"Mama, nanti kalau Magi besar mau nikah sama pemain biola, biar tiap hari dengerin suara biola."
Bocah perempuan berambut pendek yang duduk di rumput itu menyentuh cincin sang Mama, matanya berbinar kagum menatap cincin yang sudah sejak lama melingkar di sana.
"Vani juga mau, Mama."
Adiknya yang selalu menginginkan hal yang sama dengan sang Kakak ikut menyahut. Baginya apapun yang dilakukan Kakaknya adalah hal yang mengagumkan, karena itu ia meniru semuanya.
"Kalian masih terlalu kecil buat ngomongin nikah, kalian tahu artinya nikah gak?"
"Tahu dong, yang kayak Mama sama Papa pakai cincin sama terus bobo di kamar sama," jawab bocah perempuan berambut pendek itu dengan semangat.
Wanita cantik yang sedang membersihkan biola putrinya itu tersenyum lembut. Ia menatap cincin yang melingkar di jari manisnya, cincin yang maknanya tak sebesar harganya, hanya sebuah pengikat yang tak ada artinya sama sekali.
"Pernikahan itu bukan hal yang sederhana Sayang. Kamu harus siap mengorbankan banyak hal saat menikahi seseorang, termasuk cinta dan kepercayaan pada pasangan. Kalian akan paham nanti."
"Tapi Eyang bilang, nikah sama pemain biola itu bagus, soalnya Magi nanti boleh ikut konsernya gratis."
Mama tersenyum masam, ternyata kerjaan mertuanya lah sampai anaknya bisa berkata begitu. Hanya mertuanya itu yang ngebet sekali pada biola, ia juga yang memperkenalkan biola pada putri sulungnya itu.
"Emang gitu ya Mama?" tanya si bocah perempuan yang duduk dengan antusias di samping Kakaknya
"Iya bisa dibilang begitu, Vani Sayang."
Ia tidak mungkin menjelaskan lebih lanjut lagi soal apa itu pernikahan pada dua anak berumur 8 tahun itu, belum saatnya. Nanti saat keduanya sudah besar, ia akan menjelaskannya lagi dengan lebih baik. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan hal itu.
Bocah perempuan berambut sebahu itu menoleh ke arah Magi yang berbinar-binar, usianya masih 8 tahun saat itu. Ia juga mau menikahi pemain biola seperti Kakaknya, ia juga mau mendengar suara biola setiap hari seperti Kakaknya.
"Vani mau biola juga, mau yang punya Kakak."
Magi seketika menoleh menatap Revani, ia memiringkan kepalanya, lalu ia menatap biolanya yang ada di pangkuan Mama. Matanya berkedip-kedip menatap biola putih pemberian Mama itu, ada perasaan tak rela di hatinya.
"Kakak, aku mau biola."
Suara rengekan adiknya itu kemudian membuat Magi tersenyum. Ia mengambil biolanya dari pangkuan Mamanya dan mengulurkannya pada Revani. Selalu seperti itu, ia akan berikan apapun yang diminta sang Adik padanya.
"Ini buat Vani aja."
"Wahh."
Mama menekan lembut rongga dadanya melihat itu, bagaimana mungkin hatinya tidak sakit melihat anaknya sebaik itu? Kenapa Papanya bahkan tidak mau mengakui anak sebaik dia?
"Papa, Papa! Aku punya biola!" teriak Revani sambil berlari ke arah Hardian yang baru saja pulang.
"Wah, biolanya bagus sekali, Papa mau dong dengerin Vani main biola." Hardian berlutut di depan Revani dengan senyum di wajahnya.
"Vani belum bisa main, tapi kalau nanti Vani udah bisa, Vani janji bakal mainin buat Papa."
Hardian tertawa keras mendengarnya, ia mendengarkan Revani berbicara soal biola kesayangan Magi, sementara sang pemilik hanya berdiri menatap bagaimana Revani memamerkan biola itu pada Papa. Suara tawa Papa yang bergema dan caranya mengusap rambut Revani dengan sayang, membuat Magi iri.
Semua adegan itu tidak lepas dari mata Amanda, ia tahu sekali putrinya juga menginginkan hal yang sama, perlakuan yang sama, tapi Papanya hanya selalu memandang dingin padanya.
"Magi iri ya?"
Mama berjongkok di depan Magi, pertanyaannya itu membuat Magi kecil menoleh, meski sorot matanya masih sedih, ia justru menggeleng.
"Gak kok, kan ada Mama," katanya sambil tersenyum.
Amanda buru-buru menarik putrinya itu ke dalam pelukannya, tidak membiarkan Magi melihat air matanya yang jatuh. Ya Tuhan, dosa apa anak ini sampai ia harus mendapatkan perlakuan seperti ini dari Papa kandungnya sendiri.
"Maafin Mama ya Sayang, Mama gak bisa kasih kamu Papa yang baik," bisik Amanda.
"Mama nangis?"
"Enggak Sayang, Mama gak nangis."
"Jangan nangis, Magi gak punya biola lagi buat hibur Mama."
Amanda tertawa mendengarnya, ia sungguh berterima kasih pada Tuhan karena telah memberinya anak sebaik dan sepintar Magi. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan melindungi anaknya itu, apapun yang terjadi.
***
Magi menahan napas sesaat, ia mengusap kasar wajahnya. Mimpi-mimpi tentang masa lalu itu masih saja menghantuinya. Magi tidak suka mengingat betapa bodoh dirinya dulu, menyerahkan apapun yang Revani mau.
"Kenapa Mama selalu minta aku baik sama dia?" gumam Magi sambil sekali lagi mengusap wajahnya.
Dulu cukup dengan tiga kata 'Kakak, aku mau' dan Magi akan menyerahkan semuanya, seberharga apapun sesuatu itu untuk Magi, ia akan memberikannya jika Revani meminta. Mama akan selalu memeluknya setelah itu, mungkin karena Mama tahu Magi merasa sedih tiap kali menyerahkan barang-barangnya.
"Engh..."
Suara erangan pelan dari sampingnya membuat Magi menoleh, di sisi kasurnya yang lain, ia menemukan Rama tidur dalam selimut yang sama. Magi menghela napas, ada perasaan senang saat ia tahu Rama tidak pergi.
"Gue gak mau kehilangan siapa-siapa lagi," katanya.
Tangannya perlahan menyentuh lembut rambut Rama. Magi tidak tahu apa nama perasaan yang ada di dalam dirinya sekarang, rasanya ia ingin memeluk Rama, dan bilang bahwa ia berterimakasih Rama tidak pergi.
"Gak bakal gue serahin meski lo memohon, orang ini bakal jadi milik gue selamanya," gumamnya sambil menekan lembut bibirnya di sisi wajah Rama.
"Kebangun?"
Magi tersentak, ia buru-buru menarik mundur kepalanya dan menatap Rama yang membuka matanya, laki-laki itu mengusap matanya yang mengantuk, lalu menatap ke arah Magi.
"I-iya."
Rama melihat ke jam digital dibelakang Magi, masih jam 02.00 malam. Masih sangat malam untuk bangun, ia menarik tubuhnya agar duduk. Rama meraih tubuh Magi ke dalam pelukannya dan mengusap rambut Magi lembut.
"Kenapa? Mimpi buruk?" tanya Rama dengan suaranya yang serak.
Magi mengangguk, ia merasa posisinya terlalu intim dengan Rama saat ini, di atas kasur yang sama dan selimut yang sama, di malam seperti ini. Magi merasakan pipinya memanas, ia malu sekaligus merasa bahagia.
"Tidur lagi, gue gak akan tidur sampai lo tidur," kata Rama.
Ia kelihatan mengantuk sekali, tapi ia terus mengusap rambut Magi dengan lembut. Magi merasa luar biasa bahagia sampai ia takut, ia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.
"Ram," panggil Magi pelan,
"Hm?"
"Sama gue terus ya."
Rama yang tadi sudah menutup mata akhirnya membuka kembali matanya, ia menunduk menatap Magi yang juga menatapnya. Rama tersenyum hangat, ia menekan lembut bibirnya di puncak kepala Magi.
"I promise," bisik Rama.
"Kalau bukan sama lo, mending gue mati."
"Jangan ngomong gitu, Gi. Gue pasti sama lo."
Magi hanya mendengarnya samar-samar, ia sudah mememjamkan matanya lagi. Rama menghela napas dengan gusar, harusnya ia tidak menjanjikan sesuatu yang tidak bisa ditepatinya. Seperti dugaan Rama, ia sudah menjadi batas waras perempuan dalam pelukannya ini, batas yang memegang Magi agar tetap terkendali.
Rama makin mengeratkan pelukannya, perasaannya menjadi lebih berat mengetahui fakta itu. Suara bisikan halus dari bibir Magi yang tertangkap indra pendengarannya, lalu membuat Rama tertegun. Rama tahu ia akan menghancurkan sesuatu lagi.
"Aku sayang Rama."
***