Ibu Untuk Lantana

1250 Words
Sudah 3 bulan lamanya Sania menungu orang tua Lantana menghubunginya, tetapi tetap nihil. "Lala itu anak yang nggak diharapkan, mana mungkin ada orang tua yang mau ngakuin dia sebagai anaknya. Itu sih sama aja buka aib masa lalu." Begitulah pendapat Tessa. "Terus gimana dong?" Tanya Sania yang nampak putus asa. "Kita cari orang dan kita bayar untuk mengaku sebagai orang tua Lala." Usul Tessa. Tessa mengajak Sania ke sebuah tempat hiburan malam. Dimana banyak w****************a di sana. "Ngapain kita ke tempat ginian?" Tanya Sania. "Kamu mau Lala enyah kan? Kita permalukan dia dengan tau kalau orang tuanya berasal dari tempat ini." Jelas Tessa. Mata Sania melotot. "Tapi darimana kamu tau tempat ini?" Tanya Sania kemudian. "Kamu nggak perlu tau, ikut aja." Tessa mengajak Sania masuk ke sebuah ruangan. "Kak, ini temenku yang kuceritakan." Kata Tessa. Dessy sekarang sudah jadi pemilik tempat tersebut. "Duduk." Perintah Dessy sambil mematikan rokoknya. "Seberapa benci kamu sama anak itu?" Tanya Dessy pada Sania. "Lebih dari aku benci sama kecoa dan tikus." Jawaban Sania membuat Dessy tertawa. "Aku suka api yang membara itu. Serahkan pada Dessy. Semua akan beres." Ujarnya. Dessy berdandan dan menyamar sebagai wanita tua yang sakit-sakitan agar meyakinkan semua orang. "Ternyata kamu jago acting juga." Puji Sania saat di taman bermain. "Kapan kita bisa jumpai anak itu?" Tanya Dessy. "Minggu depan acara syukuran ulang tahun sekolah kami. Biasanya Lala jadi ketua panitianya." Jawab Sania. Hari yang ditunggu telah tiba, acara telah dimulai. Lantana nampak sibuk. "Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Vino. "Tolong jaga situasi supaya tetap kondusif ya." Pinta Lantana. "Siap Tuan Putri." Jawab Vino dengan senyuman manisnya. "Tuan Putri? Kamu bakal terkejut saat tau siapa tuan Putri kamu itu." Sania yang memperhatikan dari kejauhan tampak emosional sampai-sampai dia meludah ke tanah. Tibalah mereka di akhir acara. Sania langsung menemui pembawa acara. "Ada kejutan buat Lala. Boleh ya?" Pintanya. "Emangnya Lala ulang tahun?" Pembawa acara merasa penasaran. "Ini lebih dari itu. Lala pasti seneng banget kalau tau orang tuanya masih hidup." Sania nampak sumringah. "Serius?" Pembawa acara juga nampak senang. Sania mengangguk. Pembawa acara naik ke atas panggung lalu mulai berbicara. "Sebelum menutup acara kita hari ini. Kami mengucapkan terimakasih pada Lantana, karena sudah mempersiapkan susunan acara dengan baik, selama 2 tahun ini, Lala sangat berjasa untuk kita. Tapi apa yang bisa kita lakukan untuk dia?" Lantana merasa terharu mendengarnya. Vino tersenyum dan nampak bangga pada Lantana. "Untuk itu kali ini kami punya kejutan untuk Lala. Lala, boleh naik ke atas panggung?" Pinta pembawa acara. "Ayo." Vino mengulurkan tangan dan mengajak Lantana naik ke atas panggung. Baik Guru maupun Kepala sekolah tak ada yang mebgetahui tentang kejutan itu. Mereka hanya bisa saling bertanya satu sama lain. Vino berdiri di samping Lantana, nampak Lantana kebingungan. "Sebenernya ada apa sih?" Tanyanya pada Pembawa acara. "Seseorang yang mungkin selalu kamu rindukan, hari ini dia ada di sini." Tutur Pembawa acara. Semua orang mulai penasaran. Sania dan Tessa lalu naik ke atas panggung untuk mengantarkan Dessy. "Siapa itu?" Tanya murid-murid di sana. "Lala?" Mata Dessy nampak berkaca-kaca. Dia lalu segera menghampiri dan memeluk erat Lantana. Wajah Lantana nampak bingung, begitupun dengan Vino. "Maaf, Tante siapa?" Vino tau kalau Lantana merasa risih, dia lalu melepaskan Dessy dari pelukan Lantana. Lantana memandang wajah Dessy. Wanita di hadapannya itu meneteskan air mata. Beberapa murid yang membawa ponsel segera merekam. "Saya adalah Ibu kamu." Kemudian Dessy menjawab pertanyaan Vino. Semua orang terkejut mendengarnya. Sedangkan Dila, Ibu kandung Lantana sedang menangis di dalam kamarnya. Beberapa waktu sebelum acara dimulai, Dila mencoba menghubungi nomor w******p Sania. "Halo, siapa ni?" Tanya Sania. "Saya tau tentang informasi bayi yang ditinggalka di dekat rawa-rawa itu." Dila memberanikan diri berkata jujur. Sania terbelalak. "Maaf Tante, tapi kita udah ketemu sama Ibu kandungnya temen kami. Jadi kalau ada kesamaan cerita dan tempat itu cuma kebetulan aja." Sania berbohong kepada Dila. "Tapi saya..." Dila hendak melanjutkan pembicaraan. "Udah dulu ya." Sania malah menutup telepon karena Dessy sudah datang di taman bermain. "Itu pasti anak aku." Dila meyakini hatinya. Kembali ke acara sekolah. Lantana hanya terdiam, tak tau harus bicara apa. Sania mengambil microphone dari tangan pembawa acara lalu menyerahkannya pada Dessy. "Ada yang mau Tante sampaikan?" Tanya Sania. Dessy menghapus air matanya. "Saya adalah perempuan jahat yang telah tega meninggalkan anak kandung saya sendiri di pondok dekat rawa-rawa, 17 tahun yang lalu. Semua itu karena saya malu punya anak dari hasil hubungan gelap saya dengan banyak lelaki." Dessy memulai drama kebohongannya di hadapan semua orang. "Ya ampun... Kasihan banget Lala, Ibunya ternyata PSK." Gumam salah satu murid yang merekam video. Kepala sekolah terkejut mendengarnya. "Apa-apaan ini. Siapa yang ajak perempuan itu ke sekolah kita?" Dia nampak tak senang. "Harus berapa kali saya melakukan aborsi dan menggugurkan kandungan saya. Tapi kali ini saya nggak tega, saya ingin mempertahankan janin saya." Kebalikannya, Dessy justru semakin bersemangat melanjutkan cerita karangannya itu. Seorang Guru naik ke atas panggung dan menghampiri Sania. "Kamu yang bawa perempuan itu kemari kan?" Bisiknya pada Sania. "Tapi saat tau kalau bayi saya adalah perempuan, saya terpaksa meninggalkannya di sana. Karena saya tidak ingin dia jadi p*****r seperti Ibunya." Dessy belum juga berhenti. Lantana sangat terpukul mendengarkan cerita itu. "Apakah benar, aku ini anak seorang p*****r?"Pikirannya berkecamuk. Rasanya dia tak dapat menerima hal itu. Dia mencoba menenangkan diri dan mengingat Bunda, wanita sholehah yang telah membesarkan dirinya selama ini dengan penuh kasih sayang. "Kenapa Ibu aku bukan Bunda aja?" Lantana meneteskan air mata. Vino merasa kasihan padanya. "Lala. Kamu tenang ya, belum tentu ini semuanya benar." Vino mengelus punggung Lantana. "Apa buktinya kalau Ibu ini adalah Ibu kandungnya Lala?" Tanyanya kemudian pada Dessy. Semua orang pun terdiam. Dessy menatap wajah Lantana dengan senyumannya. Meraih tangan Lantana lalu menciumnya. "Ibu tau Nak, wanita hina seperti Ibu tidak pantas disebut Ibu. Tapi itu semua adalah masa lalu Ibu, sekarang Ibu udah bertaubat. Ibu kesini karena mau menemui kamu, bukan untuk membawa kamu bersama Ibu. Karena hidup Ibu udah nggak lama lagi." Dessy berusaha meyakinkan Lantana. Sania lalu mengambil microphone dari tangan Dessy. Dia menghapus air mata buaya yang menetes di pipinya. "Saya minta maaf pada Kepala sekolah, dewan Guru, teman-teman, khususnya Lala. Saya hanya ingin Lala ketemu sama orang tuanya aja. Gimanapun dia berhak tau siapa orang tuanya." Sania mengembalikan microphone itu kepada pembawa acara. Tessa meraih tangan Dessy dan mengaknya pergi dari sana. Semua orang diam tak berkutik. "Tunggu!" Suara Lantana memecah keheningan. Dengan berlinang air mata dia mencoba berbicara. "Kata Bunda, manusia itu dinilai bukan darimana dia berasal, apa pekerjaannya dan bagaimana rupanya. Manusia dinilai oleh Allah karena ketulusan hatinya. Kalau Ibu adalah Ibu kandung Lala. Lala akan menerima Ibu." Kalimat Lantana menggetarkan hati semua orang. Mereka justru bertepuk tangan kepadanya. "Lala emang luar biasa!" Bahkan salah seorang murid berteriak dengan lantang. Sania, Tessa, dan Dessy benar-benar tak menyangka kalau hal itu akan terjadi. Lantana berlari ke arah Dessy lalu memeluknya dengan erat. "Ibu, jangan tinggalin Lala lagi." Ucapnya penuh haru. Tak sadar Vino meneteskan air mata. "Kok jadi gini?" Sania nampak kesal. "Lala akan ikut Ibu dan rawat Ibu sampai sembuh." Lantana melepaskan pelukannya. Dia tersenyum memandang wajah Dessy. Dessy harus beracting sekali lagi. "Iya Nak." Dia mengelus kepala Lantana. Sania pergi bersama Tessa. Mereka bicara di kamar mandi bersama kedua temannya yang lain. "Sekarang semua orang makin simpati sama Lala." Sania begitu emosional. "Tenang aja San, ini adalah awal penderitaan dia. Kamu tau Dessy siapa kan? Kita akan buat Lala terjerumus dalam dunia hitam itu. Jangankan Vino, seluruh dunia nggak akan peduli sama dia lagi." Rupanya Tessa memiliki hati yang lebih jahat dari Sania.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD