8. Pegawai Baru

1137 Words
Namun malah terlihat aneh. Maya kebingungan harus bagaimana. Karena gemas pria itu bangkit dan mendatangi pembantunya itu. Maya terkejut ketika sang pria datang dan menyentuh kedua bahunya untuk membetulkan. Laki-laki itu juga menunjukkan cara berdiri tegak yang benar. "Begini, santai saja. Kenapa sih?" 'Bagaimana bisa? Jantungku saja kini berdetak tak karuan. Bagaimana ini?' Eh, iya, Pak," jawab sang wanita sedikit gugup. "Coba kamu jalan ke mejaku, tapi santai saja." Maya menurut. Walau masih bingung dengan yang diinginkan pria itu. "Bahu tegakkan! Berjalanlah dengan penuh percaya diri!" Pria itu memberi semangat, tapi masih saja kurang. "Anggap saja dirimu cantik dan semua orang memandang ke arahmu!" Saat itulah langkah wanita itu terhenti karena terkejut dan menoleh. "Eh, maksudku, berjalanlah dengan rasa bangga dengan dirimu sendiri." Raka seperti ragu mengatakannya karena Maya menatapnya. "Coba kamu jalan ke arahku." Maya berbelok arah dan kini melangkah ke arah pria itu dengan sedikit menunduk. Tentu saja, karena ia tak berani menatap wajah pria itu, tapi ia berusaha fokus dengan apa yang sudah Raka ajarkan padanya. Sementara, jantungnya masih mempermainkannya karena ia melangkah mendekati pria itu. "Bagus ... begitu." Pria itu terlihat puas karena Maya bisa cepat mengerti. "Biasakan lagi memakai sepatu itu ya? Kalau terlalu tinggi, pakai yang lebih rendah. Dan oya, kamu terlalu gemuk. Coba turunkan berat badanmu, karena kalau kamu ingin jadi sekretaris, setidaknya enak dipandang mata." "Eh, iya, Pak." "Kamu tidak cerita apa-apa 'kan dengan pegawai yang lainnya?" "Eh, tidak, Pak." Maya berbicara menunduk. Tiba-tiba pria itu mendekat dan menarik dagu wanita itu ke atas, membuat Maya terkejut. "Kalau bicara, perhatikan wajah orang yang diajak bicara, ok?" "Eh, iya, Pak." 'Aduh, bagaimana bisa? Apalagi dia. Aduh, jantungku tak bisa diajak kompromi ini ....' "Ya sudah. Kau boleh pergi," sahut pria itu dingin. Maya yang panik, segera mendekati pintu. "Maya." "Iya, Pak?" 'Duh ... apalagi ini?' Raka menunjuk pada nampan di atas meja. "Bakinya." "Oh, iya." Wanita itu kembali mendekati meja kerja pria itu dan mengambil nampan yang berisi piring bekas sarapan Raka. Ia membawanya keluar. Sejujurnya Maya menikmati kehidupan barunya menjadi pegawai magang di rumah sakit itu, karena ia mulai punya banyak teman terutama di kantor Raka. Mereka memandang Maya dengan cara berbeda. Keluarga istri presdir, jadi mereka juga menghormati dirinya. Apalagi, ia tak bersama Alika. Maya sebenarnya tipe orang yang bisa punya banyak teman tapi bila bersama Alika, wanita cantik itu selalu menyingkirkan teman-temannya. Maya hanya boleh berteman dengan anak majikannya itu saja. Pastinya Maya stres bersekolah dengan Alika tapi ia menyadari posisinya yang cuma sebagai anak seorang pembantu. "Maya, sudah jam makan siang. Makan yuk, ke kantin!" Ajak sekretaris Raka, Ilona. "Tapi Pak Raka, gimana?" "Biasanya dia keluar sendiri. Pamit aja padanya, biar dia gak cariin kamu, kalau penting." "Ya, sudah." Maya mendatangi ruangan Raka dan kembali mengetuk pintu. Saat ia membuka pintu, sang pria sedang menelepon melalui ponselnya. Raka mengangkat tangan untuk menyuruhnya menunggu. "Ada apa?" tanya pria itu saat selesai menelepon. "Saya mau ke kantin, Pak. Makan siang." "Ya sudah, pergi saja." "Eh, Bapak gak makan siang?" "Nanti Saya keluar." "Oh, ya sudah. Permisi, Pak." Maya menganggukkan kepala sebelum menutup pintu. Pria itu tersenyum. Sang wanita sepertinya cepat beradaptasi dengan lingkungan dan tampak lebih bahagia. Mulai hari ini, Maya akan bekerja dengannya, tapi ia harus selektif. Wanita itu harus bisa mengerjakan tugas seorang sekretaris, atau Raka akan kembali bermasalah dengan istrinya. Karena itu ia akan terus memantau perkembangan pekerjaan