Bungaku Lantana

1208 Words
Istri pemilik panti asuhan mengurus Lantana dengan baik, dia memperlakukan semua anak-anak di sana dengan kasih sayang yang sama besar. Hingga tak terasa 7 tahun telah berlalu dan Lantana akan mulai bersekolah. Bunda sendiri yang mengantarkannya ke sekolah di hari pertama. Bunda adalah sapaan untuk Istri pemilik panti asuhan. Bunda menggenggam jemari kecil Lantana. "Lantana harus jadi anak baik, jangan nakal dan patuh sama guru ya? Bunda nggak bisa nemenin Lantana seharian karena harus pergi kerja." Bunda berlutut di hadapan Lantana. "Lantana bisa kan jadi anak yang pintar?" Bunda mengusap kepala Lantana. Lantana hanya mengangguk. "Halo sayang, ayo masuk." Panggil seorang guru dari pekarangan sekolah. Lantana lalu pergi menemui gurunya yang tampak ramah. Sayangnya orang tua murid yang lain tampak tak ramah. "Kamu jangan berteman sama dia ya, dia itu anak haram." Bahkan wanita itu menghasut anaknya yang masih kecil. Malang bagi Lantana yang mendapat kelas yang sama dengan anak tadi. Anak tadi terus mempelototinya penuh kebencian sehingga Lantana tak berani memandang wajahnya. Tak hanya itu, anak tadi juga mempengaruhi anak-anak lain di kelas agar tak berteman dengan Lantana. "Kata Mamaku, kita jangan dekat-dekat sama dia, nanti kita kena sial." Begitulah kata-katanya yang mampu mempengaruhi anak-anak lain. Lantana tidak memiliki teman di sekolah, dia menjadi anak yang pendiam dan penyendiri. "Lala nggak mau gabung sama temen-temen?" Tanya Gurunya. Lantana atau Lala menggeleng. "Yasudah, kamu makan ditemani bu Guru ya." Gurunya memilih menemani Lantana di kelas. Sepulang sekolah, Bu Guru yang baik hati tak sengaja terpeleset saat menuruni anak tangga hingga tangannya terkilir dan tidak bisa mengajar untuk beberapa hari. Anak-anak di kelas mulai bergosip lagi tentang Lantana. "Tuh kan benar, siapapun yang deket sama Lala pasti kena sial. Karena dia anak haram." Kalimat itu sungguh melukai hati Lantana. "Eh, Lantana, pergi kamu dari sekolah ini, dasar anak nggak punya Ayah!" Bahkan anak-anak lain tega mengejeknya secara terang-terangan. Lantana pulang ke rumah dengan berlinang air mata. "Lala kenapa?" Tanya Bunda. "Lala mau pindah sekolah aja Bunda." Jawab Lantana. Bunda tau kalau Lantana menyembunyikan sesuatu darinya. "Ada yang mengejek kamu?" Dia berusaha memancing kejujuran Lantana. Lantana langsung terdiam. "Lantana jangan sedih ya, apapun kata mereka, Lantana punya Ayah dan Bunda di sini, ada Kakak dan adik juga." Bunda mendekap Lantana. "Lantana anak yang kuat." Hanya itu yang bisa dia katakan pada anak berumur 8 tahun itu. Lantana kembali ke sekolah dan berusaha menguatkan hatinya, dia hanya fokus pada pelajaran sehingga dia berhasil meraih prestasi setiap tahun. "Selamat ya sayang, Bunda bangga sama kamu." Bunda mengecup kening Lantana seusai menerima raport kenaikan kelas. Umurnya sudah 12 tahun sekarang. Hari berganti, Lantana tumbuh menjadi remaja yang cantik dan mandiri, dia semakin dewasa dalam bersikap. Dia juga mengurusi adik-adiknya di panti asuhan. "Lantana, udah malam nak, sebaiknya kamu tidur, biar Bunda yang cuci piring." Bunda merasa simpati melihat Lantana sendirian di dapur. "Nggak papa Bunda, udah mau selesai kok." Jawab Lantana. "Bagaimana bisa kamu mengerjakan semuanya sendirian? Sekolah, bekerja, belajar." Mata Bunda nampak berkaca-kaca. "Kan kata Bunda, Lala anak yang kuat." Kini malah Lantana yang menguatkan Bundanya. Bunda tersenyum, merasa terharu sekaligus bangga. Lantana bersekolah di sebuah SMA Negeri dan mendapat beasiswa penuh. Di sana tak ada yang peduli pada latar belakang Lantana. Hanya Sania dan anggota gengnya yang merasa tersaingi oleh kecantikan dan prestasi Lantana. Apalagi Vino, murid baru yang menjadi idola di sekolah mengangumi Lantana. "Lala!" Bahkan pagi itu Vino yang menyapa Lantana dari kejauhan. "La, kisi-kisi soal yang kamu kasih ke aku kemarin, aku belum ngerti." Begitulah alasan Vino agar dapat mendekati Lantana. "Yang mana?" Tanya Lantana. Vino mengambil buku catatan dari dalam tasnya. "Semuanya." Jawaban Vino membuat Lantana tersenyum. "Itu artinya kamu belum belajar." Gumamnya. Vino menggaruk kepalanya. "Itu alasan aku pindah sekolah 2 kali. Aku emang nggak bisa kalau nggak ada yang bimbing." Jawabnya. Sania merasa sangat cemburu melihat kedekatan Vino dan Lantana. "Emangnya apa sih kelebihan anak nggak jelas itu?" Kesalnya. "Tenang San, kita akan buat dia enyah dari sekolah kita." Salah satu teman Sania memegang pundak kanan Sania dan memberikannya dukungan. Sania mulai mencari tau tentang latar belakang Lantana. "Waktu ditemukan di pondok dekat rawa-rawa." Dia bahkan rela mengeluarkan uang untuk setiap informasi yang diperoleh dari warga di sekitar panti asuhan. Tessa, salah satu teman Sania mengambil pondok yang masih berdiri tegak di dekat rawa-rawa yang dimaksud warga tadi. "Sumpah San, dia tuh nggak level sama kamu." Tessa menertawakan nasib Lantana. "Tapi kenapa Vino suka sama dia?" Tetap saja Sania tidak terima. "Kita harus menemukan orang tua kandung Lantana." Sania menyampaikan pendapatnya. "Itu bakalan susah banget. Udah 17 tahun yang lalu." Gumam Tessa. "Kita viralkan di sosial media." Begitulah ide Sania. Sania dan Tessa mengunggah sebuah video dimana salah satu teman mereka menyamar sebagai Lantana. "Dia adalah teman kami, saat ini umurnya udah 17 tahun, dan dia merindukan orang tua kandungnya." Tessa mengisi suara dalam video tersebut. Wajah teman mereka disamarkan agar tak ketahuan. "Kalau kalian ingat pondok ini, kalian pasti inget anak kalian." Kemudian video menampilkan gambar pondok di dekat rawa-rawa. "Gimana?" Tanya Sania penuh harap. "Baru 10 viewer." Jawab Tessa. "Tenang aja, aku yakin bakal rame kok." Sania begitu percaya diri. Tak disangka video yang diunggah tersebut mulai ramai ditonton banyak orang. "Kasihan sekali anak itu kehilangan orang tuanya, sedangkan aku kehilangan anakku. Aku ingin bertemu dia." Rupanya Ibu Dilla yang menonton dari handphone milik tetangganya merasa iba. "Sebaiknya Tante coba hubungi nomor ini, siapa tau kesedihan Tante yang bertahun-tahun bisa terobati." Kata tetangganya itu yang berada di rumah Ibu Dilla untuk mengambil baju jahitannya. Nada dering di ponsel Sania membuatnya terjaga pagi itu. "Halo, siapa ni?" Tanyanya cuek. "Nak, kami menonton video kalian di sosial media. Apa kita bisa ketemu?" Tanya Ibu Dilla yang menelpon dari ponsel tetangganya. "Jangan-jangan ini orang tuanya Lala." Pikir Sania. "Ibu?" Tebaknya. "Nak, saya mungkin lebih tepat jadi Nenek kamu. Tapi kita punya kisah yang sama, sama-sama ditinggalkan orang yang kita cintai." Cerita Ibu Dila. "Jadi dia bukan Ibu kandung Lala dong." Sania nampak kesal. Dia langsung mematikan ponselnya. "Halo Nak." Ibu Dila nampak sedih. Rupanya berita itu tak hanya diketahui oleh Ibu Dila, tapi juga oleh Dila. Meski usia bertambah, tapi kecantikan Dila tak berkurang. "Artha, ayo sarapan dulu Nak." Dila tak sengaja melihat video itu saat menuangkan s**u ke dalam gelas putranya. "Itu kan tempat aku meninggalkan anakku dulu." Jantung Dila berdegup kencang. "Artha, Mama boleh lihat videonya?" Tanya Dila. Anak laki-laki berumur 10 tahun itu pun meminjamkan ponselnya pada Dila karena dia akan segera sarapan. Dila mengirim nomor kontak itu ke whatsappnya. "Makasih ya." Ucap Dila saat mengembalikan ponsel milik Artha. "Pagi sayang." Sapa seorang pria berkacamata. "Pagi." Dila membalas sapaan itu. Pria itu mengecup kening Dila. "Hari ini aku lembur, jadi telat pulang. Kamu jemput Artha ya." Pinta suaminya. Dila mengangguk. Itu merupakan kesempatan yang baik bagi Dila untuk menemui Sania. Sayangnya Dessy telah lebih dulu menghubungi Sania. "Apakah kamu anakku?" Tanya Dessy pada Sania. "Ibu?" Sania segera berakting. Mereka mengatur janji temu hari itu di sebuah taman bermain. "Lala?" Tebak Dessy saat melihat Sania dan Tessa bersama. "Bukan Tante, kami teman-temannya." Jawab Sania. Dessy terlihat berbeda dari kehidupan pada masa mudanya. Kini dia tampak begitu memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan kondisinya tampak tak sehat. "Apa benar Tante orang tua kandungnya Lala?" Tanya Sania. "Ha, ha, ha..." Dessy malah tertawa, begitupun dengan Sania dan Tessa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD