04
Hari berganti hari. Semenjak pertemuannya malam itu dengan Lilakanti, Farisyasa mulai sering memikirkan perempuan tersebut.
Dia penasaran dengan kehidupan Lilakanti saat masih bersama Ayah Azrina. Terutama, karena perempuan berambut panjang itu tetap diam saat ditanya Farisyasa, tentang penyebab matanya berkaca-kaca.
Farisyasa bisa menebak, mungkin dulunya kehidupan rumah tangga Lilakanti dan mantan suaminya, tidak berjalan dengan baik.
Farisyasa teringat pernikahannya bersama Naura Charisma. Betapa Farisyasa menyesali sikapnya yang tak jauh berbeda dibandingkan Baron, yakni menyia-nyiakan istri.
Terbayang kembali kenangan 4 tahun silam, di mana Farisyasa terpaksa menikahi Naura atas permintaan almarhumah neneknya, yang merupakan kerabat jauh Naura.
Kendatipun tidak saling mencintai, tetapi Naura melayani Farisyasa dengan bersungguh-sungguh. Perempuan tersebut bahkan rela berhenti bekerja hanya demi menjadi Ibu rumah tangga sepenuhnya.
Akan tetapi, saat itu Farisyasa tengah mabuk kepayang pada kekasihnya, yang tidak disetujui keluarga, karena dianggap sebagai perempuan matrelealistis.
Hal itu ternyata memang terbukti benar. Tepat seusai Farisyasa menceraikan Naura, kekasihnya menghilang dan akhirnya ditemukan tengah bersama salah satu pengusaha dari Malaysia, di hotel terkenal di Bali.
Farisyasa mengamuk dan menghajar pria itu. Namun, akibatnya dia harus berurusan dengan hukum dan nyaris dimasukkan ke penjara.
Wirya dan tim PBK yang telah berupaya keras untuk membebaskan Farisyasa dari tuntutan hukum berat. Hingga dia hanya mendapatkan sanksi ringan, dan tidak perlu ditahan dalam penjara.
Panggilan Dharvan memutus lamunan Farisyasa. Pria bermata sipit itu menyugar rambutnya yang sedikit memanjang, sambil menunggu adiknya duduk di kursi seberang.
"Ayah nanya, kapan Akang mau datang ke rumah?" tanya Dharvan.
"Belum tahu. Besok aku mau berangkat ke Singapura. Paling bisanya minggu depan ke tempat Ayah," jawab Farisyasa.
"Ke Singapura, ngapain?"
"Proyek SG dan KHAFGEM."
"Hmm, aku lupa, Akang sekarang jadi bos besar."
"Kamu ngeledek?"
"Enggak. Aku justru bangga sama Akang. Bisa membuktikan diri berhasil tanpa embel-embel nama keluarga."
"Itulah tujuanku. Ingin sukses dengan hasil kerja sendiri."
"Ya, aku paham. Aku juga niru Akang."
"Ehm, Van, awal tahun depan aku mau berangkat ke Kanada dan tinggal di sana sekitar 6 bulan."
"Lama amat?"
"Aku gantiin tugas Arudra. Harusnya aku berangkat Agustus. Tapi, karena dia lagi nunggu istrinya lahiran, akhirnya aku yang berangkat duluan."
"Besarkah proyek di sana?"
"Yups. Beberapa perusahaan terkenal ikut ambil bagian di sana. Aku join sama teman-teman PC. Karena kalau modal sendiri, nggak kuat."
"Dari Indonesia, perusahaan mana saja yang ikutan?"
"Pangestu, Mahendra, Pramudya, Adhitama, Baltissen, Ganendra, Dewawarman, Latief, Aryeswara, Janitra, Cyrus dan Vong."
"Gila! Gurita semua!"
"Yang kecil-kecilnya, aku, Arudra, Kasyafani, Ghael, Mark, Hamiz, Drew, Olavius, Emris, HWZ, dan Mas Arya."
"Yang kecil kayaknya cuma kita, Kang. Sama Janardana aja, kita masih kalah."
"Om Rahmadi sudah memulai bisnis dari masih belum menikah. Dibantu Om Rianto, Janardana Grup tambah maju. Sekarang, dikerjakan keroyokan lima anak mereka. Ditambah beberapa orang PBK hasil pinjaman, makin kuat pondasinya perusahaan itu."
"Akang nggak minjam tim PBK juga?"
"Bayar gajinya lumayan berat, Van."
Dharvan manggut-manggut. "Iya, sih. Andi aja gajinya besar untuk ukuran karyawan biasa."
"Dia triple job. Ajudan, asisten dan sopir. Kebantu banget aku sejak ada Andi. Dulu, pulang kerja itu udah capek banget dan malas nyetir. Ujung-ujungnya pakai taksi. Double biaya."
Dering ponsel menghentikan percakapan itu. Farisyasa mengambil telepon seluler dari meja. Tanpa sadar dia tersenyum, sesaat sebelum mengangkat panggilan.
"Waalaikumsalam," ucap Farisyasa menjawab salam sang penelepon. "Ada apa, La?" tanyanya.
"Ayah Mas tadi nelepon aku," terang Lilakanti.
Farisyasa membulatkan matanya. "Ayah nelepon?"
"Iya."
"Duh! Kok, beliau bisa tahu nomor teleponmu?"
"Aku juga nggak paham. Kirain Mas yang ngasih."
"Enggak. Aku belum ada ketemu lagi dengan Ayah."
"Hmm."
"Tadi Ayah bilang apa?"
"Beliau nanya, kapan kita mau berkunjung?"
Farisyasa meringis. "Terus kamu jawab apa?"
"Nunggu Mas ngajak aku."
Farisyasa memijat dahinya yang tiba-tiba berdenyut. "Belum bisa dalam minggu ini. Aku baru bisa minggu depan."
"Mas-lah yang ngomong ke beliau."
"Ya, nanti aku telepon Ayah."
"Oke."
"Ehm, La."
"Ya?"
"Nanti malam, bisa ketemu?"
"Di mana?"
"Rumahmu."
Sekian detik suasana hening. Lilakanti memikirkan jawabannya. Sedangkan Farisyasa masih menunggu perempuan tersebut menyahut.
"La, kamu tidur?" seloroh Farisyasa, yang menjadikan Dharvan terkekeh.
"Enggak," jelas Lilakanti. "Aku lagi mikir," ungkapnya.
"Enggak boleh, ya?"
"Aku bingung, Mas. Gimana ngejelasin tentang Mas pada keluargaku."
"Bilang aja, kita teman."
"Bundaku nggak akan percaya. Beliau pasti nanyain terus."
Farisyasa tersenyum. "Ciri khas ibu-ibu."
"Hu um."
"Enggak apa-apa, deh. Aku siap diinterogasi."
"Beneran?"
"Ya. Anggap saja, balas budi, karena waktu itu kamu juga dicecar banyak pertanyaan sama ayahku."
***
Lilakanti mematut tampilannya di cermin. Sudah tiga kali dia mengganti baju, karena merasa terlalu resmi. Padahal Farisyasa hanya berkunjung biasa, dan bukan hendak mengajaknya berkencan.
Lilakanti tertegun saat pikiran itu melintas. Dia cepat-cepat menggeleng sembari mengomeli diri yang bertingkah seolah-olah remaja, yang akan diapeli pacar.
Perempuan berbibir penuh itu mendengkus pelan. Dia harus bisa menahan diri dan menjaga perasaan, agar tidak jatuh hati pada Farisyasa.
"Mama, ada Om Fais," tukas Azrina, sesaat setelah membuka pintu kamar.
Lilakanti spontan tersenyum. "Faris, Na. Bukan Fais," jelasnya.
Azrina mengangguk. Gadis kecil berkaus putih itu mengamati mamanya yang tengah menyisir rambut. Azrina bingung melihat Lilakanti berdandan. Padahal biasanya sang mama tidak pernah seperti itu bila ada di rumah.
Sekian menit berlalu, Lilakanti dan Azrina telah berada di kursi ruang tamu. Sesuai dugaan, Bunda Lilakanti yang bernama Salma, menanyai Farisyasa yang menjawabnya dengan santun.
Lilakanti merasa malu dengan sikap bundanya. Dia berulang kali menyolek paha Salma, seolah-olah tengah memberi kode agar perempuan tua berjilbab putih berhenti menanyai Farisyasa.
Andi yang turut menemani bosnya, nyaris tidak bisa menahan tawa. Bekerja selama 6 bulan terakhir, membuatnya memahami karakter Farisyasa yang bisa berlakon menjadi orang yang santun. Padahal sebenarnya Farisyasa adalah pribadi yang usil.
"Na, ikut Om, yuk?" ajak Andi. Dia memutuskan untuk membantu sang bos agar terhindar dari interogasi.
"Ke mana?" Azrina balas bertanya.
"Mini market."
"Aku mau beli cokelat."
"Oke." Andi memandangi bosnya, kemudian mengedipkan mata kiri. "Bapak bukannya tadi mau beli martabak?" tanyanya.
"Ehm, ya." Farisyasa hendak mengambil dompetnya, tetapi dia akhirnya mengurungkan niat. "Aku ikut aja, deh. Sekalian mau beli yang lain," ungkapnya.
Andi berdiri, lalu mengulurkan tangan kanan yang diraih Azrina dengan semangat. "Bu, mau ikut juga?" tanyanya sembari menatap Lilakanti.
"Ehm, ya. Tunggu bentar. Aku ngambil dompet dulu," jelas Lilakanti sambil berdiri.
Tidak berselang lama keempatnya telah berada di mobil MPV hitam. Lilakanti mendengarkan putrinya yang sibuk berbincang dengan Farisyasa dan Andi.
Lilakanti mengulum senyuman menyaksikan tingkah Azrina, yang kentara sekali senang bisa jalan-jalan menggunakan mobil.
"Mas, yang tadi, maafkan Bunda," bisik Lilakanti sembari mendekatkan diri ke pria yang mengenakan t-shirt putih.
"Enggak apa-apa. Wajar kalau beliau banyak tanya. Apalagi aku memang baru kali ini memperkenalkan diri. Kemarin itu cuma nganterin kamu sampai depan rumah," terang Farisyasa.
"Aku malu."
"Kamu kira, aku nggak malu, waktu Ayah mencecarmu tempo hari? Sama aja, La."
Lilakanti tersenyum. "Tapi, aku pikir, Bapak itu orang yang baik. Beliau nanyanya juga sopan. Nggak kayak Bunda tadi."
"It's okay. Aku sudah biasa menghadapi ibu-ibu cerewet."
"Apa Ibu Mas juga gitu?"
"Ibu, sih, nggak terlalu. Tapi sekretarisku. Resenya ngalah-ngalahin bundamu."
Lilakanti seketika terbahak. Demikian pula dengan Andi. Sementara Farisyasa mengamati perempuan berbaju krem yang terlihat sangat berbeda kala tertawa. Lebih bersinar dan terlihat bahagia.