Bab 9. Rencana

1133 Words
"Arnie, sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan? Kalau mau cerai ya cerai saja, ibu tidak ingin kamu menderita lebih lama di rumah itu," ucap Aminah. "Menderita?" tanya Arga terkejut. Aminah dan Supriadi kompak mengangguk, sementara Arnie hanya diam dan menunduk. Arga menatap Arnie, seolah bertanya pada adiknya apa yang selama ini ia alami selama menikah, bagaimana perlakuan suami terhadapnya. Tanpa diminta, Aminah pun bercerita pada Arga bagaimana rumah tangga Arnie dan Daren selama ini. "Sejak awal Daren ingin menikahi Arnie, ibu dan ayah sejujurnya tak ingin merestui. Sebab kami tahu Daren tidak mencintai Arnie, ia menikahi Arnie hanya untuk memenuhi keinginan terakhir adiknya," ucap Aminah. "Jadi Arnie dan suaminya menikah tanpa cinta? Semua keterpaksaan?" tanya Arga. "Daren jelas terpaksa menikahi Arnie demi memenuhi keinginan terakhir adiknya, tapi Arnie sudah sejak dulu mencintai Daren diam-diam. Itu sebabnya kami akhirnya setuju Arnie menikah dengan Daren, tetapi setelah menikah Daren tidak pernah memperlukan Arnie dengan baik," ucap Aminah. "Bahkan kemarin Arnie di rumah sakit pun Daren tak peduli, padahal Arnie sedang mengandung darah dagingnya!" tambah Supriadi. Arga mengepalkan tangannya kesal mendengar adiknya diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri, ia teringat saat kecil Arnie begitu manja padanya. Setiap kali ada teman yang mengganggunya pasti ia adukan pada Arga dan sebagai seorang kakak Arga akan membelanya. "Arnie, apa yang membuat kamu masih bertahan. Kamu cantik, pintar, masih muda. Jika bercerai dengan lelaki itu, kakak bisa mencarikan lelaki yang lebih baik darinya untuk mu," ucap Arga. Arnie tersenyum dan menggelengkan kepala, ia tidak kepikiran untuk mencari pengganti Daren. "Kak, kalaupun aku bercerai dengan dia, aku tidak ingin mencari lelaki lain dulu. Namun, sekarang aku bertahan karena aku ingin membuktikan pada dia jika aku tidak bersalah, aku tidak pantas di perlakukan buruk oleh ia dan keluarganya." Arnie menghela nafas, lalu menatap sang ibu dan menggenggam tangannya. "Ibu tenang saja, gak usah khawatir. Sekarang aku gak akan diam aja, aku gak akan biarkan mereka menindas aku lagi." Setelah mengatakan itu, Arnie beralih menatap sang ayah. "Kita baru saja bertemu dengan kakak, aku gak ingin masalah rumah tanggaku merusak kebahagiaan ini. Jadi aku akan atasi masalah rumah tanggaku sendiri." "Kamu tidak berubah, sejak kecil selalu keras kepala. Kakak tidak tahu masalah seperti apa yang kamu hadapi, tapi kalau kamu butuh bantuan, Kakak selalu siap membantu," ucap Arga. Arnie menganggukan kepala, ia tahu suatu saat pasti butuh bantuan sang kakak. Namun untuk saat ini ia akan berusaha sendiri karena tak ingin merusak suasana bahagia atas kepulangan Arga. Ponsel Arga berdering, ada panggilan masuk dari orang tua angkatnya. Lelaki tampan itu pun mengangkat panggilan itu dan berbicara cukup lama, setelah pembicaraan selesai, panggilan di akhiri, Arga pun menatap kedua orang tua dan adiknya. "Mama dan papa ingin bertemu kalian, bahkan ingin mengadakan pesta dan mengumumkan jika kalian adalah bagian dari keluarganya," ucap Arga. "Apa kami pantas, Nak? Mama dan papa angkat mu pengusaha kaya raya, sedangkan kami? Ibu hanya seorang guru, ayah hanya karyawan biasa," ucap Aminah. "Ibu tenang saja, meskipun mereka kaya raya, tapi mereka tidak pernah sombong. Mereka tidak pernah memandang orang dari status sosialnya," ucap Arga. Aminah dan Supriadi saling pandang, mereka bersyukur karena anak sulung mereka yang lama hilang dibesarkan oleh orang-orang baik. Mereka pun mengangguk setuju untuk bertemu dengan orang tua angkat Arga, hal itu membuat Arga sangat senang. Namun, lain hal nya dengan Arnie. "Kak Arga, maaf. Boleh tidak jangan mengadakan pesta terlebih dahulu," ucap Arnie. "Kenapa? Niat mama dan papa baik. Aku sudah berjanji pada mereka jika bertemu dengan kalian, statusku di depan umum tetap anak mereka. Pesta diadakan agar semua rekan bisnisnya tahu jika kalian adalah bagian dari keluarganya, agar kita bisa sering berinteraksi layaknya keluarga," ucap Arga. "Aku tahu itu niat baik, tapi keluarga angkat Kak Arga sangat luar biasa. Jika mas Daren dan keluarganya tahu aku bagian dari kalian, aku takut mereka tidak setuju saat aku mengajukan cerai, mereka pasti ingin mempertahankan aku demi koneksi dengan keluarga angkat kak Arga," ucap Arnie. Arga mengepalkan tangan lalu menganggukan kepala, ia tahu apa yang ada di pikiran Arnie. Memang benar keluarga angkatnya merupakan pengusaha terpandang, banyak perusahaan yang ingin menjalin kerja sama, tak sedikit yang ingin mencari celah melalui hubungan keluarga untuk menembus kerja sama dengan mereka. "Baiklah, aku mengerti. Aku akan atur pertemuan kalian dengan orang tua angkat ku, tapi aku minta mereka merahasiakan hubungan ku dengan kalian sampai Arnie resmi bercerai. Setelah masalah rumah tangga Arnie selesai, baru pesta itu diadakan," ucap Arga. "Terima kasih sudah mengerti keadaanku, Kak." Arnie menggenggam tangan Arga, kini ia semakin tidak takut untuk melawan Daren dan keluarganya, sebab ia punya Arga. Orang yang akan melindungi dan memiliki kekuasaan lebih besar dari pada keluarga Daren. Setelah cukup lama berbincang, tak terasa hari pun sore. Arnie pamit untuk pulang karena ia takut suami dan mertuanya sudah pulang dan mencarinya, Arga pun pamit pulang ia sekalian mengantar Arnie pulang dan ingin tahu dimana rumah keluarga suami adiknya itu. "Ceritakan padaku, kenapa kamu bisa jatuh cinta pada lelaki seperti itu!" ucap Arga saat di dalam mobil. Arnie menghela nafas, sekilas bayangan Daren di masa lalu melintas di kepalanya. "Dulu aku bersahabat dengan adiknya, namanya Dena. Kami satu kelas saat SMA, nilai Dena selalu dibawah rata-rata dan dia minta aku mengajari pelajaran yang ia tak mengerti. Hampir setiap hari aku diajak ke rumahnya untuk belajar, di sekolah dia yang bayarin makan aku, bahkan ia meminta supirnya untuk antar jemput aku." "Dena baik banget sama kamu, apa dia diam saja melihat kamu di perlakukan buruk oleh kakaknya?" tanya Arga. "Dena sudah meninggal, Daren bilang sebelum meninggal Dena ingin Daren menikahi aku, karena Dena tahu aku menyukai Daren sejak aku sering datang ke rumahnya, memberi pelajaran tambahan padanya. Itu sebabnya pernikahan kami terjadi," jawab Arnie. Arga menggelengkan kepala, seandainya saat itu ia ada di dekat Arnie pasti ia tak akan membiarkan Daren menikahi adiknya itu. Arnie tersenyum tipis, lalu melanjutkan ucapannya. "Tapi semua itu bohong, Dena tidak pernah meminta hal itu pada Daren. Kemarin saat aku pingsan dan di rawat di rumah sakit, aku mendengar semua kenyataan pahit yang membuat aku mantap untuk bercerai," ucap Arnie. Lalu wanita cantik itu menceritakan semuanya pada Arga, apa yang ia dengar dari mulut mertua, kakak ipar, dan suaminya. Kemungkinan mereka menuduh Arnie sebagai pembunuh Dena dan akhirnya Daren menikahi Arnie karena dendam. "Bodoh! Kenapa mereka menuduh mu tanpa bukti, sampai tega menyakitimu sejauh ini?!" ucap Arga emosi. "Itu sebabnya aku ingin mencari bukti, aku ingin membersihkan namaku setelah itu aku tinggalkan mas Daren!" ucap Arnie. Arga mengangguk setuju dengan rencana adiknya, ia kembali mengatakan jika ia siap membantu kapanpun Arnie membutuhkan. Tak terasa perjalanan mereka usai, Arnie tiba di depan rumah suaminya. Ia pamit dan turun dari mobil mewah yang dikendarai Arga, tapi tanpa ia ketahui ada sepasang mata yang memperhatikan Arnie dari kejauhan. "Dari mana Arnie? Siapa yang mengantarnya pulang? Mobilnya mewah, pasti dia bukan orang sembarangan?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD