Arnie menutup laptop Dena, lalu kembali memasukan kedalam laci, di simpannya dengan rapi agar terlihat tidak pernah ada yang menyentuhnya.
Ia menunda pencarian bukti itu, sebab ada hal yang lebih penting yang harus ia pastikan sekarang.
"Aku gak sabar ke rumah ibu, semoga apa yang dikatakan ibu beneran," ucap Arnie.
Ia mengambil tas kecil miliknya, lalu berlari keluar rumah hingga membuat mbok Inah keheranan.
"Non Arnie mau kemana lari-lari? Pakai baju rapi tidak seperti biasanya," ucap Mbok Inah.
"Aku mau ke rumah ibu dulu, Mbok."
"Non apa sudah bilang ke den Daren atau nyonya?" tanya mbok Inah.
"Gak sempat, Mbok. Aku buru-buru, oh ya kerjaan rumah tolong di kerjain semua ya, nanti aku kasih uang capek untuk mbok," ucap Arnie.
"Tapi, Non. Kalau pak Daren tahu Non Arnie pergi tanpa izin, nanti di marahi," ucap Mbok Inah mengkhawatirkan Arnie.
Arnie hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, jika dulu ia tidak ingin membuat Daren marah sehingga mematuhi lelaki itu. Namun sekarang ia sudah tidak peduli lagi, jika Daren marah, itu urusan belakangan dan mungkin sekarang ia akan memberanikan diri melawan.
Setelah melalui perjalanan yang tidak terlalu panjang, Arnie pun tiba di depan rumah kedua orang tuanya. Rumah itu sederhana, temboknya cat krem yang sudah agak pudar, halaman sempit dengan pohon kamboja yang mulai berbunga. Namun, pandangan Arnie langsung tertarik pada sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik yang terparkir di depan pagar. Mobil itu kontras sekali dengan lingkungan perumahan sederhana ini.
Arnie mengernyit, berjalan cepat ke dalam. Hatinya berdebar, firasatnya tak tenang.
Begitu membuka pintu, Arnie mendapati ruang tamu yang biasanya kosong kini penuh dengan tumpukan kotak kardus dan tas kulit besar. Sofa yang biasa jadi tempat ayahnya menonton TV kini ditempati seorang lelaki muda berpenampilan rapi. Jasnya hitam elegan, kemeja putihnya licin, jam tangan mahal melingkar di pergelangan. Wajahnya tampan, garis rahangnya tegas, senyumnya ramah, tapi ada sorot mata yang sulit ditebak.
Arnie berhenti di ambang pintu. "Assalamualaikum."
Lelaki muda itu menoleh, berdiri, lalu tersenyum. "Waalaikumsalam, kamu pasti Arnie." Suaranya tenang, dalam, penuh wibawa.
Arnie semakin heran. "Iya, saya Arnie. Kamu?"
Sebelum lelaki itu menjawab, ibunya sudah lebih dulu menarik tangan Arnie untuk duduk di sebelahnya. "Arnie!" serunya. "Kamu akhirnya sampai, sini duduk dulu."
Arnie menatap ibunya yang tampak raut wajah yang tak biasa. Ia menaruh tasnya, "Bu, dia orang yang tadi ibu katakan di telepon?" tanyanya pelan.
Bu Aminah menelan ludah, lalu menggenggam tangan Arnie. Ayahnya, muncul menyusul, membawa termos teh langsung menjelaskan. "Arnie, ini Arga." Ia menatap lelaki muda itu penuh rasa sayang. "Kakakmu. Kakak kandungmu yang hilang waktu kecil dulu."
Seolah dunia berhenti sejenak. Kata-kata itu bergema di telinga Arnie. "Ka… kakak?"
Lelaki itu, Arga, tersenyum lemah. "Ya. Aku Arga. Aku… kakakmu."
Tubuh Arnie melemas, hatinya berdesir. Kenangan masa kecilnya yang samar-samar berkelebat, suara tangis, teriakan, hilangnya seorang anak, suasana panik. Ia ingat ibunya pernah bercerita tentang kakaknya yang hilang di pasar malam saat usia 8 tahun. Namun ia tak pernah menduga akan bertemu begini.
"Kamu benar-benar Arga kakakku?" suara Arnie lirih.
Pak Supriadi duduk, mengusap wajahnya. "Iya, Arnie. Ayah tahu kamu pasti ragu, sama seperti ayah dan ibu yang awalnya ragu. Namun Arga menunjukan tanda lahir di perutnya yang berbentuk bulan sabit, ia juga menceritakan tentang masa kecil yang ia ingat saat masih bersama kita. Ayah sekarang jadi yakin dia benar-benar Arga, kakakkmu yang hilang."
Mata Arnie berkaca-kaca menatap lelaki tampan itu, ia tak bisa melupakan saat kejadian hilangnya Arga. Saat itu Arnie baru berusia 5 tahun, keluarga mereka pergi ke pasar malam, tetapi terjadi kekacauan. Arga dan beberapa anak hilang dalam kekacauan itu, semua orang tua yang kehilangan anak berusaha mencari. Namun, kasus itu tidak pernah selesai dan tak pernah menemukan titik terang.
"Kak, kamu kemana aja selama ini? Kami tidak berhenti mencari, tapi tidak mendapatkan hasil apapun. Anak-anak yang hilang bersama kakak waktu itu, keluarga nya mengira anak-anak mereka sudah meninggal karena sudah bertahun-tahun kasus itu tidak ada titik terang," ucap Arnie.
Arga menghela nafas, ia pun tak bisa melupakan kejadian mencekam dan menakutkan itu.
"Kejadian saat itu memang penculikan yang di rencanakan. Anak-anak yang diculik rata-rata usianya sama denganku, kami dibawa ke tempat tak di kenal. Di paksa belajar bermain sirkus, tapi aku berhasil kabur saat pertunjukan sirkus di salah satu daerah. Aku terjun ke sungai, terbawa arus, hingga di selamatkan sepasang suami istri yang sedang piknik. Aku diadopsi oleh keluarga kaya setelah ditemukan."
Arnie dan kedua orang tuanya menutup mulut mendengar ucapan Arga, mereka tidak menyangka jika Arga melewati hal yang mengerikan seperti itu. Untungnya Arga memiliki keberanian untuk kabur hingga di temukan oleh orang yang tepat.
Arga melangkah mendekat. Gerakannya tenang namun penuh beban. "Aku kehilangan ingatan saat itu, mungkin karena terbentur bebatuan di sungai. Hingga bulan lalu aku mengalami kecelakaan dan ingat semua masa kecilku, lalu aku ingat tentang asal-usulku. Setelah itu aku mencari kalian. Dan… akhirnya aku sampai di sini."
Arnie menatap Arga dari ujung kepala hingga kaki. Rasanya asing sekaligus dekat. "Jadi selama ini… kamu hidup di keluarga kaya, bagaimana mereka memperlakukan mu, Kak?" tanya Arnie khawatir, ia takut apa yang ia rasakan di keluarga Daren, penghinaan dan penyiksaan itu juga dialami kakaknya.
Arga mengangguk. "Aku dibesarkan oleh sepasang suami istri yang tidak bisa memiliki anak, mereka pengusaha, mereka sangat baik dan memanjakan ku seperti anak kandung sendiri. Saat aku mendapat kembali ingatanku dan membahas kalian, mereka takut kehilanganku, tapi aku meyakinkan mereka meskipun aku bertemu kalian, aku tak akan melupakan dan meninggalkan mereka."
Bu aminah tak kuasa menahan air mata. "Arnie, ini keajaiban. Tuhan mengembalikan anak Ibu yang hilang."
Arnie menarik napas berat. "Aku… aku senang Ibu ketemu Kak Arga lagi. Apalagi mendengar kak Arga di perlakukan baik oleh keluarga itu."
"Arnie, apa kamu tidak senang dengan kepulangan kakak? Kenapa raut wajahmu seperti itu?" tanya Arga yang memperhatikan raut wajah Arnie.
"Tidak ... Aku sangat senang dengan kepulangan kakak, aku hanya sedang banyak pikiran. Bukan tentang kakak, tapi tentang rumah tanggaku," ucap Arnie.
"Rumah tangga, kamu sudah menikah?" tanya Arga terkejut.
Arnie menganggukan kepala, ia mengelus perutnya yang masih rata dan rasanya tak bisa menahan gejolak dalam batinnya sendirian. Ia tahu ini bukan momen yang tepat, tapi ia tak bisa menahan sendiri, ia tak ingin beban pikirannya membahayakan janinnya.
"Aku sudah menikah, tapi aku ingin bercerai. Namun, sebelum bercerai ada hal yang harus aku selesaikan," ucap Arnie.
"Hal apa? Jika butuh bantuan katakanlah, aku akan bantu!" ucap Arga.