Ruang kelas Tiga A sangat gaduh. Para siswa dan siswi tengah asyik membicarakan acara liburan mereka di akhir pekan. Beberapa di antaranya pergi ke pantai, ke swalayan, dan beberapa lagi pergi ke kota untuk sekadar jalan, makan dan nonton bioskop.
Tania yang baru saja datang pun berduri di ambang pintu. Ia mengedarkan pandangan ke dalam kelas, sehingga begitu mendapat kegaduhan ia langsung berdeham.
Dalam sekejap, semua mata siswa dan siswi langsung tertuju padanya. Mereka semua diam, bergeming sampai mencipta hening. Namun, seketika itu juga mereka bergerak pelan, membenahi duduk yang semula asal sekarang tegak lurus ke depan.
Detik berikutnya Tania mengucap salam sambil melangkah maju. Tatapannya beralih pada meja yang ia tuju di pojok depan ruangan, dekat papan tulis.
Beberapa di antaranya duduk rapi, dengan tas di meja. Sementara yang lain duduk menghadap ke samping meja, dengan sebelah kaki dinaikkan ke kursi.
Anak didiknya menjawab sambil membenahi posisi duduk. Lantas, sebagian dari mereka fokus, melihat ke arah mana langkah kaki Tania tertuju karena takut, sekaligus terpesona.
Ya, Tania memang menjadi satu-satunya guru yang paling muda. Berstatus gadis pula, di tengah-tengah para Ibu dan Bapak Guru. Oleh karena itu, banyak dari anak didiknya yang justru menaruh rasa suka.
Namun, tentu saja Tania tak menanggapi murid-murid nakalnya itu. Dia justru selalu bersikap keras dan tegas di tengah-tengah kelembutannya, untuk membuat mereka tetap bersikap hormat.
“Sudah selesai, kan, ngobrolnya, kan?” tanya Tania, begitu duduk di kursi dan meletakkan tasnya di meja, tanpa melihat ke arah anak-anak didiknya.
Serempak, anak didiknya itu menjawab sudah. Lantas, Tania pun mulai mengajar.
***
Hari ini, cuaca bersahabat lagi seperti biasanya. Langit berselimutkan awan-awan hitam yang tipis, tapi tak membuatnya menjadi mendung. Tania pun anteng memperhatikan langit sejenak di bawah atap sekolah. Ia mengernyit karena silau.
Seperti Minggu kemarin, cuaca hari ini pun begitu bersahabat. Berselimutkan awan-awan tipis, tetapi tak membuat langit menjadi mendung. Membuat Tania anteng bergeming di bawah atap sekolah, seraya memandang langit sambil sesekali mengernyit. Kepalanya terasa berat. Ia merasa pusing setelah mengajar dari kelas ke kelas, sehingga membuatnya ingin segera pulang.
Namun, baru saja Tania melangkah, seseorang memanggilnya dari belakang. ia menoleh, dan seketika mendapati Anggi di sana.
“Ibu dah mau pulang?” tanya Anggi, begitu ia sudah berada sangat dekat dengan Tania. Ia mematikan mesin motornya, kemudian menapakkan kedua kaki di tanah tanpa menuruni motor.
“Iya. Kamu sendiri kenapa belum pulang? Udah bubar dari tadi deh kayaknya.” Tania langsung melihat jam di tangannya. Waktu sudah melewati Dzuhur.
“O, itu tadi ada urusan sebentar di kantin. Biasa, bayar bekas jajan tadi pas istirahat, Bu.” Anggi menyengir, kikuk karena sebenarnya ia telah berbohong. Ia sama sekali tak berhutang. “Ibu mau pulang bareng Anggi nggak? Dibonceng," sambungnya.
"Duh, Ibu nggak biasa naik motor. Suka takut jatuh," jawabnya sambil tertawa pelan. "Lagian, tumben ngajakin Ibu pulang bareng. Bau-baunya, kek lagi ada maunya kamu ini."
“Ibu bisa saja. Rumah kita ‘kan searah. Dekat lagi,” kata Anggi sambil mengusap-usap hidungnya yang gatal. “Jadi, nggak ada salahnya dong kalau aku ngajak Ibu pulang bareng? Nanti, aku sampein salam, deh, buat Kak Satria," sambungnya.
"Aih. Salam apa coba? Orang Ibu baru aja ditelepon sama Kakakmu."
"Ecieee. Uhuk-uhuk. Tapi tetep, ah. Aku mau antar Ibu pulang. Yuk, Bu, yuk." Anggi pun bersikukuh. "Aku juga tau kan Kak Satria suka ceritain Ibu sama Mama dan Papa."
“Wah, iyakah?” Tania masih berdalih, demi untuk mengalihkan rasa malunya. "Bohong pasti. Orang cuman teman kok," sambungnya.
“Serius, Bu. Masa Anggi bohong.”
“Terus?” Tania pun akhirnya merasa penasaran. "Kak Satria suka cerita apa aja emang?" sambungnya.
“Terus, sekarang Ibu pulang bareng Anggi aja. Nanti aku cerita. Hehe," jawabnya sambil menyengir. Memelas pula agar Tania mau ikut. Pasalnya, ia akan kehilangan hadiah dari Satria kalau gagal membawa gurunya itu.
“Hm ... Anggi, Anggi. Ya, sudah ibu ikut.” Tania mendengkus pelan. Sementara bibirnya tersungging tipis.
“Nah, gitu, dong, Bu. Baru keren.” Anggi langsung tergelak, seraya menyalakan mesin motornya lagi. Ia tak cukup sabar untuk membawa Tania pulang.
“Dah, ayo buruan!” titah Tania pada akhirnya, setelah naik dan duduk menyamping di belakang Anggi. Ia menghela dan membuang napas panjang. “Ibu lagi pusing sebenarnya, Nggi. Dah mau istirahat dari tadi.”
“Pasti karena kemarin kena angin pantai, kan? Masuk angin Ibu tuh.” Anggi menyeringai, sambil melajukan motornya perlahan, keluar dari halaman sekolah. Bibirnya menyengir lagi.
“Aih! Kamu tahu juga kalau Ibu pergi ke pantai?” Tania menggeleng. Ia tak mengira kalau kekasihnya itu telah banyak menceritakan tentang dirinya.
Anggi langsung tergelak dan tak menjawab kata-kata Tania lagi. Ia memilih untuk fokus menyetir, melewati jalan berbatu sebelum akhirnya sampai di jalan beraspal. Membuat Tania langsung berpegang erat di pinggang Anggi, yang menaikkan laju motornya.
Kurang dari sepuluh menit, Anggi pun sampai di depan rumah Tania. Segera ia menghentikan motornya di sana, sehingga Tania seketika itu pun turun. Namun, saat Tania melihat ke halaman rumahnya, ia menyadari sesuatu.
"Lho, kok kayak motor Satria?" tanyanya pada Anggi. "Kok, dia nggak bilang ada di sini? Wah, jangan-jangan kamu juga tau ya, Nggi?" sambungnya pada Anggi.
“Ehehe," timpal Anggi dengan senyuman. Ia menyengir. "Emang tau, Bu. Kan emang aku disuruh bawa Ibu pulang naik motor."
"Ya, ampun. Kalian ini, ya. Etapi kok motornya ada dua?" Tania heran lagi
"Hayo lho. Kak Satria mau lamar Ibu kayaknya," timpal Anggi.
“Nggak mungkin, Nggi. Baru juga kemarin kakakmu itu nyuruh ibu buat menunggunya. Dia masih butuh waktu katanya.”
“Mungkin aja kali, Kak. Soalnya, motor yang terparkir di sebelah motor Kak Satria itu milik Ayah.”
“Serius?” Kedua mata Tania langsung melebar. Ia terbelalak.
“Huum.”
"Bener-bener deh, ah. Sekarang ayo kamu turun juga. Temenin Ibu masuk," ajak Tania. Ia bahkan menarik-narik baju anak didiknya itu agar segera turun.
“Ini kan rumah Ibu. Masa Anggi yang nemenin? Aneh Ibu tuh. Anggi nyusul aja di belakang," katanya.
“Nggak apa-apa. Ayo, buruan!" titah Tania lagi agar Anggi mau segera turun.
"I-ih, bentar dulu. Motornya masa ditaruh di sini?" Anggi menyela.
"Oh, iya. Ya, sudah. Bawa masuk cepat!" titah Tania seraya membuka pintu pagar rumahnya.
Anggi pun menuruti apa yang diminta Tania. Ia pun masuk dengan motornya, melewati pintu pagar yang tak dikunci untuk memarkirkan motor terlebih dahulu.
Namun, begitu tiba di teras, jantung Tania berdebar keras. Ia merasa gugup.