Tok... Tok... Tok...
Rama pergi cukup lama, Magi tahu laki-laki itu hanya memberinya waktu untuk menenangkan diri. Karena itu saat ia selesai menangis, ia mandi dan memikirkan permintaan maaf untuk Rama, tapi laki-laki itu malah kembali lebih cepat dari yang diperkirakan Magi.
Magi sedikit berlari-lari kecil keluar dari kamarnya untuk membuka pintu. Bibirnya bersiap-siap mengatakan maaf pada Rama, tapi permintaan maaf itu tidak pernah jadi ia keluarkan, justru lidahnya kelu melihat siapa yang berdiri di depan pintu apartemennya.
Plak...
Kepalanya tersentak ke samping dan telinganya berdenging, Magi merasakan pipinya kebas. Jangankan permintaan maaf, Magi bahkan belum sempat mengatakan satu katapun saat telapak tangan itu meluncur menampar sisi wajahnya.
"Sudah berapa kali saya bilang sama kamu, jangan ganggu anak saya!" Bentakan keras itu tidak langsung membuat Magi sadar dari rasa sakit.
"Papa!"
Suara perempuan yang sangat dikenali Magi terdengar, baru pada saat itu Magi menoleh hanya untuk melihat seorang perempuan memegangi kemeja seorang pria tua.
Kemarahan yang sudah dipendamnya sangat lama terasa membakar seluruh dirinya begitu tatapannya bertemu dengan mata perempuan itu, tapi Magi hanya mengepal tangannya sampai terasa menyakitkan.
Ia menatap lagi pria yang terlihat begitu marah di hadapannya itu, lalu matanya beralih kembali pada perempuan yang wajahnya ada bekas cakaran merah memanjang.
"Yang ngasih izin kalian datang ke sini siapa?" Suara Magi terdengar lebih dingin dari pada es sekarang, matanya yang menyala marah berbanding terbalik dengan ekspresi dingin nan kaku yang ia perlihatkan.
Pria itu tampak terkejut melihat ekspresi Magi. Sesaat ia terlihat ingin mundur karena tidak menyangka akan mendapatkan respon seperti itu, tapi kemudian tangannya terkepal lebih kuat dan ia membalas tatapan dingin Magi.
"Kayak gini Mama kamu ngajarin kamu minta maaf?"
Laki-laki itu menatapnya dengan tatapan yang paling dibenci Magi, tatapan merendahkan, dan itu menyulut api yang sudah terlanjur menyala di dalam diri Magi.
"Nggak," Magi menjawab sinis, "nggak mungkin Mama bakal ngajarin aku begini, bukannya Anda sendiri kan yang ngajarin aku kayak gini?"
"Jaga bicaramu, Magika!"
"Kenapa? Benar kan? Anda sendiri yang mengajariku bahwa tidak perlu meminta maaf apapun kesalahan yang kuperbuat, bukannya seperti itu kan Anda mengajari anak ini?" Magi menunjuk perempuan itu yang berdiri di samping pria itu.
Pria itu akan mengangkat tangannya lagi, tapi perempuan di belakangnya menahannya cepat, ia menggeleng sambil terisak, ia tidak ingin Magi dipukul lagi.
"Dasar anak gak tahu diri! Saya peringatkan kamu, kalau kamu ganggu anak saya lagi, saya akan usir kamu dari apartemen ini."
Magi mengepal makin marah. "Punya hak apa Anda pada apartemen ini? Semua yang kalian nikmati sampai hari ini pun itu punya Mama-"
Plak...
Magi bergeming, ia mengepal tangannya semakin kuat. Ia tidak peduli dengan rasa sakit yang dirasakannya saat ini, Magi hanya ingin mengembalikan semua rasa sakit itu pada orang-orang yang menyakitinya.
"Gak tahu diuntung! Saya besarkan kamu meski saya gak pernah berharap kamu terlahir, begini cara kamu membalas saya?!"
"Aku gak pernah minta terlahir dari orang seperti Anda!" Magi menyambar tajam, "kalau boleh meminta, aku berharap gak pernah jadi anak Anda!”
"Magika!"
"Apapun yang kalian nikmati sekarang aku bakal ambil kembali, itu semua ada di bawah nama Mama," Magi tidak akan peduli lagi pada nuraninya sendiri, selama ia bisa mengembalikan rasa sakit itu dengan setimpal, "mengemis sekalipun, aku gak akan pernah sudi kalian nikmati harta Mama."
Rambutnya dijambak dengan keras sampai membuatnya mendongak dan Magi menolak memperlihatkan rasa sakit di wajahnya, ia mendesis dan matanya menyorot tajam pada pria tua itu.
"Kamu tidak akan pernah mendapatkan harta itu, ingat dengan benar kata-kata saya ini," geram laki-laki itu penuh ancaman.
"Itu punya Mama," desis Magi.
Kepalanya dibenturkan ke pintu dengan keras, Magi mendengar suara jeritan saat itu, tapi kepalanya terlalu pusing untuk bisa memikirkan pemilik suara itu. Ia berkedip cepat, bersikeras menolak menunjukkan rasa sakit meskipun saat ini tubuhnya ingin ambruk
"Sudah bagus saya mau membiayai kamu, anak bodoh!"
Magi belum sepenuhnya bisa menguasai dirinya saat satu tamparan lagi menyentuh wajahnya dan ia terhuyung jatuh, perutnya ditendang sesuatu dan Magi terbatuk keras. Pukulan dan tendangan berkali-kali singgah ke tubuhnya, tapi Magi sungguh tidak ingin menangis di depan dua orang itu, Magi menolak mengakui dirinya lemah.
"Udah berhenti Papa! Kasian Kakak!"
Anak perempuan itu berusaha sangat keras menarik mundur Papanya yang masih saja seolah tak puas memukuli Magi, ia terisak keras saat pria itu berhenti memukul Magi dan terengah-engah.
"Kalau kamu ganggu anak saya lagi, saya pastikan kamu ikut Mama kamu," desis pria itu.
Magi berdecih sinis dengan ringisan di sudut bibirnya yang berdarah. "Coba saja."
Sekali lagi pria itu akan mengangkat kakinya untuk menendang Magi yang masih berjuang mengangkat tubuhnya dari lantai, tapi anaknya segera menariknya dan menangis makin keras, memohon agar tidak melanjutkan memukul Magi, hal itu hanya membuat Magi tertawa sinis.
"Papa udah! Jangan pukul Kakak lagi," isaknya memohon.
"Gue gak butuh belas kasihan lo, Pembunuh."
"Magika Zalardi!!"
"Jangan sebut nama Mama!"
"Anak sialan!"
"Papa! Aku bakal pergi dari rumah kalau Papa masih mukul Kakak!"
Pria itu berdecak marah, ia menoleh menatap anak perempuannya yang menangis. Ia menghela napas kasar, lalu melepaskan tangan anaknya dari lengannya.
"Terakhir kali, Magika, jangan ganggu anak saya lagi," katanya dingin sebelum menarik anak perempuannya menuju Lift.
Magi masih terduduk di lantai dengan rambut berantakan dan luka di sekujur tubuhnya, tapi matanya tak mengeluarkan sedikitpun tangisan. Justru ia tatap sedemikian tajam anak perempuan itu yang matanya menyorot Magi khawatir sekaligus meminta maaf.
"Pembunuh," bisiknya pelan penuh emosi.
Saat itu pintu lift terbuka dan keberadaan seseorang di dalamnya membuat anak perempuan itu membuka matanya lebih lebar.
Rama yang mendengar suara denting yang menandakan ia sudah sampai di lantai tujuannya mengangkat kepalanya dari kantong kresek berisi makanan, matanya langsung bersitatap dengan mata seorang perempuan yang cukup dikenalinya. Perempuan itu buru-buru menunduk dan membuat Rama mengernyitkan kening, tapi Rama tidak ingin peduli.
Rama melewati dua orang itu tanpa menoleh lagi. Apartemen Magi terbuka dan membuat Rama heran, seingatnya ia meninggalkan apartemen dalam keadaan tertutup. Ia berjalan cepat menuju apartemen dan matanya nyaris keluar dari rongganya saat melihat Magi yang duduk di lantai dengan berantakan.
"Ma-magi..."
Rama tidak tahu harus melakukan apa saat melihat perempuan itu yang sekarang balik menatapnya dengan mata yang sama-sama terkejut, lalu pemahaman menghampiri Rama secepat matanya menyorot tajam dan ia menoleh ke arah Lift, badannya berputar cepat.
"Jangan!" Magi menahan tangannya dengan cepat
"Apa maksudnya jangan?!" Rama membentak dengan marah, "orang itu kan?" tanya Rama dengan gigi bergemelutuk.
“Please..."
Suara Magi yang lemah dan senyum pura-puranya yang dipaksakan sama sekali tidak menyurutkan amarah yang dirasakan Rama saat ini, tapi ia tidak melanjutkan niatnya mengejar dua orang yang ditemuinya tadi. Ia berlutut dan mengangkat Magi ke dalam gendongannya, amarahnya makin menjadi saat matanya menangkap ringisan Magi.
"Gue lapar," kata Magi berpura-pura bahwa saat ini tidak ada memar di wajahnya dan darah di bibirnya.
Rama menatap perempuan yang saat ini berada di dalam pelukannya itu, ia masih tersenyum seolah tak merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ia berpura-pura seolah tak ingin Rama tahu betapa lemahnya seorang Magika Zalardi. Rama memejamkan matanya dan menahan dirinya sendiri untuk tidak melampiaskan emosinya saat ini, atau ia akan meremukkan Magi yang berada di dalam dekapannya.
"Gue tadi beli bubur, mau makan sekarang?"
Rama membuka kembali matanya dan menatap Magi datar, ia akan memilih pura-pura tidak melihat apapun jika itu bisa membuat Magi merasa sedikit lebih baik. Ia ikut tersenyum membalas senyum pura-pura Magi.
"Ayo makan," kata Magi seraya menyandarkan kepalanya yang pusing ke d**a Rama yang terus memperhatikannya.
Rama merasa jantungnya seolah diremas melihat perempuan itu masih berpura-pura kuat, ia mengatupkan mulutnya rapat dengan rahang mengeras dan menatap lurus ke depan.
"Ayo," gumamnya dan ia membawa Magi masuk ke dapur.
Rama tahu ia tidak berhak melakukan apapun dan ikut campur, tapi apa ia benar-benar hanya akan berpura-pura tidak melihat Magi yang terluka? Rama tidak bisa melakukannya.
"Lo mau gue buatin minum? s**u misalnya?"
Suara Magi lebih bergetar saat Rama menurunkannya di atas kursi meja makan, Rama menggeleng menolak. Ia meletakkan kresek yang sejak tadi di tentengnya dan mengeluarkan dua kotak bubur hangat yang dibelinya tadi.
"Ini beli di mana?" tanya Magi berpura-pura Rama tidak terus memperhatikannya sejak tadi.
Magi tahu ia akan terlihat makin lemah jika memutuskan membicarakannya, karena itu ia berpura-pura tidak merasakan apapun dan tetap melanjutkan makannya, meski tangannya bergetar dan bibirnya meringis sakit.
Magi merasa sangat marah dan sedih disaat bersamaan, tapi ia hanya perlu terus menahannya, dan semuanya mungkin akan baik-baik saja.
"Lo gak makan?" tanya Magi tanpa menatap Rama.
"Enggak"
"Ya-yaudah, nanti gue habisin semua, gue laper sih." Ia tertawa sumbang.
Rama sungguh tidak tahan melihatnya, ia menangkap tangan Magi dan menariknya ke dalam pelukannya, ia menarik napas kasar. Magi menjatuhkan sendoknya saat Rama menariknya dan napasnya tertahan di kerongkongannya saat itu.
"Gue baik-baik aja, Ram," bisik Magi pelan.
"Gue yang gak baik-baik aja!" bentaknya kasar.
"Ram-"
"Apa gue harus pergi ke sana dan balas apapun yang mereka lakuin ke lo biar lo bisa bilang lo gak baik-baik aja, Magi?"
Magi terdiam merasakan dekapan Rama di tubuhnya makin erat, dan meski menyakitkan, Magi merasa tidak keberatan. Tangannya yang bergetar kemudian mengcekram erat kaos bagian belakang Rama dan ia mengigit bibir menahan apapun yang memaksa ingin keluar.
"Gue beneran baik-baik aja, ini bukan apa-apa," katanya seolah ada bola di tenggorokannya.
"Magi..."
"Dia gak akan bisa mukul gue lagi nanti, gue bakal lebih kuat."
Rama menggertakkan giginya mendengar ucapan Magi, perempuan itu jelas-jelas sedang menghibur dirinya sendiri.
"Jadi tolong," Magi berbisik pelan dengan suara serak, "tolong pura-pura lo gak lihat semuanya," mohonnya dan itu adalah permohonan paling menyakitkan yang pernah didengar Rama.
Rama mencekram rambut Magi dengan keras, tidak sampai menyakiti pemiliknya. Ia merasa sesuatu terbakar di dalam dirinya.
"Gue bakal pura-pura sepanjang yang lo mau nanti, Magi," Rama memejamkan matanya, "karena itu sekarang lo boleh berhenti pura-pura kuat."
Suaranya menghilang dan punggung yang dipeluk Rama itu bergetar hebat, cekraman di kaosnya makin kuat, tapi tak sedikitpun dia mendengar suara isakan Magi kecuali suara napas tersendat-sendat. Rama mendorong pelan Magi, menangkup wajah perempuan itu yang matanya terpejam tidak mau melihat Rama, ia sama sekali tidak menangis.
"Lo boleh nangis di depan gue Magi, setelah ini gue akan pura-pura semuanya gak terjadi seperti yang lo mau."
Setelah Rama mengatakannya, Magi membuka matanya menatap laki-laki itu, mata itu terlihat lelah dan bermacam-macam emosi tergambar di sana. Pelan-pelan bola mata itu mulai berair, lalu jatuh mengalir di sepanjang pipinya. Magi meraungkan semua emosi yang dirasakannya.
"Lo gak perlu pura-pura kuat depan gue, lo boleh merasa capek, lo boleh nangis, lo boleh pukul gue kalau itu bisa buat lo merasa baik-baik aja. Gue gak akan pernah anggap lo lemah, lo itu kuat."
"Apa orang yang kuat juga boleh nangis, Ram?"
"Semua orang boleh merasa lelah dan menangis, karena manusia memang diciptakan lemah, gak perlu pura-pura kuat selamanya."
Rama tersenyum melihat mata yang basah dan bibir yang bergetar itu. Rama menarik napas, ia bukan mencuri kesempatan dalam kesedihan Magi, tapi rasanya Rama ingin melakukannya sekarang dan memberi tahu Magi bahwa perempuan itu tidak sendiri, ia mendekat dan menemukan bibir Magi yang bergetar dengan bibirnya sendiri.
Perempuan itu tidak terkejut seperti saat pertama kali Rama menciumnya, ia masih menangis dan mengangkat tangannya memegangi tangan Rama yang menangkup pipinya, ia membiarkan Rama menciumnya.
Sudah sangat lama sejak terakhir kali ada yang memeluk Magi seperti itu dan menghiburnya, apa Magi boleh merasa serakah sekarang?
***