"Nama kamu Aska?"
Suara Amanda sangat halus saat bicara, pipi Aska yang saat itu masih 12 tahun memerah mendengarnya. Amanda yang baru menginjak usia 34 tahun itu terlihat masih sangat cantik, apalagi di mata anak muda yang hidup di pinggir kota. Aska seperti melihat malaikat.
"I-iya, Nyonya."
"Kamu boleh panggil saya Tante, karena mulai sekarang kamu akan hidup sebagai bagian dari keluarga Tante."
"Iya, Tante."
Amanda mengangguk puas, ia berjalan ke meja kerjanya, menarik laci dan mengambil selembar foto dari sana. Ia duduk kembali di sofa kantornya, tepat bersebelahan dengan Aska.
"Ini anak Tante, namanya Magika."
Foto itu di dorong Amanda ke hadapan Aska, ia dengan hati-hati menatap foto balita itu. Anak yang menggemaskan, senyumnya cantik sekali. Aska seperti melihat malaikat kecil saat itu.
"Dia cantik kan?" tanya Amanda melihat Aska tidak mengalihkan tatapannya dari foto itu.
"Iya, cantik banget," jawab Aska tanpa berpikir.
Amanda tertawa mendengarnya, ia kemudian turun dari sofa dan berlutut di samping Aska. Anak kecil berusia 12 tahun itu langsung menatapnya kaget, tapi Amanda menahan tangannya agar tidak bergerak.
"Tante akan berikan apa saja untuk kamu, semua fasilitas yang kamu mau, sekolah yang pengen kamu masuki, Tante akan biayai."
Aska tidak membuka mulutnya untuk menjawab, karena ia tahu Amanda belum selesai. Sorot mata wanita itu tampak sangat terluka sekaligus penuh harapan, genggaman tangannya di tangan Aska erat sekali.
"Sebagai gantinya, tolong jaga anak saya," sambung Amanda.
"Tapi saya cuma anak kecil-"
"Bukan, jangan merendahkan diri kamu, Tante tahu kamu punya banyak sekali hal yang membanggakan, karena itu Tante memilih kamu."
Pipi Aska kembali memerah mendengar pujian Amanda, ia menunduk dengan malu. Ia sering mendapatkan pujian, tapi dipuji oleh seseorang secantik Amanda tentu punya efek yang berbeda.
"Kamu mau kan?" tanya Amanda.
"Saya gak berani..."
"Saya minta tolong, Aska. Saya mohon sama kamu, Magi tidak boleh terluka lagi."
Aska demi mendengar permohonan dari seorang Ibu untuk anaknya itu, jadi tidak bisa menolak. Ia menelan ludah dengan takut, lalu kemudian mengangguk ragu.
"Sa-saya bakal berusaha, Tante."
Saat itu Amanda tersenyum dengan mata berkaca-kaca, ia memeluk dengan Aska rasa terima kasih luar biasa. Sementara itu Aska membeku di tempatnya.
"Terima kasih, Nak. Tante janji akan memenuhi semua hak kamu, terima kasih."
Setelah itu Amanda mengajaknya bertemu Magi, untuk pertama kalinya Aska menginjak kediaman mewah milik keluarga Zalardi. Ia bertemu Magika yang sudah berusia 10 tahun, Aska saat itu menatap Amanda dengan heran.
"Maaf, Tante lupa bilang kalau Magi sudah 10 tahun sekarang."
"O-oh iya, gak apa-apa, Tante."
Amanda kemudian mendekati kasur di mana Magi berbaring, anak perempuan itu tampak pucat, tangannya diinfus dan hanya matanya yang menatap Aska penasaran. Amanda membantunya bangun, lalu menyusun bantal di belakangnya agar Magi bisa duduk.
"Magi, ini Abang Aska, mulai sekarang Abang Aska akan jadi Abangnya kamu."
"Abang Aska?"
Suaranya yang lemah itu membuat Aska khawatir, sebenarnya sesakit apa anak ini? tapi Aska tidak bertanya, ia hanya mengulurkan tangannya.
"Askaban Gideon," katanya pelan-pelan.
Magi menatap tangan Aska sejenak, kemudian ia menjabat tangan itu. Tangan Magi halus sekali, dan kecil, sampai-sampai Aska merasa ia bisa meremukkan tangan itu kalau menjabat terlalu keras.
"Hai, Abang. Nama aku Magika."
Ia tersenyum dengan bibir pucatnya, senyumnya cantik sekali, dan untuk sejenak Aska merasa waktu berhenti. Mungkin sejak saat itulah ia jatuh cinta pada Magi, karena meski ia terlihat sedang sangat menderita, ia masih tersenyum dengan cantik.
"Mulai saat ini, Abang Aska akan jagain Magi, kalian harus saling menjaga, karena mulai sekarang kalian ini saudara."
***
Kenangan itu terhenti di sana, Aska ingat ia kemudian tinggal bersama Magi di kediaman mewah Zalardi, lalu setelah Magi sembuh, mereka pindah kembali ke rumah mereka. Saat itulah Aska bertemu Revani, anak itu lebih pemalu dari pada Magi dan selalu mengikuti Magi ke mana-mana.
Aska mulai belajar hidup di sana, meskipun Hardian tidak menyukai keberadaannya, ia berkali-kali menjadi alasan Amanda dan Hardian bertengkar.
"Seminggu setelah gue pindah ke rumah itu, Tante kecelakaan."
Orang-orang selalu mengatakannya, orang baik disayangi Tuhan, karena itu mereka pergi lebih dulu. Aska benar-benar mengira semua Ibu sebaik itu saat melihat Amanda.
"Beliau kecelakaan," ulang Aska pelan.
Ada nada pahit di suaranya saat mengucapkan itu, Aska tertawa dalam hati, ia tidak akan pernah mempercayai kebohongan itu. Mereka berdua sama-sama tahu apa yang ada di balik kecelakaan itu, tapi memilih menutup mulut.
"Seperti kata gue tadi, gue bakal bantu jaga dia," kata Andru sungguh-sungguh.
"Karena gue udah cerita sebanyak itu, lo mau mundur sekarangpun, gak akan gue biarin."
Andru tertawa, "lo benar-benar muka dua ya."
"Jangan ngehina diri lo sendiri."
Kalau melihat bagaimana Aska selalu tersenyum, selalu bertingkah seperti manusia suci di depan Magi, dan berperan sebagai Kakak yang baik, tidak akan ada yang mengira ia orang yang sesinis ini. Andru menyukainya.
"Terus Rama gimana?" tanya Aska tiba-tiba.
Tawa Andru berhenti, ia mendengus kesal. Perubahan ekspresinya itu sungguh membuat Aska kagum, benar-benar seperti bunglon.
"Meski dia kelihatan kayak orang yang gak tahu apa-apa, gue yakin dia punya rencana sendiri," kata Andru menyeruput kopinya, "jangan terlalu ngeremehin dia."
Aska menunduk menatap gelas kopinya yang masih tersisa setengah, seingatnya Rama itu anak yang lemah, Aska yang selalu melindunginya dulu. Benarkah ia bisa diandalkan? Aska tidak begitu yakin.
"Apa nih? Kalian nge date?"
Seseorang tiba-tiba datang ke meja mereka, Aska hanya meliriknya sekilas, lalu mengabaikannya. Orang itu mendengus kesal melihat tingkah Aska, ia mengambil gelas kopi Aska dan meminumnya.
"Pahit banget," katanya kesal, ia lupa kalau Aska tidak suka gula di kopinya.
"Pesan sendiri."
"Tapi kenapa lo juga ada di sini?"
Andru mengangkat tangannya menyapa saat orang itu menatapnya, "yo Abian."
Senyum kesal terbit di bibir Abian mendengar sapaan itu, ia meletakkan kembali gelas kopi Aska, lalu memanggil pelayan. Ia duduk di samping Aska tanpa meminta izin, tidak peduli meski Aska meliriknya tajam.
"Kalian ngomongin apa tanpa gue? tanya Abian setelah menyebutkan pesanannya pada pelayan.
"Lo gak perlu tahu," jawab Aska ketus.
Abian memutar bola matanya, "lo lupa gue ini rekan lo?"
"Harusnya kalau lo sadar posisi lo, lo bakal stay di samping Magi sekarang."
"Udah ada Rama, lagian gue gak mau ketinggalan hal penting."
"Lo pertaruhin Magi demi memuaskan kekepoan lo?"
"Dari dulu lo emang gak suka gue ya?"
Aska mendengus, memilih mengabaikan Abian yang tidak akan pernah mendengarkannya. Sejak awal ia sudah menolak untuk bekerja dengannya, tapi Nyonya besar tidak memberinya pilihan. Dasar anak manja.
"Gue sama Bang Aska mau kerja sama."
Andrulah kemudian yang berbaik hati menjawab Abian, lebih banyak orang akan lebih baik. Sekarang mungkin masalah ini masih terlihat seperti masalah anak SMA, tapi ada sesuatu yang sangat besar di baliknya.
"Gue ikut dong," kata Abian.
"Lo gak akan sanggup, anak manja," ketus Aska.
"Jangan ngeremehin gue dong, gue bisa lakuin apa aja buat Magi."
Andru tertawa, pengaruh Magi ternyata bukan hanya pada dirinya. Ia yakin bahkan seluruh dunia juga akan berada dipihaknya kalau ia mau, tapi meski begitu Magi tidak akan melakukannya, ia lebih memilih tersakiti sendirian. Andru berharap itu tidak akan menjadi bumerang baginya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi saat Rama sampai di rumahnya dengan masih memakai seragam sekolahnya, dia baru saja pulang dari apartemen Magi. Ia memutuskan pulang setelah memastikan Magi baik-baik saja dan tidak akan melakukan hal berbahaya lagi, perempuan itu kemudian mengusirnya karena terlalu berisik.
"Rama."
Suara lembut Rana masuk ke indra pendengarannya, Rama baru saja akan meletakkan sepatunya ke rak, ia menoleh dan melihat Mamanya duduk di Sofa.
"Kenapa Ma?" tanya Rama sopan.
Kakinya melangkah menuju sofa yang berada di depan sang Mama, lalu ia letakkan tasnya di sampingnya. Ada dua buah gelas yang diletakkan Rana di meja, seolah sudah menunggu Rama dari tadi.
"Minum dulu, Nak. Mama tahu kamu lelah."
Akhir-akhir ini Rama merasa was-was tiap kali diajak berbicara di sofa ini, karena topik pembicaraan itu selalu buruk. Rama merasa ada yang tidak beres, tapi ia tetap meraih gelas berisi s**u itu dan meneguknya, kebiasaan Rana sejak dulu selalu membuatkan Rama s**u saat ingin bicara pada anaknya itu. Rama makin was-was saat menyimpan gelas itu lagi. Apa yang ingin dibicarakan Rana tampaknya serius.
"Ada apa, Ma?" tanya Rama lagi, suaranya pelan menunggu.
"Kamu sayang sekali dengan Magi?"
Pertanyaan itu membuat Rama menatap sungguh-sungguh Mamanya. Bahkan orang buta sekalipun bisa merasakan seberapa kuat apa yang dirasakan Rama. Jangan pikir karena dia masih SMA dan cintanya bisa dianggap main-main.
Rama tidak pernah berpikir untuk main-main, Rama menghargai perempuan seperti ia menghargai sang Mama. Rama hanya mendekati seseorang jika ia benar-benar tertarik, dan kalau ia benar-benar menginginkannya. Rama tidak suka bermain-main.
"Ma, Rama gak pernah main-main sama Magi kalau itu maksud Mama," kata Rama dengan nada suara tak suka.
Kenapa semua orang mengira ia mendekati Magi karena mau main-main? Sebrengsek itu kah Rama di mata mereka? Rana tersenyum, ia memang harusnya tidak perlu mempertanyakannya, karena ia sendiri yang mengajari Rama cara memperlakukan perempuan. Rana hanya merasa tidak punya jalan keluar sekarang, dan mendengar jawaban putranya, Rana tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
"Mama bisa melihat bagaimana kamu menyayanginya."
"Terus kenapa Mama tanya lagi?"
Ekspresi sang Ibu terlihat dipenuhi emosi. Rana berpindah duduk ke sebelah putranya itu, lalu ia mengusap bahu Rama lembut. Ia menarik napas panjang seolah menyesali semuanya, meski ia tak salah.
"Mama tidak punya jalan keluarnya, Rama."
"Jalan keluar soal apa?"
"Tentang perasaan kamu pada anak perempuan Zalardi itu. Mama tidak punya caranya agar kamu bisa mempertahankan dia dengan kondisi ini."
"Mama gak perlu pikirin itu."
"Kamu punya jalan keluarnya?"
Mendengar pertanyaan sederhana itu, Rama merasa marah sekaligus sedih. Ia sama sekali tidak punya jawabannya. Selama ini ia selalu sombong pada kekuatan informasi yang didapatnya, tapi kali ini, meski dengan semua informasi di kepalanya, Rama tidak punya jalan keluarnya.
Matanya menangkap sosok Andru yang berjalan turun di tangga, laki-laki itu berhenti di sana, lalu tersenyum sendu seolah memahami apa yang sedang mereka bicarakan. Rama menarik napas tertahan, ditatapnya sang Ibu yang menunggu, ia menggeleng lemah, merasa kalah.
"Rama juga gak punya, Ma. Aku gak tahu harus apa."
Pelukan hangat dari lengan-lengan lembut itu sedikit memberi ketenangan, Rama menikmati ketenangan semu itu. Ia tahu saat ini tak ada ketenangan yang bisa didapatkannya, sebelum semuanya berakhir, Rama akan hidup di neraka.
***