mantan pembantunya itu, sampai ia bisa dilepas sendiri bekerja. Ini berarti pekerjaannya akan bertambah banyak, tapi ia tak punya pilihan. Berdamai dengan Alika itu lebih penting dari apapun. Banyak yang ikut dengan Maya dan Ilona ke kantin karena mereka penasaran pada Maya. Wanita itu sangat ramah pada pegawai yang lain, berbanding terbalik dengan Alika yang bergaya seperti bos saat datang ke kantor itu. Bahkan lebih parah dari pemiliknya yaitu Raka Adiwijaya. Raka tipe pemimpin tegas dengan wajah dingin. Walaupun punya wajah tampan tapi tak ada yang berani dekat dengan pria itu karena selain berkuasa, ia jarang bicara. Ia hanya bicara seperlunya. "Maya, kamu mau apa? Aku traktir ya?" Seorang pegawai pria mendekatinya. Yang lain malah menyoraki pria itu. "Duh, Adi. Langsung pedekate nih!" sahut Agung dari belakang. "Ya, lebih baik terus terang. Ya 'kan?" Maya tersipu-sipu sementara Ilona menyikut lengan wanita berjilbab ini. "Ngak papa, aku beli sendiri aja." Mereka pun mengantri di depan etalase. Setelah mengambil makanan masing-masing, mereka berkumpul di dua meja. Canda tawa menghiasi makan siang di kedua meja itu dan suasana sangat menyenangkan. "Eh, Pak Raka galak juga gak sih di rumah?" tanya Ratri, pegawai yang lain yang berambut lurus sebahu. "Ih, mau tau aja." Ilona menyenggol bahu wanita muda itu dengan bahunya. Ia yang berambut bergelombang panjang terurai, memang yang paling cantik di ruangan kantor Raka. Pantas saja Alika cemburu padanya. Alisnya terukir indah dengan bola mata manik hitamnya. Hidungnya mancung dengan kulit bersih walaupun sedikit kuning langsat. "Jangan ngomongin itu, ah! Ngomongin yang lain aja," bujuk Maya agar mengganti topik pembicaraan. "Nah ... Maya udah punya pacar belum?" Pertanyaan Adi langsung membuat kedua meja itu ramai. "Aduh, Adi. Gak sabaran banget ... pengen tahu aja." Ratri tergelak. Walaupun ada yang menggodanya, Maya senang berada bersama mereka. Tentu saja karena tidak ada Alika di sana. Serasa hidupnya bebas merdeka. **** Baru saja Maya dan Raka sampai ke rumah, Alika menyambut mereka dengan mencium punggung tangan sang suami dan memberi tahu pria itu, Ardha ada di kamar. Nyonya rumah itu langsung menarik tangan Maya untuk bergerak ke arah kamar mantan pembantunya itu. "Aku ada sesuatu untukmu," ucapnya sambil menggandeng Maya. Raka hanya melihat saja. Ia lebih tertarik mendatangi kamar anaknya daripada ingin tahu urusan lainnya. Sesampainya di kamar, Maya terkejut dengan banyaknya barang ditumpuk di atas ranjangnya. "Ini ...." "Ini pakaianmu kerja, sama sepatu yang bisa kamu pakai untuk kerja di rumah sakit. Aku beli online ukuran badanmu. Tidak mungkin 'kan kamu pinjam bajuku lagi karena cuma baju yang kamu pakai ini saja yang muat denganmu karena bajunya kebetulan longgar." Maya mendatangi ranjang tidurnya melihat barang-barang yang tidak murah itu. Bahkan lengkap dengan dua buah tas tali baru yang berbeda warna dan rupa. Alika ikut masuk dan menutup pintu. "Yang penting Mas Raka ngak dekat-dekat sama Ilona yang genit itu 'kan?" Antara mendengarkan dan tidak, Maya masih terpaku pada barang-barang yang masih menumpuk di atas ranjangnya. "I-ini, buatku semua? Potong gaji?" "Apa?" Nyonya rumah itu melirik ke arah barang-barang di atas ranjang. "Oh, itu. 'Kan kamu belum gajian? Mulai sekarang, Mas Rakalah yang akan menggaji kamu. Ini anggap saja hadiah, karena kamu harus membuntuti terus sekretaris centil itu agar jangan dekat-dekat suamiku. Lagi pula, kamu gendut sih, mana muat sama baju aku." "Oh, terima kasih, Kak." "Kak?" Alika memandangi wajah anak pembantunya itu. "Ya sudahlah. Memang harus begitu kali, ya? Oya, kamu harus pindah ke lantai atas sebelah kamar Ardha karena pembantu baru akan masuk ke rumah ini besok." Setelah itu Alika pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD