Deburan Ombak

1014 Words
Di sepanjang mata memandang, Satria dan Tania melihat ada banyaknya orang-orang yang sedang berlibur di pantai Talise. Entah itu satu keluarga, sepasang kekasih, bahkan ada yang hanya datang sendiri. Mereka asyik bermain air, bermain pasir, dan ada pula yang hanya duduk-duduk sambil memainkan sebuah gitar di tengah-tengah sepoi angin yang menyejukkan. Sementara tatapan beberapa di antaranya tertuju pada lautan lepas. Ombak menggulung-gulung, kemudian seolah pecah saat menabrak batu karang. Air yang seketika kembali surut dan menerjang itu membuncah sampai menciprat jauh. Tania tersenyum tipis saat menyaksikan deburan ombak barusan. Ia menatap indah sembari menghentikan langkah. Lautan lepas di hadapannya itu tidak terlihat tenang, tapi juga tidak begitu meluap-luap. Ia begitu takjub, sebab Tuhan adalah penciptanya. Satria dan Tania pun kembali berjalan menyusuri sepanjang pesisir sembari mencari tempat yang nyaman untuk diduduki. Mereka mengedarkan pandangan sesekali, tapi seringnya hanya memperhatikan jalan yang tengah di lalui sambil berbincang. Tania seketika merasa damai saat dirinya sudah benar-benar berada di pantai tersebut. Karena meski pun kerap pergi ke sana, moments kali ini beda dari biasanya. Ia tak pergi sendiri atau hanya bersama teman. Melainkan dengan pasangan. “Kak, duduk sana, yuk. Kayaknya adem, deh." Satria pun menoleh, melihat ke arah di mana Tania menunjuk sebuah tempat. Ada begitu banyak batu di sana, besar-besar, dengan deburan ombak yang berulang kali menghantamnya. Naik-turun, air yang didorong angin dari tengah lautan itu terlihat indah saat percikannya menyembur sampai tinggi. "Ayuk. Tapi, kena basah dong nanti kamu?" jawabnya, sambil bertanya. Pasalnya, ia takut kalau Tania samoai kebasahan. "Ya, jangan main di pantai kalau nggak mau basah!" balas Tania sambil menggeleng. Ia lantas menyengir sembari mengerlingkan matanya. "Ya, ampun. Iya juga, ya." Sambil bakas menyengir, Satria pun menggandeng tangan Tania. Keduanya berjalan lagi menuju tempat yang diinginkan Tania. "Tapi, emang kamu berani naik? Batunya gede lho," sambungnya. "Berani dong. Kan, ada Kakak. Hehe," jawabnya sambil menyengir lagi. Ia lantas berpaling karena wajahnya terasa hangat. "Hilih. Ya, sudah ayo. Gaskeun!" seru Satria sambil tergelak. Ia lantas membawa Tania ke bebatuan tanpa ragu. “Eh, bentar-bentar! Kamu nggak apa-apa ‘kan aku pegang gini?” “Telat minta izinnya, Kak." "Lho kok telat!" Satria masih tertawa-tawa. “Itu, tadi waktu di motor udah pegang-pegang tanganku, 'kan?” “Oh, iya. Lupa aku. Ya, sudah. Nggak apa-apa berarti?” “Ya, harusnya sih jangan. Tapi, gimana naik batunya kalo nggak dipegang coba?” Tania tergelak pelan, tanpa menghentikan langkah kaki di tengah terpaan angin yang mengelebatkan kerudung serta pakaian yang dipakainya itu. Ia menyentuh kerudungnya yang beterbangan itu karena tersingkap beberapa kali. Satria pun lantas balas tertawa, sebelum kemudian ia beranjak naik lebih dulu ke batu. Ia menyodorkan kedua tangan untuk menarik Tania. "Ayo," ajaknya sambil mengerling. Tania langsung menerima uluran tangan kekasihnya itu sambil mendongak. Sebelah kakinya kemudian beranjak dan seketika disusul oleh kaki yang lain. Berhasil. Keduanya langsung berdiri tegak disertai hati-hati di sana. "Awas, hati-hati," ujar Satria. Tania yang mendengarnya pun mengangguk. Ia tersenyum sambil memandang jauh ke lautan sana. "Indah banget, kan?" ucapnya tanpa memalingkan tatapan dari objek yang ada di hadapannya itu. “Banget. Indah, kayak kamu," timpalnya, sehingga membuat Tania tersipu malu. Tapi, ia sungguh-sungguh dengan ucapannya itu. Sebab, Tania memang gadis yang cantik sehingga indah dipandang. "Bisa aja, Kang Gombal. Etapi, foto aku dong," pintanya. "Ish! Foto berdua lha," timpal Satria. Lantas ia berbalik membelakangi lautan seraya bergeser lebih dekat ke arah Tania agar bisa ikut terfoto. Dalam hitungan detik, beberapa foto berhasil ia ambil dengan gaya berbeda-beda. Sesekali, keduanya pun tertawa karena merasa malu sendiri dengan gaya yang mereka lakukan. Brus! Deburan ombak lagi-lagi menghantam batu, tepat ketika Tania memencet tombol untuk mengambil gambar kembali. Namun, kali ini deburannya semakin kuat dan besar. Membuat air yang menciprat sampai ke atas ikut terfoto. Memberi kesan cantik di antara mereka yang tengah dilanda perasaan bernama cinta. "Dah, dah. Sekarang kita duduk dulu," kata Satria seraya menyerahkan ponsel yang dipegangnya itu pada Tania. Tania pun menurut, sehingga keduanya kemudian duduk bersila di atas batu tersebut. Sekali lagi, mereka menatap lurus ke depan sehingga yang tampak dalam pandangannya hanyalah lautan lepas. “Hei ... lihat!” Satria menunjuk sebuah gulungan ombak besar. Membuat Tania yang tengah asyik melihat hasil jepretan, seketika menoleh dan melihat apa yang baru saja ditunjukkannya. “Wah ... ombaknya gede banget, Kak.” Cepat, Tania mengarahkan kamera dari ponselnya untuk mengambil gambar kembali. Namun, deburan ombak kali ini justru berdebum keras sampai naik cipratan air ke hadapannya. Tania menjerit kaget yang kemudian disusul tawa bahagia, begitu cipratan air membasahi kakinya. Buru-buru ia pun memasukkan ponsel ke dalam tas. Takut, kalau sampai ombak semakin berdebum keras dan mengenai benda berharganya itu. “Seneng banget kamu ya liat ombak? Eh, tapi omong-omong, kapan terakhir kali kamu main ke pantai?” tanyanya, ingin tahu. "Kapan, ya? Lupa aku. Tapi lumayan lama, sih.” Tania kembali melihat hasil jepretan dalam prosesnya sambil tersenyum-senyum. “Sama siapa?” "Sama temen, pernah juga sama guru dan murid-muridku di sekolah. “Terus, sekarang rasanya gimana?” selidik Satria, masih dengan tatapan kagumnya pada Tania. Bibirnya bahkan menyungging tipis. ‘’Rasa apa?” Tania kembali melihat Satria, dengan kepala meneleng. “Ya rasanya. Beda nggak gitu lho? Kemarin pergi sama teman. Sekarang sama aku. Masa nggak ada yang beda?" “Ah ... Antara jalan sama kamu dan teman-temanku?” “Huum.” Satria mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sama aja, Kak. Orang yang diliat juga sama!” timpal Tania sambil menarik wajahnya lagi. “Masa sama aja, sih? Aku aja ngerasain bedanya, loh.” Satria pun tertawa kecil sambil menangkup mulut. “Apa coba bedanya?” "Pergi sama teman itu bahagianya sederhana. Tapi kalau perginya sama pacar, bahagianya luar biasa. Sampai sini paham?" tanyanya. “Heleh! Nggak percaya aku.” Tania tak menoleh sama sekali. Ia justru semakin asyik menikmati sepoi angin. “Mau bukti lagi?” Tania menghela napas panjang sambil menunduk, lalu kembali mengangkat wajah seraya membuang napas lewat mulut yang sengaja dimoncongkannya sekejap. “Nggak perlu, Kak. Tapi, aku akan percaya sepenuhnya kalau kamu sudah menikahiku.” “Ok! Siapa takut?” balas Satria, penuh percaya diri. Padahal, modal untuk pacaran aja mode ngirit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD