Seumur hidup Tarendra sebagai pebisnis, ia sudah tak bisa menghitung berapa kali anak-anak dan istrinya dijadikan alat untuk mengancamnya, dan Tarendra tidak pernah kalah pada ancaman semacam itu. Namun baru kali ini Tarendra mendengar ancaman paling konyol sepanjang hidupnya.
"Saya akan melaporkannya, ini jelas pembully-an dan anak Anda salah satu pelakunya.”
Kalimat itu jelas-jelas tidak bisa dipercaya. Terama Adhiyaksa yang tidak suka dengan pembully-an, tidak mungkin malah menjadi pelaku pembully-an. Apalagi kalau membicarakan Andru yang seumur hidupnya lebih lurus dari pada Rama, walau agak sedikit aneh.
"Saya yakin ini hanya salah paham, anak saya tidak mungkin melakukannya."
"Ada saksi yang melihat, saya bisa membawa masalah ini ke ranah hukum kalau Anda bersikeras. Penawaran saya sama sekali tidak sulit, Pak Tarendra Adhiyaksa."
Tarendra Adhiyaksa mengatupkan bibirnya dengan rahang mengeras, diliriknya foto keluarganya yang berada di atas meja kerjanya, lalu menatap laki-laki yang mengaku anaknya sudah dianiaya oleh Rama dan Andru. Tarendra jelas tidak percaya, anak-anaknya tidak dididik seperti itu.
"Bukankah ini penawaran yang bagus? Anak Anda bebas, selain itu aset yang selama ini Anda kejar bisa Anda dapatkan dengan mudah."
"Saya tidak mau mencampuri pilihan hidup anak-anak saya," geram Tarendra menatap tajam laki-laki di depannya itu.
"Kalau begitu sayang sekali, kita akan bertemu di pengadilan, Pak."
"Saya tidak keberatan, kita bertemu saja di pengadilan. Anda pikir aset yang tidak seberapa itu bisa Anda gunakan mengancam saya? Anda sudah sangat salah sejak awal, silakan keluar."
Tarendra berdiri dari sofanya dan menunjuk pintu keluar, mengusir kasar rekan bisnisnya yang baru beberapa hari lalu berbicara sangat akrab padanya, tapi hari ini malah mengancamnya. Aset yang barusan ia bicarakan itu sama sekali tidak sedikit, hanya saja Tarendra tidak akan menjual keluarganya demi harta, apalagi Rama terang-terangan menolak.
"Sayang sekali," kata laki-laki itu seolah benar-benar mengasihani Tarendra, "saya jadi tidak punya pilihan lain."
Laki-laki itu merogoh saku dalam jas-nya, diikuti tatapan terganggu Tarendra. Ia meletakkan potongan kertas di atas meja dan mendorongnya ke hadapan Tarendra yang berdecak marah.
"Saya tidak akan terbujuk oleh apapun itu, silakan, pintunya ada di sebelah sana."
"Anda akan menyesal kalau tidak membacanya."
"Sudah saya katakan-"
"Anda sebaiknya membacanya."
Suara laki-laki itu dan tatapan matanya yang tampak yakin membuat Tarendra ragu, ia kembali berdecak dan meraih potongan koran lama yang tampak lusuh itu. Di kertas itu tertulis sebaris judul yang diketik besar-besar dengan huruf kapital.
Mata Tarendra terbuka kaget saat membaca judul berita lama itu, ia jelas sangat ingat seberapa hebohnya berita ini dulu, dan juga tentang teori-teori konspirasi yang bermunculan. Seingat Tarendra, berita-berita yang memuat konspirasi itu selalu redup dan menghilang tidak lama kemudian.
Tarendra mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki itu dengan sorot tajam. "Apa maksud Anda?" tanya Tarendra lambat-lambat, berdoa apa yang dipikirkannya tidak benar.
Laki-laki itu tersenyum. "Bukankah semua orang bilang Zalardi itu tidak tersentuh, Pak? Bagaimana mungkin ada konspirasi tentang kematiannya?"
Napas Tarendra tertahan di tenggorokannya, tangannya terkepal kuat, dan ia yakin apa yang dipikirkannya barusan sudah pasti benar.
"Zalardi yang katanya tidak tersentuh itu, tidak bisa melakukan apapun saat itu dan memutuskan menutup kasusnya sampai sekarang. Kalau Zalardi yang itu saja bisa saya bungkam selamanya, seharusnya Anda tahu penawaran saya sama sekali tidak berat, Bapak Tarendra Adhiyaksa."
Tarendra tidak bergerak di tempatnya, hanya matanya yang menatap lawan bicaranya dengan tajam, mulutnya terus diam. Senyum laki-laki itu makin lebar saat tahu Tarendra sudah paham maksudnya, ia berdiri dari sofa tempatnya duduk dan memperbaiki jasnya.
"Nah, sekarang saya sudah mengatakan semuanya, saya yakin bisa mendengar jawabannya besok, selamat siang."
Laki-laki itu meninggalkan ruangan, sedangkan Tarendra masih berdiri di sana dengan tangan terkepal kuat dan kedua matanya terbuka lebar. Jelas sekali ia baru saja diancam, seluruh keluarganya berada dalam posisi yang berbahaya.
Sebenarnya seberapa gila orang itu? Ia berencana menjadikan dua keluarga berpengaruh sebagai musuhnya, Tarendra tidak memahami dari mana datangnya keberanian itu. Sekarang Tarendra bertanya-tanya alasan kenapa keluarga Zalardi memutuskan bungkam selama ini, Nyonya besar yang angkuh itu tidak mungkin mau dibungkam begitu saja, tapi kenapa?
“Pasti ada sesuatu,” gumam Tarendra, tapi ia tak kunjung menemukan jawabannya hari itu.
***
Pagi ini, begitu Rama turun dari tangga, Tarendra berdiri mencegatnya sebelum ia bisa ke mana-mana. Penampilan Sang Papa yang berantakan mengusik Rama, rambutnya tidak rapih, kemeja dan jasnya juga begitu, seolah tidak ada yang mengurusnya.
"Ada apa Pa?" tanya Rama pelan-pelan.
"Ram, kamu ikut Papa ya hari ini," kata Tarendra dengan suara lesu kurang tidur.
"Aku sudah bilang tidak, Tarendra!"
Rana yang baru saja muncul entah dari mana, langsung membentak keras ke arah Tarendra. Ia mendekat, lalu menarik Rama ke belakangnya, ditatapnya Sang suami dengan tajam. Rama mengernyitkan kening bingung.
"Apa yang ada di dalam pikiran kamu? Masa depan Rama masih panjang, aku tidak akan biarkan kamu melakukan apapun pada anak-anakku!”
"Aku tidak punya pilihan, Rana. Apa aku punya pilihan selain ini?"
Rana menggigit bibirnya, ia jelas tidak bisa menerima keputusan Tarendra, tapi tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan Tarendra.
"Ada apa sih? Kalian bertengkar karena apa?" tanya Rama sambil membawa Rana ke dalam pelukannya.
"Kamu cuma perlu ikuti kata-kata Papa-"
"Tidak bisa! Selamanya aku tidak akan izinkan!" Rana membentak keras.
"Tolong aku, Rana," mohon Tarendra sungguh-sungguh, "aku janji tidak akan ada yang terluka."
“Tapi masa depan anakku terancam! Tidak akan pernah kuizinkan selamanya, Rama akan menentukan sendiri masa depan dia.”
"Aku akan minta agar pernikahan ditunda-"
"Tunggu," Rama memotong begitu mendengar kata pernikahan disebut, "apa maksud Papa? Pernikahan siapa?"
Helaan napas terdengar dari mulut Tarendra, ia menatap anak dan istrinya yang saat itu saling berpelukan, ada perasaan berat dan sakit di hatinya sekarang melihat itu. Namun, Tarendra tidak punya pilihan, kalau laki-laki itu sungguh-sungguh dengan ucapannya, maka Tarendra jelas tidak punya pilihan.
"Maafkan Papa," kata Tarendra sebelum bergabung dan memeluk keduanya.
Pelukan itu terasa sangat berat dan tidak hangat, Rama bisa merasakan kekhawatiran dan rasa gelisah kedua orangn tuanya. Rama jelas bertanya-tanya apa yang terjadi, seumur hidupnya ia jarang melihat orang tuanya bertengkar, karena itu Rama merasa heran.
Selanjutnya apapun yang didengar Rama dari bibir Tarendra saat itu hanya membuatnya sangat marah, tapi seperti kata Tarendra, mereka tidak punya pilihan. Rama hanya menatap lurus pada Andru yang tersenyum sedih padanya, senyum itu hanya berarti satu, mereka tidak punya pilihan.
"Apa aku boleh bicara dengan Andru dulu?" tanya Rama setelah mendengarkan semuanya.
"Papa akan kasih kamu waktu, pikirkan dengan benar."
Rama mengangguk, ia berdiri dari sofa yang ia duduki saat Tarendra bicara, lalu meninggalkan ruang tamu menuju dapur diikuti Andru. Keduanya diam sepanjang berjalan, karena sama-sama tahu mereka tidak lagi bisa saling menghibur.
"Gue bakal terima persyaratan itu," kata Rama begitu sampai di dapur.
Ia berbalik menatap Andru yang memalingkan wajah dengan resah, Rama tahu Andru pasti marah karena tidak bisa melakukan apapun.
"Apa emang gak ada yang bisa kita lakuin? Pasti ada kan?"
Rama tersenyum. "Lo gak perlu nyusahin diri lo sendiri, gue yakin cepat atau lambat Papa bakal ketemu jalan keluarnya."
"Gimana kalau enggak?" Andru berbalik menatap Rama dengan marah, "gimana kalau lo bakal terjebak selamanya? Lo mau ninggalin Magi dan hidup sama cewek sial itu selamanya?"
"Gue tahu apa yang gue lakuin, okey?”
"Lo gak tahu, Bang! Lo gak tahu seberapa kotor dan sialan orang itu!”
"Karena itu gue punya lo sama Papa."
Andru mendengus kesal, ia menarik salah satu kursi dengan kasar dan duduk di sana, ia menolak menatap Rama. Tingkahnya itu membuat Rama tersenyum, kata siapa hanya saudara kandung yang bisa membuat ikatan sekuat ini? Buktinya ia dan Andru yang tidak sedarah bisa menciptakan ikatan sekuat itu.
"Selama gue ngelakuin hal gila ini, lo sama Papa bisa cari cara buat lenyapin dia kan? Kita ini Adhiyaksa, ingat?"
Andru tidak menjawab, ia masih tidak menerima Rama harus melakukan hal itu. Andru lebih memilih dirinya yang dikorbankan dari pada Rama.
"Denger," Rama meraih bahu Andru dan memaksa adiknya itu menatapnya, "jagain Magi buat gue, setelah ini gue pasti bakal banyak melukai dia, karena itu lo harus jaga dia. Selama gue tahu dia baik-baik aja, gue juga bakal baik-baik aja."
"Lo cuma peduli sama Magi ya, Bang? Gue juga-"
"Dan jagain Mama dengan benar, gue gak akan ke mana-mana sih, tapi firasat gue gak bagus sama sekali."
"Terus gue? Lo peduli gak sih sama gue, Bang?"
Rama terkekeh kecil melihat Andru yang merajuk seperti anak kecil. "Lo dari dulu kan kuat, anak 11 tahun mana lagi yang bisa buat masalah sama keluarga Zalardi."
"Sialan."
"Ingat ya, jaga mereka."
"Iya! Berisik lo!"
Rama tertawa, rasanya ia tidak ingin keluar dari sini dan menemui Tarendra. Rasanya kebebasan Rama akan direnggut jika ia keluar dari sini, tapi Rama tidak ingin membahayakan siapapun.
Ia menatap Andru sekali lagi dan menghela napas, ia berjalan keluar dari dapur untuk menemui Tarendra, setelah ini Rama yakin semuanya akan jadi berat bagi semua orang.
***