Lelaki itu mulai panik. Ia bingung harus bertindak seperti apa. Setelah berpikir panjang, Arya memutuskan untuk berbicara empat mata dengan Alia. Ia menuju ke dapur. Nihil, Alia tidak ada di sana. Hanya Anita yang terlihat masih menikmati sarapan pagi. "Mungkin, Alia di kamar," gumamnya. Ceklek! Pintu kamar setengah terbuka. Benar, wanita itu termenung di atas kasur. Tatapannya kosong, seolah sedang memikirkan beban berat. Arya mendekat, lalu duduk di hadapan istrinya. "Sayang ...." Tangan Arya menepuk pundak Alia pelan. Ia tersentak, lalu menatap tajam suaminya. "Ada apa?" tanyanya datar. "A-aku ...." Ucapan Arya menggantung, membuat Alia mengerutkan dahi. "Bicara yang jelas, Mas." "Aku minta maaf, Sayang. Apa kau mau memaafkan aku?" Manik cokelat Arya menatap lekat ke arah istri

