9. Tugas

1165 Words
"Oh, terima kasih, Kak." "Kak?" Alika memandangi wajah anak pembantunya itu. "Ya sudahlah. Memang harus begitu kali, ya? Oya, kamu harus pindah ke lantai atas sebelah kamar Ardha karena pembantu baru akan masuk ke rumah ini besok." Setelah itu Alika pergi. Maya bersyukur Alika tak marah ketika ia memanggilnya lagi dengan 'kak', tapi ia masih tak percaya dengan penglihatannya. Kini ia jadi seorang calon sekretaris dan dihujani banyak hadiah oleh nyonya rumah itu. Kehidupannya pun membaik. Ia yang berusaha bersyukur dengan kehidupan yang apa adanya, kini tambah bersyukur lagi karena limpahan rezeki yang Tuhan berikan padanya hari ini. "Alhamdulillah, ya Allah." Maya memeluk baju yang masih dalam plastik bungkusan itu dengan hati senang. **** Pagi itu, Maya turun bersama Ardha sambil membawa tas si kecil menuruni tangga. Rupanya pagi-pagi sekali dia sudah keluar, memasak lalu mandi. Setelah berpakaian, ia membantu Ardha bersiap ke sekolah. Bocah itu senang karena bertemu lagi dengan wanita itu pagi-pagi, dan bergandengan tangan menuruni tangga. Ia baru tahu, sekarang kamar Maya ada di samping kamarnya. Raka cukup takjub dengan kesiapan Maya pagi itu menyelesaikan masak nasi goreng, menyiapkan Ardha sekolah dan diri sendiri yang siap berangkat ke kantor. Padahal itu sebagian besar seharusnya dikerjakan sang istri yang sebagai ibu rumah tangga di rumah itu. "Maya, kamu sudah sarapan?" tanya Alika saat melirik mantan pembantunya itu, sudah berpakaian rapi untuk ke kantor. "Oh, sudah," sahut Maya dengan senyum kecilnya. "Yang bener?" "Iya, tadi sehabis masak, aku langsung makan." "Oh, ya sudah. Padahal kamu bisa makan semeja dengan kami lho!" "Iya, terima kasih." Seketika Raka terlihat kesal mendengar tawaran itu tapi ia tak bicara. "Bibik, aku mau duduk," protes Ardha karena merasa diacuhkan. "Oh, iya. Sebentar, ya?" Selagi mantan pembantunya itu menarik kursi, Alika kini mengingatkan anaknya tentang panggilan untuk Maya. "Ardha, sekarang kamu panggil dia 'Tante' ya?" "Tante? Kenapa?" Dahi bocah itu berkerut. Panggilan itu membuat Raka hampir gi la. Ia memotong perkataan istrinya yang mulai mengganggu telinganya. "Karena ...." "Eh, Maya. Bisakah kau buatkan aku kopi? Pagi ini aku ingin sekali minum kopi," pinta pria itu tiba-tiba pada Maya. "Oh." Wanita yang pagi itu berdandan sederhana, melirik Alika dan kembali ke arah pria itu karena bingung. Nyonya rumah itu segera berdiri. "Biar aku saja yang mengambilkan sarapan buat Ardha." Maya kemudian pergi ke dapur. Alika tersenyum lebar karena berhasil membuat suaminya uring-uringan karena ulahnya. Karena dengan begitu, ia merasa sang suami dalam kendalinya. Ia tahu, Raka selalu minta kopi ketika pikirannya buntu atau tidak senang. Wanita itu semakin yakin, makin hari sang pria makin membenci Maya, sehingga tidak mungkin keduanya akan mengkhianati dirinya. **** "May." Wanita berjilbab itu menoleh. Ilona berbisik mendekati telinga wanita itu. "Kamu 'kan katanya baru bercerai. Apa mungkin kamu hamil?" Maya terkejut. Walau ini bukan pertama kalinya ia mendengar hal itu, tapi ini sedikit mencurigakan. Apa ia terlihat seperti itu? "Enggaklah." "Yakin? Apa kamu udah cek?" "Iya," sahut wanita berjilbab itu, berbohong. Sulit baginya mengatakan kalau dirinya mandul, karena akan jadi gosip tidak sedap di kantor. Bukan itu saja, pria juga pasti akan menjauhinya. Bukan berarti ia suka pada Adi, tapi ia tak suka dipandang seperti orang aneh seperti pandangan mantan suami dan mantan mertuanya dulu. Ia masih trauma. Ia merasa seperti tertuduh walaupun itu sebenarnya benar adanya. 'Ya Allah, maafkan aku. Aku sangat takut mereka melihatku sebagai orang yang patut dikasihani. Padahal aku tak butuh itu. Aku masih bisa hidup baik walau aku tak bisa punya keturunan. Aku masih bisa berjuang untuk diriku sendiri.' "Oh, ya kalo begitu, gak papa kamu diet. Kurangi aja nasinya kalau kamu mau makan, May." Maya melirik sekretaris presdir itu dengan senyum lebar. "Nah, itu yang berat." Ilona tertawa. **** Beberapa hari berlalu dan Maya mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Kemudian Raka mengumumkan bahwa Ilona diangkat menjadi asistennya dan Maya sebagai sekretaris. Seringkali asisten itu dipanggil ke ruang presdir dan Ilona berada di sana cukup lama. Maya terpaksa pura-pura mencari asisten itu di ruang Raka, dengan alasan tidak paham dengan tugas yang sedang ia kerjakan. Ini sedikit memalukan tapi ia harus lakukan demi Alika. Nyonya rumah itu menugaskannya agar bisa memisahkan kedekatan Ilona dengan suami Alika. Beberapa kali pembicaraan antara Ilona dan Raka terganggu karena tiba-tiba Maya mengetuk pintu ruang kerjanya dengan alasan tak mengerti pekerjaan. Namun, lama-lama pria itu mengerti kenapa wanita itu sering bolak-balik ke ruangannya ketika ada Ilona di sana. Pasti Maya ditugasi memata-matai dan berusaha memisahkan dirinya dengan asisten barunya itu. Namun ia bersyukur sekretarisnya yang sekarang bertahan lama, sebab sekretaris-sekretaris sebelumnya terpaksa ia pecat karena permintaan sang istri yang sangat cemburu pada sekretarisnya yang memang rata-rata cantik. Apalagi kadang pekerjaan menuntutnya pulang lebih malam ditemani sang sekretaris, sehingga ini sering menjadi bibit pertengkaran dengan Alika saat ia pulang ke rumah. "Eh, Maya. Ada apalagi?" Ia menanggapi wanita berjilbab itu yang kembali mengetuk pintu. "Maaf, Pak. Aku cuma mau tanya ke Ilona ...." Maya bergerak mendatangi keduanya. "Coba kamu gabung dulu, sini." "Apa?" Wanita berjilbab itu terkejut karena diundang untuk ikut mendengarkan. "Aku akan ke hotel Brother, karena di sana ada pertemuan para dokter tapi aku diundang untuk ikut jadi pembicara. Ada beberapa hal yang sudah aku bicarakan dengan Ilona. Biar Ilona yang nanti menerangkan kepadamu. Kita akan berangkat ke sana setelah habis Maghrib." "Oh, iya, Pak." Untuk pertama kalinya Maya akan pulang lebih malam dari biasanya. Ia tak tahu tugas apa yang sedang menantinya. "Ya sudah, kalian boleh pergi." Maya dan Ilona kemudian keluar. "Memangnya kita akan mengerjakan apa di sana, Na?" tanya Maya penasaran. "Oh, kita akan berkenalan dengan beberapa dokter dan mempromosikan rumah sakit kita." "Promosi? Bagaimana caranya? Aku gak ngerti soal promosi lho, Na." Wanita cantik yang rambutnya tergerai ke belakang itu, tertawa kecil. "Promosinya beda dengan yang di televisi. Ini promosi dari mulut ke mulut, jadi tidak kaku." "Caranya?" "Nanti aku ajari ya?" Maya mengangguk. "Iya." **** Raka dan Maya pulang ke rumah tanpa disambut sang istri, Alika. Wanita itu ke dapur dulu karena segan bersamaan dengan bosnya menaiki tangga. Ketika akhirnya ia naik ke lantai atas, ia melewati kamar bocah itu dan melihat pintu terbuka. Terdengar suara Ardha merengek. Maya mengintip ke dalam. "Tante ...." Raka yang sedang menggendong putranya memutar tubuhnya ke arah Maya. "Maya." "Kenapa, Pak?" Wanita itu heran karena sudah semalam itu Ardha belum tidur. "Dia demam." "Apa?" Maya buru-buru mendekat. "Tolong gendong dia. Aku akan cari obat demam dulu karena sepertinya dia belum minum obat. Heh, kenapa Alika tidak tahu anaknya sedang sakit sih!" gumam pria itu kesal. Sang wanita meraih tubuh kecil Ardha dan duduk di tepi ranjang. Raka kemudian menghilang dibalik pintu. Tak lama ia kembali. "Sepertinya obat demamnya habis. Sebaiknya kita bawa saja Ardha ke klinik terdekat." "Apa tidak beli obat demam saja cukup, Pak?" Maya beranjak berdiri. "Takutnya ada sakit lain yang tidak terdeteksi. Di dekat sini ada klinik 24 jam, kita bisa ke sana." Pria itu mengambil jaket bocah itu di lemari dan sang sekretaris membantu memakaikannya. Setelah itu mereka segera ke mobil. Ardha memeluk erat-erat tubuh Maya dan tak mau lepas. Ia mulai batuk dan hidungnya mengeluarkan lendir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD