Pencarian Dimulai

1219 Words
Salah satu warga yang selamat dari bencana alam itu menggigit bibir bawahnya pelan. Pandangannya fokus ke depan. Sementara kedua tangannya memelak pinggang. Ia menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Lelah setelah menyusuri tempat demi tempat dalam melakukan evakuasi korban bencana alam. Namun, lelahnya itu bukan sesuatu yang dapat menghentikan Ia untuk melakukan evakuasi. Ia dan teman-temannya terus melakukan evaluasi demi menemui lebih banyak korban lagi. Namanya Rifki Hasan. Selain ia adalah lelaki yang sangat menyukai Tania dari zaman itu sekolah SMa itu pun masih menyukainya hingga kini. "Oi, napa bengong, Mad? Liat apa lu?" tanya Rifki, yang seketika mengejutkan Ahmad. Ia bahkan langsung berlari kecil, menghampiri temannya itu. "Gue liat satu korban meninggal lagi kayaknya," timpal Ahmad, begitu Rifki sudah ada di sampingnya. "Gue baru aja liat dia kayak mengembuskan napas terakhir," sambungnya, tanpa bisa menyembunyikan rasa syok. Rifki pun seketika melihat ke arah mana Ahmad melihat. Tak jauh darinya, ia pun melihat seorang wanita patuh baya di antara tumpukan sampah. "Innalilahi," gumamnya, seraya cepat berjongkok. Lantas, ia segera mengecek urat nadi wanita tersebut. "Dia beneran udah meninggal, Mad." "Iya. Padahal, beberapa detik lalu Ibu ini masih membuka mata tipis. Terus tiba-tiba dia kayak senyum gitu sebelum akhirnya menutup mata. Ngucapin syahadat pula. Masya Allah pokonya. Gue sampai spiclis." “Maha Besar Allah. Semoga Engkau menempatkan mereka di sisi-Nya.” Rifki pun menyapu kedua tangannya itu ke wajah. Membuat Ahmad mengikutinya. “Sekarang, sebaiknya kita memberitahu petugas untuk dievakuasi dan di data. Barangkali, ada orang yang bisa mengenali wajahnya nanti,” lanjutnya, memperhatikan wajah wanita paruh baya itu sekejap. “Tapi, sebentar.” “Kenapa, Ki?” Ahmad yang sedari tadi sudah berjongkok pun mengernyit sambil melihat Rifki. "Lu kenal?" tanyanya. "Gue rasa iya." Rifki menganggukkan yakin. "Ah, ya ... Benar. Ibu ini istrinya Pak Budi. Bu Rahma. Ibunya Tania,'" sambungnya kian merasa yakin. "Yang lu bilang guru SMA itu?" Ahmad mengernyit lagi. “Iya. Tania. Gadis yang ... ah, sudahlah. Bukan waktu yang tepat untuk membahas dia. Sekarang ayo, angkat dan bawa dia saja sekarang untuk dievakuasi.” Rifki bersiap, dengan menarik lengan bajunya sampai ke sikut. “Lagian, para petugas itu pasti senang karena kita bantuin.” Ahmad mengangguk, pun dengan dua teman lainnya yang seketika langsung membantu Rifki menggotong Rahma. Membawanya ke tempat di mana para petugas mengumpulkan satu per satu mayat yang ditemukan hari ini. Begitu sampai, apa yang dilihat Rifki lagi-lagi membuat jantung dan hatinya bergetar hebat. Padahal, sejak pagi, entah berapa ratus mayat yang sudah dilihatnya. Namun, menghentikan penyisiran hanya karena tiba-tiba merasa lemas bukan satu-satunya pilihan. Rifki tetap ingin membantu para petugas berompi kuning itu, setelah merasa beruntung karena menemukan ibu juga ayahnya dalam keadaan selamat. Begitu juga dengan Rara, kakak perempuannya yang sudah menikah, meski Rara harus kehilangan suami dan janin dalam kandungannya. Usai melaporkan mayat yang ditemukannya itu, Rifki kembali menyusuri tempat-tempat tersembunyi bersama Ahmad dan dua temannya. Mencari korban, barang kali ada yang masih bisa diselamatkan lagi. Namun sayang, sampai tiga jam lamanya membongkar sampah dan puing-puing, yang ditemukannya hanya korban meninggal. “Sepertinya cukup untuk hari ini, Mad. Kita harus pulang untuk beristirahat, agar besok bisa membantu para petugas lagi.” Rifki mendengkus, sambil bertolak pinggang. Lalu menoleh, melihat ke sekeliling. “Sudah mulai gelap juga. Bentar lagi pasti adzan.” “Ya, sudah.” Ahmad pun menimpalinya. Lalu melihat ke arah temannya satu per satu. “Baiklah. Sekarang kita balik dulu aja, Gays.” “Yoi!” timpal kedua temannya, bersamaan. “Lapar juga nih perut.” “Lapar mulu sih lu. Baru juga kita selesai makan.” Ahmad berkomentar. Ia yang sudah tak lagi canggung berucap pun tertawa. "Emang dasar perut gentong," sambungnya. "Tadi mah bukan makan. Icip doang!" timpal temannya itu. Ia yang sudah terbiasa dengan obrolan kasar mereka pun ikut tertawa. "Kan, keburu nemu mayat yang kondisinya mengenaskan banget. Gue mual," sambungnya. "Hilih. Mana ada icip habis sepiring nasi. Mual juga tetep doyan lu. Dimakan pun sampai habis. Dah lha, ayo. Pamit dulu kita sama para petugas itu. Takutnya mereka kangen, terus nyariin." Ucapan Ahmad seketika membuat gelak di antara mereka kian menggelegak. Rifki terutama. Ia paling jarang lempar-lempar candaan dengan teman-temannya. Hanya kerap menyimak dan ikut tertawa karena kelucuan mereka. Rifki setuju. Pun dengan teman-teman yang seketika mengikuti Ahmad. Mereka hendak pamit terlebih dulu pada para petugas, lalu berjalan melewati puing-puing yang masih berserakan di sepanjang jalan, menuju tempat pengungsian. Tepat ketika mereka sampai di tempat pengungsian, azan magrib pun berkumandang. Saat itu pula, di tempat lain, lagi-lagi Tania sadar dari pingsannya. Ia menyipit, lalu mengerjap-ngerjap begitu melihat langit yang perlahan mulai meredup. Hari hampir habis, berganti malam. Napasnya kemudian tersengal-sengal, terbawa suasana usai menangis berkali-kali dalam mimpi. Membuatnya tak bisa berucap, untuk sekadar berteriak meminta tolong saja. Lagi-lagi menangis yang bisa dilakukan Tania tanpa sesiapa pun di sana. Sekarang Tania teramat lapar, teramat haus setelah dua hari dua malam tak sadarkan diri. Namun, bagaimana pula caranya mencari makan dan minum? Dia sama sekali tak bisa bergerak, tak bisa ke mana-mana selain menatap langit kian gelap. Walaupun tetap, gadis yang tak lagi berupa manusia saking kotornya itu tak tertarik, dengan keindahan ratusan bintang. Bibir pucatnya itu justru mengeluarkan lenguh kecil, mendengking lemah, mengisyaratkan kesedihan. “Inikah akhir dari hidupku?” pikirnya dalam hati. “Lalu bagaimana dengan perjalanan cintaku? Di mana dia? Di mana Satriaku?” Namun, hanya kelebat angin yang kemudian menjawab pertanyaan dalam hatinya. Mencipta sejuk, setelah sehari penuh terpanggang bersama tumpukkan sampah dan lumpur. Sayangnya, itu tak membuat rasa haus dan laparnya hilang begitu saja. Dia ingin menyantap sesuatu, seperti apa yang kerap dilakukannya di jam-jam begini. Usai salat Magrib, nasi goreng selalu tersaji di ruang makan. Seperti biasa, siapa lagi kalau bukan Rahma yang membuatnya. Namun, bukan hanya itu yang sekarang akhirnya membuat air mata Tania kian berderai. Melainkan hadirnya Satria di minggu-minggu terakhir setelah pertunangan. Calon suaminya itu kerap mengikuti ritual makan malam, sepulang dari masjid bersama Budi. Lalu menemaninya mengerjakan setumpuk tugas sekolah, atau sekadar ngobrol berdua di teras depan. Omong-omong soal sekolah, ingatan Tania lantas beralih pada guru-guru yang lain dan anak-anak didiknya. “Di mana mereka?” Ia pun bergumam dalam hati. “Bagaimana keadaan mereka saat ini?” Seandainya hari ini adalah hari terakhirnya menghela napas, seperti mayat kian membusuk di sampingnya, tak kan lagi Tania dengar pertanyaan mengenai kapan dia akan menikah. Semua itu hanya akan menjadi sebuah kenangan, dalam ingatan mereka yang masih bisa bertahan hidup. Namun, tiba-tiba saja Tania sadar dari lamunan. Dia menelan ludah yang terasa semakin kering, lalu mengerjap sebelum kembali menatap langit. Bintang-bintang di atas sana itu masih mengerlip, bahkan semakin banyak dan membuatnya kembali merasakan semangat. “Aku nggak boleh menyerah begitu saja,” rutuknya dalam hati. “Aku harus bisa bertahan!” rutuknya lagi, “Aku harus berjuang untuk mencari Ayah, Ibu, juga Satria yang mungkin saja selamat dari bencana.” Sekuat tenaga Tania menggerakkan tangan dan kaki, lalu berdeham-deham untuk mengumpulkan suara. “T-t-o ... lo-ng!” serunya, parau. “T-tolo-ng aku!” serunya lagi, semakin parau. “Tolong aku ....” Namun, lagi-lagi hanya kelebat angin yang menjawabnya. Di sana benar-benar sepi, tak ada suara apa pun, termasuk binatang-binatang kecil yang biasa menghiasi heningnya malam. Hewan-hewan itu mungkin sama menderitanya dengan Tania setelah Tsunami usai. Atau justru sudah lebih dulu mati saat badai menerjang. Tania pun menghela napas berat. Lelah kembali membuatnya kehabisan tenaga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD