Arusnya terus melesat dengan kecepatan sama tinggi, membawa air bahnya ke wilayah di mana Tania dan Satria tinggal. Semakin dekat, lebih dekat lagi, sampai akhirnya tiba dengan apa yang ditelannya di sepanjang jalan, sehingga mencipta jerit tangis dari orang-orang yang melihatnya pertama kali, sampai lari terbirit demi untuk mengalamatkan diri. Mereka kalang kabut.
Dalam salatnya, Samar Budi mendengar jerit tangis dari mulut-mulut mereka yang tak berada jauh darinya. Rahma pun mendengar seruan dari mulut mereka walau tak jelas. Begitu juga dengan Tania yang seketika menangkap suara gemuruh seperti saat turunnya hujan. Namun, ketiganya belum selesai salat. Ketiganya baru saja duduk setelah sujud di rakaat terakhir.
“Assalamualaikum ...,” desis Budi, begitu melakukan salam di akhir salat, sebelum akhirnya diikuti Rahma dan Tania yang tak lagi dapat menahan tangis ketakutan, dengan kedua mata terpejam.
“Kak Satria?” Begitu membuka mata, usai melakukan salam terakhir, kening Tania langsung mengernyit. Heran karena Satria tiba-tiba ada dan bahkan selesai salat di belakangnya.
Namun, belum sempat Tania bertanya, kapan calon suaminya itu datang dan melakukan salat bersama, gelombang yang sedari tadi bergemuruh datang menerjang pagar. Membuat dua keluarga yang baru saja selesai salat itu mengerjap dan terbelalak tanpa sempat menyelamatkan diri.
“Allahuakbar!” seru serempak, dari mulut Budi, Rahma dan keluarga Satria saat air menerjang tubuh mereka sampai terjengkang, terpelanting, bahkan terbentur apa yang saat itu terseret air juga.
Sementara Tania yang seketika ditarik dan direngkuh oleh Satria, hanya bisa mengerjap dan bertakbir dalam hati, saat air tiba-tiba menarik dan mengulur tubuhnya. Mereka sama-sama terpelanting, sampai terseret jauh dari tempat semula. Terpisah dari ayah, ibu, serta Anggi.
Keduanya yang masih sadarkan diri sesekali muncul dan tenggelam lagi, sepanjang air membawanya entah ke mana. Satria berusaha melihat ke permukaan. Pun dengan Tania yang berusaha meminta tolong, meski air yang terminum olehnya membuat ia berulang kali terbatuk, bahkan tersedak.
Lantas, walau tangan Satria dan Tania selalu hampir terlepas, mereka tak begitu saja menyerah pada keadaan. Keduanya berusaha terus-menerus untuk meraih apa yang bisa membuat tubuh mereka muncul ke permukaan. Meski akhirnya, kekuatan sepasang kekasih itu kalah telak oleh derasnya arus. Keduanya tergerus cepatnya tarikan dan dorongan air yang bergerak bersamaan.
Tubuh Tania yang bahkan masih memakai mukena itu lebih dulu melemah. Ia tak lagi merasa ada tenaga, dan tak lagi dapat melakukan perlawanan. Ia benar-benar sudah tak tahan karena banyaknya air yang terminum, bahkan terhirup saat tenggelam.
“Dek! Aku mohon tetaplah sadar,” kata Satria di dalam hati, saat tubuh Tania tiba-tiba menjauh dan terasa berat olehnya. Membuatnya seketika tertarik, oleh tangan Tania yang masih digenggamnya.
“A-aku ....” Tania pun bergumam dalam hati, dengan kedua mata yang tak lagi dapat terbuka karena terasa kian berat dan perih. “A-ku tak k-kuat lagi, Kak!” sambungnya, seolah ingin berteriak agar terdengar. Namun, apa daya.
“Dek!” Satria menggerak-gerakkan tangan Tania di dalam air. Berusaha untuk membuat tunangannya itu tersadar, walau ujung-ujungnya, jemari lentik Tania justru terlepas dari genggamannya. “Tidak-tidak! Kenapa tanganmu justru terlepas? Astagfirullah! Ya, Allah. Ke mana dia sekarang?” sambungnya, kian cemas.
Namun, saat Satria berusaha muncul ke permukaan, hantaman keras yang mengenai kepalanya membuat ia mengerjap-ngerjapkan mata. Tenaga yang bahkan tersisa hanya untuk mencari Tania, seketika menghilang. Ia melemah, tumbang begitu hantaman keras lagi-lagi mengenai kepala juga punggungnya.
“Aku hidup karena-Mu, Ya Rabb.” Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, Satria bergumam dalam hati. “Lalu sekarang, jika sudah tiba waktunya untuk aku kembali, matiku pun hanya karena-Mu,” lanjutnya, “tapi, ada satu pintaku pada-Mu, Ya Rabb. Ayah, Ibu, Anggi, Tania ...," batinnya sampai ia akhirnya hilang kesadaran.
Sementara itu, terlepas dari genggam tangan Satria, tubuh Tania seketika terseret semakin cepat, terpisah jauh dari keluarga dan juga kekasihnya. Bahkan, mukena yang awalnya tetap membungkus tubuh kini terlepas, karena sobekan kecil di bagian kepala lama-lama membesar.
Rambutnya yang hitam dan panjang seketika terurai, teruntai dalam genangan air bah selama beberapa saat lamanya. Semakin jauh, semakin jauh lagi Tania terseret bersama sampah. Tergores, terantuk, bahkan tersangkut sebelah kaki jenjangnya itu di pagar besi sampai meremukkan tulang-tulang betis. Lalu tangan, wajah, lengkap sudah baret-baret karena goresan itu menghiasi tubuhnya.
Namun, karena hilangnya kesadaran, Tania tak lagi merasakan sakit. Tak pula memikirkan ibu dan ayahnya di mana. Juga Satria yang baru saja terlepas dari genggamannya. Dia benar-benar terkulai lemah, pingsan total.
Namun, alam bawah sadarnya justru membawa Tania pergi ke suatu tempat yang indah. Di mana Tania seketika terkagum-kagum oleh apa yang dipandangnya. Sekumpulan kupu-kupu hinggap di padang bunga. Pun dengan burung-burung yang beterbangan di atas mereka. Tania, benar-benar merasa sedang di surga. Lebih-lebih saat ia melihat ke sekeliling. Taman yang dipijaknya itu berumput hijau. Sementara tak jauh dari tempatnya berdiri, air jernih mengalir dari hulu. Ia tersenyum tipis, sebelum akhirnya sadar kalau dirinya hanya seorang diri.
"Bu, Yah. Di mana kalian?" tanyanya.
***
Pukul 17.55 WITA. Langit mulai gelap setelah semburat berwarna jingga menyaksikan dengan jelas, betapa tragis dan mengenaskannya fenomena alam yang baru saja terjadi. Lalu senja baru saja memudar, menghilang di ujung entah.
Dalam sekejap kota itu tampak begitu lengang, tidak ada aktivitas apa pun selain orang-orang yang merasa gelisah memikirkan nasib keluarga juga dirinya sendiri. Termasuk orang-orang yang terjebak di antara reruntuhan, juga orang-orang yang merintih kesakitan. Sendirian. Kelaparan. Kedinginan.
Dalam keadaan yang semakin lama kian merangkak dalam gelap gulita, beberapa di antaranya berjalan mondar-mandir di dalam sebuah bangunan, tak sabar menunggu air laut surut seiring dengan perasaan waswas. Sedangkan yang lain berdiam diri, menekuk lutut di d**a dengan keresahan yang membuatnya tak mampu berkata-kata. Sungguh, meski begitu, mereka adalah orang-orang amat beruntung. Sangat beruntung di banding orang-orang yang tak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri.
Tak lama berselang, saat air lamat-lamat mula kembali surut, orang-orang beruntung itu sama sekali belum merasa tenang. Mereka masih terbelit rasa takut, karena gempa susulan masih terjadi lagi dan lagi meski getarannya semakin kecil, dan semakin kecil lagi.
Dingin. Angin kemudian menyergap tubuh, seperti membawa kabar duka yang siap menyayat-nyayat luka di hati. Membuat gigil orang-orang yang kini terjebak di pengungsian, juga mereka yang terjebak di antara reruntuhan.
Sementara orang-orang yang terseret arus, entahlah bagaimana nasib mereka. Bertahan hidup, atau justru sebaliknya.