INDONESIA, 2017
“Sebagian orang mengatakan, jika sedang merindukan seseorang, maka cukup membayangkannya sejenak sebelum tidur. Maka kita akan bertemu dengannya dalam mimpi. Atau mungkin kita akan bertemu esok hari.”
Motor Rey melaju pelan di keheningan malam. Bersama Gin dibelakangnya. Melingkarkan kedua tangan, di perut ramping Rey. Jalanan di tengah kota ini agaknya sepi. Pertokoan yang berdiri, berdampingan nampak tidak beroperasi. Gedung tinggi juga nampak gelap. Hanya terlihat papan reklame yang berdiri di beberapa sudut. Gelap menyelimuti.
Kini tinggal lampu penerangan jalan serta lampu lalu lintas yang mengiringi perjalanan mereka. Tiba di perempatan jalan, motor Rey berbelok ke kanan. Kembali bertemu dengan perempatan jalan. Tapi, lebih kecil dari sebelumnya. Berbelok ke kiri. Lagi. Ke kanan. Melewati beberapa rumah, yang saling bersebelahan. Agak menjorok masuk dari jalanan. Tampak sepi. Sejak tadi, hanya terlihat satu dua motor serta mobil yang berpapasan dengan mereka.
Laju motor Rey semakin melambat. Berhenti di salah satu rumah kecil, yang hampir berada di sudut jalan. Dengan halaman kecil. Juga pagar yang sedikit berkarat. Setinggi d**a orang dewasa. Senyap seketika, ketika mesin motor Rey. Gin segera turun. Melepas helm. Memberikannya pada Rey.
"Lagi-lagi aku merepotkanmu. Maaf," kata Gin, tersenyum kikuk.
"Bertahun-tahun kau menyusahkanku, sekarang baru minta maaf?”
Gin terkekeh dengan pernyataan yang memang benar adanya.
“Aku hanya merasa.. akhir-akhir ini, kau melakukan banyak hal untukku. Terlebih saat aku menghilang. Kau mengurus keluargaku dengan baik. Aku jadi merasa tak enak.”
“Kalau begitu, menikahlah denganku. Agar kau tak merasakan hal itu.”
Sejenak menjadi hening. Bola mata Gin terpaku pada satu titik. Mata Rey, yang menunjukkan adanya keseriusan ketika mengatakan itu. Hingga pada akhirnya Rey tersenyum, dan berlanjut dengan tawa terpingkal. Menutup mulutnya dengan jemari yang ia kepalkan.
“Aku hanya bercanda, bodoh,” katanya. “Apa kau menganggapnya serius?”
Raut wajah Gin berubah masam. Menarik sudut bibir kanannya keatas.
“Sekali lagi kau berani bercanda tentang hal itu, kau akan merasakan pukulanku!” ancam Gin dengan menunjukkan tinjunya pada Rey.
“Kenapa memang?”
“Itu-”
“Kau tidak suka padaku?”
Lagi. Mereka kembali beradu pandang. Suasana kembali hening. Bintang yang berkerlip seolah menyaksikan keduanya. Sementara Maria yang mendengar tawa Rey, beranjak membuka pintu depan. Melangkah keluar. Karena pandangannya yang hampir menua, ia harus mengernyitkan dahi menatap kearah pagar. Mengeratkan cardigan abunya.
“Gin?” panggilnya dengan sedikit berteriak.
Keduanya sedikit terkejut. Mengalihkan pandangan untuk sesaat. Maria melangkahkan kaki perlahan, menuju ke pagar.
“Oh, benar. Ternyata kau, Gin,” kata Maria sesaat setelah berada di balik pagar.
“Bibi.. selamat malam,” sapa Rey.
“Kenapa kalian berada disini? Ayo, masuk. Udaranya dingin.”
Maria berjalan terlebih dahulu, masuk ke dalam rumah. Disusul dengan Gin yang mendorong pagar ke dalam dan berjalan masuk. Sejenak ia berhenti dan menoleh pada Rey, yang masih duduk diatas motor.
“Kau tidak masuk?”
“Lebih baik aku pulang. Ini hampir tengah malam. Tetanggamu akan menggunjingkan kita, jika tahu aku berada di rumahmu di jam seperti ini.”
Gin mendesah singkat. Dua bola matanya berputar sekali.
“Rey.. mereka semua sudah mengenalmu. Mereka tahu jika kau temanku,” katanya. “Jangan berdebat lagi. Cepat kunci motormu dan masuk.”
Langkah Gin terdengar kembali, setelah itu. Tidak dengan Rey yang mendesah pasrah.
“Kau ditolak, Rey.. ditolak.”
JERMAN, 2024
HeeBi sedang berada di sebuah bar. Duduk seorang diri di depan meja bartender. Hanya ditemani oleh beberapa botol alkohol yang sebagian telah kosong. Kedua pipinya merona hampir merah. Mata lebarnya kini menjadi sendu. Bukan tak ada alasan, dia ingin membuatnya dirinya mabuk di siang hari. Semua karena Ken. Yah, dia kehilangan akal karena pria arogan itu, pikirnya. Otaknya terus menggambar sosok kekasih atau lebih tepatnya mantan yang telah ia campakan. Dadanya terasa sesak. Sakit. Layaknya penderita asma, setiap kali pikirannya memutar ulang kenangan indah bersama dengan Ken. Terlebih, saat ia dan Ken melintasi waktu, pergi ke Kota Paris.
PARIS, 2001
Paris adalah salah satu bagian dari Negara Perancis yang paling disukai oleh Ken. Menurutnya, kota itu memiliki pemandangan yang indah. Apalagi ikon kota tersebut yang terkenal dengan keromantisannya. Khususnya Menara Eiffel. Segala di tempat itu terasa romantis. Struktur bangunan. Awan yang berarak. Bahkan udaranya terasa membelai lembut kita. Burung merpati yang terbang pun bisa dikatakan sebagai pemanis pemandangan. Sebagian berada di bawah untuk melahap biji-bijian yang diberikan oleh pengunjung. Sementara alunan melodi dari sekelompok musisi jalanan, memanjakan telinga.
Mendukung cuaca yang semakin sendu terasa. Tak ayal, menara Eiffel menjadi destinasi forit para pelakon cinta. Bahkan yang sebelumnya datang dengan status berteman saja, dapat tumbuh benih cinta di tempat ini.
“Wah, tempat ini menakjubkan,” kata Heebi, seraya mendongakkan kepala. Sesekali memutarnya perlahan.
“Bagus, bukan?”
Keduanya baru tiba di tempat ini. Lewat portal tentu saja. Bergandengan tangan. Berjalan kearah menara Eiffel yang berdiri beberapa meter di depannya.
“Sangat. Pantas saja kau selalu membanggakan kota ini.”
Heebi melirik dengan sedikit ejekan jenaka.
Ken memang telah jatuh cinta pada kota bagian Negara Perancis ini. Tentu setelah mencintai Negara asalnya. Apapun yang ada dalam kota ini, selalu membuatnya berdecak kagum. Merasa bangga dengan adanya kota ini, meski ia bukan penduduk asli. Yah, meskipun dia memiliki cerita kelam semasa kecilnya di tempat ini. Namun, bukan di kota Paris. Yakni di Negaranya, Perancis. Kenangan yang mampu membuat ingatannya menangis marah. Muak. Dan berakhir dengan rutukan pada diri sendiri. Itulah alasannya, kenapa dia mencintai kota serta Negara ini. Agar ingatan buruknya dapat terkubur dalam di dasar hatinya. Agar ia tak merasakan kepedihan semasa kecilnya. Agar ia bisa hidup dengan hati yang tersenyum.
“Kau, tunggu disini sebentar,” pinta Ken, sesaat setelah keduanya tiba tepat di bawah menara Eiffel.
“Kau mau kemana?”
“Aku mau membeli minuman. Sebentar saja. Tunggu aku.”
Tapakan sepasang sneakers Ken terdengar, setelah itu. Semakin menjauh. Hingga Heebi hanya dapat melihat punggungnya yang kini sudah luput dari jangkauan dua mata coklatnya. Membuatnya mendesah singkat. Dan mulai memperhatikan sekitar kembali, dimana tempat ini hampir dipadati para pengunjung yang sibuk berlalu di depannya.
Sebagian ada yang mengabadikan momen menggunakan kamera ponsel maupun kamera poket. Semburat ke berbagai arah. Sementara Heebi masih diam berdiri, memperhatikan musisi jalanan yang tampaknya mendekat kearahnya. Atau mungkin.. mereka memang memainkan musik untuknya. Pemain biola, cello, gitar, dan juga seruling nampak menatapnya dengan tetap memainkan melodi yang dirasa melankolis nan romantis.
Heebi mencoba menikmati musik tersebut dengan seulas senyum, hingga ia dikejutkan oleh Ken yang berjalan kearahnya, begitu para musisi memecah barisan. Para pengunjung yang awalnya masa bodoh, kini mendekat di sekitar Heebi, ketika melihat Ken tengah berlutut dengan satu kaki yang ia tekuk. Beradu pandang dengan Heebi. Dan menarik keluar sebuah kotak merah dari sakunya. Membuka kotaknya setelah itu. sebuah cincin perak dengan model sederhana terselip di dalamnya.
“Kau mau menikah denganku?”
Para pengunjung nampak bersorak lirih. Meski tak dapat mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Ken, tapi setidaknya mereka mengerti akan situasi yang terjadi. sementara gadis yang memiliki sederet gigi putih dengan ukuran sebesar biji kacang tanah itu, masih melebarkan mata. Degup jantungnya berdebar cukup cepat. Gugup juga tentunya. Membuatnya diam untuk sesaat. Bola matanya bergerak bergantian menatap kotak merah serta wajah sang kekasih. Hingga akhirrnya bibir lebarnya tersenyum. Mengulurkan jemari tangan kanan pada Ken.
“Pakaikan cincin itu padaku.”
JERMAN, 2024
Jemari Heebi melingkar pada gelas tanpa kaki, yang bagian bawahnya lebih tebal. Terisi oleh alkohol dengan beberapa es di dalamnya. Matanya memicing tajam. Memerah. Entah siapa atau apa yang dipandangnya. Tangannya bergetar. Genggaman pada gelas mengencang. Otot pelipisnya terlihat di dua sisi. Seketika mengangkat gelas keatas, dan membantingnya dengan cukup keras pada sisi kanannya. Pengunjung yang sebelumnya saling mengobrol di masing-mading meja mereka, berjengit kaget. Berbisik. Memandang Heebi yang tengah menghembuskan nafas epat. Begitu pula dengan pelayan pria dibalik meja bartender, berhenti mengelap gelas dan terpaku menatap gadis dengan tinggi 169 senti itu bangkit dari kursinya dan pergi.
INDONESIA, 2017
Rumah sederhana pada bagian depan juga dalamnya, di kota Jakarta itu telah Gin tinggali beberapa tahun belakangan bersama bibi juga dua adiknya. Tak ada yang istimewa dari rumah bergaya tahun 90 an itu. Meja dan kursi pada umumnya yang terletak tak jauh dari pintu depan. Lantai dari marmer caramel yang selalu terasa dingin meski cuaca sedang panas. Jendela dilengkapi teralis besi berukuran setengah dari tinggi Gin. Ada banyak foto dalam bingkai yang digantung jauh diatas kursi hijau panjang berlengan.
Foto-foto itu menunjukkan ketika Gin berada di gendongan sang ayah dan ibu berada di sampingnya. Ketiganya tersenyum. Satu lagi foto yang menunjukkan Gin mengenakan seragam SMA, sang ayah masih menggendong sang anak. Tapi, bukan Gin. Melainkan dua adik kembarnya. Juga ibu yang mengenakan gaun merah. Satu tangannya merangkul Gin.
“Jus atau soda?” tawar Gin.
“Apapun.”
"Okay. Air putih saja," godanya. Tapi, Rey tidak merespon.
Gin membuka lemari es dua pintu berwarna metal, yang berada di sudut ruangan, dalam dapur. Tak ada sekat dalam rumah tersebut. Dari ruang tamu dpat melihat langsung dapur tempat Maria biasa memasak. Dan kembali pada Rey yang agaknya sedikit kecewa karena pernyataan Gin di depan rumah. Gin meletakkan dua gelas jus jeruk diatas meja kayu.
“Mi-“
Belum selesai Gin melengkapi kalimatnya, Rey telah meneguk habis jusnya. Menyeka sisa jus di bibirnya. Meletakkan kembali gelas pada meja. Sementara Gin melihatnya dengan mulut setengah terbuka.
“Kau.. sangat haus? Mau aku ambilkan lagi?”
“Tidak,” tolak Rey dengan senyuman kecil di bibir tipisnya.
“Well, darimana saja kalian?” Tanya Maria bergabung dengan mereka setelah entah darimana.
“Hanya dari lokasi syuting. Menyeret Gin pulang untuk beristirahat,” kata Rey.
Maria tersenyum seraya duduk di kursi hijau yang berhadapan dengan Rey. Lebih kecil dari kursi yang diduduki oleh Rey dan Gin.
“Terima kasih, Rey. Kau, selalu menjaga Gin. Aku tak tahu, jika tak ada kau. Mungkin..”
Maria hanya melanjutkan dengan mengangkat kedua bahunya. Dia adalah satu-satunya kerabat Gin. Nenek Gin hanya memiliki dua anak. Ayahnya dan satu lagi Maria. Dia bertubuh agak gemuk. Sedikit ramping di bagian pipi. Mata biru Maria warisan dari kedua orang tuanya. Hidungnya mancung agak melengkung ke bawah. Pipinya yang merah jambu dengan bintik hitam yang samar, menjadi ciri khas dirinya. Juga rambut pendek pirang ikalnya.
“Jadi, kau akan senang jika aku menjadi kekasih Gin?” katanya, dengan senyum menggoda.
“Oh, Rey.. kau mulai lagi.”
“Tentu! Dengan senang hati, Rey. Bibi akan tenang jika kau yang menjadi kekasih Gin.”
“Bibi…”
Lirikan Gin yang mengatakan ‘ayolah, jangan bercanda’ membuat Maria terkekeh. Juga Rey.
“Ah, benar,” kata Maria, sambil mengeluarkan sebuah jam tangan dari saku cardigan-nya. “Aku menemukan ini, ketika membereskan barang ayahmu. Mungkin kau ingin menyimpannya.”
Gin menerima jam tangan tersebut. Dipandangnya untuk sesaat, jam tangan dengan tali pengikat warna hitam. Case yang juga hitam dan bulat. Bezel kuning emas. Kaca yang nyaris tanpa gores. Layar yang juga hitam. Tanpa ada analog maupun digital angka. Ia berpikir, jika memang ini milik ayahnya, maka ini akan menjadi harta terindah untuknya. Tapi.. bentuk dan warna jam tangan ini tak asing. Seperti pernah.. melihatnya di suatu tempat. Dahi Gin berkerut memikirkan itu.
“Kenapa Gin? Ada yang salah?” Tanya Maria.
“Eh.. Oh.. Tidak,” katanya gugup. “Emm.. aku rasa aku butuh istirahat. Kalian berdua berbincanglah. Selamat malam.”
Ia bangkit dari kursi. Meninggalkan keduanya yang masih memandang punggungnya. Masuk ke dalam kamar. Menutup pintu secara perlahan. Dan kembali menatap jam tangan itu.
“Ini seperti milik mereka. Tapi.. kenapa ayah memiliki jam ini?” katanya. “Tak ada jarum.. angka ataupun tombolnya. Lalu, bagaimana jam tangan ini bisa menyala?”
Gin membolak-balik jam tangan itu, berusaha mencari tombol atau apapun itu mengaktifkan-nya. Dan pada akhirnya ia menyerah.
Meletakkan jam tangan diatas nakas. Dan segera berganti piyama. Menutup almari. Dan berjalan mendekat pada ranjang. Sejenak langkahnya terhenti. Memutar lehernya ke kiri. Menatap jumpsuit jogger biru yang ia kenakan saat bertemu dengan Ken dan yang lain. Sedang tergantung di pintu. Otaknya kembali memutar kejadian, ketika berada di padang bunga bersama Ken.
“Apa dia baik-baik saja? Apa dia bertemu dengan kekasihnya?”
Memikirkan hal itu, membuat hatinya mencelos. Apalagi saat, telinganya kembali mendengar kau akan menikah dengan dia! Oh, membayangkan itu membuatnya bergidik ngeri. Bergeleng berulang. Dan memutuskan untuk melanjutkan langkah. Berhenti sejenak di samping nakas untuk mengambil kembali jam tangan ayahnya. Berbaring menyamping, menghadap tembok. Mengusap bezel jam tangan yang menurutnya agak kotor, yang tak di duganya dapat berputar. Sedikit terkejut dibuatnya. Kini layarnya menyala. Muncul sebuah tulisan.
“Buka gerbang?” katanya. “Apa maksudnya?”
Ketukan pada pintu Gin terdengar ringan. Pintu sedikit terdorong masuk. Rey menjulurkan kepalanya.
“Gin.. kau sudah tidur?”
Mendengar suara Rey, ia segera memejamkan mata. Bukan ingin menghindari sebenarnya, tapi ia sedikit canggung setelah mendengar kata-kata Rey yang ingin menjadi kekasihnya. Ia hanya tak ingin ada jarak dengan Rey karena itu. Dan tanpa disengaja jemarinya menyentuh layar pada jam tangan. Tulisan dalam layar pun menghilang, berganti cahaya biru.
“Ah.. sepertinya dia sudah tidur.”
Rey membalik badan, dengan tangan yang masih memegang handle pintu, menariknya perlahan disaat yang sama bersinar cahaya biru yang terang dari dalam kamar Gin. Sesaat ia diam. Nafasnya sedikit gugup. Memutar bahunya dan segera melebarkan mata hitam tegasnya. Mendapati Gin tak ada di atas ranjang. Ia pun memutuskan untuk masuk dan segera menutup pintu.
“Gin.. Dimana kau?” panggilnya. “Kau sedang bersembunyi? Keluarlah.. jangan bercanda denganku.”
Rey melangkah pelan, dicarinya hingga di kolong ranjang. Namun, Gin tak ada di ruangan ini. Kejadian aneh itu membuatnya berkacak pinggang dengan satu tangan. Dan satu tangan yang lain mengusap wajahnya yang bingung.
“Rey.. kau di dalam?”
Panggilan Maria dari luar kamar, semakin membuatnya bertingkah tak karuan. Berjalan kesana-kemari. Menggigit kuku jari, hingga pada akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dan menutup pintu dengan cepat.
“Oh.. bibi Maria.. ada apa?”
“Bagaimana Gin? Apa.. dia baik-baik saja?”
“Ah.. iya. Dia sedang tidur. Hehe.”
“Oh, syukurlah. Aku takut dia akan menangis lagi, mengingat ayahnya.”
“Dia sudah semakin dewasa, bibi. Dia sudah dapat mengontrol perasaannya.”
Maria mengangguk berulang bersama dengan jemarinya saling bertautan.
“Aku ingin melihatnya sebentar.”
“JANGAN!”
Penolakan yang diselingi teriakan dari rey, cukup membuat bibi yang memiliki bibir mungil itu menjengitkan alis.
“Oh.. itu.. Emm.. dia tak ingin diganggu katanya. Iya, dia berpesan padaku seperti itu tadi.”
“Oh.. baiklah,” jawabnya, masih dengan alis yang berjengit.
“Bibi.. bisakah aku menginap malam ini?”
***
Malam yang temaram, ditemani dengan derikan hewan malam. Membuat delapan dari mereka tidur cukup lelap. Tapi, nyatanya itu tidak berlaku pada Dong Joo, yang tengah tidur di sofa ruang tengah. Para hewan kecil penyesap darah sedang berpesta di sekitar tubuhnya. Sementara cahaya biru menyala terang untuk sesaat pada kamar Ken. Geram dengan situasi, Dong Joo menghentakkan kedua kaki seara bergantian.. Berdiri. Berjalan mendekati pintu kamar Ken. Membukanya. Lalu masuk. Dan..
“Aaaaaaa!” teriakan Dong Joo berhasil membuat Ken serta Gin berjengit kaget. Terbangun. Duduk di ranjang.
“ADA APA?!” bentak Ken, menghadap Dong Joo yang masih berdiri dengan wajah kaget. Meremas bantal putihnya.
Sementara Gin, yang ada di samping Ken terus melebarkan mata. Manik matanya bergantian melihat dua pemuda di depannya.
“Aaaaaaaaa!!!!”
Teriakan Gin membuat Ken terkejut dan berbalik kearahnya.
“Aaaaaaa!!!!”
Sama halnya dengan Gin, dia pun berteriak. Setidaknya, sampai Gin menendang pinggulnya. Ken jatuh bergulung ke lantai.
“Kenapa kalian ada di kamarku?! Keluar!!!!” teriak Gin.
“Justru aku yang harusnya mengatakan itu!” kata Ken dengan intonasi yang kesal. berdiri memegang pinggulnya. “Kenapa kau disini?!”
Wajah gelisah Gin masih belum hilang, sekarang ditambah kernyitan pada alisnya.
“Di.. sini?”
“Ini rumah kita,” jelas Dong Joo, dengan sedikit menggertakkan gigi.
Gin tak bereaksi. Mulutnya sedikit ternganga. Mulai mengedarkan pandangan. Melihat satu lemari kayu yang ada disudut, tak jauh dari ranjang. Satu kursi kayu yang ada di belakang Dong Joo. Pemandangan yang asing bagi matanya, membuat Gin terkesiap. Menutup mulut dengan jari-jarinya. Merangkak turun dari ranjang.
“Oh, tidak! Kenapa aku disini lagi? Bagaimana bisa aku disini? Lalu, bagaimana aku bisa pulang?”
“Aku rasa kau harus minta maaf padaku dulu,” kata Ken.
Diabaikan oleh Gin yang terus mondar-mandir. Bingung dengan sendirinya, disaat yang sama Kim membuka pintu.
“Ada apa? Aku mendengar suara.. Gin? Kau disini?”
Malam yang temaram kini tak lagi hening. Akibat teriakan bersahutan sebelumnya, mereka kini berkumpul di ruang tengah. Lan, Mari, Ryu, serta Galip, duduk pada sofa kulit sintetis coklat s**u. Berdampingan. Sisanya, duduk pada sofa yang lebih kecil. Semua pasang mata kini menatap pada Gin yang sedang menggoyangkan kaki kanannya. Menggigit kuku jari telunjuknya.
"Gin.." panggil Kim. "Gin.. Gin!!!!"
"Oh.. Ehh.. ada apa?"
Pandangan Gin masih terlihat bingung. Dan kuku jari masih menempel di bibir merah mudanya.
"Bisa kau hentikan itu? Kita perlu penjelasanmu. Kenapa kau bisa disini?" Tanya Kim.
"Ya.. kenapa aku bisa disini?"
Kim menghela nafas pasrah. Dua bola matanya berputar cepat.
"Oh.. Gin.. fokuslah.. Jika kami tahu jawabannya, kami takkan berkumpul disini.. ditengah malam seperti ini, kan?"
"Ah.. benar."
"Sekarang.. ceritakan pada kami. Apa yang kau lakukan tadi?"
"Sebentar.. Pasang earpiece-mu," pinta Ken.
"Earpiece-ku.. aku letakkan diatas nakas. Dalam.. kamarku," jawab Gin dengan gugup. Tersenyum sesal.
"Oh.. kau sungguh merepotkan!" Kata Ken, melepas earpiece miliknya. "Pakai, ini."
"Terima kasih."
Menerima earpiece dari Ken dan segera memasangnya.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku bisa membuatnya lagi nanti."
"Sekarang ceritakan, Gin.." Kim mengulang perkataannya.
"Aku.. hanya berbaring di kamar."
"Sebelum itu."
"Emm.. aku hanya berbincang dengan Rey. Setelah itu aku masuk ke kamar dan berganti pakaian."
"Pukul berapa ketika itu?" Tanya Ryu, yang ada di sisi kanannya.
"Seingatku.. dua belas malam."
"Apa?! Tengah malam seorang laki-laki masih di rumahmu? Siapa dia?!"
Pertanyaan Lan dengan intonasi membentak, tak pelak membuat mereka mengerutkan dahi. Menatap dirinya.
"Kau.. sungguh aneh hari ini, Lan," kata Galip, yang duduk di samping Mari.
"Aku rasa otaknya bermasalah," tambah Mari.
"Hei, hentikan. Biar Gin melanjutkan ceritanya," potong Joe. "Kau yakin.. hanya itu yang kau lakukan?"
"Iya.. aku-"
Kata-katanya terhenti. Teringat satu hal yang terlewatkan. "Aku.. bermain dengan jam tangan ini."
Gin memberikan jam tangan pada Kim yang duduk di sisi kiri depannya.
"Oh.. ini," kata Kim, mengamati jam tangan yang sudah ada di tangannya. "Ini sama dengan milik kita."
Ken yang duduk tepat disamping Kim, meraih jam tangan itu. Mengamatinya.
"Darimana kau mendapatkan ini?" Tanya Ken.
"Bibi Maria yang memberikannya padaku. Katanya itu adalah milik ayahku."
"Ayahmu?" Tanya Kim, dengan intonasi nada terkejut.
Dijawab anggukan oleh Gin.
"Kau membuka portalnya?"
"Apa yang dimaksud portal adalah.. tulisan.. Buka gerbang?"
"Kau menekannya?"
"Iya. Aku tak sengaja memutar bezel-nya. Kemudian muncul tulisan. Dan juga tak sengaja.. menekan layarnya. Apa itu yang membuat aku kembali kesini?"
"Itu salah satunya. Tapi.. jam ini tidak di program tahun atau negara mana kita akan pergi. Di samping itu.. mustahil kau tahu keberadaan kami. Hanya satu kemungkinannya.." jelas Ken.
"Apa itu?"
"Kau memikirkan kami."
"Maksudnya?"
"Saat portal terbuka.. yang kau lakukan hanyalah memikirkan tempat dan tahun berapa kau akan pergi. Begitulah cara kerjanya," Ken kembali menjelaskan.
"Ah.. itu benar," kata Gin.
"Kau memikirkan kami tadi?" tanya Ken.
"Oh.. itu.."
Gin ragu untuk menjawab. Tatapan mereka membuatnya gugup.
"Tak mungkin, aku memberitahu mereka. Jika aku tadi memikirkan Ken."
"Kau memikirkan salah satu dari kami?" Tanya Joe.
"Emmm.. itu.. Jadi… Ya! A-aku memikirkan Lan! Haha. Iya.. aku memikirkannya."
Gin mendorong udara keluar dari mulutnya dengan singkat.
"Kenapa?" Tanya Lan, yang cukup tercengang dengan jawaban Gin.
"Oh?"
"Kenapa kau memikirkan aku?"
"Karena kau.. menyelamatkanku di kereta tadi."
"Kita semua menyelamatkanmu. Tapi.. kenapa kau hanya memikirkan Lan?" Sahut Galip.
"Emm.. itu.. Oh, ayolah.. apa itu penting saat ini? Lebih baik kita mencari cara agar aku dapat kembali ke tempatku. Bibiku akan khawatir padaku."
"Oh.. ayolah.. Ini masih satu jam sejak kau menghilang. Dia takkan khawatir padamu," kata Kim.
"Tidak, bibi. Satu jam disini sama dengan satu hari di tempatku."
"Hah? Benarkah?"
"Iya.. saat aku kembali ke Indonesia, Rey mengatakan aku hilang selama enam hari. Padahal, aku hanya menghabiskan enam jam bersama kalian."
"Wah.. aku tak pernah menyadari itu," kata Dong Joo yang sejak tadi hanya diam.
"Jadi.. bagaimana aku bisa kembali?" Tanya Gin.
"Sama seperti saat kau kemari," jawab Ken.