Sebuah Keputusan

1121 Words
Seminggu sudah berlalu sejak Rendi menangis dalam pelukanku. Selama itu aku berusaha untuk tidak mengungkit tawaranku kembali pada Rendi. Aku sudah cukup membuat Rendi terbebani, belum lagi masalah di perusahaan yang kini sudah menjadi rahasia umum, perusahaan Rendi goncang akibat pandemi corona. Hampir semua perusahaan kena dampak tersebut termasuk perusahaan Rendi. Selama seminggu pula Rendi sibuk menghindariku. Hubungan kami sedikit rengangg, Rendi selalu beralasan kerja setiap kali aku berusaha untuk mendekatinya. “Hentikan saja, Salma,” ujar Nissa saat dia datang menemuiku. Nissa sahabatku sejak sekolah dasar, dia dewasa, cantik, berhijab dan baik. “Aku tidak akan menghentikannya. Aku tidak akan menyerah, sampai Rendi bersedia untuk menikah lagi,” kataku ngotot. “Kau tidak akan menyesal?” tanya Nisa kemudian menyeruput teh yang aku sajikan diatas meja tamu. Aku menatap Nisa dalam-dalam. Nisa tersenyum. “Kau terlalu yakin,” lanjut Nisa. “Jika bukan karena cinta, tidak mungkin Rendi bersedia menikahi perempuan kotor sepertiku,” bibirku bergetar menahan tangis. Nisa langsung bangkit dari tempat duduknya, kemudian duduk di sampingku dan memelukku. “Lagi.. lagi..lagi.. dan lagi, hal ini harus kau bahas,” kata Nisa sambil mengelus lembut rambutku. “Aku merasa bersalah padanya Nisa. Aku tidak memberinya kebahagiaan dan malah merenggut semua yang dia miliki. Apa salahnya jika aku memberinya kesempatan untuk bahagia dengan orang yang pantas mendampinginya,” kataku disela tangis yang tidak bisa aku tahan lagi. “Kau sudah tobat dengan perbuatan burukmu. Insya Allah kamu perempuan yang pantas untuk mendampinginya,” jelas Nisa kemudian melerai pelukan kami saat melihatku seditki tenang. “Allah sudah menakdirkan kamu sebagai perempuan yang baik untuk lelaki baik sepertinya,” lanjut Nisa. “Bagaimana jika aku hanya ujian bagi kehidupannya?” Nisa hanya tercengang mendengar penuturanku. “Ujian?” tanya Nisa heran. “Seperti nabi Nuh yang diuji dengan istri yang jahat. Seperti Luth yang malah mendukung kemaksiatan, bagaimana jika demikian?” tanyaku kemudian menangis histeris membayangkan betapa buruknya posisiku dalam kehidupan Rendi. “Jangan berpikiran jauh seperti itu,” bentak Nisa kemudian kembali memelukku. Itu bukan pikiran yang jauh. Tentu saja itu pikiran yang realitis. Aku yang mengaku islam sebab itu yang tertulis di KTP milikku, agama islam, aku yang baru belajar soal islam dan baru sholat saat membina rumah tangga dengan Rendi wajar jika berfikiran demikian. Jika aku Nisa yang tumbuh dalam ketaatan tentu saja akan merasa damai bersama Rendi. Akan menjalani rumah tangga layaknya rumah tangga yang islami. Tetapi Rendi menikah denganku. Dengan perempuan yang kotor di mata semua orang. “Bukan hal yang baru jika orang soleh malah berdampingan dengan perempuan jahat,” gumamku. “Jangan berfikiran negatif,” lirih Nisa. “Bagaimana bisa aku tidak berfikiran negatif, sedangkan semua hal yang ada pada diriku kini semuanya negatif,” sarkasku. “Bagaimana caranya aku yakinkan kamu bahwa kau benar-benar perempuan baik-baik,” kata Nisa kemudian melerai pelukan kami. Nisa menatapku dalam-dalam. Aku tertunduk sedih. “Semua orang tahu bahwa kau adalah perempuan baik-baik. Apapun yang terjadi padamu di masa lalu, kita semua tahu bahwa itu suratan takdir yang tidak bisa kau hindari,” kata Nisa mencoba untuk menyakinkanku. “Kau bukan perempuan nakal, kalau terjadi sesuatu yang buruk padamu maka itu murni adalah takdir burukmu, itukan yang ingin kalian katakan padaku,” sarkasku. “Lupakan insiden itu. Hanya menyiksamu. Tatap masa depan dan jangan pernah berbalik menatap ke belakang,” kata Nisa, baru saja aku ingin membuka mulutku menimpali kata-kata Nisa, tiba-tiba jari telujuk Nisa sudah ada di bibirku dan menghentikanku untuk bicara, jika sudah seperti ini, aku selalu memilih mengalah sebab Nisa selalu rasional, jarang sekali melibatkan hati, beda dengan diriku.***&&&*** Rendi duduk dengan gelisah di depan seorang dokter ahli kandungan yang memeriksa kesuburan kami. untuk sejenak aku mengalihkan perkara poligami, agar Rendi bisa berfikir jernih dan fokus dalam menyelesaikan masalah keuangan perusahaan miliknya. “Tidak ada masalah dengan kesuburan kalian. Cukup kalian tambah dengan minum vitamin dan makanan bergizi untuk membantu program hamil kalian,” jelas dokter kemudian menyerahkan amplop yang berisikan hasil tes kesuburan kami. “Tetapi ini sudah lima tahun dok,” celutukku. Dokter hanya tersenyum menanggapinya. “Serahkan saja semuanya pada Allah,” kata Rendi kemudian mengenggap jemariku, menarikku lembut agar bangkit dari dudukku, lalu pamit dan merangkul pundakku sambil terus jalan. “Mungkin karena Allah tidak ingin benih dari lelaki soleh sepertimu tumbuh dalam rahim perempuan kotor sepertiku,” kataku saat kami sudah sampai di tempat parkir rumah sakit. “Ada apa lagi?” tanya Rendi lembut tetapi dalam tatapannya aku tahu bahwa dia sudah lelah dengan setiap keluhanku, sudah capek mendengar setiap penolakanku pada takdir. “Jika malam itu. Saat malam dimana kita harus menikah sebab orang beranggapan kita berbuat m***m, jika malam itu tidak terjadi, apakah kau akan datang melamarku? Menjadikanku istrimu?” tanyaku. Rendi tersenyum. “Tentu saja,” jawab Rendi tegas. Meski aku selalu meragukan itu semua. “Kau hanya selalu berusaha untuk membuka hatimu untukku. Hingga pada akhirnya kau jatuh cinta padaku. Dan akhirnya seperti ini,” kataku dengan suara yang agak tinggi. “Turunkan suaramu di depan suamimu,” kata Rendi. Aku menelan air liurku. Dalam keadaan marah, dalam keadaan bertengkar sekalipun Rendi selalu mampu menggunakan logikanya, mampu memanagent emosinya. “Aku tidak berbuat kesalahan. Sehingga aku tidak perlu menyesali apa yang terjadi diantara kita. Aku menerimanya sebagai takdir,” kata Rendi lembut. “Tetapi aku yang membuat kesalahan dan itu terus mengusikku,” kataku berusaha untuk merendahkan suaraku namun dibalik semua itu ada amarah yang memuncak. “Sudahlah,” bujuk Rendi kemudian menarikku dalam pelukannya. “Aku menjebakmu,” bisikku sambil terus menangis. “Meski kau menjebakku. Meski seluruh alam bersekutu untuk menjatuhkanku jika Allah berkehendak lain maka hal tersebut tidak akan menimpaku,” kata Rendi. Setiap kali aku mengungkit penyebab pernikahan kami dan dia selalu menjawab dengan penjelasan yang sama, menganggap bahwa itu semua sudah jadi skenario Allah dan dia cukup menjalaninya dengan sabar dan tawakkal. Jauh berbeda dengan diriku yang tidak pernah mampu menerima kenyataan. “Tapi-“ kata-kataku terpotong oleh bisikan lembut Rendi di telingaku. “Aku mencintaimu karena Allah,” kata itu selalu menenangkan hatiku. Aku tahu pasti bahwa Rendi tidak bohong. Dia murni mencintaiku karena Allah,sebab cinta itu tumbuh saat kami sudah membina rumah tangga.****&&&&**** Aku belum menyerah untuk membujuk Rendi menikah dengan perempuan lain. Hanya saja masa ini genting, perusahaan Rendi diambang kehancuran dan aku tidak punya cara untuk bisa membantu Rendi. Untung saja Rendi lelaki soleh sehingga melarikan masalahnya selalu diatas sajadah, curhat pada Allah disepertiga malam terakhir. “Salma bangun sayang, saatnya sholat subuh,” bisik Rendi lembut. Aku menggeliat, membuka mataku perlahan berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan. Setelah aku berhasil mengumpulkan kesadaranku. Aku lalu duduk sembari tersenyum menatap wajah Rendi yang selalu bercahaya mungkin karena air wudhu yang tidak pernah lepas dari dirinya. “Aku bersedia menikah lagi,” kata Rendi membuatku terbelalak. Ada rasa ngilu menikam masuk ke dadaku, mataku panas karena air mata yang tertahan, sejenak bumi terasa berhenti berputar namun cepat-cepat aku sembunyikan keterkjutanku itu saat Rendi menatapku lekat-lekat. Aku menarik nafas berat kemudian tersenyum. “Alhamdulillah,” kataku. Rendi tersenyum lega mendengarnya. Aku sendiri berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit yang menekan dadaku hingga nyaris aku tidak mampu untuk bernafas.***&&&***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD