Hati lelaki mana yang tak kan senang saat cinta dan kasih sayang yang diperjuangkannya cukup lama, akhirnya mencapai titik di mana ia berhasil mendapatkannya.
Satria bahkan dengan begitu tulus mengucap syukur saat lamaran yang menjadi kejutannya diterima oleh Tania. Jantungnya yang sedari awal berdetak kencang karena gugup, sekarang jauh lebih berdebar karena senang. Tubuhnya sedikit bergetar, tapi ia berhasil meredam sehingga apa yang dirasanya beralih pada mata. Ia sedikit menitikkan air mata saking bahagia.
Pun dengan Tania yang tak kalah bahagia dengan kekasihnya yang baru saja melamarnya itu. Ia bergeming di hadapan keluarga, seiring dengan jatuhnya air mata tak mengira kalau Satria akan datang untuk menjalin hubungan lebih serius lagi.
Namun, seiring waktu berjalan, degup jantung yang semula tak berirama itu pun perlahan kembali normal. Gugupnya yang semula getarkan seluruh tubuh pun menghilang. Tinggal haru, juga bahagia yang seketika tercampur menjadi satu. Tania tersenyum lebar sembari menangkup wajah sesaat.
"Katakan sesuatu, Sayang." Ibu dari calon suaminya itu pun berucap, meminta Tania untuk berucap. Ia tersenyum haru, sehingga air matanya pun luruh juga.
Tania yang mendengarnya pun menarik napas sambil terpejam dalam. Kemudian membuangnya perlahan. "A-aku nggak bisa ngomong banyak, Bu. Tapi yang jelas, makasih untuk ketulusan dan keseriusannya. Aku senang," katanya.
"Aku yang seharusnya ngomong gitu, Dek." Satria pun menimpalinya dengan antusias. "Makasih karena udah mau tulus dan serius sama aku," sambungnya, diiringi senyum haru. Ia bahkan hampir menangis kalau saja tak malu.
Tania mengangguk lagi. Ia juga menangis lagi. Bahkan, kali ini semakin kencang, sampai membuat ia sesenggukan. Satria lantas meraih kedua tangan Tania yang duduk di hadapannya itu.
"Jangan nangis terus kenapa? Senyum, Dek," katanya, sehingga tawa dari kedua belah pihak seketika menghias ruangan. Mereka benar-benar menyaksikan dua orang yang sedang jatuh cinta.
"Ini juga senyum, Kak. Tuh," tunjuk Tania sambil menarik kedua belah sudut bibirnya. Namun, air matanya tak berhenti.
"Ya, ampun. Gemesin kamu tuh," timpal Satria yang seketika membuat tawa mereka semakin membahana.
Ruang di mana ada dua keluarga itu pun seketika ramai oleh gelak tawa. Tawa yang akhirnya membuat Tania menghentikan tangis bahagianya. Ia segera menghapus air matanya itu dengan kedua punggung tangan. Membuat Satria seketika tersenyum dan kembali meraih kedua tangan tunangannya itu.
"Mari rencanakan sesuatu. Ke mana kamu ingin pergi bersamaku setelah ini?" tanya Satria, tanpa mengalihkan tatapan dari kedua mata Tania yang indah. Gadis di hadapannya itu menunduk barang sekejap sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya lagi.
"Aku ikut ke mana Kakak mau aja, Kak."
Tania pun menimpali tunangannya itu sambil tersenyum. Namun, tiba-tiba saja ada suara dehaman yang berasal dari samping Satria. Anggi. Ya, adik bungsunya itu berdeham usai mendengar obrolan Satria dan Tania.
"Ish! Apa, sih, ham hem ham hem aja?" sindir Satria yang seketika menoleh, melihat adiknya itu.
"Dih?!" Anggi langsung mengernyit. Ia bahkan menyikut kakaknya itu sambil menyeringai dan menggigit bibir. "Orang cuma gatal tenggorokan juga," sambungnya, yang seketika melipat kedua tangan di d**a.
Kedua belah pihak keluarga yang melihat adu mulut antara kakak dan adik itu pun menggeleng, memaklumi. Lantas, karena sudah lama mengobrol, orang tua Tania pun mengajak orang tua Satria untuk makan bersama
"Si Anggi nggak usah diajak," ucap Satria, jahil. Ia yang seketika merasa lucu sendiri pun hampir saja tertawa.
"Dih!" Anggi mengernyitkan keningnya lagi. "Kakak aja yang nggak usah diajak makan. Orang aku datang sama Bu Tania. Iya, kan, Bu?" Adu Anggi pada calon kakak iparnya itu.
"Huum," timpal Tania sambil tersenyum. "Tapi, kamu atau kakakmu nggak boleh ada yang nggak ikut. Semuanya harus makan. Yuk," ajaknya.
"Ish! Harusnya nggak usah Kak Satria tuh!" rutuk Anggi saat seluruh yang ada di sana tertawa kecil sambil beranjak dari kursi ruang tamu. Mereka hendak pindah ke ruang makan.
***
Di ruang makan, obrolan tentang rencana pernikahan Satria dan Tania menjadi topik utama. Padahal, Satria mau pun Tania sendiri belum tahu, apa yang akan mereka pilih untuk pernikahannya nanti.
Tentang acara, tema, dan segalanya. Satria mau pun Tania belum memikirkan hal sampai sejauh itu. Mereka bahkan masih merasa syok, tak mengira kalau mereka akan menjadi sepasang tunangan. Padahal, sebelumnya, tak sekali pun mereka membahas itu.
Hanya saja karena Satria sudah bicara banyak tentang Tania pada keluarganya, orang tuanya itu pun lantas memutuskan kalau mereka harus segera melamar Tania sebagai tanda ikatan hubungan.
Satria menurut dan senang-senang saja saat keluarganya memberi dukungan penuh. Secara, ia memang ingin kalau hubungannya dengan Tania akan sampai ke pelaminan. Sehingga seketika itu pun ia setuju kalau orang tuanya mau bertamu ke rumah Tania untuk melamar, tanpa memberitahu Tania agar menjadi kejutan.
Satria yang mulai bosan dengan obrolan orang tua pun memberi kode dengan gerakkan mata agar Tania mau beranjak dari sana juga. Namun, karena Tania tak kunjung paham, ia pun meraih ponselnya dari saku celana.
"Dia ini, gitu aja nggak paham Ya Allah," batinnya seraya membuka w******p. Kemudian mulai mengirim pesan pada Tania.
Tania membukanya. "Aku bosan. Bisa ngobrol berdua aja, kan kita?" batinnya, saat membaca pesan Satria. Ia lantas membalas. "Ya, sudah. Tapi, aku mau mandi dulu."
"Ya, ampun. Udah lah nggak usah. Bentar aja kok sebelum aku pulang. Di luar, ya?" pesan Satria lagi. Ia lantas memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku tanpa menunggu balasan. Seolah, ia tak mau mendapati penolakan.
"Ya, ampun. Aku kan nggak PD kalau belum mandi. Pasti bau keringat. Kucel gini pula muka," batin Tania usai membaca pesan Satria.
Namun, karena Satria tampak benar-benar bosan, Tania pun memutuskan. "Bu, Yah, aku keluar dulu ya sama Kak Satria," katanya.
"Oh, iya-iya. Kalian ngobrol-ngobrol berdua lagi aja sana," timpal ayahnya.
Tania pun seketika berdiri. Begitu juga dengan Satria yang begitu Tania melangkah pergi, ia mengekor di belakang tunangannya itu.
"Kamu tuh, ya, Kak. Aku kan mau mandi dulu. Masa nggak boleh?" omel Tania begitu sudah berada di ruangan lain.
"Ish! Kelamaan lha kalau kamu mandi dulu, Dek. Sebentar lagi, aku sama keluarga kan pulang." Satria yang berada di belakang Tania pun menyusul, sehingga sudah berada di hadapan Tania.
"Ya, ampun. Ngalangin, Kak!" omel Tania yang seketika berhenti saat Satria menghalanginya.
Namun, Satria yang pada dasarnya jahil pun langsung meraih tangan Tania. Lantas, ia menarik cepat tangan tunangannya itu sehingga keduanya kembali melangkahkan kaki ke luar.
"Aku nggak mau buang-buang waktu untuk bisa berdua sama kamu," ucapnya.