Chapter 32

1090 Words
Sudah seminggu sejak Magi dan Revani bertengkar, Revani belum juga muncul di sekolah sejak saat itu. Andru benar-benar ingin meninju wajah perempuan sial itu, tapi Andru tidak bisa melakukannya sekarang. "Dasar sial," gerutunya. Akhir-akhir ini ia banyak mengumpat, padahal sejak kecil ia jarang memperlihatkan emosinya. Saat itu matanya menangkap siluet Magi yang keluar dari mobil Rama, perempuan itu tersenyum lebar seperti biasa, dan Andru tahu ia tidak akan membiarkan apapun menyingkirkan senyum itu. Matanya lalu jatuh pada seseorang yang berdiri di gerbang, ia menatap ke arah Magi. Orang itu mungkin boleh saja menutupi wajahnya dengan topi, atau berpenampilan tidak mencolok, tapi Andru mengenalinya dengan baik. Ia melangkah ke arah gerbang dan menepuk bahu orang itu. "Door." Orang itu berbalik dengan terkejut, matanya menyorot tajam Andru yang tertawa. Tatapan itu jelas terlihat sedang mengancam. Seperti seekor ular yang terusik oleh keberadaan mahluk lain. “Cosplay jadi James Bond nih, Bang Aska?" ejek Andru terang-terangan. Aska yang sudah berhasil mengenali Andru, menghela napas panjang. Ia bermaksud akan mengabaikan Andru dan fokus pada tugasnya, tapi pertanyaan Andru selanjutnya mengusiknya. "Kenapa ya akhir-akhir ini gue lihat lo makin sering berkeliaran di sekitar Magi?" tanya Andru dengan nada setengah bercanda, meski senyumnya tampak menyebalkan. "Jangan ikut campur urusan gue." "Lo kalau sama Magi ngomongnya lemah lembut, tapi kalau sama yang lain kasar, muka dua banget ya." "Enyah sana." Aska mendengus kesal, ia melirik Magi yang sudah menghilang di koridor, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan gerbang sekolah. Tugasnya sudah selesai, ia hanya perlu memastikan Magi selamat sampai di sekolah. "Gue bisa bantu lo." Kata-kata Andru itu membuat Aska berhenti, ia menoleh menatap Andru yang masih tersenyum. Aska tidak pernah menyukai senyum anak ini. Sejak awal Aska sudah tahu, dibalik senyum ramah dan seperti malaikat itu, ada iblis yang bersemayam. "Maksud lo?" tanya Aska berpura-pura tidak tertarik. "Informasi yang gue punya pasti bisa bantu lo." "Dan kenapa gue harus percaya sama lo?" Andru tertawa, tawanya itu benar-benar tidak disukai Aska. Orang dihadapannya ini adalah ular yang menyembunyikan bisanya dibalik senyum, lalu sewaktu-waktu ia akan menggigit siapa saja yang mengganggunya. "Soalnnya," Andru berhenti tertawa, ia menatap lurus Aska, "anak itu bakal jadi Kakak Ipar gue." Ekspresinya sangat dingin, sampai-sampai Aska merasa ia akan merinding. Sudah Aska katakan, laki-laki di depannya ini orang yang berbahaya. Ia menyembunyikan racunnya dengan baik, menutupinya dengan senyum ramah dan bertingkah seperti anak baik-baik. "Gue gak butuh ular kayak lo," sindir Aska tajam. Andru tersenyum lebar, ekspresinya cepat sekali berganti. "Apa lo masih gak mau percaya setelah gue nunjukkin muka asli gue?" "Ck!" Aska berdecak kesal. Jujur saja Aska tidak ingin bekerja sama dengan Andru, laki-laki itu sulit sekali ditebak, tapi seperti kata Andru, Aska membutuhkan informasi yang ia miliki. Aska menghela napas. "Lo gak mungkin gak tahu apa yang terjadi sekarang." "Gue gak tahu tuh," jawab Andru masih dengan nada bercandanya yang mengejek. Aska memutar bola matanya malas, "Nyonya besar Zalardi mau pulang." Itu informasi yang sangat berharga, si Nyonya besar itu pasti tidak akan pulang kalau bukan karena Magi. Keputusan Andru sudah benar, ia memang harus bekerja sama dengan Aska kali ini, meski ia tidak suka membagi informasi yang diketahuinya pada seseorang seperti Aska. "Gue butuh detailnya." "Nggak di sini." Jadi di sinilah mereka sekarang, duduk di sebuah Cafe yang lumayan sepi, setelah memutuskan bolos sekolah. Mungkin karena masih pagi dan mereka sama-sama mengantuk jadi mereka memesan masing-masing secangkir kopi pahit. "Kenapa lo mau jagain Magi?" tanya Aska setelah menyeruput Kopinya. Andru memainkan jarinya di pinggiran gelas. Ia sedang berpikir. Kenapa ya ia mau melakukannya? "Karena dia menarik?" "Dari mananya?" "Rama tertarik sama anak itu, gue cuma bermaksud cari informasi dasar, dan gue nemuin dia sebagai salah satu bagian Zalardi. Gue selalu tertarik sama keluarga itu, tahu-tahu aja gue udah ngelintasin batas aman." "Lo terlalu lancang." Andru mengedikkan bahu tidak peduli. Padahal saat usianya 11 tahun, Andru berusaha mencari tahu soal hal yang sama, tapi saat itu ia masih terlalu naif dan membuat sang Nyonya besar marah. Sekarang Andru kaget ia bisa mendapatkan informasi itu dengan gampang. Walau ia tahu semuanya, Andru memutuskan diam untuk melindungi dirinya sendiri dan keluarganya. "Setimpal sih, gue jadi tahu tentang kejadian 6 tahun yang lalu," kata Andru sambil menyeringai marah. Andru mencekram gelas kopinya dengan keras, kapan terakhir kali ia merasa semarah ini untuk orang lain? Andru tidak ingat. Aska memperhatikan gesture tubuhnya yang tidak biasa itu, ia tersenyum kecil, Magi sekali lagi berhasil membuat orang lain peduli padanya. "Gue gak pernah ngira bakal nemuin sesuatu yang lebih besar." "Siapa aja yang tahu?" "Lo tenang aja, gue gak pernah omongin ini sama Rama karena gue tahu itu beresiko." "Terus di poin mana lo tertarik sama Magi?" Andru terdiam lama, seolah jawaban pertanyaan itu sangat berat ia ucapkan, "awalnya gue nganggap dia kelemahan keluarga Zalardi, waktu itu gue mikir, anak ini alat paling efektif buat ngehancurin Zalardi, tapi anak yang gue bicarain itu...," ucapannya terhenti. Andru tidak tahu bagaimana mendeskripsikan Magi, kata baik saja tidak akan cukup, tapi ia tidak menemukan kata yang tepat. Mungkin nanti saat kata yang tepat sudah ia temukan, Andru akan mengatakannya. "Dia gak seharusnya ngejalani ini semua, gue merasa marah buat dia, tapi gak banyak yang bisa gue lakuin." "Lo manusiawi juga ternyata." "Anak yang malang kan? Bahkan setelah dia ngalamin semua itu, dia masih gak bisa hidup tenang. Dia ada salah apa sih?" Ucapan Andru benar, Aska juga bertanya-tanya apa yang salah dari Magi, anak itu selalu jadi anak yang baik sejak pertama kali Aska bertemu dengannya. Sejak saat itu pula Aska selalu tidak mengerti kenapa banyak yang ingin melukainya. "Mungkin awalnya gue cuma mau ngelihat sejauh mana dia bertahan, tapi semakin gue perhatiin dia, yang muncul cuma insting buat menjaga dia." Aska sekali lagi tersenyum, ini bukan pertama kalinya Aska melihat orang asing begitu peduli pada Magi. Perempuan itu mungkin tidak secantik model di luar sana, tapi Aska berani berkata bahwa apa yang dimiliki Magi dalam dirinya-lah yang membuatnya terlihat sangat cantik. "Pertama kali gue lihat Magi itu dari foto," kata Aska menerawang. Selembar foto itu masih di simpan Aska sampai saat ini, tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun. Ia menyimpannya seperti sebuah jimat. Dari foto itulah semuanya tentang ia dan Magi berawal. "Gue pikir gue bakal ngejagain anak kecil, Mamanya nunjukin foto waktu dia masih 5 tahun. Dia anak yang cantik dan menggemaskan." Aska ingat saat itu Amanda Zalardi sama sekali tidak mengatakan apa-apa soal umur Magi, lalu Aska jadi menebak-nebak sendiri. Ia tertawa pelan mengingat kebingungannya saat bertemu Magi pertama kali, ia mengingat semuanya dengan sangat jelas. "Itu pertama kalinya gue lihat seorang Ibu berlutut di kaki gue." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD