil MPV hitam berhenti di depan pagar dan Azrina spontan berseru kegirangan.
Lilakanti tidak sempat mencegah ketika putrinya bergegas menuju pagar yang memang belum sempat ditutup. Lilakanti merapikan rambutnya yang berantakan sembari berdoa agar tampilan wajahnya tidak berminyak.
Sudut bibir Lilakanti mengukir senyuman ketika Farisyasa jalan mendekat sambil berpegangan tangan dengan Azrina. Andi menyusul di belakang sembari membawa tas belanja biru.
"Assalamualaikum," sapa Farisyasa.
"Waalaikumsalam," jawab Lilakanti.
"Kamu baru pulang?"
"Ya. Masuk, Mas. Kita ngobrol di dalam."
"Ehm, tapi setelah itu, kamu temani aku ke rumah Ayah."
Lilakanti mengangkat alisnya. "Aku mandi dulu, ya. Habis itu baru berangkat."
"Ya." Farisyasa menunduk. "Na, ikut, yuk!" ajaknya.
"Mau," sahut Azrina.
"Sudah mandi?"
"Sudah."
"Sekarang, ganti baju. Om tunggu."
Selama tiga puluh menit berikutnya, Lilakanti bergegas menyiapkan diri dan putrinya. Tak lupa dia membawa mukena agar bisa menunaikan ibadah di kediaman Nazeem.
Kendatipun jantungnya berdebar-debar, Lilakanti tidak bisa menolak untuk datang. Selain karena sudah merupakan tugasnya sebagai pacar sewaan, Lilakanti juga tidak mau mengecewakan Rumaisha yang sudah dua kali menghubunginya.
Seusai berpamitan pada kedua orang tuanya, Lilakanti mengikuti langkah Farisyasa dan Azrina yang telah lebih dulu menuju mobil. Sedangkan Andi sudah berada di kendaraan sejak beberapa menit lalu.
Sepanjang perjalanan, Azrina terus mengoceh tentang teman-temannya di PAUD. Gadis kecil berbando merah itu begitu bersemangat menceritakan kegiatannya sehari-hari.
Lilakanti merasa takjub menyaksikan kesabaran Farisyasa meladeni putrinya. Lilakanti makin kagum pada pria tersebut, yang ikut melafazkan doa-doa pendek bersama Azrina.
Tanpa sadar, Lilakanti membandingkan Farisyasa dan Baron, yang memiliki sifat yang bertolak belakang. Lilakanti membatin bila Farisyasa akan jadi Ayah yang baik pada anak-anaknya kelak.
Kala tatapan keduanya bertemu, Lilakanti spontan tersenyum. Dia terkejut ketika Farisyasa mencondongkan badan, lalu membisikkan sesuatu di dekat telinga kanannya.
"Kapan, Mas?" tanya Lilakanti.
"Berangkatnya Jumat pagi, karena aku mau rapat di kantor PC dulu. Kamu tunggu di hotel. Malam, baru ke tempat resepsi," terang Farisyasa sembari menarik diri.
"Nginap nggak?"
"Ya. Besoknya kita bisa jalan-jalan keliling Jakarta. Atau mau ke Bogor juga boleh." Farisyasa memegangi pundak Azrina. "Kita jalan ke Taman Safari, mau?" tanyanya.
"Mau," jawab Azrina seraya tersenyum.
"Enggak apa-apakah kalau Rina ikut?" desak Lilakanti.
"Ya, di sana juga banyak teman-teman seumuran. Wirya dan yang lainnya pasti ngajak keluarga."
Lilakanti meringis. "Aku kagok ketemu dia."
"Kalau Wirya mulai interogasi, kamu cari alasan buat menjauh. Dia nggak akan berani mendesakmu. Kalau ke aku, iya, tapi aku bisa melawan, sampai dia berhenti interogasi."