Terpanggang

1135 Words
Usai diterpa dinginnya angin malam, lagi-lagi Tania harus menghadapi teriknya matahari. Tubuhnya bak dipanggang, sampai membuat ia kian memburuk. Detak jantungnya kian melemah. Pun dengan helaan napas kian tersengal, begitu ia tersadar dari pingsan yang entah ke sekian kali. Gadis berlumur lumpur itu menoleh perlahan. Ia menggerakkan kepalanya ke sisi kiri dan kanan untuk melihat keadaan sekitar. Hening. Masih tak ada siapa pun yang dapat ia mintai tolong di sana. Hanya saja, ada beberapa burung tengah menatap penuh iba. Kesedihan seketika merasuk kalbu. Jantung Tania berdebar hebat, sering dengan menghangatnya air di pelupuk mata. Ia menangis sesenggukan karena ingatannya seketika tertuju pada Satria juga keluarga. Di mana mereka, Tania bahkan tak tahu dirinya sedang ada di mana. Ia juga tak tahu, sampai kapan Tuhan akan memberi nyawa. Sedang, kondisinya sudah benar-benar tak memungkinkan. Ia merasa kebas di sekujur tubuhnya. Tapi, ia benar-benar merasa lemah dan juga lemas. Dalam hatinya menjerit meminta tolong. Siapa pun. Ia sangat membutuhkan pertolongan. Namun, tetap saja, tak seorang pun datang menghampirinya. Membuat Tania kian merasa putus asa. Ia tak yakin akan hidupnya. Tatapan Tania lantas beralih pada burung yang sedari tadi tak mau menjauh darinya. Ia mengiba, hendak meminta tolong, barangkali burung itu memang mengasihaninya. Namun, burung-burung itu justru beterbangan saat Tania mengucapkan kata tolong dalam hatinya. Entah ke mana perginya burung-burung itu, Tania tak tahu. Ia benar-benar sendiri sekarang. "Allah, sanggupkah aku bertahan?" batinnya. *** Waktu beranjak naik. Jam pun sudah menunjukkan pukul tiga sore lewat, di hari ke tiga setelah gempa dan tsunami mengguncang kota Palu. Tapi mereka, para petugas dan relawan yang sedari kemarin berjibaku, saling menolong dalam mengevaluasi korban masih belum beranjak pergi dari lokasi. Mereka masih di sana, mencari lagi dan lagi. Penyisiran dan pembersihan jalan kembali dilakukan usah beristirahat sejenak. Mereka berpencar, membagi seluruh dari mereka menjadi beberapa kelompok lagi. Tak terkecuali dengan Rifki, Ahmad dan kedua temannya juga. Mereka hendak menjajaki tempat yang belum terevakuasi. Raut wajah kesedihan kembali terlihat jelas dari wajah masing-masing dari mereka saat korban demi korban kembali ditemukan dalam keadaan meninggal. Terlebih saat mayat uang ditemukannya sudah membusuk dan tak berupa karena kotor dan luka. Rifki yang paling sedih seketika menahan tangis. Ia menghela napasnya dalam-dalam sambil menangkup mulut. Di hari ketiga setelah bencana itu memang sudah tak lagi mungkin ada korban selamat yang akan mereka temukan. Mereka yang nasibnya kurang beruntung, sudah pasti kehilangan tenaga untuk bertahan hidup. Rifki pun mendongak, menatap langit yang mulai menggelap barang sejenak. Napasnya belum benar-benar teratur. Padahal, ia sudah berusaha menetralkan perasaannya. Kepalanya lantas kembali, menunduk melihat apa yang ia pijak. Lumpur dan sampah masih menyatu. Dan, ia harus segera membersihkannya untuk memberi akses jalan. Namun, belum genap enam kali kakinya itu melangkah, ia mendengar sesuatu. Di tengah-tengahnya puing dan sampah yang berserak, Rifki bergeming sembari menajamkan pendengaran. Ia baru saja mendengar suara gumaman seseorang. Dan, detik kemudian ia mendengar suara isak dengan amat sangat jelas. Ia lantas bergegas, berlari menuju sumber suara. Tentu saja dengan tatapan juga pendengaran yang ia tajamkan agar berhasil menemukan korban yang ia kira selamat. Dan, perkiraannya pun benar begitu ia melihat seorang wanita terbujur lemah di sana. "Ya, Allah." Rifki bergumam, takjub setelah melihat keajaiban Tuhan. Ia baru saja menemukan korban selamat setelah tiga hari bencana alam menerjang kota. Ia bahkan tak mengira. Dengan tangan bergetar, Rifki pun menyingkirkan pohon yang menindih sebelah dari tangan korban. Dan, saat ia berhasil menyingkirkannya, suara adzan terdengar berkumandang dari jauh. "Ya, Allah. Maha besar Allah," gumamnya lagi. Air matanya seketika menggumpal. Lantas merembes dan menggelinding cepat di pipinya, saat ia menyingkirkan sampah-sampah dari tubuh korban. "Alhamdulilah. Sabar, ya. Saya akan coba bantu sebisa saya," katanya parau, tanpa mengalihkan tatapan dari wajah korban. Ia ingin tetap memastikan, korban yang ditemukannya itu tetap bertahan atau tidak. Detik berikutnya, korban yang Rifki temukan itu membuka mulut perlahan. Dari bibirnya keluar sepatah dua patah kata dengan terbata-bata sampai akhirnya dapat Rifki mengerti. "Air? Mbak mau air?" “A-air.” Tania berucap lagi. “Air.” Sadar kalau korbannya itu mungkin merasa haus, Rifki langsung meraba-raba tubuh bagian sampingnya. Ingat, kalau tadi dia sempat membawa air sisa diminum saat beristirahat. Lantas, ia pun meraih pundak korban perlahan seraya mengangkatnya hingga setinggi sejengkal agar ia dapat membantunya minum. “Bismillah. Pelan-pelan,” katanya, seraya mengangkat tubuh bagian atas korbannya itu lebih tinggi lagi, sampai selutut. Lalu, meminumkan airnya sedikit demi sedikit sampai habis. “Bertahanlah. Aku akan membawamu ke tempat pengungsian sekarang juga!” Dengan diawali Bismillah, Rifki langsung membopong tubuh yang dilumuri lumpur itu. Lantas berjalan cepat melewati teman-temannya yang masih melakukan penyisiran. “Korban selamat?” tanya Ahmad, sambil mengikutinya. Rifki mengangguk. “Subhanallah. Gue tak menyangka sama sekali, Ki.” “Gue pun. Tapi ini benar-benar sebuah keajaiban. Dan, Gue harap dia bisa selamat setelah ini.” Rifki masih terus berjalan, tanpa melihat Ahmad yang berjalan di sampingnya. “Dia terluka parah?” “Gue rasa begitu, Mad. Tubuhnya benar-benar hampir tertimbun pohon dan reruntuhan tadi.” “Ya, Tuhan.” Ahmad menggeleng-geleng, tak percaya. “Kalau begitu kita pakai mobil petugas, bagaimana? Jalan utama menuju tempat pengungsian, sekarang pasti sudah bisa diakses.” “Itu yang kupikirkan sekarang.” “Ok! Biar aku jalan lebih dulu untuk memberitahu mereka.” Tanpa menunggu jawaban Rifki, Ahmad langsung berlari dan memberitahu petugas yang tak jauh darinya saat melakukan penyisiran. Lantas, begitu Rifki melihat Ahmad dan salah satu petugas menghampirinya dengan membawa tandu, dia langsung jatuh berlutut. “Bertahanlah! Kumohon bertahanlah!” Suara Rifki terengah-engah, begitu melihat kedua mata korban hampir terpejam. “Ya Allah! Tolong bantu dia untuk menyelesaikan perjuangannya setelah tiga hari bertahan dalam kesakitan.” Dalam hati, korban selamat yang ditemukan Rifki itu bergumam, mengucapkan banyak terima kasih karena sudah menolongnya dari kehausan. Namun, tahu akan siapa yang menolongnya itu, dia pun meminta maaf. Maaf atas penolakan yang dilakukannya tempo dulu. “R-rif ....” Korban tersebut berusaha memanggil Rifki. “R-rif-ki.” Namun, pindahnya tubuh dari pangkuan ke tandu, membuat Rifki sama sekali tak mendengar desis yang keluar dari mulut korban tersebut. Dia justru mendengkus, merasa lelah setelah membopong tubuh wanita itu. Untuk mencapai mobil, giliran Ahmad dan salah satu petugas yang membopong tandu. Mereka pun hendak membawa korban ke rumah sakit yang masih bisa beroperasi. Sementara Rifki, dia kembali untuk berkumpul terlebih dulu dengan rombongan tim penyisiran korban, sebelum pulang ke pengungsian. Sebenarnya, Rifki bisa saja pulang ke rumah yang tak begitu mengalami kerusakan. Lantas berkumpul dengan ibu dan ayahnya, tanpa perlu bersusah-payah membantu para petugas. Namun, jiwa kesosialannya yang cukup tinggi tak membuat Rifki melakukan itu. Dia justru rela tidur beralas tikar di pengungsian, bersama warga yang selama dua tahun terakhir dipimpin oleh ayahnya. Bahkan tak hanya itu, bantuan berupa sembako dan pakaian ganti pun ia belikan, menggunakan uangnya yang digabung dengan uang sumbangan dari rekan-rekannya. Dan seperti kata Tania, Rifki baik. Dia memang orang yang sangat baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD