Di Sepanjang Bibir Pantai

1537 Words
Melajukan motornya, Satria pun keluar dari halaman rumah Tania dengan laju santai karena Rahma telah berpesan agar ia tak mengebut saat membawa Tania. Gadis berwajah manis itu tidak begitu suka mengendarai motor karena selalu merasa takut jatuh. Namun, di sepanjang jalan keduanya diam membisu. Hanya sesekali Satria berdeham untuk menghangatkan suasana. Ia juga tersenyum sesekali sembari menikmati kelebat angin yang menerpa-nerpa wajah tirusnya. Sementara itu, Tania justru sibuk bergumam. Ia sibuk memikirkan hal-hal di luar kebiasaannya selama ini. Jalan berdua dengan seorang pacar untuk pertama kali membuatnya bingung, bagaimana harus bersikap. Sedangkan membuka mulut saja, bibirnya terasa kelu dan bisu. "Bye the way, aku kok berasa naik motor sendiri, ya? Senyap gitu yang duduk di belakang tuh. Kamu masih di sana, kan?" tanyanya, menggoda dengan sengaja. Habisnya, ia pikir, Tania terlalu tegang. Tania yang mendengarnya pun seketika tertawa kecil. Ia lantas mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat karena malu. "Malah ketawa lho. Ditanya juga," sambung Satria, tertawa juga. Ia senang karena akhirnya suara Tania terdengar ada. "Ya, masa nggak ada, Kak? Kan, kita belum berhenti. Ada-ada aja, sih," timpalnya sembari menahan tawa. “Lagian, dari tadi kayak nggak bawa penumpang aku tuh. Sepi, macam di kuburan.” Bibir merah kehitaman Satria pun menyungging tipis. Ia juga melirik Tania yang seketika menangkup mulut, lewat kaca spion. “Nggak ada yang ngajakin aku ngobrol lho dari tadi. Ya, sudah, mending diem aja, kan?” Tania tergelak lagi. Kali ini tatapannya jatuh ke kedua tangannya yang berpangku tangan di paha. "Lha, kan bisa kamu duluan yang ngajakin aku ngobrol. Ngomong apa kek gitu. Kangen aku, misal." Satria menggoda lagi di tengah-tengah gelak tawanya. Tania ikut tergelak sebelum akhirnya ia berdeham, sadar kalau tawanya itu terlalu keras. Dia harus menjaga wibawanya sebagai seorang wanita juga guru. "Ya, ampun. Sepi lagi," ujar Satria sambil mendengus. Ia juga berdecak sambil menggeleng. "Ngobrol lagi, Dek." "Ngobrol apa coba?" Tania bingung sendiri. Padahal, kalau mereka sedang teleponan, Tania kerap banyak bicara. "Ya, apa kek. Kamu kan biasanya juga bawel." Satria menggoda lagi. “Aish. Iya deh iya.” Mimik wajah Tania pun langsung tersipu usai menyahut. Lantas menangkup mulut sambil menunduk barang sekejap, sebelum akhirnya kembali mengangkat wajah dan melihat suasana di sepanjang jalan. Namun, tetap saja rasa gugupnya tak kunjung hilang. Jantungnya bahkan berdebar lebih kencang, saat tangan Satria meraih jemarinya tiba-tiba. “Pegangan, ya. Aku mau naikin laju motor sedikit.” Ia lantas menarik sebelah tangan Tania ke depan sehingga melingkar di perutnya. Kemudian, ia meraih tangan Tania yang satu lagi, sehingga menyatukan keduanya dalam lingkaran yang pas. “Huum.” Tania menyengir kikuk, saat tubuhnya harus sedikit lebih condong ke depan karena tangannya ada dalam genggaman Satria. Satria yang merasakan kegugupan Tania pun langsung tergelak pelan, tanpa mengurangi fokus berkendaranya yang baru saja ia naikkan kecepatannya. “Kenapa dih?” Tania tersenyum kecil, merasa malu sendiri. “Nggak apa-apa.” Satria berbohong. “Nggak apa-apa gimana? Tiba-tiba ketawa gitu!” sungut Tania, curiga kalau Satria tengah menertawakannya. “Serius. Nggak apa-apa, kok.” “Bohong! Aku tau lho.” Tania langsung cemberut dan menarik tangannya dari genggaman Satria. Namun, tentu saja Satria tak melepaskannya begitu saja. Dia justru balik menarik dan mengencangkan cengkeraman. “Aku nggak bohong lho, Dek. Tadi tuh cuma lucu aja, mengingat kamu yang awalnya susah kudeketin. Eh, sekarang hubungan kita sudah sejauh ini aja. Gimana aku nggak seneng juga coba?” tanyanya, balik. Tawa Satria mereda. Ia tersenyum kali ini. “Beneran karena itu? Nggak bohong?” selidik Tania. “Iyalah. Memangnya apa yang perlu diketawain coba? Kamu cantik, manis lagi. Nggak ada lucu-lucunya, tuh.” Tapi Satria tertawa lagi. "Lha, itu ketawa lagi Akaknya!" "Ish! Itu karena aku yang lucu sendiri, Dek. Ya, ampun." “Nggak percaya aku," rutuk Tania. “Aku serius. Tapi, Omong-omong, ini kali pertama kita jalan, 'kan?” tanyanya, sengaja untuk mengalihkan topik pembicaraan. Sebab, tak kan ada habisnya kalau mereka terus berdebat. “Huum, Kak.’’ Tania mengangguk mantap. “Senang nggak kamu?” “Hm ... senang nggak, ya?” Sekarang, Tania yang justru balik menggoda. Padahal, rasa gugup yang menggetarkan tubuhnya masih terasa. Ia ingin merasa terbiasa. “Dih! Bisa gosain aku juga ternyata.” Satria pun tergelak pelan, tanpa mengalihkan fokus dari jalanan. “Senang nggak?” tanyanya lagi, memastikan. “Huumlah. Mana ada di ajak jalan nggak senang? Sama pacar pula,” timpal Tania. Ia sampai menyusupkan wajahnya ke balik punggung Satria karena merasa geli sendiri dengan ucapannya barusan. “Cie ... uhuk, uhuk." “Ahaha. Malah dicie-ciein. Akak senang juga nggak?" tanya Tania. “Aku? Ya, jelas dong! Apalagi habis ketemu calon mertua tadi. Seneng sangat aku tuh. Besok-besok jalan lagi, deh!" jawabnya, antusias. Satria sampai tersipu-sipu. “Yakin? Banyak gadis yang lebih cantik dan juga seksi dari aku lho di kampung kita. Pasti Akak kepincut." Tania pun langsung menambah topik pembicaraan. “Aku tahu!” sahutnya, antusias. “Tapi, gadis yang kayak kamu itu asli jarang. Dan yang jarang ada itu, biasanya selalu antik dan cantik. Paham?” Mendengarnya, Tania langsung tersipu malu. Terharu pula, mendengar pujian untuk pertama kali dari orang terkasih. Dia benar-benar meleleh, terhipnotis oleh seuntai kata yang diucapkan Satria. “Paham nggak ish? Ditanya juga,” ucap Satria lagi, sampai menyadarkan Tania dari rasa harunya yang berlarut. “Mayan," timpal Tania, pura-pura. Padahal, ia jelas paham. “Mau kujelasin lebih rinci lagi nggak? Kalau mau, siap-siap pingsan aja gegara aku gombalin," katanya. “Jadi, yang barusan itu cuma gombal? Nggak serius gitu? Ih ... Kakak!” seru Tania, seraya memukuli punggung Satria yang seketika mengerjap-ngerjap. “E-eh ... sakit, Dek. Ya Allah. Aku cuma bercanda barusan.” “Bohong!” “Nggak lho, Dek. Aku serius tau. Kata-kataku tadi itu serius, bukan gombal. Sumpah," katanya, memelas. “Ah ... nggak tau, ah. Pokoknya aku mau berhenti.” Tania langsung menarik kedua tangan yang semula mendarat di punggung Satria, lalu melipatnya di d**a seiring dengan kedua belah bibir mengerucut. Pandangannya pun seketika beralih. Dari yang semula melihat ke arah depan, sekarang melengos ke samping. "Ya, ampun. Kita belum sampai, Dek. Bentar lagi," jawabnya sambil mengernyit. Meski, masih ada sisa-sisa tawa di bibirnya yang seksi. "Berhenti di hatimu, maksudku." Dan, Tania pun seketika tergelak sambil menangkup wajah. Ia benar-benar malu dengan ucapannya. Tapi, sekaligus senang. "Ya, ampun. Malah kamu yang gombalin aku, Dek. Aku meleleh. Makin cinta," timpalnya, di sela-sela tawa mereka. “Halah!” Tania mendengkus pelan di sela-sela tawanya. “Aku yakin kalau Kak Satria itu tak hanya jago merayu, tapi jago menggombal juga. Ngaku!” tuduhnya. “Kalau iya, memang kenapa?” goda Satria. Ia tersenyum-senyum. “Gombalin aku lagi lha!” Tawa Tania pun seketika kembali pecah. Namun, kali ini dia buru-buru menahan dengan menangkup mulut. Ia terkikik-kikik. Pun dengan Satria, yang seketika terbatuk-batuk. “Duh! Gatal, Dek,” gumamnya, hampir tanpa suara. “Apanya yang gatal? Tenggorokan? Minum dulu coba, Kak. Aku bawa, kok ini.” Dalam sekejap, mimik wajah Tania berubah panik. Khawatir, karena Satria tak henti-henti terbatuk. Ia pikir, kekasihnya itu memang tersedak. “Bukan, bukan gatal tenggorokan,” timpal Satria sambil berdeham-deham. “Tapi ini lho tanganku. Tanganku gatal banget, pengen cepat-cepat bisa meluk kamu di pelaminan.” “Dih!” Tania langsung mengernyit, seiring dengan bibir tersungging tipis. “Kirain beneran gatal.” “Ini juga beneran, Dek. Masa bohong.” Satria tertawa-tawa kecil, dengan tatapan sesekali melirik kaca spion untuk melihat ekspresi Vanesa yang menggemaskan. “Gimana, mau nggak nikah sama aku?” “Tunggu! Ini, ceritanya Kakak ngelamar aku gitu?” Tania mencondongkan wajahnya ke depan, melihat Satria yang seketika mengangguk dari samping. “Nggak mau aku.” “Kenapa? Katanya sayang, masa nggak mau diajak nikah? Pacaran lama-lama cuma numpukin dosa, loh.” Satria tertawa. “Ish! Aku nggak mau nolak maksudnya,” jelas Tania seraya menyusupkan kedua tangannya ke depan, lalu memeluk erat Satria tanpa ragu ataupun gugup lagi. Hilang sudah rasa canggung yang sedari tadi membuat kaku seluruh tubuhnya, oleh canda dan tawa Satria. Jantungnya pun tak berdebar sekencang tadi. Begitu juga dengan desiran darah yang seketika berangsur normal. Tania menghela napas sambil terpejam, lalu mengembuskannya sampai terasa hangat di leher Satria, yang seketika meraih dan mengelus puncak kepala Tania. “Tunggu waktu yang tepat,” kata Satria, pelan tetapi tegas dan yakin. “Aku, pasti akan datang untuk memastikanmu jadi milikku.” *** Di sepanjang mata memandang, tampak orang-orang sedang berlibur dengan keluarga, kekasih, bahkan tak sedikit yang datang hanya seorang diri. Mereka tampak menikmati keindahan pantai Talise dengan tiap-tiap debur ombaknya. Belum lagi sepoi angin yang seketika memberi kesejukan. Pun dengan Satria dan Tania yang baru saja sampai setelah menempuh perjalanan tak lebih dari satu jam. Keduanya melangkahkan kaki menuju bibir pantai, hendak bergabung bersama orang-orang yang entah dari mana asal mereka. Keduanya melewati beberapa pedagang asongan, pemuda-pemudi yang tengah asyik bercengkerama di bawah pohon nan rindang, juga anak-anak yang berlarian dengan diawasi oleh orang tuanya. Tania tersenyum tipis menyaksikan apa-apa yang ada di hadapannya itu. Lalu, hal pertama yang dirasakan Tania adalah kesejukan, ketenangan, dan keindahan. Terlebih saat ia memandang ke sekeliling, dari kiri ke kanan, lalu kembali ke arah depan. Ombak terlihat pasang-surut, walau tak begitu kencang. Membuat orang-orang asyik bermain dan berenang. “Duduk di sana yuk, Kak?" ajak Tania yang seketika membuat Satria menoleh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD