Part 10

2260 Words
Bagaimana perasaan Rama setelah mendengar ucapan Magi? Sulit di jelaskan, sekarang satu-satunya yang ingin dilakukan Rama hanyalah berharap tidak pernah mengenal Magi maupun Aska. Ini pertama kalinya Rama kesal pada dirinya sendiri. Ia ingin melupakan Sania dan lari pada Magi, tapi nyatanya perempuan itu juga sedang berlari mengejar seseorang. Perempuan itu mengejar seseorang yang sama sekali tidak boleh dijangkaunya, seseorang yang masih mengejar bayangan dan rasa bersalahnya tanpa pernah menoleh sekalipun. "Sialan!" gerutunya sambil menendang pot bunga sampai jatuh menggelinding. Ia berdiri di samping parkiran setelah tadi tidak sengaja menjatuhkan kunci mobilnya di sana, ada taman kecil yang rumputnya tidak boleh diinjak di sana, tapi siapa yang mau melarang si pemilik sekolah? "Kak..." Suara itu lembut, setengah takut setengah ragu. Rama menoleh dan melihat orang yang membolos di jam pelajaran pertama dan berani menatap Rama. "Apa?" kata Rama datar, kelewat datar untuk tidak disebut ketus. "Rumput di sini gak boleh di injak," cicitnya pelan. Rama mendengus, menatap rumput di bawah kakinya dengan marah seolah rumput itulah alasan kenapa ia marah, lalu menatap orang itu dingin. Suasana hatinya tidak bagus sejak kemarin, dan ia tidak mau beramah tamah. "Mau gue cabut sekalipun itu bukan urusan lo." "Tapi-" "Jangan ganggu gue." Perempuan bernama lengkap Revani Nasta itu meremas tangan, menunduk menatap sepatunya yang terletak tepat di depan pagar Taman. "Pergi," usir Rama makin dingin. "Tapi kak-" "Gue bukan kakak lo, pergi." Sesaat Revani bergeming, tapi ia mulai merasa tidak enak dan akhirnya menarik tubuhnya. Belum juga ia berhasil melangkah lebih jauh, tangannya sudah ditarik paksa dan tubuhnya berputar kearah orang yang menariknya. "Jadi tipe lo yang kayak gini?" Suaranya terdengar mengejek dan setengah ketus. Rama hanya tahu satu orang yang berani seperti itu padanya, hanya Magika Zalardi. Ia datang bersama kucing kecil berbulu tebal yang berlari-lari di belakangnya, bulunya berwarna putih bersih nyaris pink, dan memakai pita pink di kepalanya dengan matanya yang besar dan berkilau. Rama heran kenapa perempuan sinting itu membiarkan kucing secantik itu berlari-lari di tanah. "Setelah Sania, ternyata tipe lo jadi menurun drastis kayak gini ya." Magi mengejek lagi dan membuat Rama tersenyum miring, ia menjitak kepala perempuan itu dan memancing Magi langsung mundur seketika, telunjuknya menunjuk Rama dengan wajah ditekuk. "Lo ada jiwa psikopat ya? Butuh psikiater lo anjir!" teriak Magi kesal. "Itu kucing lo?" tanya Rama mengabaikan teriakan Magi dan berjongkok memperhatikan kucing itu. Seperti baru sadar, Magi menunduk dan menatap kucing yang menaruh kepalanya di kaki Magi itu, mata besarnya juga ikut menatap Magi seolah tertarik. "Oh kucing ini, baru gue beli tadi di jalan sebelum ke sekolah. Ada yang tega masa jual kucing lucu gini, kalo belum ada yang beli kandangnya ditendang-tendang lagi, kayaknya dia gak tahu deh kalo ini kucing mahal." Magi membungkuk dan mengambil kucing itu ke dalam gendongannya, ia mengelusnya lembut. Magi menatap kucing itu kemudian menatap Revani datar. "Gak ngerti gue, yang lucu gini di jahatin, giliran yang setan kayak lo dibaikin," katanya datar. Revani cegukan sekali sebelum mundur selangkah. Rama menebak-nebak kenapa Magi membenci Revani sampai seperti itu. "Kakak-" "Lo bukan adek gua, sialan!" Magi membentak marah, seolah satu kata itu adalah tombol pembuka bendungan emosi yang selama ini ditahannya. Ia mendorong Revani sampai jatuh dengan mata menyala marah, ia bahkan tidak sadar baru saja menjatuhkan kucing itu dari tangannya. "Gue gak sudi jadi Kakak lo, gue gak punya adek pembunuh kayak lo!" “Maaf Kak.” Sudah jatuh sampai telapak tangan dan sikunya terluka, Revani masih harus mendengar bentakan tajam Magi, cacian kejam yang bahkan seorang narapidana hukuman mati sekalipun belum tentu pantas menerimanya. Revani mulai menangis dan memegangi rambutnya yang dijambak Magi, perempuan itu menangis keras dan memohon pada Magi untuk memaafkannya, memohon pada perempuan yang saat ini merasa lebih baik mati dari pada harus menjadi kakak Revani. "Gi, lepasin dia Gi." Rama yang sejak tadi terduduk di atas tanah karena terkejut melihat Magi marah langsung berdiri, ia berusaha membuat Magi melepaskan rambut Revani. "Lo gak pantas hidup! Harusnya lo mati sama bokap lo! Kalian gak pernah pantas hidup," teriak Magi keras. "Maafin aku, Kak. Maafin aku." "Lo bisa dapat masalah Magi, lepasin tangan lo." Rama menarik tangan Magi, tidak peduli itu akan menyakiti Revani atau tidak, saat ini Rama hanya peduli pada Magi yang bisa saja merusak nama baiknya sendiri. Setelah berhasil melepaskan tangan Magi dari rambut Revani, Rama buru-buru membawa Magi menjauh. "Mending lo pergi, jangan sampai Magi ngelukain lo lagi," usir Rama pada Revani sambil masih memegangi Magi yang memberontak dengan kedua tangannya. Perempuan itu setengah memegangi kepalanya yang sakit dan pipinya, ada bekas cakaran merah memanjang dari bawah matanya sampai nyaris ke bibirr. Ia menatap Magi yang masih meneriakinya dan mengutuk-ngutuknya dengan kata-kata yang menyakitkan. Revani kemudian berdiri dan menatap Rama sekali lagi, laki-laki itu masih susah payah menahan Magi dan malah terlihat sedang memeluk Magi, ia tersenyum dan segera berlari menjauh. Rama melindunginya lagi. "Berhenti Magi, dia udah pergi." Rama berbisik lembut menenangkan di telinga Magi, lengannya masih melingkar erat di sekitar perut Magi dan menahan perempuan itu agar tidak lagi memberontak. Magi yang berada di pelukannya itu sudah berhenti berteriak, tapi tangannya terkepal kuat dan ia menangis. "Lari sana yang jauh, jangan tampakin muka lo lagi," isaknya di antara air matanya yang terus turun. "Gak apa-apa, lo bisa tenang sekarang." Rama lagi-lagi berbisik di telinganya. Rama yang merasakan Magi berhenti berontak melonggarkan lilitan tangannya dan membiarkan Magi jatuh ke tanah, perempuan itu terduduk dengan menjejalkan tangannya ke depan, kepalanya tertunduk dan bahunya bergetar. "Hei," panggil Rama sambil ikut duduk di depan Magi, "lo boleh meluk gue kalau mau." Magi tak bergerak saat mendengarnya, tapi ia kemudian mengangkat wajahnya menatap Rama. Ia tampak kacau dengan wajah yang basah air mata, seolah bukan Revani yang tadi dipukuli, tapi dirinya. “Hm?” Rama mengulurkan tangannya pada Magi sambil tersenyum kecil. Rama menawarkan perlindungan dan penghiburan padanya, Magi tahu ia mungkin akan menyesal setelah ini, tapi Magi terlalu kacau saat ini untuk bisa memikirkan apapun. Perlahan tangan Magi terangkat melingkari leher Rama dan membiarkan tubuhnya merasakan kehangatan yang membuatnya tenang, dan ia mulai menangis makin keras. "Gue benci dia." Magi membisikannya di antara isakannya yang menyedihkan. "Iya," jawab Rama pelan. "Dia pantas diperlakukan gitu." "Iya." Rama terus menjawab setiap ucapan Magi meski tidak jelas dan tangannya tidak pernah berhenti mengusap punggung kecil itu untuk menenangkannya, tatapannya lurus ke depan meski saat ini ia tidak menatap apapun. Kemarahan yang tadi dilihat Rama itu entah menghilang ke mana, tergantikan kesedihan yang entah alasannya apa, tapi menyakiti Rama diam-diam. *** Beberapa menit kemudian Magi masih saja menangis, karena itu Rama akhirnya memutuskan membawanya bolos hari ini. Ia belum memutuskan akan ke mana dan hanya melajukan pelan mobilnya ke jalan sambil berpikir ke mana ia akan membawa Magi. "Kita mau ke mana?" tanya Magi dengan suara parau habis menangis. Rama menoleh dan melihat Magi yang sedang mengusap-usap kucingnya, hidungnya merah dan ia mengusap ingusnya dengan jaket Rama yang sedang dipakainya. Rama mendengus setengah tersenyum. "Lo mau ke mana?" tanya Rama kemudian. Pertanyaan Rama itu membuat Magi menatap kucingnya dengan wajah tertekuk, ia mengusap hidungnya lagi dengan jaket Rama yang lengannya panjang dan menenggelamkan tangan Magi. "Beli baju buat Rama," kata Magi pelan "Buat gue?" "Buat kucing gue, buat apa gue beli baju buat lo." Rama menatap kucing kecil itu yang sedang bergelung di paha Magi. "Namanya Rama?" tanya Rama ragu-ragu. "Huuh." "Kenapa?" "Supaya gue bisa hina lo, lo kan hina." Magi terbahak keras pada leluconnya sendiri dan itu membuat Rama kesal, tapi ia memilih tersenyum karena Magi akhirnya tertawa lagi. Magi lalu mulai diam lagi dan menatap kucingnya dengan tatapan sedih, seolah barusan ia mengingat sesuatu yang menyedihkan. "Tapi kucing lo kan betina?" kata Rama setelah tidak tahan melihat Magi kembali bersedih. Magi yang tampak bersedih tadi, mengangkat wajahnya menatap Rama, tatapannya bingung. Ia lalu menatap kucingnya dan ekspresinya jadi lebih sedih daripada yang tadi, Rama langsung panik melihatnya. "Gue gak tahu kalau dia betina," gumamnya sedih. "A-ahahaha." Sialan! Rama mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Magi mengangkat kucing itu ke depan wajahnya dan menatapnya tajam. "Mulai sekarang lo kucing jantan. Gue bakal namain lo Terama Adhiyaksa, lo paham kan? Bagus." I a mengatakannya sambil mengangguk-ngangguk, seolah kucing itu benar-benar berbicara padanya. Rama tersenyum geli, ia membelokkan mobilnya ke dalam sebuah Pet Shop di pinggir jalan yang kebetulan tertangkap matanya. Rama turun duluan dan tidak menunggui Magi yang terlihat kerepotan berjalan karena harus menggendong kucing dan menyeret-nyeret tubuhnya yang tenggelam di dalam jaket Rama, ia jadi kelihatan seperti gembel. Kucing itu diambil alih oleh Rama saat membuka pintu toko karena melihat Magi kesulitan. Magi menggerutu seolah kesal kenapa baru sekarang Rama membantunya. "Lo mau beli apa?" tanya Rama menatap seisi toko, lalu menatap Magi yang melipat lengan jaket. "Emang ini toko apa?" Magi balik bertanya sambil mengangkat wajahnya, baru pada saat itu ia sadar sedang berada di mana. “Pet Shop." Rama belum menyelesaikan ucapannya saat Magi sudah sedikit berlari-lari ke arah rak-rak khusus kandang kucing. Ia melihat-lihat kandang kucing dengan senang, lalu ia berteriak memanggil Rama yang menggendong kucing layaknya menggendong bayi, dasar gila. "Yang ini Ram, cantik banget, ambil yang ini aja ya?" kata Magi menarik kaki kemeja Rama sambil menunjuk-nunjuk sebuah kandang kucing. Rama menatap kandang kucing itu dengan tatapan mata yang tidak tertarik, lalu ia mengangguk. "Terserah lo, ambil aja kalau suka." Mata Magi langsung berbinar bahagia begitu mendapatkan ijin dari Rama, ia buru-buru mengambil kandang itu dan memasukkannya ke dalam troli yang dibawakan pegawai toko. "Mau beli apa lagi?" tanya Rama sambil memperhatikan Magi yang meletakkan kandang itu ke dalam troly. "Hah? Boleh beli yang lain?" "Gue gak keberatan." "Wah! Sultan!" teriak Magi. Perempuan itu tidak menunggu lama-lama, ia berlari menuju bagian yang memajang baju-baju kucing, ia dengan semangat memasukkan nyaris sebarisan baju yang tergantung, Rama menarik napas panjang melihatnya. "Lo mau beli seisi Toko?" sindir Rama sambil mengikuti Magi. "Enggak kok," jawab Magi dengan nada bahagia layaknya anak kecil yang diberi permen. "Troly lo aja udah penuh." Magi menoleh menatap trolinya dan berhenti berjalan, ia kemudian berkacak pinggang menatap Rama. "Tadi lo bilang gue boleh beli yang lain, baru segini aja lo udah protes, katanya anak konglomerat." "Bukan gitu cebol," Rama memejamkan matanya menahan emois, “maksud gue, jangan beli yang belum lo butuhin, yang lo butuhin aja dulu." "Bilang aja lo gak ada duit, kalau Bang Aska pas-" "Yaudah beli aja sekalian toko-nya." Rama mendengus kesal, kenapa Magi harus menyebut nama Aska? Suasana hatinya yang tadinya baik-baik saja langsung rusak begitu saja hanya karena mendengar nama Aska. Magi yang melihat ekspresi kesal Rama tertawa, tapi kemudian ia mengembalikan lagi baju-baju itu dan hanya menyisakan beberapa di troli. Rama melihat baju-baju itu dan tertawa, ia mengangkatnya satu persatu ke depan wajah Magi. "Lo bilang namanya Rama, kenapa lo malah beli baju kucing betina?" katanya geli sekaligus mengejek. "Terserah gue dong, kenapa lo yang berisik deh," jawab Magi dengan ekspresi menyebalkannya seperti biasa. Boleh sekali saja Rama mengcekik si cebol itu? Rama menghela napas dan menoleh ke arah baju-baju yang berjejer itu untuk mengalihkan perhatiannya, lalu Rama melihat baju berwarna hitam di rak ujung, ia berjalan kesana dan kembali dengan baju itu di tangannya yang tak menggendong Rama. "Beli yang ini juga." Ia meletakkan baju itu ke dalam troli dan Magi mencebik kesal melihat baju yang mirip seragam FBI itu. "Gak boleh, tolak Magi sambil mengambil kembali baju itu dari dalam troli, “Rama kan cewek, masa pakai baju cowok," gerutunya kesal. "Kenapa lo kasih nama Rama kalau gitu?" "Kepo lo kayak Dora." "Gue udah bilang, ini kucing betina." "Yaudah, gue ganti namanya jadi Moci, puas lo?" Magi melempar baju itu ke wajah Rama yang mengerutkan keningnya tidak suka. "Kenapa? Lo malu karena gue benar? Kucing lo itu betina." "Terus kenapa?!" Magi membentak marah, "lo suka namanya Rama aja hah?! Yaudah namanya Rama." "Namain dia Magi aja." "Kok lo yang ngatur? Suka-suka gue, ini kan kucing gue, gue yang beli pakai duit gue sendiri." Rama menghela napas, ia kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan Magi. "Lo mau ke mana?" tanya Magi merasa panik sambil mengikuti Rama, siapa yang akan membayar belanjaannya. "Beli kucing, mau gue namain Magi." "Hah?" Magi berhenti melangkah dan menatap punggung Rama, "lo ngambekan banget sih." "Gue peduli?" "Brengsek." Magi mengepal tangan dengan kesal, tapi kemudian buru-buru menyusul Rama yang sudah hampir sampai di pintu keluar, ia menarik baju Rama agar berhenti berjalan. “Yaudah iya!" Magi mengalah dengan kesal, “kucingnya gue namain Magi.” Rama menoleh sambil tersenyum penuh kemenangan, ia menepuk kepala Magi seolah memujinya karena sudah menjadi anak yang baik, tapi kelakuannya itu hanya membuat Magi kesal dan ingin menendangnya. Mereka kembali ke tempat di mana troli yang mereka tinggalkan berada. “Lo cuma mau beli itu aja?” tanya Rama melihat isi troli. "Mangkuk makannya belum, pasir belum, makanannya belum, yang lain-lain juga." Mereka masih berputar-putar di dalam toko selama kurang lebih satu jam, Magi membeli banyak hal meski Rama terus protes, ia baru berhenti saat Rama mengancam tidak akan membayar satupun belanjaannya. Magi pada akhirnya tetap membeli baju seragam FBI itu bersama baju lainnya, lalu keluar dari toko itu bersama Rama yang mengangkat semua belanjaan Magi. "Gue mau beli kucing," kata Rama tiba-tiba saat menyetir mobil dengan bagasi penuh. "Buat apa? Lo iri karena gue punya kucing? Wah, selain ngambekan, lo juga irian ya orangnya." Rama mengabaikan ejekannya, "biar sepasang sama kucing lo," kata Rama lagi seolah tidak mendengar Magi bicara. "Ogahlah, mana mau kucing gue sama kucing lo, beda kasta." "Bawel lo, Pendek." Pada akhirnya Rama memang membeli kucing jantan, tapi ia memberinya nama Mori dan mengganti nama kucing Magi menjadi Moci. Ia memberikannya pada Magi untuk diurus meski perempuan itu terus marah-marah padanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD