bc

JALAN LAIN MENUJU SURGA

book_age4+
106
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
family
goodgirl
drama
comedy
sweet
YA Fiction Writing Contest
Writing Academy
Girlpower Revenge Writing Contest
polygamy
like
intro-logo
Blurb

"Sungguh Alloh telah menetapkan rasa cemburu kepada para wanita, dan menetapkan jihad kepada para laki-laki, barang siapa di antara mereka (para wanita) itu bersabar karena iman dan penuh pengharapan, maka baginya sama dengan pahala orang yang mati syahid". (Hadits ini didhaifkan oleh Albani dalam Dhaiful Jami as Shaghir: 1626)

Karena Alasan itulah mengapa Salma ingin suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Salma ingin mendapatkan pahalajihad.

chap-preview
Free preview
PROLOG
"Sungguh Alloh telah menetapkan rasa cemburu kepada para wanita, dan menetapkan jihad kepada para laki-laki, barang siapa di antara mereka (para wanita) itu bersabar karena iman dan penuh pengharapan, maka baginya sama dengan pahala orang yang mati syahid". (Hadits ini didhaifkan oleh Albani dalam Dhaiful Jami as Shaghir: 1626)   "Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa (pada bulan Ramadhan), menjaga k*********a, taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: "Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu sukai". (Haidits ini dishahihkan oleh Albani dalam Shahih al Jami ash Shaghir: 660) “Tidak,” kata suamiku lembut namun penuh dengan penekanan. Aku tersenyum melihatnya. Dia memilih duduk di sofa ruang tamu, melonggarkan sedikit dasinya, membuka kancing jasnya, menarik nafas berat kemudian menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Dia memijit pelipisnya sambil menatap langit-langit ruang tamu. Dan saat melakukan hal tersebut. aku malah merasa bahwa dia sangat mencintaiku. “Hampir semua suami menginginkannya,” kataku sembari duduk di sampingnya. Dia memandangku sejenak. Menarik nafas berat kemudian menarik tubuhku ke dalam pelukannya. “Apa terlalu berat bagimu?” tanyaku hati-hati. “Apa harus dengan jalan ini?” tanyanya lirih. “Bukankah ini sunnah nabi? Dan barang siapa yang mengingkarinya, maka dia bukanlah umat Rasulullah,” kataku tegas. “Bukankah masih banyak sunnah lain yang lebih dianjurkan? Kenapa tidak melaksanakan sunnah yang lainnya terlebih dahulu?” kata suamiku mencoba untuk tawar menawar. Aku melerai pelukannya. “Kenapa tidak kita melaksanakannya?” bujukku lagi. “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau b***k-b***k yang kamu miliki. Firman Allah pada surah An-nisa ayat 4,” kata suamiku. “Dan aku merasa tidak mampu untuk berlaku adil,” tegas suamiku. Aku menarik nafas berat, berfikir sejenak. Aku tahu betul siapa Rendih, lelakiku, suamiku, yang mencintaiku dengan tulus. Dan untuk urusan cinta suamiku selalu bisa menolak semua cinta yang datang padanya dan tetap berpegang pada cinta kami. “Itu berarti kau lebih mencintai dirimu, aku, keluarga ini dari pada agamamu,” kataku berhati-hati. Rendi terlihat sangat putus asa. Beberapa kali dia menarik nafas berat kemudian menghembuskannya lewat mulutnya. Dan aku hanya bisa tertunduk melihat semua tingkahnya. Tanpa sepatah kata Rendi bangkit dari tempat duduknya. Dia menuju kamar, aku tahu apa yang akan dia lakukan saat ini. Sholat istikhara. Selalu akan melabuhkan setiap masalah pada Allah. Dan sebagai seorang istri aku selalu bangga menjadi perempuan satu-satunya dalam hidupnya sampai saat ini. Entah setelah sholat dia akan mengambil keputusan berbeda, mungkin memasukkan perempuan lain dalam kehidupan rumah tangga kami. meskipun dia menerima tawaranku untuk menikah lagi, tetapi aku selalu yakin bahwa aku akan menjadi prioritas utamanya seumur hidup. Aku menarik nafas berat, mungkin karena itulah suamiku menolak untuk berpoligami, dia yakin tidak mampu untuk berbuat adil. Tidak mampu memperhatikan orang lain melebihi perhatiannya terhadapku.***&&&*** Berjam-jam aku menunggu Rendi untuk kembali menemuiku di ruang tamu tetapi dia tidak kunjung datang, aku ragu untuk masuk kamar, aku ragu mengusiknya tetapi aku juga penasaran dengan keputusan yang akan dia ambil setelah sholat. Aku mendorong pintu kamar yang terkuak sedikit. Aku dapati Rendi sedang tidur telungkup memeluk lututnya diatas sajadah yang digunakannya untuk sholat. Dia masih menggunakan jubah biru yang menjadi hadiah pernikahan kami, aku menatap lekat-lekat wajah itu, wajah yang setiap hari membuatku jatuh cinta. Wajah yang selalu memberikan kejutan pada rumah tangga kami, meski dia tidak pernah sadar. Aku mengelus lembut wajah Rendi, dia menggeliat. Membalikkan tubuhnya hingga tidur terlentang. Ada dengkuran halus terdengar yang menandakan bahwa dia sedang terlelap. Namun saat aku pandangi lekat-lekat wajah itu, aku temukan air mata yang menetes di pelupuk matanya. “Ini pasti terlalu berat bagimu,” gumamku sambil mengusap air mata Rendy. Terlalu sakit baginya untuk membagi cintanya. Terlalu rapuh untuknya menjalin cinta yang lain, sehingga sakit sakitnya, Rendy bahkan menangis dalam tidurnya, air mata dalam keadaan tidak sadar yang menandakan bahwa luka itu terlalu dalam. Aku ikut meneteskan air mata. Sama halny denganku, ini juga berat. Tidak ada perempuan yang bersedia membagi suaminya dengan perempuan lain. Tetapi tidak ada pilihan lain. Mungkin dengan jalan ini aku raih jannah bersamanya. Bersama Rendi kepala keluargaku.***&&&*** Hari ini, cukup sampai disini. Aku tidak ingin melukai Rendi lebih jauh lagi. Dia adalah lelaki yang akan selalu memenuhi permintaanku seberat apapun itu, aku yakin cepat atau lambat dia akan mengalah. Hanya butuh waktu, hanya butuh kesabaran hingga semuanya bisa terwujud. Aku menyiapkan makan malam untuk Rendi. Dia keluar kamar setelah mandi, terlihat segar namun wajahnya terselimuti mendung kesedihan. Aku tersenyum menyambutnya. “Kita makan malam,” kataku. Dia hanya mengangguk kemudian melangkah mendekati meja makan kami. dia menarik kursi, menatap makanan yang dihidangkan diatas meja, menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan kemudian duduk di kursi yang dia tarik. “Terima kasih untuk makanannya. Kau terlalu lelah untuk mengerjakan ini semua. Bagaimana kalau aku menyewa asisten rumah tangga?” tanyanya lembut. Aku mengambil piring, memasukkan nasi dan lauk ke dalam piring dan meletakkannya di hadapan Rendi. “Aku ingin mengurus rumah penuh dengan cinta. Aku ingin memasak dengan cinta, agar kau merasa nyaman saat kembali ke rumah. Sebab rumah adalah surga kita di dunia ini,” kataku. Rendi tersenyum, menarik tanganku lembut kemudian mengecup punggung tanganku. Aku tersenyum. “Karena alasan inilah, mengapa pacaran setelah menikah selalu dianjurkan dalam islam,” kataku. Dia tertawa lirih. Hambar mendengarnya namun aku selalu senang setiap kali mengetahui bahwa Rendi selalu berusaha untuk membuatku bahagia. “Aku hanya takut kau kelelahan,” kata Rendi lirih. “Aku tahu itu,” kataku. Setelah itu kami diam, menikmati setiap suapan yang masuk ke dalam mulut kami, meski kami sadar bahwa kami sedang larut dalam pikiran masing-masing. “Kau satu-satunya perempuan dalam hidupku saat ini,” tegas Rendi setelah menyelesaikan makannya. “Aku tahu,” jawabku. “Tidakkah kau ingin seperti Fatimah putri Rasulullah? Seumur hidup tidak pernah dipoligami? Tidakkah kau ingin seperti Sitti Khadijah istri pertama Rasulullah? Yang selama hidupnya tidak pernah dipoligami?” tanya Rendi dengan air mata yang mengalir di pelupuk matanya. Aku menggeleng menolak tawarannya. Aku tersenyum, mencoba melangkah mendekati Rendi, menghapus air mata yang mengalir dipelupuk matanya. Dia terisak. Aku berusaha untuk tetap tersenyum melihatnya. Hatiku juga terluka melihatnya. Tetapi aku harus kuat, aku harus tersenyum di depan Rendi agar Rendi yakin dengan keputusan yang akan diambilnya. “Tidak adakah jalan lain?” tanyanya dengan suara serak. “Inilah jalan lain menuju surga-Nya,” kataku. “Kenapa harus memaksakan diri? Mengapa harus menyiksa diri. Seorang istri cukup menjaga kehormatannya, menjaga kehormatan suami dan keluarganya, menjaga harta suami saat sang suami tidak berada di tempat, menjaga sholat fardu, puasa di bulan ramadhan dan taat pada suami, itu sudah cukup untuk membuat sang istri memilih masuk surga lewat pintu manapun,” kata Rendi disela isak tangisnya. “Untuk hari ini kita sudahi saja,” kataku lalu memeluk tubuh Rendi dengan erat. Tubuh Rendi terguncang dalam pelukanku. Ini semua demi kebaikan kami. kebaikan Rendi, kebaikan rumah tangga kami dan juga demi kebaikanku. Meski harus terluka menyaksikan semua ini. Aku hanya harus berjalan melewati semua ini, seperti berjalan di dalam sebuah terowongan yang gelap dan di ujung terowongan itu nampak cahaya yang akan menerangi kehidupan rumah tangga kami. aku cukup terus berjalan sampai mencapai ujung terowongan lalu hidup bahagia tanpa rasa bersalah yang menghantui kami.***&&&***  

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Saklawase (Selamanya)

read
69.7K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Hubungan Terlarang

read
513.2K
bc

Orang Ketiga

read
3.6M
bc

Jodoh Terbaik

read
183.1K
bc

Nafsu Sang CEO [BAHASA INDONESIA/ON GOING]

read
893.0K
bc

Aira

read
93.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook