Bayangan Masa Lalu

1425 Words
"Nama kamu siapa, Mbak? Biar saya isi data pasiennya dulu." Dokter yang baru saja datang itu pun mulai menanyakan perihal data diri pasien yang ada di bawah penanganannya. Sembari duduk di kursi samping ranjang, ia tersenyum menatap pasiennya. "Tania," jawabnya parau. Ia tidak membalas tatapan dokter di sampingnya. ia justru menatap kosong langit-langit ruangan di atas sana. Dokter cantik itu pun mengangguk-angguk seraya menyentuh tangan Tania. "Nama Ibu dan ayahmu?" tanyanya lagi, karena data lengkap pasien di rumah sakit sangat penting untuk kebutuhan informasi para petugas kepolisian juga. Sementara perawat yang berdiri di sampingnya langsung mencatat nama pasien. Ia sangat antusias saat menuliskan nama Tania. Sebab terbawa perasaan senang akan siuman pasiennya itu. "Budi dan Rahma," jawab Tania lagi. Ia masih menatap kosong ke arah langit-langit. Wajahnya benar-benar tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dingin. Ia sama sekali tidak terlihat sedih atau bahagia. Dokter cantik itu pun kembali menganggukkan kepalanya. Lantas bertanyalah lagi perihal tempat tinggalnya. Barulah setelah itu ia mengakhiri obrolan. Pemeriksaan pun sudah selesai sejak tadi. Ia harus segera pergi untuk meriksa pasien lagi. "Tolong kamu bergesekan sisanya, ya?" ucap dokter tersebut pada perawat sebelum kemudian ia berlalu pergi. Perawat itu pun langsung melakukan pekerjaannya. Ia melepas satu per satu peralatan medis yang tak lagi dibutuhkan Tania. Hanya tinggal menyisakan infusan saja karena tubuh Tania masih membutuhkannya. "Mau duduk?" tanya perawat itu, usai melepas peralatan medisnya. Tania tak menjawab. Tapi perawatan itu tetap membantu Tania duduk, dengan susah payah. Pasiennya itu tak melawan, sehingga ia bisa membuat Tania duduk sempurna. "Alhamdulillah, ya. Sekarang kamu udah siuman. Sebentar lagi, kami pasti sembuh." Perawatan itu bicara dengan begitu senang dan riang. Namun, lagi-lagi Tania tidak menanggapinya lagi. Hening. Lagi-lagi Tania hanya diam membisu. Ia tak bicara sepatah kata pun selain hanya menatap kosong ke depan tanpa ekspresi. Dia sama sekali belum tertarik untuk berbincang-bincang, sekalipun itu tentang kondisinya. "Ah, iya. Sekarang biar aku bantu ganti bajunya, ya? Sini," katanya seraya meraih kancing baju yang dipakai pasiennya itu. Ia melepasnya satu per satu tanpa berhenti bicara, meski Tania tetap tidak menanggapinya. Tania menoleh, melihat perawat yang baru saja membantunya mengganti baju. Raut wajahnya yang sedari tadi dingin, tiba-tiba berubah tegang. Keningnya menggariskan kesedihan tertahan, membuat matanya seketika memerah. Perawat itu lantas tersenyum dengan maksud memberi kekuatan. Namun, begitu ia hendak menyapu air mata Tania yang baru saja menetes, pasiennya itu menghambur memeluk. "Ya, Allah." Perawat itu langsung tersentak. Namun, ia segera membalas pelukan dari pasiennya itu. "Nggak apa-apa kalau mau nangis. nangis aja, Mbak," sambungnya. "Ayahku, ibuku, apakah mereka selamat? Katakan, Sus. Apa mereka ada di rumah sakit ini?" tanyanya dalam Isak tangis menyedihkan. Perawat yang balas memeluknya itu pun tak tahan untuk tidak menangis. Hatinya tergetar karena merasakan sakit yang sama dengan pasiennya. Namun, bibirnya tetap tersenyum berbagai tanda kalau dirinya kuat. “Semoga saja, Mbak!” gumamnya dalam hati. “Dan seperti apa yang kamu pikirkan, aku pun berharap sama tentang adikku.” Suster itu membiarkan Tania memeluknya beberapa menit, membuat kerudung putih yang dia pakai basah oleh air mata. Berharap, rasa sakit pasiennya akan berkurang, sebelum ia menarik dan mengembuskan napas perlahan. “Menangislah sepuasmu, Mbak!” katanya dalam hati. “Agar setelah itu, perasaanmu bisa jauh lebih tenang.” Perlahan, air mata Tania mulai berhenti. Isak tangisnya tak lagi tersedu sedan. Suster itu benar, karena Tania merasa jauh lebih tenang sekarang. Membuat ia seketika melepas kedua tangan dari tubuh orang yang kembali menyunggingkan bibirnya tipis. "Aku yakin, kamu akan segera bertemu dengan keluargamu, Mbak." Suster itu bicara mantap. "Iyakah?" tanya Tania, tak yakin. "Huum. Aku sudah mencatat beberapa informasi tentangmu. Setelah itu disetorkan ke polisi, mereka yang mengenalmu pasti akan segera datang. Insya Allah," jawabnya. Ia mengangguk-angguk meski tidak begitu yakin dengan ucapannya. Sebab, ia tak tahu apakah keluarga Tania masih hidup atau tidak. "Aamiin. Semoga saja begitu," timpal Tania penuh harap. "Makasih, Mbak," sambungnya. "Huum. Sama-sama, Mbak. Saya pergi dulu kalau begitu. Kamu istirahat, ya. Jangan sedih," katanya. Tania pun melengkungkan kedua sudut bibir seksinya, tersenyum meski sedih sedang merajai hatinya juga. Ia berusaha untuk tampil bahagia dan penuh semangat, bagaimana kesedihan merajai hatinya seperti apa yang dikatakan perawat barusan. Sementara itu, perawat yang baru saja membantunya pun melengos pergi karena harus segera menyerahkan data pribadi Tania pada polisi dan bagian administrasi juga. Dan dalam hitungan menit, nama Tania pun sudah tertera di papan informasi mengenai data pasien selamat maupun pasien meninggal. *** Dua hari setelah Tania sadar, rumah sakit itu masih tampak begitu ramai oleh orang-orang yang baru saja datang dan pergi. Beberapa di antaranya terlihat kesakitan, sedangkan orang yang baru saja selesai dirawat tampak kebingungan, akan ke mana langkah kakinya itu tertuju. Beberapa di antaranya berjalan gontai, terpatah-patah di sepanjang koridor rumah sakit dengan tatapan kosong. Termasuk Budi, laki-laki separuh baya yang ditemukan Rifki Hasan itu berjalan pelan di sepanjang koridor. Lukanya memang belum sembuh total, kondisinya pun belum kembali normal. Namun, setelah mendapatkan pelayanan terbaik, dia sudah diperbolehkan pulang hari ini. “Bagaimanakah kehidupanku sekarang?” Keluhnya parau dengan tatapan penuh kegelisahan. Sesampainya di luar, pemandangan yang luar biasa buruk membuatnya bergetar. Menyedihkan sekali keadaan kota tempatnya tinggal itu. Semua tampak jauh berbeda dari sebelum bencana kemarin terjadi. Dia pikir, apa yang bisa diharapkan lagi? Sebagian dari kota Palu benar-benar hancur, dan hanya menyisakan puing-puingnya saja di sana-sini. Dan itu, sudah pasti berlaku untuk rumahnya sendiri. “Allahuakbar ... astagfirullah!” Sepanjang kaki berjalan melewati orang yang sama sekali tidak dikenalinya, hanya itu yang terucap dari bibir keringnya. Sebab, yang ada dalam benaknya sekarang hanyalah Tania dan sang istri. Bagaimana keadaan mereka? Di mana keberadaannya? Budi terus melangkah, tak peduli meski lukanya masih sedikit terasa sakit, dia harus segera sampai di rumah yang dia sadari, tentu akan ada begitu banyak perubahan. Barangkali, anak dan istrinya ada di sana. Pun dengan jarak yang sangat jauh, Budi sama sekali tidak peduli. Sepanjang perjalanan dia hanya bisa berdoa, beristigfar dengan air mata berderai. Bagaimana tidak? Di sepanjang jalan yang dilaluinya hanya terdapat puing-puing dan orang-orang yang masih sibuk mencari korban. Puncaknya, dia menangis setiap kali melihat korban meninggal. “Ya, Allah! Tolong pertemukan aku dengan keluargaku.” Budi memohon, tetapi langkahnya tak berhenti. Dia terus berjalan, tersuruk-suruk sampai akhirnya tiba di lokasi tempat tinggalnya. Budi menghela napas panjang, melihat betapa menyedihkannya tempat tinggal mereka. Rumah itu, bangunan itu, semua telah hancur. Hanya tiang-tiang fondasi setinggi mata kaki yang masih utuh. Dia pun jatuh tersuruk, menapakkan kedua tangan di jalanan kering berdebu, seraya menenggelamkan wajah dalam kesedihan yang teramat menyayat hati. Budi tergugu begitu lama di sana. Harapan yang dia bawa di sepanjang perjalanan itu telah musnah. Membuat sisa-sisa cahaya di wajahnya seketika meredup, hilang seiring air mata berderai. Tak tampak kewibawaan yang melekat didirinya selama ini. Bahkan, tubuh kekarnya amat sangat bergetar sekarang. Lagi-lagi dia menghela napas, mengusap rambut dengan kedua tangan yang kotor oleh debu-debu jalanan. Tak peduli. Dia mendesah, menatap langit sejenak. Cuaca hari ini begitu panas, membuat keringatnya bercucuran. Sekejap, angin bertiup kencang, memainkan anak rambutnya yang sedikit panjang. Namun, Budi tetap saja menengadah, menatap langit cerah yang berselimutkan awan putih. Tak lama dia pun bangkit berdiri, lantas melangkah lebih dekat menghampiri bangunan yang tak lagi utuh itu. Bergetar, dia menyentuh puing-puing rumahnya. Seketika memori di masa lalu berputar-putar. “Lagi ngapain, Yah?” Tania pun berjongkok, memasang muka penasaran saat Budi menyiapkan beberapa papan dan paku. “Mau bikin rak sepatu. Lihatlah! Rak itu sudah butut, Nak.” Budi menjawab tanpa menoleh. Fokus dengan pekerjaannya. “Ah, iya.” Tania pun duduk, memerhatikan ayahnya dengan saksama. Ayahnya itu memang telaten. Dia kerap membuat perabot apa saja dari bahan kayu. “Tapi, kenapa Ayah belum ke bengkel? Udah jam delapan ini.” “Di bengkel lagi sepi. Biar nanti sianglah ayah ke sana.” “Oh. Tak kirain kenapa, Yah.” Sambil menyodorkan paku, Tania mengangguk-angguk. Memang sudah lama dia mendengar, bahwa bengkel yang dikelola Budi selama bertahun-tahun itu sedang dalam masa kritis. Membuat Rahma kerap memasak lauk pauk seadanya. Namun, tentu saja itu tak menyurutkan semangat keluarga mereka. Berdoa dan berikhtiar adalah hal yang terus mereka kerjakan. Tak lama, istrinya datang membawa secangkir kopi dan s**u. Mereka pun bercengkerama, membicarakan banyak hal di teras depan. Tentang semangat, semangat, dan semangat. Sekembali dari ingatan masa lalu, Budi langsung mengusap wajahnya yang basah oleh deraian air mata. Dia kembali tergugu lama di depan rumah yang seharusnya masih utuh, jika tsunami itu tidak datang melanda. Pria itu menundukkan wajah, meremas jemari dengan perasaan tak keruan. “Pak, Budi!” Seseorang tiba-tiba berseru, berdiri di hadapannya dengan tangan kosong. Membuat Budi seketika menoleh, dan terkejut mendapati orang yang dikenalinya dengan sangat baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD