Part 11

1678 Words
"Gue nginep disini lagi ya." Sejak Rama datang membawa bantal besar dan mengatakannya, Magi telah mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan damainya. Ini sudah hari ketiga Rama menginap di apartemen Magi, terhitung sejak Magi menendang masa depan Rama, sejak itu pula Rama hanya pulang ke rumahnya untuk mandi dan berganti pakaian, lalu ia akan kembali ke apartemen Magi. "Ini muntah kucing atau racun?" gerutu Rama malam ini saat ia meminta Magi memasak untuknya. "Gue kan udah bilang, gue gak bisa masak." Magi mencebikkan bibirnya kesal, ia juga tahu masakan yang tidak jelas bentuknya di depan Rama itu tidak layak makan. "Bisa mati gue." "Lo makan Macharoni aja deh." "Buatin nasi goreng aja," tawar Rama untuk terakhir kalinya dengan lelah saat melihat Magi memberikannya sisa Macharoni schotel tadi sore. "Gak bisaaaa, lo makan itu aja dong," rengek Magi, ia tidak mau mengulangi proses memasak yang tadi dilakukannya, itu melelahkan dan hasilnya sangat mengecewakan. Magi sama sekali tidak punya bakat dalam hal memasak. Lagi pula nasi goreng kan tidak boleh di makan saat tengah malam seperti ini, memang sepertinya Rama sengaja mengerjainya. Padahal kan laki-laki itu harusnya sudah tahu setelah selama tiga hari menghancurkan kehidupan damai Magi, perempuan bernama lengkap Magika Zalardi itu tidak pernah menyentuh dapur sepanjang hidupnya. "Gue mau nasi goreng. Lo gak punya hak buat protes." Rama melipat tangannya di depan d**a sambil menatap Magi dengan datar, ia sama sekali tidak mau mendengarkan protes Magi saat ini. Magi harusnya tahu bahwa Rama jauh lebih keras kepala dari pada dirinya, anak sulung keluarga Adhiyaksa itu selalu menemukan makanan hangat di rumahnya setiap kali ia merasa lapar. Tentu saja ia tidak akan mau lagi menerima makanan dingin malam ini setelah Magi memberinya makanan dingin yang dipanaskan tadi siang. "Masak aja sendiri kalau gitu," Magi melepas apron-nya dan melemparnya ke meja dengan marah, "lo pikir tangan yang gak pernah nyentuh dapur seumur hidupnya ini bisa tiba-tiba jadi ahli banget di dapur gitu? Jangan harap gue bakal tiba-tiba bisa masak nasi goreng ya." "Nasi goreng itu digoreng, bukan dimasak." Magi mengatupkan mulutnya, ia tahu Rama benar, tapi ia merasa marah karena Rama benar. Magi memicingkan matanya kesal. "Gue benci lo," ucapnya dengan nada pelan. Ia kemudian meninggalkan Rama di dapur dengan langkah menghentak. Ia juga tak lupa sebelumnya merebut Moci dari pangkuan Rama dan masuk ke satu-satunya ruangan paling besar di apartemen itu, ruang tamu yang juga adalah ruang serbaguna. Rama mengikutinya dan ikut duduk di sofa yang berbeda saat Magi duduk. Perempuan itu menatap Moci dengan kening berkerut kesal seolah sedang bertelepati dengan Moci dan Rama jadi tersenyum melihatnya. Beberapa menit ke depannya mereka hanya diam seperti itu, Magi berusaha melakukan telepati pada Moci dan Rama yang memainkan ponselnya sambil tangannya mengusap bulu Mori yang bergelung di pahanya. Matanya sesekali melirik Magi dan meski hanya sesekali, tapi Magi beberapa kali memergokinya dan membuat Magi terus memasang wajah kesal, itu membuat Rama tersenyum. "Kenapa lirik-lirik gue?!" bentak Magi sambil akhirnya memelototi Rama. "Bukannya lo yang lirik-lirik?" "Kata siapa?!" Magi membentak kesal, "gak sudi lirik lo, pokoknya jangan lirik-lirik gue, gue gak suka." "Tapi gue suka." Entah suka yang mana yang dimaksud Rama, tapi wajah Magi langsung memerah sampai ke telinga mendengarnya. Ia buru-buru berdiri dan berjalan cepat ke dapur meninggalkan Rama yang tertawa melihat tingkah perempuan itu. Rama menghela napas untuk menghentikan tawanya dan menatap punggung Magi yang sedang membuka pintu kulkas. "Gue lebih suka lagi kalau lo mau berhenti ngejar Aska," bisiknya pelan. "Meow." Mori yang sejak tadi bergelung di pangkuannya seolah mengerti pada apa yang dirasakan Rama saat ini, mata bulatnya yang berwarna kuning menatap Rama dengan berkaca-kaca. Rama mengusap kepalanya dengan lembut, ia berterimakasih dalam hati. "Kucing bahkan lebih peka dari pada lo," ia menjeda ucapannya dan menatap Magi lagi, "bisa-bisanya gue suka sama kucing garong kayak lo." Suaranya yang sekecil bisikan itu tidak akan terdengar ke telinga siapapun, termasuk Magi yang sedang berjalan mendekat dengan Moci di gendongannya. Ia membawa sekaleng soda lalu duduk di samping Rama yang pura-pura menonton TV. "Udah jam satu Ram, lo gak ngantuk?" tanya Magi pelan. "Kenapa?" “Nanya doang.” Rama menoleh saat mendengar suara Magi yang terdengar tidak bertenaga, perempuan itu menunduk menatap Moci dengan tatapan sedih. "Gak biasanya lo peduli?" tanya Rama pelan. Magi tersenyum tipis sambil tangannya bergerak mengusap bulu-bulu halus Moci. "Gue cuma...," Magi tampak berpikir, ia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya, tapi ia memaksa dirinya sendiri untuk membuka mulut, "gue cuma merasa selama ini gue terlalu berlebihan ngehadapin lo, gue selalu kasar dan jahat sama lo." Rama tidak membuka mulutnya untuk bicara, ia merasa Magi belum selesai. Ia menatap perempuan itu dengan tatapan menunggu, agar Magi tahu ia tidak sedang mengabaikan ucapannya. "Meskipun sikap gue ke lo begitu, lo tetap mau nemenin gue waktu gue nangis, lo mau ngelindungin gue meski gue yang salah," Magi tertawa, “lo bahkan mau bawa gue jalan-jalan dan bayarin semua belanjaan gue." Magi memainkan jemarinya di kaki kucingnya dengan sisa-sisa tawa di sudut bibirnya, Magi kemudian menoleh menatap Rama dan sisa-sisa tawa itu berubah menjadi senyum tulus. "Makasih ya." Suaranya terdengar sangat ragu di telinga Magi sendiri, karena butuh banyak waktu untuk Magi bisa mengatakannya, apalagi yang ia bicarakan saat ini adalah Rama. Rama tidak tahu harus mengatakan apa. Magi yang seperti itu terlihat manis, Rama ingin memeluknya lagi, tapi Rama yakin Magi akan meninjunya kalau ia melakukannya, karena itu ia kemudian membuka mulutnya untuk bicara. "Lo gak perlu berterimakasih, selama itu ngebuat lo senang, gue gak masalah." Mata Magi melebar dengan terkejut. Sepanjang hidupnya tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya, orang tuanya sekalipun, bahkan termasuk Aska. "Ke-kenapa lo peduli?" tanya Magi ragu. "Gak perlu alasan untuk peduli sama orang lain, selama lo masih manusia." Magi tiba-tiba merasa menyukai Rama yang seperti ini, untuk pertama kalinya Magi mendapati seseorang yang peduli padanya bukan karena sebuah alasan, tapi karena Magi memang pantas mendapatkannya. Magi tidak mau mengakuinya, tapi untuk pertama kalinya setelah 7 bulan berlalu, Magi merasa bisa mempercayai seseorang lagi. "Gue ngantuk," kata Rama tiba-tiba, ia berdiri dari sofa setelah menurunkan Mori dari pangkuannya, "gue tidur duluan atau lo tidur belakangan?" Magi masih menatap Rama dengan tatapan yang sama beberapa saat, lalu kemudian ia tertawa, "sama aja b**o," ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. Rama tersenyum, ia berjalan mendekati Magi dan mengusap sudut mata perempuan itu, "gak ada perempuan yang cantik saat dia sedih, perempuan lebih cantik saat dia tersenyum." Magi tidak bisa mengatakan apa-apa, sebenarnya ia sendiri tidak sadar bahwa matanya berair, bibirnya terbuka dan matanya menatap Rama yang masih tersenyum. “Jangan sedih lagi, Magi." Rama berbisik padanya, ia mengusap rambut Magi lembut. Laki-laki itu lalu meninggalkan Magi di sofa sendirian. Magi mengangkat tangannya dan memegang kepalanya yang diusap Rama tadi sambil terus memperhatikan punggung Rama yang menghilang ke dalam kamar. Magi merasakan bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan, ia tersenyum dengan tulus. Magi rasanya menginginkan Rama berada di dalam apartemennya setiap hari, Magi tahu itu terdengar sangat konyol, tapi Magi benar-benar menginginkan seseorang berada di sampingnya bukan karena keharusan, seseorang yang bertahan untuknya karena Magi pantas mendapatkannya. Malam itu tidur Magi lebih nyenyak dan lebih nyaman dari pada semua tidurnya selama 3 tahun belakangan ini, ia seakan tidak punya alasan untuk mengingat apapun yang terjadi belakangan ini dan apapun masalah yang menunggunya di depan mata besok. *** Magi tidak pernah punya kesempatan menikmati harinya sendiri. Hari di mana ia bisa duduk meminum teh sambil membaca novel-novel favoritnya, lalu tertidur di kursi dan terbangun di tempat tidur karena dipindahkan oleh Papa, ia akan datang ke meja makan dan ada orang tuanya di sana, tapi untuk saat ini Magi hanya akan berterimakasih atas keberadaan Rama di sini. Sampai ia terbangun pagi harinya dan menemukan Rama berdiri di depan lemarinya dengan bingkai foto, laki-laki itu menoleh ke arah Magi yang duduk di kasur. "Ini Mama lo?" tanyanya Magi masih mengumpulkan nyawa saat melihat Rama berdiri seperti itu, ia menatap bingkai foto di tangan Rama itu sambil menggaruk kepalanya. "Oh iya, itu Mama," katanya setengah akan terjatuh ke kasur lagi. "Yang di sampingnya?" "Di sampingnya?" "Ada anak kecil di sini." Rama mendekat dan menaruh bingkai itu di pangkuan Magi, ia melihat foto itu dan mengernyit. Ia mengenali anak di dalam foto itu dengan sangat baik, dan karena kesadarannya masih belum terkumpul untuk mengingat seperti apa posisi anak itu sekarang, Magi menjawab tanpa pikir panjang. "Saudara gue," jawab Magi sambil menguap dan meregangkan tubuhnya. "Saudara? Bukannya lo anak tunggal?" "Kata siapa?" Magi menunjuk anak perempuan di foto itu dan baru akan membuka mulutnya saat kesadaran menghantam kepalanya. Magi selalu lupa segalanya saat baru bangun tidur dan kesadarannya belum terkumpul, ia juga akan langsung menuruti perintah apapun. Kebiasaannya itu sangat konyol jika dibandingkan dengan sikapnya yang jahat setiap hari. Saat kesadarannya mulai terkumpul dengan cepat, Magi mulai mengingat wajah perempuan yang berada di dalam pelukan Mamanya, ia menjadi tegang dan cepat-cepat mengambil bingkai itu, buru-buru menyembunyikannya di belakang tubuhnya. "Jangan sentuh barang-barang gue!" bentaknya kasar dengan menatap tajam Rama. Rama terkejut, ia mundur selangkah mendapati bentakan tajam itu dan bagaimana Magi tiba-tiba terlihat lebih tak tersentuh dari pada sebelumnya. Seolah tembok yang tidak pernah bisa Rama runtuhkan itu jadi semakin tinggi dari sebelumnya dan Rama takut Magi akan semakin tak bisa ia jangkau. Rama tidak akan membiarkan itu terjadi. Rama lalu tersenyum, ia menoleh menatap jam digital di atas laci milik Magi, lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Gue beli sarapan dulu, lo pasti lapar kan?" katanya sebelum keluar dari kamar Magi. Magi merasa bersalah melihat Rama seperti itu, tapi ia terlalu takut dan marah di saat bersamaan untuk sekedar memikirkan perasaan Rama saat ini. Tangannya bergetar saat turun dari kasur dan membawa foto itu masuk ke lemarinya lagi. Magi berjanji pada dirinya sendiri akan membakar foto itu nanti. Ia berjalan pelan ingin ke kamar mandi, tapi kakinya terlalu gemetar sampai tersandung entah apa dan ia jatuh. Magi tidak berniat berdiri sama sekali dan hanya duduk di sana dengan perasaan marah, lalu perasaan marah itu akhirnya membuatnya menangis keras, ia memeluk dirinya sendiri. "Ma, aku gak bisa maafin mereka," bisiknya pelan di antara isakan pilu yang keluar dari bibirnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD