Chapter 9

2292 Words
KOREA SELATAN, 2009 Mereka yang semula duduk kini berdiri. Melihat Gin yang juga berdiri, di depan kamar Kim, yang hanya beberapa langkah dari ruang tengah. Ken dibelakangnya. Setelah berpamitan, Gin kembali pada posisinya. Mendorong keluar udara melalui mulut. “Kau siap?” Tanya Kim. “Tentu,” jawabnya gugup, mengangkat tangan kirinya yang kini terpasang jam tangan. “Well, selamat tinggal,” kata Kim. Setelah pelukan singkat dari Kim, Kini Gin memutar bezel jam kearah kanan. Tulisan yang sama muncul dalam layar. Tanpa ragu, ia menekannya. Dinding air selebar pintu terbentuk perlahan di depannya. Ia melangkah perlahan dengan tetap mengingat pesan Ken sebelumnya, “Kau harus konsentrasi. Pikirkan hanya satu tempat. Rumahmu” Gin memejamkan mata dan menghilang dalam sekejap. Mereka mendesah singkat saling bergantian. “Ayo, kita kembali tidur,” ajak Kim. Saat itu terdengar suara ketukan pintu depan. Membuat mereka tersentak kaget. Tak pernah ada satu orang pun yang mengetuk pintu selama mereka tinggal di tempat itu. Tak pernah ada yang tahu, jika mereka tinggal di tempat itu. Alasannya, tentu saja mereka bukan orang dari tahun tersebut. Karena itu, mereka hidup seperti bayangan. Bisa saja, mereka tak sengaja bertemu dengan kerabat atau siapapun yang mengenali mereka. Meski, terkadang Ken dan yang lain sering menghampiri rumah masing-masing. Dengan bersembunyi, tentunya. Terutama Kim yang selalu merindukan anaknya. “Gin?” kata Kim, setelah membuka pintu dengan ragu. Sementara Gin hanya termangu dengan mulut setengah terbuka. “Kenapa kau masih disini?” Tanya Joe, setelah Gin masuk ke dalam rumah. “Kau pikir aku tahu jawabannya?” Alih-alih menjawab, Gin juga melemparkan pertanyaan. “Kau yakin sudah konsentrasi? Hanya memikirkan satu tempat?” Kini giliran Ken yang bertanya. “Emm.. Aku.. rasa.. iya..atau..” “Oh, ayolah Gin. Apa yang kau pikirkan tadi? Kau masih memikirkan tempat ini?” tambah Kim. “Sedikit,” jawab Gin, tersenyum kikuk. Ia menggaruk kulit kepalanya yang sedang tidak gatal. “Kau ingin disini selamanya?” Pertanyaan Ken membuatnya bergidik ngeri. Dirasa menakutkan, ia pun kembali memutar bezel, menekan layarnya. Sekejap dinding air kembali terbentuk. Setelah ucapan selamat tinggal untuk kedua kalinya, Gin masuk ke dalam portal. Dan tiba di jalanan berdebu, dengan banyak pohon kelapa yang tinggi. Dia cukup yakin telah kembali pada tempatnya, Indonesia. Tetapi, derum mobil tank yang lewat di belakangnya membuat ia terlonjak. Kedua alisnya berkerut teratur. Ditambah beberapa prajurit berwajah asing dengan bersenjata lengkap, tengah menghampiri dirinya. Mengacungkan s*****a kearahnya. Secara otomatis kedua tangan Gin terangkat, disaat yang sama Ken menarik tangan kirinya. Keduanya berlari, masuk ke dalam portal sebelum peluru menembus kulit mereka. “Tempat apa itu? Bukankah itu Indonesia?” Tanya Gin, sesaat setelah ia kembali lagi di rumah yang sama. “Memang. Tapi, di tahun peperangan,” kata Ken sedikit kesal. “Oh.. Kenapa.. Okay.. bisa kau jelaskan? Lalu, bisakah aku kembali ke tahun-ku?” “Tenang, nona. Kita semua pernah mengalami hal itu,” kata Lan. “Kau, hanya kurang konsentrasi,” tukas Ken. “Lalu.. apa yang bisa aku lakukan?” “Ken akan mengajarimu.” Lan memutuskan itu secara sepihak. “Dia hanya kurang konsentrasi.” “Oh, ayolah, Ken. Ajari dia, seperti kau melatih kita dulu,” Lan memaksa. “Aku! Bilang! Dia! Hanya! Kurang! Konsentrasi!” “Oh, tunggu sebentar. Kalian juga sama sepertiku?” Tanya Gin. “Tentu..” jawab Mari. Pada dasarnya, mereka semua adalah manusia biasa. Bukan manusia super. Lan, Joe, Galip, serta Ryu dan Mari. Juga Dong Joo. Mereka adalah orang bernasib sama, yang secara kebetulan bertemu dengan Ken. Takdir? Bisa dikatakan begitu. Bagaimana tidak? Saat ketidak-adilan datang di kehidupan mereka, disaat itu pula mereka bertemu dengan Ken. Malaikat tak bersayap? Well, itu sebutan yang pantas untuk pria beralis tebal itu. Berbeda dengan cerita Joe yang menjadi korban eksploitasi, Galip memiliki kisah yang sedikit memilukan dibanding Joe. Di negaranya, Afghanistan sering terjadi pertempuran. Galip yang saat itu tengah mengungsi dengan beberapa orang yang masih terselamatkan dari hujaman bom serta nuklir yang menghancurkan rumah mereka, tiba-tiba saja dihadang oleh tentara musuh bersenjata lengkap. Galip diseret paksa oleh tiga orang. Sementara dua yang lain, mengawal dibelakang. Mereka mengatakan, jika Galip akan membentuk suatu kelompok yang dimana bertujuan untuk menyerang balik mereka. Tentu itu sebuah kepalsuan, yang memang bertujuan untuk membunuh Galip serta beberapa orang yang tengah mengungsi bersama. Galip meronta, menggeliat dan memohon agar dibebaskan. Permohonan yang sia-sia, tentunya. Para tentara telah dicuci otak oleh pemimpinnya, agar tak memiliki rasa iba kepada lawan. Kedua tangan Galip terikat ke belakang. Matanya tertutup kain hitam. Bibirnya terus gemetar. Meronta. Alih-alih mendengarkan rintihan Galip, mereka mengacungkan s*****a kearahnya. Menarik pelatuk dan bersiap untuk membidik. Di saat yang sama, Ken muncul secara tiba-tiba tepat didepan mereka. s*****a pun mereka turunkan perlahan. Menatap heran pada Ken. Ketika itu, memang kali pertama Ken menjadi penjelajah waktu. Ia belum terbiasa melompati waktu. Sebenarnya, ia ingin pergi Negara Inggris, sayangnya, ia tersesat di Afghanistan. Bisa dikatakan secara tepat waktu. Seperti adegan dramatis. Ken yang tengah terengah-engah karena perjalanan yang tak biasa itu, segera mengedarkan pandangan dan melompat kaget, melihat para tentara tersebut. Merasa kesal, salah satu tentara bertanya tentang identitas Ken dan darimana ia muncul. Karena earpiece belum diciptakan waktu itu, ia pun tak mengerti bahasa mereka. Tenang kawan! Letakkan s*****a kalian! Ken mengucapkan dua kalimat itu dalam bahasanya, mengarahkan dua telapak tangan kearah tentara. Galip yang mendengar suara Ken, segera meminta tolong. Ken kembali terlonjak, mengetahui jika seorang pria berdiri dengan keputus-asaan di belakangnya. “Aish, Negara gila!" rutuknya. Dirasa semakin tersudut, dua bola matanya berputar agak cepat. Mengedarkan pandangan. Mencari jalan keluar. Akan tetapi, tidak ada sedikit celah pun untuk ia melarikan diri. Berlari sekencang mungkin pun, peluru akan berlari lebih cepat darinya. Mendesah panjang ia lakukan. Berdiri tegak. Menatap tajam para tentara. “Okay. Put your g*n. Let’s fight—with bare hand,” tantang Ken. Yang sepertinya dimengerti oleh mereka. Para tentara mengepalkan tangan segera, sesaat setelah meletakkan s*****a. Ada juga yang menautkan jemari, menekuknya ke dalam. Melemaskan otot kakinya. Sama halnya dengan Ken yang tengah memasang kuda-kuda. Melemaskan otot kepala. Dan dalam sekejap perkelahian terjadi. Pukulan bertubi-tubi, ia layangkan kepada mereka. Pun ia mendapatkan beberapa balasan. Sehingga lebam muncul di beberapa titik wajahnya. Selama sepersekian menit, mereka berada di tengah perkelahian yang cukup sengit. Dan berakhir dengan kekalahan lima tentara itu. Dirasa memiliki kesempatan, Ken segera memutar bezel dan menekan layar. Tanpa ragu, ia berlari kearah portal, menengok sejenak Galip yang berdiri diantara kaki gugupnya. Sekejap ia bimbang. Menatap portal yang mulai menyusut juga Galip. "Oh, s**l," rutuknya, dengan berlari kearah Galip dan membawanya masuk ke dalam portal. *** “Wow—itu cerita yang sangat mengesankan. Kau hebat, Ken,” puji Gin, yang kini kembali duduk. Begitu pula yang lain. Tapi, Mari dan Ryu telah masuk ke dalam kamarnya, karena menyerah melawan rasa kantuknya. Bola mata Ken berputar dan mengembangkan sedikit senyum yang hampir tak terlihat, mendengar kalimat itu. “Tapi—apa kau bisa melakukannya? Itu semua.. terdengar sulit.” “Tenang saja. Ken yang akan melatihmu,” pungkas Kim. "Oh, itu lagi," kata Ken. “Siapa lagi yang akan membantunya, selain kau? Kita semua tahu hal itu,” ujar Kim, santai. “Selain Ken—apa dari kalian tidak bisa melatihku?” Tanya Gin, seolah tahu jika Ken tak mungkin melakukannya. Setidaknya persepsinya mengatakan seperti itu. “Bukan seperti itu, Gin. Tapi kekuatan kami tidak sehebat Ken,” jelas Joe. “Joe benar. Akan lebih baik jika Ken yang melatihmu,” Dong Joo menyela. “Lalu—apakah kau tak mampu? Bukankah kau juga sudah cukup mahir melakukannya?” Tanya Gin seraya menatap Dong Joo. Belum sempat Dong Joo menjawab, Kim telah mendahuluinya. “Si bodoh itu sering kali tersesat. Jika dia yang melatihmu— kemungkinan besar kau akan masuk ke dalam area terlarang.” “Area—terlarang? Apa seperti hutan di dalam dunia parallel?” “Bagaimana kau tahu?” Tanya Kim, tak percaya mendengar jawaban yang diberikan oleh Gin. “Aku hanya menebak,” kata Gin dengan terkekeh. “Yang pasti.. Aku.. takkan melatih dia!” tegas Ken, menunjuk kearah Gin dan berjalan pergi, masuk ke dalam kamarnya. Tak ada yang bisa dilakukan Gin, kecuali menundukkan kepala. Mendesah pasrah. Lan yang ada di sampingnya, mencoba menenangkan. Mengusap punggungnya berulang. “Kau harus berusaha sedikit keras kepadanya. Atau bisa dikatakan—gunakan rayuanmu,” ujar Lan. *** Pagi menjelang. Matahari mulai terbit. Sinarnya menyelusup dari jendela-jendela kaca besar yang mengelilingi setengah dari ruang tengah, di sisi kiri. Kicauan burung terdengar merdu. Ken baru saja bangun. Meregangkan tubuh. Dan akan melakukan kegiatan paginya. Olahraga. Mengenakan jaket putih. Menarik resletingnya hingga leher. Kemudian membuka pintu. Dan kembali meregangkan tubuh. Memutarnya ke kanan, lalu ke kiri dan ia terlonjak hampir mengumpat. Melihat Gin menatapnya dengan lingkar mata hitam, juga rambut acak-acakan. Masih dengan piyamanya. Semalam ia tak dapat tidur, ditemani secangkir coklat hangat buatan Lan. Ia bingung memikirkan cara untuk membuat salju di hati Ken meleleh. “Apa yang kau lakukan?!” teriak Ken dengan kesal “Bantu aku,” pinta Gin dengan nada penuh harap. “Tidak!" Ken meninggalkannya setelah mengatakan itu. Pergi ke dapur. Sementara Gin mengerutkan bibir. Berjongkok. Dan mendesah kesal. Dong Joo yang baru keluar dari kamar Ken, terlonjak dengan memegang tangan di d**a melihat Gin. Terlihat menyedihkan hampir menakutkan. Sedangkan Ken dengan santainya meneguk air di depan lemari es. Yah, setidaknya sampai ia tersentak kaget, saat menutup lemari es, melihat Gin kembali menatapnya dengan dua mata mengerikan. Membuat air dalam mulutnya tersembur keluar. Sedikit mengenai wajah Gin. “Hei! Kau mau membuatku mati berdiri?!” Ken mengusap sisa air di dagu. “Jangan bercanda. Kau tidak akan mati hanya karena kaget." "Bagaimana orang dengan penyakit jantung? Dengan cepat akan menemui ajalnya, jika melihatmu saat ini! Ck!" Ken berjalan dengan kemuakan. Keluar dari rumah. Sementara Gin mendengus sedih. “Gagal." **** Ken melakukan olahraga pagi yang singkat. Berlari kecil, mengelilingi halaman rumah yang cukup besar dengan tanah yang sebagian tertutup oleh rumput. Sebagian lagi tandus. Pagar rumah cukup tinggi, hingga takkan ada orang dapat mengintip ke dalam. Sementara Gin tengah membersihkan diri. Mencuci muka. Menyikat gigi. Merapikan rambut. Dan meminjam gaun pendek hitam dengan motif coretan crayon warna-warni milik Mari. Setelah itu, mengambil sebotol air dingin dari lemari es dan keluar rumah. Tak butuh waktu lama untuknya tersenyum, melihat Ken sedang beristirahat di ayunan kayu, pada sisi kirinya. “Ini untukmu,” kata Gin, mengulurkan tangan yang membawa sebotol air. Ken membuka mata. Sangat pelan. Duduk tegak. Dan.. mulai tertegun. Melihat Gin yang jauh berbeda dengan wanita mengerikan tadi pagi. Pancaran cahaya mentari dari belakang Gin, semakin menambah daya tariknya. Seolah tak ingin diketahui oleh Gin, jika ia sedikit mengaguminya, Ken mengalihkan pandangan. Berdeham. Mengambil botol air dari tangan Gin. “Aku boleh duduk?” Tanya Gin. “Terserah kau,” jawab Ken setelah meneguk airnya. “Kau tahu, kenapa aku ingin segera kembali?” Gin kembali membuat pertanyaan, setelah ia duduk. “Sayangnya, kekuatanku bukanlah pembaca pikiran.” “Aku.. memiliki dua adik kembar. Usia mereka, hampir sama dengan Joe. Semenjak aku lulus SMA, hidup mereka bergantung padaku. Juga bibi Maria— yang saat ini mungkin sedang khawatir karena aku kembali menghilang,” jelas Gin. “Aku ingin mengajukan satu pertanyaan padamu.” “Silakan.” “Kenapa saat itu.. kau memutuskan untuk menolong Galip?” “Karena.. aku rasa dia pantas untuk hidup.” “Sama halnya denganku.” “Maksudnya?” Tanya ken, seraya mengerutkan dahi. “Mereka bertiga pantas untuk bertahan hidup. Dan hidup mereka bergantung padaku. Jika aku berada di sini—lalu bagaimana dengan nasib mereka? Darimana mereka mendapatkan uang untuk membeli makan?” tutur Gin seraya tersenyum kecut. “Boleh aku mengajukan pertanyaan?” Tanya Ken. Yang disambut anggukan manis dari Gin. “Bagaimana kau tahu tentang hutan di dunia parallel?” “Ah, itu— Aku hanya menebak saja.” “Tidak mungkin. Kau menebak dengan jawaban yang tepat.” Kata-kata Ken yang benar adanya, membuat Gin menjadi bungkam. Dan sepersekian detik kemudian ia tersenyum seraya menatap Ken. “Sebenarnya—aku pernah membaca itu di buku harian milik ayahku. Di satu halaman dalam buku itu tertulis penjelasan tentang alam semesta lain yang disebut area terlarang. Tempat terkelam dalam dunia parallel. Dimana tempat itu bersemayam hewan-hewan yang dapat berbicara dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Sekali kau masuk ke tempat itu, maka—kau akan sulit untuk keluar,” jelas Gin. “Kau pasti terkejut, bukan? Kenapa ayahku menulis hal semacam itu?” lanjutnya. “Ayahku.. adalah seorang professor yang cukup terkenal di Negara Inggris. Suatu saat dia pergi ke Indonesia dan bertemu dengan ibuku. Tak butuh waktu lama, untuk mereka akhirnya memutuskan menikah. Di Negara Inggris, ayahku sedang membuat sebuah proyek besar. Meneliti tentang satu hal, yang menjadi rahasia hingga saat ini. Namun proyek itu berhenti, ketika mereka memiliki aku. Tapi.. saat dua adikku terlahir, ayah pun memutuskan untuk kembali menjalankan proyek tersebut. Namun ia tak memiliki investor. Dan memutuskan untuk mengambil pinjaman dari bank. Setelah mendapatkan pinjaman dari bank— proyek tersebut sepertinya tak membuahkan hasil. Dan membuat keluarga kami dihantui oleh para penagih hutang." “Lalu—kemana orang tuamu?” Tanya Ken ragu-ragu, seakan tahu jawaban yang akan diberikan oleh Gin. “Mereka tiba-tiba menghilang—beberapa tahun yang lalu,” pungkas Gin diakhiri dengan senyuman kecut. Ken diam. Memandang Gin yang kini terlihat menyedihkan. “Kenapa? Apa aku sekarang terlihat menyedihkan?” gurau Gin. “Ah, kau pasti berpikir betapa buruknya orangtuaku bukan? Aku tidak pernah sedikitpun menyalahkan mereka. Mungkin saja.. mereka sudah mati di tangan para penagih hutang itu.” “Tidak.. mereka masih hidup.” Kata-kata Ken yang secara tiba-tiba menjadi serius membuat Gin hanya tersenyum kecil. “Aku tidak bercanda, Gin.” “Baik.. itu cukup membuatku terhibur. Tapi— bisakah kau hentikan?” “Gin— aku mengenal ayahmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD