Saat gempa mengguncang kota di mana Tania tinggal, seluruh masyarakat kalang kabut. Mereka benar-benar merasa syok karena getaran yang terjadi berulang meski dalam durasi sebentar-sebentar. Takut, kalau gempa tersebut dapat menyebabkan tsunami seperti puluhan tahun lalu.
Sebagian dari mereka tetap tinggal di dalam rumah. Sementara kebanyakan justru berhamburan dari rumah mereka masing-masing, meski waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Tetap stand by di luar, berkumpul bersama satu sama lain sembari memanjatkan doa-doa, dengan harap tidak lagi terjadi gempa susulan.
Pun dengan keluarga Tania yang sedari Budi datang, mereka langsung berkumpul di halaman depan rumah yang kebetulan luas dan memiliki pohon mangga yang rindang.
Beberapa karpet telah diambil oleh para lelaki untuk mereka duduk di sana. Pun dengan beberapa makanan untuk mereka mengisi perut yang mulai merasa kelaparan. Peralatan salat pun tak ketinggalan karena mereka memutuskan untuk salat berjamaah sekalian.
Sementara itu, Satria yang berhasil pulang di tengah-tengah terjadinya kemacetan karena gempa justru baru sampai ke rumahnya. Ia lantas merangkul adik dan ibunya yang ketakutan, seiring dengan perasaan waswas karena ia belum memastikan keadaan Tania.
Satria ingin pergi untuk menemui tunangannya itu. Namun, ia benar-benar tak sanggup jika harus meninggalkan keluarganya dalam keadaan ketakutan seperti itu. Menelepon Tania, akhirnya ia lakukan.
Satu kali, dua kali, teleponnya tak diangkat karena Tania tidak memasang nada apa pun selain getar. Barulah setelah Satria menelepon untuk yang ketiga kalinya, Tania pun menjawab.
"Sayang?" katanya, seketika. "Kamu di mana?" tanyanya, cemas karena tadi tak berhasil menghubungi tunangannya itu.
"Aku baru sampai di rumah, Sayang. Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Satria balik. Ia yang sama cemasnya itu langsung merasa lega setelah mendengar suara Tania.
"Alhamdulillah. Syukurlah Kakak udah sampai juga. Aku takut kakak kenapa-kenapa di jalan." Tania yang sedang melahap sebungkus roti pun menenggak sedikit air dulu dalam botol.
"Huum. Tapi, aku khawatir sama kamu. Apa aku ke sana aja, bawa orang tua dan adikku?" tanya Satria, yang benar-benar merasa ingin berada dekat dengan Tania.
“Ide bagus, Kak. Semakin banyak orang, apalagi itu kalian, tentu saja akan membuatku sedikit merasa tenang.” Tania pun mengiyakan, setuju dengan apa yang baru saja ditanyakan Satria. Lebih-lebih, ia pun sama khawatir sehingga ingin berada dekat dengan Satria juga.
Gempa dan ketakutannya akan tsunami membuat Tania membayangkan sesuatu yang mengerikan. Tatapannya, bahkan seketika tertuju pada Ibu dan Ayahnya yang sedang berbincang. Ia takut kehilangan mereka semua.
"Ya, sudah. Kalau gitu aku ajak keluargaku ke sana, deh. Lagian, nggak jauh juga," timpal Satria seraya mengedarkan pandangannya. Ia melihat ke sekeliling, orang-orang berkumpul dengan keluarganya masing-masing. Lantas, ia pun mengucap salam. Dan panggilannya terputus.
Saat Satria membicarakan apa yang diniatkannya, sebagian orang yang tadinya ingin berlindung di luar ruangan akhirnya memutuskan kembali ke dalam ruangan karena waktu hampir magrib. Pun di tempat lain, di mana ada bangunan-bangunan bertingkat, sebagian orang yang berada di jalanan naik ke lantai dua bangunan tersebut seiring dengan napas tersengal-sengal.
Bangunan-bangunan bertingkat yang letaknya tak jauh dari pantai, membuat mereka yang berada di sana melihat, air kaut tengah bergejolak seolah menunjukkan amarahnya. Dzikir seketika dilantunkan. Doa seketika dipanjatkan. Serta harapan-harapan akan kehidupan dipinta dengan paksa.
Terlebih saat Bumi kembali menggeliat sampai menggetarkan tanah. Garis-garis retakkan tampak nyata di setiap rumah mau pun bangunan-bangunan yang letaknya tak begitu jauh dari titik bergesernya kerak bumi. Semakin panjang, semakin jauh, semakin menganga tiap detiknya. Bahkan, seketika bangunan runtuh Karena tak kuat penahanannya.
Tania yang berada di antara ibu dan ayahnya pun menjerit ketakutan, saat tak jauh dari pandangannya, salah satu rumah warga ambruk seketika.
"Ya, Allah. Subhanallah." Ia bergumam, seiring dengan jantung berdebar-debar. "Allahuakbar!" sambungnya, lagi-lagi dalam hati.
Budi dan Rahma seketika mengucapkan hal yang sama. Pun dengan orang-orang yang seluruhnya ada di sana. Mereka bahkan langsung berselawat, di tengah-tengah rasa takut dan cemas.
Jauh dari pandangan mereka, suara jeritan demi jeritan terdengar memilukan. Sebab, mereka benar-benar melihat pohon-pohon di sepanjang jalan di antaranya tumbang karena gempa susulan yang getarannya lebih kencang juga sering.
Tanah yang dipijak seolah bergelombang. Membuat Tania seketika merasa begitu mual. Ia, bagai sedang diombang-ambing.
Detik berikutnya, tepat ketika gempa berhenti, aliran listrik tiba-tiba terputus. Membuat suasana menjelang magrib semakin gelap, karena beberapa tiang listrik di jalur perumahan mereka reban menyusul pepohonan.
Akan tetapi, berhentinya getaran tak lantas membuat semuanya menjadi tenang. Mereka masih saja, bahkan merasa lebih takut dari semula, mengingat epek yang disebabkan gempa, kemungkinan besar akan terjadi.
“Sebentar lagi magrib, Bu. Kita tak boleh meninggalkannya, walaupun dalam keadaan genting seperti ini,” kata Budi sambil bersiap untuk berdiri, yang kemudian disusul oleh anak serta istrinya itu usai mengangguk.
Untungnya, meski dinding pagar rumah mereka retak dan roboh sebagian, saluran air yang terdapat di dalamnya tak terganggu. Membuat Budi dan kedua wanita berharganya itu dapat mengambil wudu di sana, seperti sore tadi.
Menit kemudian, setelah getaran hebat membuat likuefaksi terjadi di beberapa titik, jauh dari pandangan Tania, air laut yang semula tenang berubah menjadi monster. Derunya terdengar seperti pasukan prajurit dalam peperangan, sementara gelombangnya menyerupai singa lapar yang siap menerkam mangsa. Mendesis dan bergemuruh. Tingginya, bahkan lebih dari tiga meter. Mencipta kecepatan, bagai laju motor di arena balapan.
Warga yang bermukim tak jauh dari pantai kembali dikejutkan oleh kedatangannya. Membuat mereka yang melihatnya secara jelas dari lantai atas seketika berseru keras, memberitahu orang-orang yang berkumpul di bawah.
“T-tsunami ... tsunami datang!” teriak salah seorang, sambil merekan apa yang dilihatnya dengan kamera ponsel.
“Bu, Pak, Tsunami!” Susul yang lain, meneriaki orang-orang yang tak sadar akan datangnya air laut.
“Lari, Bu! Pak! Lari, Pak!”
Pemandangan yang tampak akhirnya sama persis seperti saat pembagian sembako gratis. Orang-orang seketika lari terbirit, saling berebut untuk sampai lebih dulu ke tangga-tangga bangunan perbelanjaan yang ada di sepanjang lokasi pantai. Bahkan, tak cukup puas, mereka pun saling mendorong begitu sampai di anak tangga.
Sayang, gelombang air terlanjur sampai di bibir pantai, yang seketika langsung menyapu apa saja yang pertama kali disentuhnya. Pohon kelapa, kursi-kursi untuk pengunjung, sampai warung-warung kecil di pinggir jalan, semuanya habis dilahap dalam sekali hap. Termasuk orang-orang kurang beruntung, selain ikut terseret air, banyak pula di antaranya yang tertimpa reruntuhan.
“Allahuakbar!”
“Allahuakbar!”
“Allahuakbar!”
Jerit tangis mereka di tengah-tengah mengucap takbir dan syahadat, akhirnya menjadi pengantar terpelantingnya tubuh, sampai hilang kesadaran.
Siapa kuat, dia dapat adalah istilah kasar dari kejadian tsunami yang tak hanya mengguncang kota Palu ini. Mereka yang beruntung, bahkan tak terluka barang secuil. Namun, mereka yang kurang beruntung, habis.
Seolah belum puas, gelombang air yang datang dari laut itu pun menyapu semakin cepat. Menghantam tembok rumah, tembok bangun-bangun tinggi, juga toko-toko bekas digetarkan gempa sampai runtuh. Pohon-pohon kembali tumbang, bahkan tercabut. Tak terkecuali dengan tiang listrik, ikut tertelan bersama orang-orang yang terlambat menyelamatkan diri.