Anugerah Tak Diharapkan

1138 Words
Dila dilanda kebingungan, dia juga merasa takut. Dia tak tau harus mencari Tristan kemana, sementara dirinya sedang mengandung anak dari pemuda itu. Dila juga tak berani pulang ke rumah. Akhirnya Dila hanya menangis di tepi jalan. "Dila?" Hingga sebuah mobil berhenti di hadapannya. Seorang gadis cantik yang mengenakan hak tinggi turun dari mobil. "Dessy?" Ternyata dia adalah Dessy. "Kamu ngapain di sini malam-malam?" Tanya Dessy. "Siapa yang?" Tanya seorang lelaki di dalam mobil tersebut. "Temen aku." Jawab Dessy. Lelaki itu menurunkan kaca jendela lalu melihat Dila. "Cantik juga." Puji hatinya. "Tristan pergi, dia ninggalin aku. Dan sekarang aku bingung harus kemana." Dila menangis di hadapan Dessy. "Ajak masuk aja." Tawar Lelaki tadi. "Yaudah, kamu ikut aku aja ya. Kasihan kamu di sini." Ajak Dessy. Karena tak ada pilihan lain, Dila menuruti kata-kata Dessy. Di dalam mobil, lelaki itu terus memperhatikan Dila dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dessy mengambil tissue dan meminta Dila menghapus air matanya. "Sementara kamu tinggal sama aku aja. Aku akan bantu kamu nyari Tristan." Dessy nampak tulus. "Makasih ya." Ucap Dila. Dessy merangkul pundak Dila, berusaha menenangkannya. Lelaki tadi mengantarkan Dessy ke sebuah rumah sederhana. "Sampai jumpa lagi ya." Lelaki itu mencium pipi kiri Dessy. Dilla berpura-pura tidak melihatnya. "Bye..." Dessy melambaikan tangan saat mobil itu berlalu. "Ayo masuk." Dessy mengajak Dila masuk ke dalam rumahnya. Rumah Dessy tertata rapi. "Kamu tinggal sendirian?" Tanya Dila. "Iya. Dari kecil aku emang sendirian, aku tumbuh besar di panti asuhan, bersama Stefan." Jawab Dessy sambil melepas sepatu hak tingginya lalu meletakkannya di rak sepati yang ada di dekat pintu masuk. "Stefan yang tinggal di rumah kost itu kan?" Tanya Dila untuk meyakinkan. Dessy mengangguk. Ada 2 buah kamar tidur di rumah Dessy. "Ini kamar kamu." Dessy membuka sebuah pintu kamar untuk ditempati Dila. "Dessy, aku nggak tau harus gimana berterimakasih sama kamu." Ucap Dila. "Kamu bisa masak?" Tanya Dessy. Dila mengangguk. "Boleh tolong buatkan makan malam?" Tanya Dessy sambil tersenyum. Dila merasa lega. Namun tidak dengan Ibunya di rumah yang gelisah menantikan kepulangan dirinya. Dila mulai membiasakan dirinya tinggal di rumah Dessy. Dia memasak dan mengerjakan semua urusan rumah tangga di sana. Sedangkan Dessy setiap hari pergi dan pulang larut malam. Bahkan Dessy pernah tak pulang semalaman. "Sebenernya Dessy kerja apa ya?" Dila bertanya pada dirinya sendiri saat memandang foto Dessy yang terpajang di ruang tamu. "Tempo hari dia pelayan di Bar, dia juga pernah di kost'an nya Stefan. Malam itu dia pulang diantar laki-laki itu, tapi di malam yang lain oleh orang yang berbeda." Dila masih belum menyadari apa pekerjaan Dessy sesungguhnya padahal mereka sudah 1 bulan tinggal bersama. Ibu Dila mendatangi kantor polisi. "Udah 1 bulan tapi nggak ada kabar tentang anak saya." Dia memarahi petugas Polisi. "Anak Ibu kabur dari rumah, itu keinginan dia, tentu saja dia tidak ingin ditemukan. Ini bukan penculikan Bu." Petugas Polisi mencoba menjelaskan hal itu pada Ibu Dila. "Saya curiga sama pacarnya itu Pak." Kata Ibu Dila. "Kami sudah bertanya pada teman-temannya di Kampus, tidak ada yang melihat mereka berdua. Bisa jadi mereka kawin lari karena cinta tak direstui." Gumam Polisi tadi. Tak ada yang dapat dikatakan Ibu Dila lagi. Dia mengingat pertengkarannya dengan Dila, semua memang tentang hubungan percintaan Dila. Kehamilan Dila sudah semakin tampak jelas. "Kamu nggak mau periksa ke Dokter?" Tanya Dessy suatu pagi. Dila menggeleng. "Soal biaya, aku yang tanggung." Lanjut Dessy. Akhirnya Dila mau diajak ke rumah sakit oleh Dessy. "Kondisi janin dan Ibu sehat. Harus banyak nutrisi juga ya." Pernyataan Dokter membuat Dila dan Dessy merasa lega. "Dessy, makasih ya, kamu baik banget." Ucap Dila. Dessy mengangguk. Dila mengira Dessy adalah orang yang baik, hingga dia tak sengaja mendengar pembicaraan Dessy dan seseorang lewat telepon. "Kapan kamu akan bawa dia untuk aku?" Tanya lelaki di telepon itu. "Tenang sayang, setelah dia melahirkan, dia sepenuhnya akan dalam genggaman aku. Karena selama ini, dia sudah banyak berutang budi sama aku." Rupanya Dessy memiliki maksud jahat dengan kebaikannya selama ini terhadap Dila. Dila sangat terpukul mendengarnya. "Aku harus pergi dari tempat ini." Pikir Dila. Dia segera mengemasi barang-barangnya dan kabur dari rumah Dessy malam itu juga. Suara jendela kamar Dila yang tak tertutup membentuk dinding terdengar oleh Dessy. "Bentar ya sayang." Dia menutup telepon untuk memeriksa ke kamar Dila. "Dila, kamu nggak papa?" Dessy membuka pintu kamar Dila. Betapa terkejutnya dia melihat Dila tak ada di kamar dan jendelanya terbuka. "Sialan, dia kabur." Dessy mulai panik. Dessy lalu mencoba menyusul Dila. Dila yang sedang hamil besar mencoba terus berlari bahkan hingga ke rawa-rawa untuk bersembunyi dari kejaran Dessy. "Aargh!" Dessy menyesali kebodohannya tadi. Dia pyn segera pergi dari tempat itu. Dila yang kelelahan merasakan kram di perutnya. Dia akan segera melahirkan. Tak ada siapapun di tempat gelap itu, hanya sebuah pondok kecil yang biasa dipakai untuk memancing. Dila menuju kesana. Dila melahirkan bayinya seorang diri tanpa pertolongan dati siapapun. Suara tangusan bayinya memecah keheningan malam. Dila menyelimuti bayinya dengan handuk. "Maafin Ibu, Ibu harus ninggalin kamu di sini, Ibu nggak mau kamu dalam bahaya." Terpaksa Dila meninggalkan bayinya di sana dengan penuh kesedihan. Pagi pun tiba, gelap berganti terang, seorang pria datang ke rawa-rawa itu. "Mudah-mudahan semalam dapat ikan." Pria itu hendak memeriksa perangkap ikan yang dia simpan kemarin di rawa-rawa. Namun kemudian dia melihat bayi itu di atas pondok. "Astaghfirullah hal'adzim... Siapa lagi manusia yang tega membuang anaknya sendiri?" Pria itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia mengendong bayi itu dan membawanya serta ke sebuah panti asuhan yang berada tak jauh dari tempat itu. Beberapa warga langsung ramai datang ke panti asuhan karena Pak Lurah dan petugas Polisi ada di dalam panti asuhan. "Kemungkinan ini anak di luar nikah, karena dia ditinggalkan saat baru dilahirkan, orang tuanya tidak menginginkan anak ini." Begitulah kata Polisi. "Tapi handuknya Pak?" Tanya Pak Lurah. "Kita akan selidiki lebih lanjut." Jawab Polisi itu. "Saya membayangkan kalau panti asuhan tidak ada, bagaimana nasib anak-anak ini." Gumam si penemu bayi. "Tapi jika panti asuhan dijadikan alasan aman bagi mereka yang free s*x, itu keterlaluan." Timpalnya kemudian. Ibu Dilla membaca berita penemuan bayi itu di surat kabar. "Dila, dimana kamu nak?" Dia mencemaskan putri semata wayangnya itu. Pria yang menemukan bayi Dila menyerahkan bayi perempuan mungil itu pada istrinya yang juga pengurus panti asuhan. "Kita beri nama siapa dia Mas?" Tanya wanita berkerudung itu. "Terserah kamu deh, Mas sampai kehabisan nama untuk 23 anak asuh kita, ini malah datang lagi yang ke-24." Pria itu melenggang pergi dari kamarnya. Sang istri tersenyum sambil memandang wajah bayi cantik tersebut. "Kamu cantik seperti bunga." Pujinya. "Anak haram kok dibilang bunga, ketemunya aja di dekat rawa-rawa." Kemudian suaminya kembali lagi untuk mengambil kunci sepeda motornya yang tertinggal di atas meja. "Semua manusia itu terlahir suci Mas, tinggal manusia itu sendiri yang memilih, mau ke jalan yang mana." Kalimat itu membuat sang suami terdiam. "Aku beri nama dia Lantana." Begitulah awal nama itu diberikan oleh Ibu pemilik panti asuhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD