Pagi ini Magi menatap pintu apartemennya dengan aneh, seharusnya pintu itu sudah terbuka sekarang, dan seseorang masuk dengan wajah datar, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Rama tidak menjemputnya. Andru bilang Rama akan mengabarinya, tapi laki-laki itu tidak mengiriminya satupun pesan sejak kemarin, Magi merasa ada yang salah.
"Lo nunggu Rama?" tanya Aska yang keluar dari dapur Magi.
Magi menggeleng menjawabnya, ia menoleh dan tersenyum pada Aska, senyum yang tak sampai di matanya. Laki-laki itu berjalan keluar dari dapur dengan cangkir kopinya, aroma kopi yang harum mencapai hidung Magi.
"Anterin gue dong, Abang." Ia mengalihkan pembicaraan dengan cepat.
Aska yang sedang menyeruput kopi paginya, melirik Magi dari balik gelas. "Karena Rama gak ada, lo jadiin gue pelampiasan sekarang?" tuduh Aska sambil berkacak pinggang.
"Enggak anjir! Berburuk sangka mulu."
Suara tawa Aska bergema, ia mengacak rambut Magi dengan sayang.
"Akh! Jangan! Ntar gue harus rapihin lagi!"
"Sana sisiran lagi, gue habisin kopi dulu baru nganter lo."
"Lo sih, iseng banget."
Magi meninggalkan Aska masuk ke kamarnya sambil menggerutu, sedangkan Aska masih tertawa di belakangnya. Diam-diam Aska merasa ingin memukul Rama sekarang, bagaimana bisa laki-laki itu membuat Magi bersedih.
"Anak itu agak gak tahu diri," gumam Aska sambil menyeruput kopinya, matanya menyorot penuh dendam.
Beberapa menit kemudian Magi sudah turun dari mobil Aska, sekolah belum terlalu ramai karena siswa-sisanya lebih sering datang mepet waktu. Aska memintanya menelpon kalau pulang nanti tidak ada yang mengantarnya, Magi mengangguk dan menyuruh Aska untuk tidak berisik.
Siluet seseorang yang sangat dikenali Magi tertangkap indra penglihatannya, seseorang yang sejak kemarin tidak ada kabar.
"Rama!" teriak Magi berharap Rama mendengarnya.
Ia berlari-lari kecil mengejar Rama yang berjalan di koridor, laki-laki itu tidak menoleh meski Magi yakin ia mendengar teriakan, siswa lain yang berdiri di sekitarnya menoleh menatap Magi adalah buktinya.
"Rama! Tunggu!"
Ia sekali lagi berteriak, tidak mau menyerah meski kelihatannya Rama malah mempercepat langkahnya. Kening Magi berkerut melihat tingkah Rama, padahal Magi hanya ingin tahu kenapa seharian kemarin Rama tidak menemuinya sama sekali.
"Ram, bentar," kata Magi menarik ujung seragam Rama.
Dia mengatur napasnya dengan buru-buru, ia menatap Rama yang menatapnya seolah muak. Tatapan itu sudah lama tidak diperlihatkan Rama padanya, terakhir kali Magi melihatnya hanya saat pertama kali mereka bertemu. Magi merasa tidak nyaman.
"Kok kemarin lo gak nemuin gue?" tanya Magi hati-hati.
Rama menatap jam tangannya dengan terang-terangan, sengaja menunjukkan pada Magi, seolah ia tidak nyaman berbicara lama dengan Magi. Hal itu membuat Magi merasa sesuatu di balik rongga dadanya diremas.
"Gue sibuk," jawab Rama datar.
"Sibuk kenapa? Sibuk banget sampai gak bisa ngirim pesan ya?"
Sekarang Magi merasa seperti pacar yang terlalu mengekang, tapi Rama kan tidak pernah seperti itu selama ini, Magi merasa tidak enak karena itu. Rama mengangkat bahunya, enggan menjawab. Reaksinya itu membuat Magi kesal.
"Lo kenapa sih? Gue ada salah sama lo?" tanya Magi dengan sedikit keras, tatapannya jelas-jelas menyimpan kemarahan.
"Gak usah bikin keributan-"
"Emang kenapa?" potong Magi keras, "lo gak mau mereka tahu?"
"Berhenti keras kepala, Magi."
Magi mengatupkan mulutnya dengan marah, ia mengepal tangannya kuat. "Gue pikir kita baik-baik aja, Ram.”
"Kita bahas nanti aja."
Rama sudah berbalik saat ia mengatakannya, tapi Magi menarik tangannya dan memaksanya berbalik.
"Lo lagi main-main kan sama gue?" tuduh Magi tajam.
Rama memutar bola matanya, seolah kelakuan Magi membuatnya bosan. "Kita lagi di sekolah Magi."
"Lo main-main kan sialan?! Lo kira perasaan gue sebercanda itu hah?!"
Bola mata Rama bergulir menatap ke sekitar saat Magi terbawa emosi, mengusir diam-diam siswa lain di sekitarnya. Saat mereka bubar, Rama menunduk dan menatap Magi lagi dengan tatapan yang dibenci Magi.
"Gue gak pernah bilang perasaan lo sebercanda itu, Magi," kata Rama pelan.
"Terus kenapa? Lo mau alasan apa?"
"Ngebiarin cowok lain meluk lo, gue gak bisa sebut itu bercanda."
Magi menahan napas mendengarnya, padahal baru kemarin ia menyelesaikan masalahnya dengan Aska. Apa memang biasanya Rama secemburu itu pada Aska? Magi sama sekali tidak mengerti.
Rasanya selama ini Rama adalah orang paling berkepala dingin yang pernah ditemui Magi, tapi kenapa rasanya sekarang laki-laki itu jadi mendahulukan emosinya?
"Aska itu Abang-"
"Gue gak tahu soal perasaan lo, tapi perasaan gue jelas gak sebercanda itu, Magi."
Saat Rama berbalik dan meninggalkannya, Magi tidak bisa bergerak dari tempatnya. Ia ingin menghentikan Rama, tapi bibirnya tidak mau terbuka, kakinya terasa sangat berat, hanya matanya yang mengikuti punggung Rama.
"Biarin dia dulu, Magi," kata Andru yang tiba-tiba berdiri di samping Magi dan menepuk pundaknya.
Magi menoleh dengan marah, di sampingnya berdiri Andru yang tidak berekspresi usil seperti biasanya. Ekspresi Andru terlihat sangat serius, dan Magi terganggu. Ada apa dengan dua bersaudara Adhiyaksa ini?
"Apasih, gue mau ke kelas," ketus Magi menepis tangan Andru.
Sekarang Magi ingat, Rama tidak pernah secemburu itu pada Aska, Rama tahu sendiri bagaimana hubungannya dengan Aska. Magi hanya merasa mereka sedang menyembunyikan sesuatu darinya, hanya itu yang ada di kepala Magi. Pikiran itu membuat Magi marah, rasanya hanya dia yang selalu tidak tahu apa-apa.
"Gue tahu lo mau ngejar dia, Abang lagi banyak masalah, biarin dia, Magi."
"Apa? Masalah apa yang gue gak boleh tahu?"
Andru memundurkan kepalanya dengan kaget, dan seperti dugaan Magi, mereka menyembunyikan sesuatu. Magi cukup mengerti karena Andru adik Rama, tapi apa salahnya memberitahu Magi?
"Gak ada yang begitu, Kak."
Magi tersenyum sinis. "Kalian emang benar-benar bersaudara ya."
Magi meninggalkan Andru setelah mengatakan itu, saat ini ia tidak butuh mendengarkan omong kosong siapapun. Kalau Rama memutuskan ingin menyembunyikannya, maka Magi akan membuatnya bicara bagaimanapun caranya.
Rama sudah duduk di kursi yang berbeda saat Magi masuk ke kelas, perempuan berkacamata yang dulu duduk bersamanya memakai kursi Rama, ia tersenyum canggung saat Magi menatapnya.
"Ha-hai Magi," sapanya gugup.
Magi mengabaikannya, juga mengabaikan tatapan penasaran dari yang lain. Matanya lurus menatap Rama, lalu sekali lagi Magi merasa marah, laki-laki itu jelas menghindarinya.
"Gue gak pernah tahu lo sepecundang itu," kata Magi masih menatap lurus Rama.
Rama mengabaikannya, ia menatap ponselnya seolah ada sesuatu di sana yang lebih penting dari Magi. Sekarang Magi curiga bahwa Rama benar-benar hanya main-main.
"Gue bukan Sania."
Baru pada saat itu Rama menatap Magi, tatapannya terlihat terganggu dan penuh perintah agar Magi diam. Magi menggertakkan giginya, ia tidak akan diam.
"Lo baru mau bicara kalau gue bawa-bawa dia?"
"Duduk, Magi."
"Gue gak mau jadi satu-satunya yang gak tahu apa-apa-"
"Ini masih di sekolah, Magi."
"Kenapa? Apa yang salah sama gue? Gara-gara Aska? Gue minta maaf, gue bakal minta dia buat jangan nemuin gue lagi kalau itu mau lo."
"Magi!"
"Sekarang apa, b******k?!"
Rama memejamkan matanya lelah, ia tahu Magi sangat keras kepala, tapi Rama tidak bisa melakukan apa-apa sekarang.
"Ada apa ini? Kenapa kamu belum duduk di kursi kamu Magika?"
Suara guru dari pintu masuk menyelamatkan Rama, ia menatap lurus Magi yang juga balik menatap. Perempuan itu jelas marah dan masih ingin memaki Rama, tapi ia akhirnya berbalik dengan tenang.
"Maaf, Bu," katanya.
Ia duduk di kursinya tanpa mengatakan apa-apa lagi, dan ia diam sepanjang pelajaran berlangsung. Rama memandang punggung kecilnya, meski punggung itu terlihat sangat kuat, Rama tahu seberapa lemah Magi.
Banyak hal yang Rama ingin bicarakan, ia ingin bilang bahwa pelukan itu sama sekali bukan masalah utamanya, tapi Rama tidak bisa. Apa yang sedang dilakukan Rama saat ini adalah melindungi Magi dari jatuh yang lebih parah, yang dihadapi Rama saat ini lebih buruk dari apa yang dibayangkan Magi.
"Gue gak tahu apa lo masih bisa bertahan kalau lo jatuh lagi," bisiknya pelan.
Ada sesuatu di masa lalu Magi yang sangat tidak ingin diceritakan Andru padanya, lalu itu juga menjadi alasan Andru meminta Rama tidak mengatakan apapun.
Rama tidak tahu masa lalu Magi, tapi kalau Andru sampai mengatakan itu, Rama tahu apa yang terjadi sekarang mungkin akan membuat perempuan ini makin jatuh.
Karena itu, biarin gue ngelindungin lo dengan cara gue.
Rama tidak akan meminta banyak, semoga semesta tidak lagi membuat perempuan mungil itu jatuh, semoga semesta mau mengasihaninya dan membiarkan ia tersenyum lebih banyak. Ia sudah banyak terluka, jadi tolong biarkan ia tersenyum lebih lama lagi.
***