Dengan Berat Hati

1859 Words
Bau bangkai tercium, menyeruak menusuk-nusuk indra penciuman saat matahari seolah memanggang tubuh-tubuh mereka yang masih tersembunyi di beberapa tempat. Rifki dan teman-temannya masih terus melakukan evakuasi bersama para petugas, lengkap dengan pelindung hidung berupa masker. Rifki pun menemukan seorang anak perempuan dan lelaki paruh baya, bersebelahan di antara puing dan sampah. Ia menelan ludah begitu melihatnya bergantian. Dia lantas bergegas, mendekati mayat anak perempuan terlebih dahulu. Kantong mayat yang ia bawa pun ia letakkan di tanah sambil berjongkok setelah membukanya terlebih dahulu. Rifki menghela napas panjang sebelum kemudian ia mengembuskannya perlahan. Ia benar-benar merasa kasihan pada anak kecil di hadapannya itu. Namun, sekilas, ia tak sengaja melihat gerakan kecil dari jemari lelaki paruh baya di sampingnya. Membuat ia seketika langsung beralih, mendekati korban lain yang ditemukannya. "Ya, Allah. Subhanallah." Rifki langsung merasa takjub saat matanya kembali melihat gerakkan tangan korban di hadapannya itu. "Gue nggak lagi mimpi, kan? Sekarang udah hari ke sekian, tapi masih ada korban yang bisa bertahan hidup? Masya Allah," sambungnya seraya cepat meraih pergelangan tangan lelaki paruh baya itu. Benar, lelaki yang ada di hadapannya itu masih bernyawa. Denyut nadinya, meski lemah, Rifki masih dapat merasakannya. Ia lantas segera menoleh, melihat ke arah di mana teman-temannya sedang menyisir tempat demi tempat. Namun, belum sempat bibirnya itu berseru, korban selamat yang ia temukan bergumam pelan. “A-a ... a-ir!” katanya, terbata-bata. Rifki pun langsung menarik wajahnya lagi, urung memanggil teman-temannya. Ia lantas mendekatkan wajahnya seraya mengerutkan sebelah alis, barangkali ia salah dengar. Lelaki di hadapannya itu masih terpejam. Tapi, Rifki baru saja melihat mulut korban bergerak, mengucapkan hal yang sama. “Ya, Allah!” Rifki Hasan pun mendesah, ingin segera memberikan air. Namun, wadah air yang biasa dibawanya tertinggal di pengungsian. “Ahmad! Tolong ambilkan air sekarang cepat!” serunya seketika tanpa mengalihkan pandangan dari wajah korban. Ahmad yang baru saja menjinjing tandu pun langsung bergegas, menghampirinya Rifki yang tampak begitu antusias. “Korban selamat? Serius?” tanyanya, begitu sampai. “Iya! Cepat turunkan tandu, dan berikan airnya padaku,” titah Rifki, yang langsung dilakukan Ahmad dengan segera. “Tolong bangunkan dia sedikit, biar nggak tumpah airnya, Mad. Biar gue kasih minum dikit-dikit.” “Ok, sebentar.” Ahmad pun langsung berjongkok di samping kepala korban, lalu mengangkatnya perlahan. “Buru, Ki!” Dengan diawali Bismillah, Rifki meneteskan sedikit demi sedikit air ke mulut korban. Namun, lelaki paruh baya itu justru mengaduh, meringis karena merasa begitu sakit dan pegal. “A ... a-air!“ Lagi-lagi si korban mengucapkan hal sama. Padahal, Rifki sudah memberinya minum meski baru sedikit. Rifki yang ingin segera menyelamatkan korban pun mengabaikan gumamnya. Ia dan Ahmad buru-buru memindahkan tubuh korban ke tanda untuk segera dibawa ke rumah sakit. Sementara mayat anak perempuan, langsung ditangani petugas lain. Kali ini, Rifki yang biasa memilih tinggal dan kembali menyisir tempat pun ikut ke rumah sakit. Ia yang mendampingi korban selamat temuannya itu. Sebab, ia merasa kenal dengan korban. Meski belum sepenuhnya yakin. *** Jemari lentik gadis yang selama dua hari ini terbaring koma bergerak pelan. Kesadarannya baru saja kembali, setelah melewati masa kritis. Ia bahkan hendak membuka mata meski masih sedikit sulit. Ingatannya belum sampai ke titik di mana ia sudah melewati banyak hal menyakitkan. Tentang bencana yang menyeretnya sampai jauh, juga kehilangan banyak hal yang diyakininya saat tersadar dari pingsan. Ia hanya merasa seperti sedang tertidur, kemudian bangun meski terasa begitu susah payah untuk membuka mata saja. Wanita itu akhirnya mengerjap-ngerjap pelan, seiring dengan pandangan samar. Tepat, ketika korban selamat yang dibawa Rifki tiba di rumah sakit. Adzan Ashar pun berkumandang. Wanita yang baru saja sadar dari komanya itu menoleh, melihat ke sisi kiri. Pandangannya sudah semakin jelas. Sehingga ia dapat melihat orang lain. Ia kembali menarik wajah seraya menghela napas panjang. Tatapannya kemudian lurus ke depan, di mana ia hanya melihat langit-langit ruangan. Ingatannya seketika berputar. Membuat ia seketika mengingat satu per satu kejadian yang kemarin lalu dilewatinya. Tentang pertemuannya dengan Satria, sampai bencana seketika memisahkan mereka berdua. Kesedihan pun kembali merasuk ke dalam kalbu Tania. Ia yang awalnya sadar dalam keadaan lupa, seketika menangis setelah mengingat semuanya. "Ya, Allah. Dia sadar," gumam salah seorang pasien yang baru saja mendengar suara isak tangis Tania. Membuat ia seketika duduk dari berbaringnya. Ia lantas menekan tombol untuk memanggil suster. “I ... i ... i-ibu!” Gadis itu meracau. Pasien lain yang mendengarnya pun seketika menoleh dan melihat gadis itu sudah sadar sepenuhnya. Mereka tersenyum senang tanpa sepatah kata. Ikut bahagia karena teman satu kamarnya sudah siuman. Gadis itu kemudian terdengar mengaduh, karena merasa sakit di sekujur tubuhnya. Ngilu sekali setelah beberapa hari terdampar di antara puing dan sampah. Namun, seketika ia pun sadar, dirinya tidak lagi sedang di sana. Pandangannya ia edarkan sekali lagi. Ia sedang ada di dalam ruangan, di atas kasur dan berada di antara orang-orang hidup. Di mana? batinnya. Bukankah kemarin ia ada di antara tumpukkan sampah. Lalu suster yang masih sama, suster yang selalu bergetar saat melihat wajahnya itu bergegas sesaat setelah lampu tanda panggilan dari kamar pasien menyala. Sesampainya di ambang pintu kamar pasien, saat dirinya baru saja akan melangkah, gadis itu menoleh pelan ke arah pintu. “D-di mana aku?” Suaranya terdengar serak. Tanpa banyak bersua, suster itu langsung memeriksa seluruh layar hijau, selang infus dan selang-selang lain yang menempel berupa belalai di tubuh pasien. Sembari mengamati peralatan medis satu per satu, ia mencatatnya kemudian untuk diserahkan pada dokter yang menangani kesehatan gadis di hadapannya. Suster itu tersenyum, lantas duduk di samping kiri pasien. “Syukurlah!” Matanya berkaca-kaca, lagi-lagi bergetar melihat tubuh yang tadinya terbaring lemah, tanpa tahu akan berakhir seperti apa, sekarang sadar dari pingsannya. Kedua mata mereka bertemu, saling pandang sekian detik. “Bagaimana keadaanmu, Mbak?” “D-di mana?” Gadis itu kembali bertanya tergagap-gagap, tanpa mendengarkan pertanyaan wanita di hadapannya. “Kamu di rumah sakit, Mbak. Tolong jangan dulu banyak bergerak, ya.” Suster itu memegang pundak pasiennya saat berusaha untuk bangun. Hening. Kedua mata gadis itu pun kembali berkeliling, memastikan sesuatu yang belum benar-benar terlihat nyata. “R-rumah ... sakit?” tanyanya kemudian, terbata-bata. “Iya, Mbak. Kemarin kondisimu lemah sekali. Syukurlah sekarang sudah membaik.” Suster itu kembali tersenyum menatap wajah pasiennya yang tampak kebingungan. Kepala gadis itu terasa berat saat mengingat-ingat semua kejadian yang menimpanya. Dia mengaduh lagi seraya memegangi kepala cepat-cepat. “Ibu!” Suaranya tertahan, bersama lelehan air yang menggenang di sudut mata. Ingatan tentang terjadinya tsunami benar-benar berputar, mengingatkannya kembali pada setiap detik sebelum bencana itu terjadi. “Ayah!” parau dia bergumam lagi. Melihat kesedihan yang terpancar dari raut wajah pasiennya itu, suster yang masih tertegun di hadapannya ikut berderai. Dia menarik napas sebelum memberitahu kebenaran tentang pasien yang ditanganinya. “Ada kabar lain yang harus saya sampaikan, Mbak.” Tanpa sepatah kata, gadis itu menoleh. Raut wajahnya berubah tegang, takut kalau-kalau ada berita buruk yang harus ia dengar. “Dengan berat hati, kaki Mbak kami amputasi ... “ Suster itu berhenti bicara, menghela napas sejenak. “Sebab lukanya sudah hampir membusuk. Tulang betisnya pun retak amat parah,” tambahnya berat. Dia terpaksa mengatakannya. Sebab cepat ataupun lambat, gadis itu harus tahu. Mendengar perkataan wanita di hadapannya, gadis itu langsung menyingkap kain putih yang menyelimuti separuh tubuhnya. Dia melihat kaki yang sudah terpotong sempurna sampai lutut. “Ya, Allah!” Jantungnya berdetak kencang bersamaan dengan tubuh bergetar. Dia bergeming, diam sempurna dengan mata berkedip lambat. Otaknya macet total, tidak memikirkan apa pun kecuali kakinya yang tak lagi utuh. Seketika hatinya terasa begitu hancur, nelangsa mengingat apa yang dialaminya sangat menyakitkan. “Kami ... tidak ada cara lain.” Suster itu membuang napasnya berat. Tertunduk. Kemudian kembali menatap kedua mata pasiennya yang masih berair. “Tapi syukurlah sekarang kamu sudah sadar. Kondisimu luar biasa baik, Mbak.” Gadis itu tak menjawab, sama sekali tidak ingin bicara setelah mengetahui kabar buruk yang menimpa dirinya. Itu terlalu menyedihkan, sangat menyakitkan untuk dia terima dengan lapang. Bahkan mungkin perlu waktu berhari-hari, atau bertahun-tahun untuk bisa ikhlas dengan apa yang terjadi. Namun, tentu saja itu tak kan semudah membalik telapak tangan. Tragedi itu, rasa sakit itu, dia butuh waktu untuk berdamai dengan semuanya. Dia menghela napas berat sembari mengalihkan tatapan dari kakinya yang tak lagi utuh. “Kenapa ini terjadi padaku, ya Allah?” Hening. Suster yang mendengarnya pun diam menunduk, tak sanggup menatap nelangsa yang terlihat jelas di kedua mata pasiennya itu. Karena ternyata, selamat dari maut tak membuat gadis itu mampu untuk menerima kenyataan pahit. “Ini ... ini nggak adil, ya Allah!” Parau, suara gadis yang seketika menangkup wajahnya itu. Dia pikir percuma saja hidup, kalau untuk menjalaninya sendiri dia tak yakin mampu. Jemarinya seketika mengepal. Dia ingin berontak, ingin marah dan menyalahkan siapa saja yang ada di sekitarnya. Akan tetapi, itu sama sekali tak berguna. Karena kemurkaan sebesar apa pun tidak akan mengembalikan apa yang sudah terjadi. Semua itu hanya akan membuat amarahnya kian bergemuruh di dalam hati, lantas menanamkan sebuah rasa bernama dengki. Perlahan dia pun menarik napas, lalu mengembuskannya kasar sambil menjatuhkan pandangan. Dia berusaha meredam sesak, juga amarah yang masih saja memenuhi hatinya. “Sabar, Mbak. Aku yakin, Allah telah menyiapkan sesuatu yang indah untukmu. Dan jika Mbak mau, aku siap untuk menjadi teman yang akan menampung setiap keluh kesahmu.” Suster yang masih berdiri di sampingnya itu berusaha menghibur, berusaha tersenyum setelah air mata ikut menetes begitu menyaksikan kesedihan di raut wajah pasiennya. Namun, itu tak cukup membuatnya tenang. Dia sama sekali tidak merasa yakin dengan apa yang dikatakan suster di sampingnya. Tetap saja hatinya kesal, marah, dan kecewa dengan takdir yang telah merenggut apa yang dimilikinya. “Aku mau sendiri, Sus. Maaf!” balasnya, dingin. Dengan berat hati, suster itu pun meninggalkan pasiennya dalam keadaan terisak. Dia memberikan sedikit waktu, setidaknya sampai besok untuk menanyakan perihal nama dan tempat tinggal. “Andaikan dia tahu, bahwa aku pun telah kehilangan banyak hal karena tragedi kemarin.” Suster itu bergumam begitu keluar kamar, dan menutup pintu. “Tapi biarlah. Semoga dia bisa menerima semuanya, dalam waktu dekat ini.” Kembali pada tugas-tugasnya, dia pun sibuk bersama suster lain. Mulai dari mengisi data, sampai mengecek perkembangan satu per satu pasien di beberapa ruangan. Lantas dia beranjak pulang, setelah berganti shift. Beda dengan gadis yang baru sadar dari komanya beberapa jam lalu. Sejak suster meninggalkan kamar, air matanya tak henti-henti berderai, sampai sembap kedua mata berbulu lentik itu. Bahkan, saat malam sudah sedemikian larut, isak tangisnya membuat beberapa pasien terbangun dari tidur mereka. Termasuk seorang wanita paruh baya yang berada di sampingnya. Dia turut bersedih, karena sama-sama kehilangan banyak hal di hari tragedi itu terjadi. “Tidurlah, Dek. Kasihan tubuhmu itu kalau menangis terus,” katanya parau. Berharap, itu kan membuat teman satu kamarnya merasa sedikit lebih tenang. Namun, gadis itu tetap saja terisak. Dia tak peduli dengan orang yang memberinya semangat, karena semua terdengar seperti sebuah kepalsuan di telinganya. Sementara itu, di ruang inap yang lain, seorang pria tengah menengadahkan kedua tangan, dengan air mata berderai. Dia berdoa, penuh harap untuk keselamatan keluarganya juga. Dalam setiap helaan napas, pria itu menyebut nama dua wanita penting dalam hidupnya. Berharap, kalau mereka semua pun sama baik dan selamat dengannya. Padahal, tanpa dia tahu, salah seorang yang dilangitkan dalam doanya itu sudah lebih dulu meninggal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD