Part 28

1760 Words
Hari ini Rama tidak masuk sekolah, Magi tidak tahu kenapa, laki-laki itu tidak menghubunginya. Kursi di samping Magi itu jadi kelihatan suram karena tidak ada Rama, Magi bertanya-tanya ada apa dengan Rama, tapi ia tidak punya kesempatan untuk menelpon. Saat istirahat tiba, Magi mengambil ponselnya dari laci, baru akan menelpon Rama saat sebuah kotak makan diletakkan di mejanya. Ia mendongak dan mendapati Andru berdiri di depannya. "Hai Kakak Ipar," sapa Andru dengan senyum ramah tamahnya, tapi terlihat seperti senyum usil di mata Magi. "Apa nih?" tanya Magi menatap kotak makanan itu. "Makan siang, gitu aja gak tahu." Magi melirik Andru kesal, lalu membuka kotak makan itu, isinya bermacam-macam sushi dan potongan buah. Alis Magi terangkat melihatnya, ia menatap Andru dengan curiga. "Tumben lo baik, ada maunya kan lo?l "Dijahatin salah, dibaikin masih aja salah, banyak maunya sih lo." "Tuh kan, mana mungkin iblis kayak lo bisa baik, lo racun kan ini pasti, atau udah kadaluarsa.l Andru menyentil kening Magi. "Bukanya makasih malah nuduh-nuduh, kalau lo gak mau makan, tinggal balikin." "Akh! Tapi kan mencurigakan kalau lo yang ngasih Sapi!" Sambil mendengus sebal, Andru mencomot salah satu sushi di dalam kotak itu dan memakannya dengan marah, matanya menatap lurus mata Magi yang penasaran. "Lihat kan? Gak gue apa-apain itu sushi." "Ah padahal gue ngarep pas lo makan langsung koid." "Terserah lo deh, heran gue kenapa Abang gue mau sama lo." Andru sudah berbalik, bermaksud meninggalkan kelas Magi saat perempuan itu buru-buru menahannya. "Eh! Tunggu dulu!" teriak Magi agar Andru menghentikan langkahnya. "Apa lagi? Lo mau bilang gue naroh pelet di sushi itu?" "Hah? Lo naroh pelet?" Andru memutar bola matanya kesal. "Emang sinting," gumam Andru sambil kembali melanjutkan langkahnya. "Woi! Tunggu dulu!" "Apa Kakak Ipar?" tanya Andru dengan sisa kesabarannya. "Lo kenapa sih emosian banget? Lagi mens ya?" "Serah lo deh." "Bercanda doang, jangan marah dong, gue mau nanya ini." "Nanya apa sih Kakak Ipar?" "Rama kok gak masuk sekolah? Kenapa dia? Muntaber? Atau cepirit? Kok gak ngabarin gue sih." Ekspresi Andru masih tampak menahan-nahan untuk tidak memukul Magi, laki-laki yang biasanya hobi mengusili Magi itu entah kenapa jadi gampang sekali marah. "Ada urusan sama Papa, nanti juga dia ngabarin lo," jawab Andru datar. "Urusan apa?" "Kepo lo kayak Dora, dah." Andru melarikan diri sebelum Magi sempat menahannya, ia berteriak keras memaki Andru, tapi yang di dapatnya hanya suara tawa Andru yang perlahan-lahan menghilang. Magi mendengus kesal, ia duduk kembali ke kursinya dan mulai memakan sushi yang rasanya enak itu, pasti mahal. Sampai bel pulang berbunyi, Rama belum mengirimkan satu pesan pun pada Magi, mungkin karena itu mood Magi jadi memburuk saat ini. Ia duduk di sofa apartemennya dengan malas-malasan, menonton kartun sore yang membosankan, sampai suara ketukan di pintu membuatnya menoleh "Orang b**o mana tuh yang ngetuk pintu padahal ada bel?" Magi mengabaikan pertanyaannya dan mengangkat kakinya menuju pintu, ia tidak berniat melihat dulu siapa si pengetuk dan langsung membuka pintu. "Hai," kata orang itu. Magi tahu ini bukan saat yang tepat untuk orang itu bertamu, suasana hati Magi sedang tidak bagus, tapi Magi juga ingin membicarakan kekesalannya hari ini pada seseorang. "Bang Aska," gumam Magi pelan. Aska tersenyum mendengar panggilan Magi padanya, itu artinya meski Magi marah, ia sedang berusaha untuk melupakan kemarahannya pada Aska. Ia tahu Magi tidak akan marah terlalu lama  padanya. "Gue boleh masuk?" tanya Aska lembut. Magi menoleh masuk ke apartemennya seolah ada seseorang di sana yang akan keberatan, lalu ia menatap Aska lagi. Magi mengangguk tanpa kata-kata dan memundurkan tubuhnya, membiarkan Aska masuk. Saat Aska akhirnya duduk di sofa, ia tahu tidak ada yang berubah dari tempat paling nyaman milik Magi ini, aromanya masih sama dan kehangatannya masih sama, kapan terakhir kali Aska berkunjung ke sini? "Mau minum apa, Bang?" tanya Magi yang berdiri di belakang sofa Aska menatapnya dengan tatapan penuh perhatian, lalu ia tersenyum tipis. Magi merasa Aska jadi banyak tersenyum setelah beberapa hari tidak bertemu. "Gak usah, duduk aja, gue mau bicara sama lo kalau boleh." Jarang sekali Aska minta izin saat mau bicara, Magi sedikit merasa bersalah karena ialah penyebab kenapa Aska jadi begitu. Magi akhirnya memilih ikut duduk di sofa depan Aska, ditatapnya Aska dengan mata yang meminta Aska untuk bicara. Aska menghela napas seolah ia gugup. "Mau bicara apa, Bang?" "Gue dengar lo berantem lagi sama Revani, iya?" Magi memalingkan wajah dengan kesal, kenapa Aska hanya datang untuk membicarakan itu? Ia benci diperhatikan karena dirinya bermasalah. "Lo tahu dari Abian kan?" "Iya." "Bang, gue gak mau dengar nasehat apapun sekarang, gue gak salah. Lo sendiri kan tahu kenapa gue ngelakuin itu ke dia, lo tahu apa yang dia lakuin ke gue, jadi jangan bela dia di depan gue." "Gue gak nyalahin lo, Gi. Gue juga gak akan bela dia, gue cuma nanya aja." Menghela napas panjang, Magi meremas tangannya sendiri. Ia meremas tangannya dengan  gelisah, kalau Aska sampai memberitahu semuanya pada Nyonya besar, Magi akan dalam bahaya. "Gue dengar masalahnya karena Rama," ucap Aska lembut "Kenapa sih bang? Lo emang harus tahu semuanya?" "Kita gak kayak gini dulu, Gi." Magi menahan napas dan menatap Aska yang tersenyum tipis, ada kekecewaan di mata Aska, Magi merasa bersalah dan tidak nyaman. Selama mengenal Aska, Magi memang banyak membuat masalah dan tidak jarang bertengkar dengan Aska, tapi tidak pernah seperti ini. "Maaf, gue selalu aja bikin lo dalam masalah," Magi menunduk sedih, "gue gak pernah bermaksud gitu, tapi-" "Gue laper, yuk masak. Udah lama gue gak masak di sini." Setelah memotong ucapan Magi dengan kalimat bernada datar, Aska segera berdiri dan berjalan ke dapur, meninggalkan Magi yang tiba-tiba merasa sesak. Ia tahu Aska bermaksud berpura-pura tidak ada yang terjadi di antara mereka, dan untuk kesekian kalinya Magi tidak tahu harus mengatakan apa. Magi ikut berdiri dengan tangan terkepal, ia menatap punggung Aska yang menghilang ke dapur, lalu melangkahkan kakinya menghampiri Aska. "Bang," panggilnya pelan di belakang Aska yang membuka pintu kulkas. "Hm?" Magi menarik napas menatap punggung yang masih terlihat sekuat biasanya, ia mengepal tangan kuat, dan memeluk punggung lebar yang selalu siap melindunginya itu. Magi tahu harusnya ia bersyukur mempunyai Aska, bukannya malah bertindak seperti orang bodoh. "Gue sayang sama lo bang," bisik Magi pelan. Kalimat itu tidak lagi memiliki arti yang sama seperti saat Magi mengucapkannya dulu. Aska memejamkan matanya dengan senyum getir, memutuskan menikmati bagaimana Magi memeluknya. Sudah berapa lama Magi tidak memeluknya? Aska nyaris lupa bagaimana rasanya. "Maaf karena gue selalu egois, selalu buat masalah dan ngerepotin lo, gue bakal berusaha buat gak ngerepotin lo mulai sekarang.l Sekali lagi kalimat Magi tidak membuat Aska merasa senang. Mungkin seharusnya Aska memang tidak usah berpura-pura tidak pernah menaruh harapan pada Magi, tapi Aska tahu ia tidak pernah punya kesempatan, Magi ada di luar kuasanya. "Apa kamu tahu kenapa ada Zalardi di belakang nama anak itu? Agar orang-orang tidak tahu diri sepertimu bisa mengambilnya sebagai peringatan." Aska memutar badan dan memeluk Magi dengan erat, ia meletakkan dagunya di puncak kepala Magi. Aska takut sekali kehilangan Magi, ia terlalu takut sampai tidak sadar sudah melepaskan perempuan itu diam-diam. "Berani sekali kamu jatuh cinta pada cucu saya! Kamu dan Magi berbeda, ujung rambut Magi pun tidak akan pernah bisa kamu sentuh! Ingat di mana tempat kamu!" Kalimat itu selalu terngiang dan terus tengiang di kepala Aska, sampai rasanya Aska jadi membenci hidupnya sendiri. Aska mungkin bisa berbohong pada semua orang, bahwa sampai saat ini dia masih mencintai Sania, tapi Aska tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Aska tidak pernah mencintai Sania, semua perasaan berat tentang Sania yang ada di hatinya hanya bentuk rasa bersalah, karena ia tidak bisa menjaga perempuan yang dicintai sahabatnya. Aska hanya pernah mencintai satu orang, dan sayangnya ia tidak pernah punya hak untuk mencintai orang itu. "Gue juga sayang lo, Magi," guman Aska dengan mata terpejam. Kalimat yang terucap itu berbeda dengan apa yang dikatakan Magi, senyum getir yang melengkung dibibirnya itu cukup menjadi bukti. Juga terlihat sangat jelas di mata laki-laki yang berdiri tidak jauh dari mereka, dua sosok manusia itu yang saling berpelukan. "Gue sayang lo," ulang Aska, seolah sekali saja tak cukup. Tangannya terkepal, ia ingin sekali maju dan memisahkan, tapi kakinya justru berbalik. Ia keluar dari apartemen Magi dengan perasaan berat di hatinya, ia menyadari dengan pahit tidak akan ada yang baik-baik saja mulai hari ini *** Benda mengkilat yang melingkar di jari Rama sore ini terlihat kecil, tapi entah kenapa Rama merasa jari manisnya itu begitu berat. Di angkatnya tangannya itu ke depan wajahnya dan menatap benda itu, berapa kali pun Rama menatapnya, ia merasa tidak akan pernah menyukai benda itu. "Gimana Magi?" tanya Andru yang menyetir di sampingnya. Abangnya itu tadi bersikeras ingin pergi ke apartemen Magi, karena ia sudah bilang akan mengabari Magi, tapi ia malah kembali turun tidak lama kemudian dengan ekspresi muram. Andru tidak langsung menanyainya dan melajukan mobil tadi. "Dia lagi sama Aska," jawab Rama. Jawabannya itu membuat ia kembali merasa sakit. Rama sudah salah paham selama ini, bayangan yang dikejar Aska itu sama sekali bukan Sania, tapi seseorang yang selama ini ada bersamanya. Tatapan yang selama ini dipikir Rama sebagai rasa sayang seorang Kakak pada adiknya, ternyata menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih dalam. Melihat bagaimana Aska pada Magi, Rama meragukan perasaannya sendiri, apa ia sungguh mencintai Magi? Meski pun benar, apa perasaannya lebih besar dari pada Aska? Rama tidak yakin, tapi Rama mensyukuri banyak hal. Ia hampir bisa menebak kenapa Aska hanya boleh mememdam saja, tanpa bisa melakukan apapun. Oma Magi itu orang yang sangat keras, dan Rama sedikit bersyukur karenanya. "Maksud lo selingkuh?" tanya Andru lagi. Rama tertawa miris, "kalau Magi mau selingkuh, Aska gak akan ada dalam daftar potensialnya, anak itu udah jadi anjing paling setia." Tentu saja Andru paham, ialah yang paling paham semuanya, meski pura-pura tak tahu apa-apa. Aska mungkin lebih memilih Magi membencinya dari pada Magi tahu bahwa Aska sudah jatuh cinta padanya sejak lama. Andru tertawa dalam hati, lalu memutuskan menyetel musik saat itu. "Terus gimana soal perjodohan? Lo mau bilang apa ke Magi?" Tidak ada jawaban, Rama sudah memikirkannya sejak tadi, tapi ia tidak bisa menemukan jawaban apapun. Kalau Magi tahu, Rama seratus persen yakin perempuan itu akan sakit lagi. Bagi Magi yang terlanjur jatuh pada rasa nyaman dicintai, Rama seperti batas warasnya, yang memegang ia agar tetap hidup. Kalau Rama menghilang, atau direbut, Rama tidak bisa membayangkannya sama sekali. Gini aja, Bang. Gue punya usul," kata Andru seraya tangannya dengan lincah memutar setir. "Usul apa?" "Biar gue yang pakai." Sekali lagi Rama menatap benda mengkilat di jemarinya itu, dan perasaan rumit menggelayuti hatinya. Rama tahu apa yang dilakukannya salah, tapi ia lebih memilih berbohong kalau itu bisa melindungi Magi. Ia tidak mau perempuan itu lebih sakit lagi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD