Melewati Kematian

1179 Words
Melewati perjalanan cukup panjang, Ahmad dan salah satu petugas berompi kuning itu pun sampai di halaman rumah sakit. Rumah sakit yang bahkan terkena imbas dari gempa dan tsunami, meski tidak menyebabkan kerusakan berlebihan karena lokasi yang tidak begitu dekat dengan titik pusat gempa. Hanya saja, rumah sakit tersebut masih sedikit kotor. Ada beberapa tempat yang belum sempat dibersihkan dari puing dan juga sampah. Bahkan, lumpur pun masih ada di sana dan sedang dalam masa pembersihan. Karena rumah sakit adalah tempat utama untuk para korban, halaman mau pun di bagian dalamnya benar-benar dipenuhi oleh warga. Mereka yang sedang dalam keadaan sakit, berbaur dengan yang sehat. Sebab, mereka yang tidak kenapa-kenapa memang sedang mencari anggota keluarga di sana. Ahmad yang baru saja sampai pun turun dari mobil. Lantas, ia pun segera mengangkat tandu dengan dibantu petugas lain yang bersamanya. Korban yang ditemukan Rifki dalam keadaan hidup itu pun segera mereka bawa ke dalam. Dan, kedatangannya langsung disambut oleh dokter para perawat. “Dalam hitungan ketiga, pindah bad, ok!” seru dokter, saat memberikan perintah pada asistennya. “Satu, dua, tiga. Mulai!” Dalam detik, tubuh korban berjenis kelamin wanita itu pun sudah berpindah tempat. Dia yang tergolek lemah di ranjang pasien, dengan tubuh dan pakaian kotornya langsung diberi bantuan pernapasan dengan bagging. “Apneu, Dok!” seru salah seorang suster, membuat dokter jaga langsung melakukan kompresi jantung. “Monitor terpasang, Dok!” “Ok!” balas dokter tersebut, tanpa menghentikan kompresi jantung yang dilakukannya dengan sigap. Tubuh korban bereaksi, mengerjap-ngerjap, tapi tidak dengan detak jantung yang terekam di monitor. Puluhan garis berbentuk puluhan huruf W itu berjalan cepat, seperti berlarian. “Sementara kulakukan kompresi, berikan epinefrin satu ampul, siapkan defib dan laryngoscope juga!” seru dokter kembali, dengan tatapan beralih ke sisi kiri dan kanan, melihat dua suster di kedua sampingnya itu. “Asistol, Dok!” “Epinefrin, masuk?” “Sudah, Dok!” “Ok! Cek respons,” kataku seraya menghentikan kompresi jantung dan melihat layar monitor. “Pulseless! Sekarang, ganti posisi. Lakukan kompresi jantung sepertiku barusan.” Suster di sampingnya langsung mengambil alih posisi, lantas melakukan hal yang dilakukan dokternya tadi. Sementara itu, dokter langsung menyiapkan defibrilator pada 200 joules, lalu mengambil pedal dan meminta jelly dioleskan di atasnya sebelum menggosokkan kedua permukaan tersebut. Dia bersiap melakukan kejut jantung. “Stop! Semua lepas tangan.” Dokter yang sudah berdiri di samping pasien lagi langsung memberikan perintah. “Siap?” “Siap, Dok!” Begitu kompresi jantung dan ventilasi dihentikan, dokter pun langsung melakukan kejut jantung. Membuat tubuh pasien yang sedari tadi tergolek lemah langsung mengentak. “VT, Dok!” seru salah seorang suster di sisi ranjang yang lain. “Ok. Lanjutkan kompresi!” seru dokter, seraya siap melakukan kejut jantung ke dua. “Stop! Semuanya siap?” Kejut jantung kedua pun langsung dilakukannya, membuat tubuh pasien itu lagi-lagi mengentak. “Lanjutkan kompresi, Sus. Tambah satu epinefrinanya juga. Akan kucoba intubasi sekarang.” Dokter langsung mengambil laryngoscope yang disodorkan suster, lalu berusaha secepat mungkin untuk memasukkan endotracheal tube. Barula setelah itu, ventilasi dilakukan selama kurang dari dua menit. “Sekarang hentikan kompresinya, Sus!” titahku, seraya langsung melihat layar monitor dan mengecek urat nadi. “Teraba!” “Alhamdulillah ....” Dua suster yang membantunya langsung berjongkok, menghela napas lega, setelah kurang dari setengah jam dilanda rasa tegang. Korban tsunami ini berhasil melewati tahap penanganan pertama. Sekarang, tinggal beberapa tahap lagi untuk membuatnya pindah ruangan. Pakaiannya langsung digunting, tubuhnya dibersihkan, lalu setiap luka dijahit. Pun dengan luka di wajah, dibalsam tebal-tebal oleh suster yang merawatnya. Sementara rambut hitam sepinggang yang tak mungkin bisa disisir itu, terpaksa harus dipotong pendek untuk memudahkan proses penanganan di daerah kepala. “Kasihan sekali kamu,” kata salah seorang suster, begitu selesai melakukan satu per sayu pekerjaannya. “Pasti sakitnya luar biasa, saat berjuang melewati tiga hari yang mengerikan di tengah-tengah tumpukkan sampah.” Suster itu tahu, karena kabar tentang korban selamat di hari ke tiga itu begitu santer terdengar. Ramai dibicarakan, bahkan oleh para dokter di rumah sakit. Sayangnya, sampai saat ini, korban tersebut belum sadarkan diri. Dia masih tergolek lemah, meski sudah melewati masa kritis. Melihat pasiennya, suster itu bergeming lama di samping ranjang. Dia bahkan terisak pelan, mengingat adik semata wayangnya yang juga habis diterjang badai. *** Berhasil melewati masa kritis setelah dua hari dirawat di rumah sakit, korban yang belum diketahui identitasnya itu masih belum sadarkan diri. Ia masih tergolek lemah di ranjang pasien,. lengkap dengan peralatan medis yang membantunya untuk bertahan hidup dari kemarin lusa. Tak hanya wanita itu, di ruang yang luasnya dapat menampung enam pasien itu pun dihuni oleh pasien korban bencana alam. Mereka sama terluka, meski tidak sampai tak sadarkan diri. Hening. Ruang di mana para pasien sedang beristirahat itu pun benar-benar sepi dari aktifitas apa pun karena para suster belum melakukan pemeriksaan. Hanya terdengar suara 'beef-beef' yang berasal dari layar monitor,. pendeteksi detak jantung. Dan itu berlangsung lama sampai akhirnya suster yang berjaga tiap malam pun kembali masuk untuk memeriksa selang infusan pasien. Satu per satu ia periksa, dan segera mengganti botol infusan yang sudah kosong. Selesai dengan pekerjaannya, ia yang sedari kemarin mengalami tekanan batin karena adiknya yang juga menjadi korban bencana pun bergeming melihat Tania. Jantungnya berdebar sebab kesedihan yang seketika merasuk jiwa. Ia menghela napas panjang sebelum kemudian mengembuskannya perlahan demi untuk menahan tangis. “Pagi, Sus.” Dokter Marisa, yang kemarin ikut berjuang menangani satu per satu korban menyapa, sambil membuka pintu. Membuat suster itu terkejut, dan langsung berbalik badan. “Ya, Dok. Saya?” tanyanya, begitu berdiri tegak menghadap pintu keluar. “Rileks, Sus. Macam ketemu hantu aja kamu.” Seraya menutup pintu kembali, Dokter Marisa pun menggoda salah satu teman sepekerjaannya itu. “Hayo, loh. Kamu lagi mikirin apa? Kelihatan gitu mukanya sedih.” “Dah, aku nggak apa-apa, kok. Ini cuma sedih dan takjub aja melihat korban-korban Tsunami yang selamat.” Suster itu menarik bibir tipis-tipis sambil mencatat perkembangan pasien di hadapannya. “Ah, iya. Ada kemajuan dari mereka?” “Yang lain ada, Dok. Tapi pasien yang kita tangani dua hari lalu ini, keadaannya masih sama seperti kemarin.” Dokter Marisa pun mendekat, berdiri tepat di samping pasien. “Kasian sekali dia. Sampe bengkak gitu wajahnya. Tapi sungguh, Kuasa Allah memanglah menakjubkan. Kamu lihat sendiri, kan kemarin ... korban dengan luka biasa justru meninggal sebelum kita melakukan apa-apa. Lalu dia? Ma Sya Allah.” Suster itu mengangguk-angguk, sebelum menyerahkan data yang baru ditulisnya pada Dokter Marisa. “Semoga saja, dia bisa melewati masa komanya juga, Dok.” “Ya. Semoga saja,” jawab Dokter Marisa, sambil meraih apa yang disodorkan suster. Barulah setelah itu, dia memeriksa satu per satu pasien lain. Beberapa hal ditanya, termasuk bagian mana saja yang masih terasa sakit. Selesai dengan pekerjaannya, Suster dan Dokter Marisa pun keluar meninggalkan ruangan, agar pasiennya dapat beristirahat sebelum masuk waktunya makan siang. Sementara tak jauh dari tempat di mana gadis itu ditemukan, petugas dan warga sekitar, termasuk Rifki dan Ahmad, masih melakukan penyisiran dan pembersihan. Korban meninggal semakin banyak ditemukan, tapi tidak untuk korban selamat. Di hari yang ke sekian itu, memang tak mungkin ada korban selamat lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD