“Pak Hasan?” Budi mengernyitkan kening. Dia ingin tersenyum, tanda senang jika ada tetangga yang masih selamat. Namun, kesedihan yang tertanam dalam hatinya terlalu kuat. Dia sama sekali tak bisa mengendalikan diri.
“Syukurlah kau selamat, Pak. Sejak kapan di sini?” tanyanya, seraya semakin mendekati Budi.
“Sejak tadi siang, Pak. Alhamdulillah ... kau juga selamat,” katanya tanpa ekspresi.
“S-sudah tahu kabar tentang Bu Rahma?” Hasan bertanya pelan. Dia menoleh, melihat segurat kesedihan di wajah Budi.
“Kabar?” Budi terkesiap, seolah mendapat sebuah petunjuk. “Kabar apa, Pak?”
“Bu Rahma sudah ditemukan dua hari setelah bencana itu, Pak. Kondisinya sangat mengenaskan ....” Suara Hasan nyaris tak terdengar, tertahan di ujung kerongkongan. Tercekat oleh sesuatu yang menyesakkan.
“M-mengenaskan?” Budi menghela napas panjang. “Meninggal?”
Mereka terdiam cukup lama demi sebuah rasa yang begitu menghantam jiwa. Mendobrak segala pertahanan, meski tahu kalau semua sudah menjadi kuasa Tuhan. Terlebih Budi, yang seketika bagai tertusuk-tusuk. Wajahnya langsung memanas, memerah bak kepiting rebus. Itu bukan karena tersipu, melainkan marah tertahan karena tak mungkin melawan kuasa Tuhan.
Bibir kehitamannya bergetar, diiringi suara gigi bergemeletuk menahan umpatan-umpatan yang seketika tertahan di kerongkongan. Dengan air mata tak henti-henti keluar, Budi pun kembali jatuh terduduk di hamparan tanah kering nan tandus. Sedikit dapat teredam, Istighfar pun berulang kali Budi ucapkan.
Sebetulnya, begitu keluar dari rumah sakit, Budi tak berharap banyak atas keinginannya terhadap Rahma dan Tania. Apalagi setelah melihat banyaknya korban meninggal, kian patah keyakinan akan hidupnya dua wanita tercinta. Namun, kabar yang dibawa tetangganya benar-benar memukul d**a.
“Lalu ... apa lagi yang kau tahu, Pak?” Bergetar mulut Budi saat bertanya. Pertanyaan yang jelas-jelas akan membuatnya lebih merasa sakit, jika kabar tentang Tania sama percis dengan istrinya.
Matanya kemudian menatap pria yang baru saja berjongkok di sisi sebelah kanan. Tatapan pasrah, dengan apa yang akan dia dengar. Namun, Hasan justru menggeleng. “Hanya itu yang kutahu, Pak. Aku sama sekali tidak mendengar kabar tentang Tania.” Dia ikut tertunduk, merasa sedih.
Hening. Hanya suara desau angin yang kemudian mengelebat di tengah panasnya matahari, juga langkah kaki orang-orang yang tiba-tiba berseliweran dengan raut wajah sama menyedihkannya. Mereka semua sama-sama merasa kehilangan.
“Keluargamu bagaimana?” Setelah lama terdiam, Budi kembali memecah kesunyian. Dia masih tertunduk. Menggosok-gosok kedua tangan, menyembunyikan rasa kalut.
Hasan tersenyum getir. Rahangnya amat mengeras, menahan air mata yang memaksa ingin keluar. Dia menggeleng. “Tidak ada yang tersisa, Pak. Tidak ada!” desahnya. “Istri dan anak-anakku juga sudah dikubur sehari setelah Bu Rahma ditemukan.”
Budi tersentak, kembali menghela napas panjang mendengar kisah keluarga tetangga dekatnya itu. Dia mendongak. “Sabarlah!” kata Budi berempati, meski tentu kesedihan itu pun telah melanda seluruh dari hatinya.
“Ah ... padahal tinggal satu bulan lagi.” Hasan mendesahkan sesuatu, menatap Budi ketika teringat sesuatu. “Padahal ... satu bulan lagi anakku akan menikah, Pak. Semua sudah kami siapkan dengan baik.”
“Menikah?” Budi pun akhirnya teringat sesuatu. Tania, anak semata wayangnya itu juga baru saja dilamar seseorang. “Ah, iya. Satria! Kau tahu Satria bukan?”
Hasan mengangguk. “Aku pun tidak mendengar kabar tentangnya, Pak Budi.” Dia mendesah. Berkata pelan sekali.
Budi mengusap rambutnya. Mengeluh dalam kelam. “Di mana kalian, Nak?” Keduanya terdiam lagi. Memikirkan banyak hal yang baru saja terjadi di luar dugaan.
Sungguh! Bencana alam itu benar-benar menyakitkan. Bagai sebilah pedang berkarat yang menusuk-nusuk di d**a mereka. Namun apalah daya, semua sudah menjadi suratan takdir. Tidak ada seorang pun yang mampu menolak atau menunda datangnya bencana.
“Lalu, di mana tempat pengungsiannya, Pak?” Budi bertanya, lagi-lagi setelah lama terdiam dalam kesedihan.
“Ada beberapa titik, Pak. Tapi, aku tinggal di pengungsian nomor dua. Tempatnya di Masjid Agung, tempat di mana orang sekampung melakukan tarawih saat bulan Ramadhan. Ingat?”
“Ya, ya. Aku ingat, Pak Hasan."
“Kalau begitu, sebaiknya kita pergi ke sana sekarang. Biar sekalian datamu masuk untuk bisa tinggal di sana, Pak. Ya, setidaknya sampai kita benar-benar tahu harus berbuat apa.”
Hasan mendengkus. Sebab dia pun masih bingung, hendak apa dan bagaimana untuk melanjutkan hidup. Seperti rumah dan bengkel Budi, tempatnya bekerja juga hancur diterjang gempa dan tsunami.
Budi mengangguk, lantas bangkit mengikuti Hasan yang sudah lebih dulu berdiri. Dengan langkah gontai, keduanya pun berjalan melewati sisa puing-puing yang masih berserakan.
Dan begitu sampai di sana, kesedihan masihlah hinggap dalam ingatan keduanya.
***
Sementara di ruang pasien dengan lantai keramik putih tanpa cacat itu tampak begitu lengang. Tania yang belum bisa terlelap sedang memerhatikan layar hijau pasien lain. Lengkungan garis di dalamnya naik-turun, seperti bergelombang. Pria yang dia sendiri tidak tahu kapan datangnya itu masih belum sadarkan diri. Masih terbaring lemah, sama persis dengan kondisinya kemarin.
Tania mengerjap, menelan ludah saat tiba-tiba suster yang lain datang untuk memeriksa infusan. “Belum tidur, Mbak?” tanyanya mulai memeriksa.
“Mataku belum mengantuk, Sus. Suster Kinan nggak masukkah?” Tania menoleh, memerhatikan cara suster itu bekerja dengan serius.
“Kali ini bagianku untuk berjaga, Mbak.” Suster itu telah selesai, lalu berjalan untuk memeriksa infusan pasien lain. “Tapi aku tahu banyak tentangmu. Karena Kinan selalu menceritakan perihal kondisimu sebelum sadar,” lanjutnya sambil menoleh sesekali. Dia sama ramahnya dengan Kinan, suster pertama yang dilihat Tania.
“Benarkah?” Tania tersenyum senang, merasa ada yang memerhatikan setelah beberapa waktu kesepian.
“Ya.” Suster itu menoleh lagi sambil tersenyum tipis. “Dia bilang ... wajahmu mirip adiknya yang telah meninggal karena tsunami kemarin.”
“Ya, Tuhan!” Tania langsung menangkup mulut, terkejut begitu mendengar penuturan suster di sebelahnya. “Pantas saja dia selalu menangis setiap kali bertemu denganku.”
“Kamu beruntung, Mbak.” Suster itu kembali menghampiri Tania. “Selamat malam.”
“M-malam, Sus. Terima kasih.” Tania balik tersenyum, mencoba untuk terlihat normal, meski sebenarnya terkejut dengan apa yang disampaikan perawat itu.
Dia lantas menarik napas, mengembuskannya perlahan sebelum menelan ludah yang berkumpul di kerongkongan. Matanya kosong menatap langit-langit ruangan dengan pikiran entah.
“Kalian baik-baik saja, kan?” batinnya, begitu ingatan mengingatkannya pada Budi, Rahma, dan tentu saja Satria, lelaki kedua yang sangat dicintainya.
Namun, tidak seorang pun tahu keberadaan keluarganya itu. Sebab Kinan yang membantunya untuk mencari informasi, sama sekali tak menemukan data pasien dengan nama tersebut.
“Entah kalau mereka tidak terluka parah,” jelas Kinan begitu memberi tahu Vanesa. “Itu artinya, mungkin saja orang tuamu langsung ke pengungsian.”
Tania mendengkus kasar. Sebab untuk pergi ke pengungsian, dia harus sembuh total dari kondisinya sekarang. Dan itu butuh waktu.
***
Masjid Agung tak begitu terkena dampak dari gempa dan tsunami. Hanya saja, ada beberapa genteng yang jatuh, dinding retak, dan kaca yang pecah. Namun, melihat luasnya halaman tersebut, para petugas pun menjadikannya tempat pengungsian nomor dua.
Budi yang sudah sedari tadi sampai bersama Hasan pun beristirahat di sana. Bersama beberapa warga sekampung yang juga selamat dari bencana alam kemarin. Namun, keramaian tak membuat kesedihannya hilang dari ingatan. Dia tetap saja tergugu dalam lamunan, meratapi nasib keluarganya yang telah hancur. Sesekali Budi menatap langit, lalu kembali ia menangkup wajah seraya menghela napas berat, seberat kenyataan yang harus diikhlaskannya.
“Ayah harap ... kamu baik-baik saja, Sayang.” Budi berkata pelan. Menahan sesak di d**a yang memuncak setiap kali mengingat kejadian itu. “Tapi bersabarlah. Ayah yakin akan menemukanmu. Hidup, ataupun mati.”
Dia menghela napas kembali, mencoba menetralkan perasaannya lagi meskipun terasa sulit. Lantas, setelah merasa lebih tenang, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Orang-orang yang sedari tadi bersamanya itu sudah terlelap di tengah terpaan angin malam. Meringkuk beralaskan karpet dan kardus-kardus bekas tempat sumbangan. Mereka tampak lelah setelah seharian membantu para petugas. Namun, ada juga yang sepanjang hari terbaring karena sakit.
“Belum tidur, Pak?” Hasan tiba-tiba datang, lalu duduk di samping Budi seraya melipat kedua tangan di dadanya yang kurus.
“Pak Hasan?” Budi menoleh, terkejut, sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke depan. “Belum, Pak. Masih belum mengantuk ini. Pak Hasan sendiri kenapa belum tidur?”
Hening. Lagi-lagi hanya terdengar suara desau angin yang menerpa-nerpa tubuh keduanya. Hasan menunduk, dengan bibir tersungging tipis. Teramat tipis, sampai tak tampak senyum di wajahnya yang tirus.
Belum satu menit Hasan sudah mengangkat wajahnya lagi. “Kesedihan, rupanya membuat rasa kantukku hilang juga Pak Budi,” jawabnya sambil melihat Budi barang sekejap.
“Aku rasa, semua orang yang ada di sini merasakan hal sama, Pak Hasan.”
“Ya, tentu saja.” Hasan mengangguk-angguk. “Tapi, omong-omong soal Tania ... kau sudah mencarinya ke mana saja, Pak?”
Budi menggeleng, karena sepulang dari rumah sakit dia langsung ke lokasi tempat tinggalnya. “Di mana pun Tania, aku harap dia selamat,” jawabnya kemudian.
“Semoga saja.” Hasan pun langsung mengaminkan apa yang dikatakan Budi, dalam hati.
“Ya.” Budi tersenyum getir. “Semoga saja begitu.”