Part 30

1419 Words
Apartemen mewah yang sudah lama ditempati Magi itu terasa sangat sepi, Magi tidak tahu di mana yang salah, ia berdiri di depan pintunya dan menatap apartemennya dalam diam. Baru kali ini ia merasa tidak ingin memasuki apartemen itu. Magi menghela napas dan meghilangkan pikiran konyol itu dari kepalanya, lalu membuka pintu apartemen. Matanya langsung jatuh pada sepasang sepatu heels yang tergeletak di lantai, ada seseorang yang masuk tanpa izin ke Apartemennya. "Sudah pulang, Magi?" Suara dari arah sofa membuat Magi mengangkat kepalanya, di sana duduk seorang wanita dengan Dress sebetis. Magi tidak tahu harus merespon bagaimana, ia hanya berdiri di belakang pintunya dalam diam. "Maaf ya Mami datang tanpa ngabarin kamu." "Kenapa Mami ada di sini?" tanya Magi, tidak menutupi nada tidak suka dari suaranya. Mami tersenyum lembut dan berdiri, ia menghampiri Magi yang tidak bergerak dari tempatnya. Di ambilnya tas Magi dari punggung perempuan itu, lalu ia letakkan ke atas sofa. "Mami kangen sama kamu, kamu lapar gak? Mami tadi abis masak, kamu pasti juga capek, ayo makan dulu sebelum istirahat." Mami menarik Magi ke meja makan. Ia menuntun Magi untuk duduk di kursi, lalu mulai mengambilkan makanan untuk Magi. Ada banyak makanan di atas meja dan masih mengepulkan asap, terlihat baru dimasak. "Kamu mau lauk apa, Sayang?" tanya Mami sambil menyendok nasi ke piring untuk Magi. Magi mengepal tangan di bawah meja, ia tidak pernah mengerti kenapa Mami selalu sebaik ini padanya, padahal Magi banyak melukai hatinya, juga menyakiti anak kandungnya. Adelia selalu menyayangi Magi melebihi Revani, walau Magi berkali-kali menolaknya. "Mami gak perlu pura-pura peduli," tangan Adelia berhenti menyendok nasi ke piring, "aku gak akan pernah maafin kalian, Mami gak perlu repot-repot kayak gini." Mami tersenyum kaku, ada kesedihan di sana, tapi ia tetap melanjutkan menyendok makanan dan lauk pauk ke piring Magi. "Kamu suka cumi kan? Mami beli banyak tadi, ada di kulkas kamu, nanti kalau Mbaknya datang buat bersih-bersih, kamu minta aja Mbak masakin, atau telpon Mami-" "Mami bukan Mama, jangan pura-pura jadi Mama!" Adelia menggigit bibirnya menahan tangis, ia tahu Magi patut sekali membencinya, ia dan anaknya adalah penyebab Magi harus kehilangan semuanya. Karena dirinyalah Magi tidak pernah mendapatkan cinta Papanya, tapi Adelia tidak mau menyerah terhadap Magi. "Maafin Mami," ucapnya berusaha tersenyum meski bibirnya bergetar. "Aku juga bukan anak Mami." Tangannya akhirnya benar-benar berhenti bergerak, Adelia mengangkat kepalanya dan menatap Magi dengan tatapan sedih. "Magi-" "Aku bukan anak Mami, gak usah repot-repot peduli, hidup aja dengan tenang di rumah itu seperti anak dan suami Mami." Adelia cepat-cepat melangkah ke depan Magi dan berlutut di depannya, ia memegang lembut tangan Magi. Ditatapnya Magi yang mengatupkan bibirnya rapat, sorot matanya terlihat sangat marah. “Mami selalu anggap kamu anak Mami sejak awal dan sampai kapanpun, kamu anak Mami.” "Mama aku cuma satu." Adelia mengangguk. "Kamu benar, Mama kamu cuma satu, Mami gak akan pernah minta kamu anggap Mami pengganti Mama kamu. Mami ini cuma seperti keluarga kamu yang lain, bukan pengganti Mama kamu." Mata Magi berkaca-kaca saat itu. "Meski begitu aku gak bisa maafin kalian." Kepala Adelia menunduk dalam di pangkuan Magi, ia masih memegang tangan Magi, lalu sesuatu yang basah mengenai tangan Magi. "Saya gak tahu apa saya berhak meminta maaf kamu, Magi. Saya merebut semuanya dari kamu, kamu banyak terluka karena anak saya, kami berhutang banyak sekali maaf. Bersujud sekalipun saya tidak merasa pantas, Magi." Bagaimana caranya Magi bisa membenci seseorang sebaik ini? Mami tidak pernah membedakannya dengan Revani, pun tidak pernah menyalahkan Magi jika Magi menolak mengakuinya. Sejak Mamanya meninggal 6 tahun yang lalu, Mami yang merawatnya, membesarkannya tanpa membedakannya dengan Revani. Magi menarik napas dan beringsut turun, ikut duduk di lantai dan memeluk Mami erat. "Mami gak salah," kata Magi serak, menahan tetesan yang akan jatuh. Pelukan Adelia makin erat di tubuh kecil Magi, ia menuangkan segala perasaan bersalah yang meremuk hatinya. Ia sepenuhnya sadar bahwa kehadirannya-lah yang berkali-kali membuat Magi terluka, karena dirinya Magi bahkan tidak bisa mendapatkan sedikit saja perhatian Papanya. "Maafin Mami, maafin Mami yang ngambil semuanya dari kamu, maafin Mami karena gak bisa balikin Papa kamu, maafin Mami, Nak." Wanita itu menangis sambil memeluk erat Magi. Seumur hidupnya Magi tidak pernah menyalahkan Mami untuk apapun yang dilakukan Revani atau Papanya, meski berkali-kali Magi melampiaskan kemarahannya pada Mami seperti tadi, Mami tetap menyayanginya. "Kenapa selalu Mami yang minta maaf? Kenapa bukan mereka?" Buliran bening itu perlahan-lahan jatuh, pandangan Magi buram, dan ia menangis dalam pelukan Adelia. Magi tidak pernah mengatakannya, tapi ia selalu berpikir dirinya adalah penyebab semuanya terjadi, kalau saja ia tidak pernah terlahir dan Mama hanya menyayangi Revani. Apa semuanya akan baik-baik saja kalau Magi ikut Mama? *** Saat Mami pulang, Magi duduk di Sofa dalam diam, suara televisi yang dinyalakannya memenuhi ruangan. Sejak dulu, Mami akan selalu mendatangi Magi, memeluknya dan meminta maaf seperti ini beberapa waktu sekali. Awalnya Magi tak mengerti, tapi ia akhirnya sadar bahwa Mami melakukannya tiap kali Revani dan Papa melukai Magi, sebaik itulah Mami padanya. Ditatapnya botol putih kecil yang tergeletak di meja, di sebelahnya segelas air putih diletakkan Magi. Botol itu sudah terbuka, tutupnya di simpan Magi di sisi botol. Tangannya bergetar saat meraih botol itu, ia terus merasa bimbang dalam hati, tapi ia sungguh butuh istirahat. Magi bukan menyerah, ia hanya lelah dan sejenak saja ia membutuhkan tidur yang panjang. "Kapan ya gue beli ini?" gumamnya datar. Ditatapnya sebutir obat berwarna putih di tangannya. Magi tahu ia harusnya tidak melakukannya, berlebihan sekali rasanya kalau ia sampai melakukan ini hanya karena Rama. Di waktu-waktu seperti ini, biasanya ada Rama di sekitarnya, tidak membiarkan Magi sendirian. Selain itu, Magi menyadari satu hal, Revani belum melakukan kesalahan apapun yang membuat Mami harus datang meminta maaf padanya, atau lebih tepatnya, kesalahan itu belum sampai pada Magi. "Sebenarnya salah aku apa sih, Pa?" Kepalanya terus berisik dengan suara-suara yang jahat, ia tidak mau lagi mendengarnya. Jemarinya bergetar begitu ia mengangkat tangannya menuju mulutnya, ia meyakinkan dirinya bahwa ia tidak menyerah, ia hanya butuh istirahat. Tidak akan ada yang terjadi, meski begitu jauh di dalam dirinya Magi sendiri tahu apa yang dipikirkannya salah "Lo ngapain?!" Obat itu di rampas dari tangannya seiring bentakan keras keluar dari orang di hadapannya. Magi terkejut menatap tangannya yang kosong, ia lalu mendongak untuk melihat si sulung Adhiyaksa yang menatapnya marah. "Lo mau ngapain barusan, Magi?!" bentaknya lagi sambil mengguncang bahu Magi. Sorot mata perempuan di depannya itu terlihat bingung, seolah ia tidak tahu apa yang barusan akan dilakukannya. Sorot matanya itu membuat Rama takut. "Magi..." Perlahan bola matanya diselimuti air, dan Rama melihatnya menangis, semakin lama semakin keras. Ia membawanya ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat, tangannya bahkan bergetar hebat saat memeluk Magi. Rama takut sekali melihat wajah yang linglung itu, mata yang menangis, tapi tidak mengerti apa yang sudah dilakukannya. Rama takut perempuan itu memilih menyerah, ia sudah lama tahu Magi tidak sekuat kelihatannya, tapi Rama tidak akan pernah siap melihatnya menyerah. "Jangan ngelakuin itu lagi, gue mohon." Rama membisikkan permohonannya di telinga Magi, berharap Magi tahu masih ada yang sungguh-sungguh berada di sisinya, tapi perempuan itu tidak mengatakan apa-apa. Ia memeluk erat Rama dengan suara tangisnya yang histeris. "Lo gak sendirian, Magi. Ada banyak orang di sisi lo." Sebenarnya kesalahan apa yang sudah dilakukan Magi? Kenapa harus dirinya yang diperlakukan sekejam itu oleh semesta? Kenapa meski ia dikelilingi banyak orang yang melindunginya, ia tetap saja merasa sendirian? “Sejahat apapun semesta sama lo, jangan hancurin diri lo sendiri, Magi," bisik Rama di telinganya. Saat itu suara Rama akhirnya menyentuh kesadaran Magi, ia mengangguk dalam pelukan Rama meski samar-samar. "Lo dari mana?" tanya Magi di antara isakannya. Rama menelan ludah, ia tidak tahu harus menjawab apa. Jawabannya mungkin hanya akan membuat Magi semakin jatuh, Rama tidak mau itu terjadi, tapi ia juga tidak mau membohongi Magi. Perempuan itu sudah banyak terluka karena kebohongan, Rama tidak mau memberinya lebih banyak lagi. "Lo juga mau ninggalin gue kan? Karena gue gak berharga, gak ada yang mau bertahan sama gue." Rama menggeleng pelan, ia mengusap kepala Magi lembut. Sekarang Rama sadar Magi tidak bisa menghadapi kehilangan orang-orang di sekitarnya, kehilangan seseorang membuatnya berpikir ada yang salah pada dirinya, mungkin karena itu ia tidak punya teman. "Gue gak pernah ninggalin lo Magi." "Bohong." Rama melepaskan pelukan itu perlahan. Wajah yang basah oleh air mata itu menyakiti Rama, ia menatap ke dalam mata berair itu, di sana hanya ada tatapan terluka. Ia mengambil tangan Magi dan meletakkannya diatas kepalanya. "Gue janji atas nama Ibu gue, gue gak akan ninggalin lo Magi, sampai kapanpun." Sumpah itu tidak terlihat meyakinkan sama sekali, karena Magi tahu tidak ada janji yang tidak diingkari. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD