"Arnie!"
Suara bariton Daren membuat Arnie tersadar dari lamunannya. Lelaki tampan itu berjalan gagah mendekat kearah sang istri, lalu dengan kasar menarik tangan istrinya hingga Arnie yang sedang duduk di sofa berdiri.
"Punya keberanian dari mana kamu sampai berani membantahku?!" ucap Daren dengan nada tinggi.
"Aku manusia biasa, Mas. Aku punya rasa jenuh, muak, dan aku sudah tidak bisa diam ditindas terus oleh kamu dan mamamu!" jawab Arnie dengan suara bergetar.
"Diam! Kamu tak berhak melawan, kamu pantas menerima semua ini," ucap Daren.
"Bahkan hewan pun punya hak untuk melawan. Memangnya apa salahku sampai kamu bisa mengatakan aku pantas menerima semua ini?!" tanya Arnie dengan tatapan tajam pada Daren, tangannya terkepal menahan gejolak amarah di dadanya.
Daren melepaskan cengkraman tangannya pada Arnie, kini beralih mencengkram pipi Arnie, hingga membuat kepala Arnie semakin mendongak menatap Daren yang lebih tinggi darinya.
"Kesalahanmu sangat besar, hingga nyawamu pun tak bisa menembusnya," ucap Daren dengan mata memerah.
Lelaki tampan itu teringat saat kepergian adik kesayangannya, saat itu ia sedang bekerja, tiba-tiba menerima kabar jika Dena meninggal. Saat tiba di rumah sakit, ia melihat Dena sudah terbujur kaku, di bajunya begitu banyak noda merah. Saat bertanya apa yang terjadi, Maya langsung menunjuk Arnie yang saat itu duduk tertunduk di kursi tunggu, bajunya pun penuh dengan noda dar4h Dena.
"Dena pergi bersamanya, tapi dia selamat sementara Dena kehilangan nyawa. Kami pun tidak tahu apa yang dia lakukan pada Dena," ucap Maya.
Daren menatap Arnie yang masih menunduk di kursi tunggu, gadis itu tak mendengar apa yang di katakan Maya pada keluarga Dena. Ia masih syok dengan keadaan sahabatnya, hari itu mereka memang janjian untuk bertemu. Namun, saat Arnie tiba di tempat yang dijanjikan ia melihat Dena sudah tergeletak di jalan dengan bersimbah dar4h, Dena hendak mengatakan kejadian yang ia alami pada Arnie. Namun, kesadarannya hilang sebelum sempat ia mengatakan apa-apa.
Daren dan Dimas memeriksa rekaman cctv yang ada di tempat kejadian, tetapi petugas bilang cctv di tempat itu rusak dan dalam perbaikan. Lalu ada saksi palsu yang mengatakan, jika Arnie dan Dena sedang berjalan, tiba-tiba Arnie mendorong Dena hingga tertabrak mobil dan mobil yang menabraknya kabur.
Sejak saat itu kebencian Daren dan keluarganya terhadap Arnie begitu dalam, selama ini mereka tahu jika Dena sangat baik, selalu memperlakukan Arnie seperti keluarga sendiri. Arnie hanya siswi miskin yang pintar, Dena selalu berbagi makanan dan uang jajan dengan Arnie karena Arnie selalu membantunya dalam pelajaran yang tidak ia mengerti. Namun, keluarga Dena begitu kecewa saat tahu Dena meninggal karena di dorong oleh Arnie.
"Ayo kita cerai, Mas!" ucap Arnie membuyarkan lamunan Daren.
Daren terkejut hingga melepaskan cengkraman tangannya, ia menatap Arnie dengan kerutan di keningnya.
"Apa kau bilang?"
"Ayo kita cerai, aku sudah tidak sanggup hidup denganmu lagi," ucap Arnie seraya meneteskan air mata.
"Cerai? Jangan harap! Kau akan tetap jadi istriku, tetap berada di rumah ini, dan tak akan kubiarkan meninggalkan rumah ini selangkah pun!" ucap Daren.
Ia berjalan cepat meninggalkan Arnie, entah mengapa dadanya terasa berdenyut sakit saat mendengar permintaan cerai dari Arnie. Daren tak mengerti mengapa ada perasaan seperti itu, padahal jelas-jelas ia tidak mencintai Arnie.
"Bukankah dia sangat mencintaiku, rela melakukan apapun demi berada di samping ku? Mengapa sekarang berani meminta cerai denganku?!" ucap Daren kesal.
Ia mengendarai mobilnya meninggalkan rumah, tetapi pikirannya terus terbayang wajah Arnie yang basah dengan air mata, tatapan matanya yang menyiratkan kesedihan dan kepedihan.
Hati Daren bergetar, saat terjebak di lampu merah ia pun memukul stir mobil.
"Jangan lemah, Daren. Dia sudah membuat Dena kehilangan nyawa, apa yang ia rasakan saat ini adalah hukuman atas perbuatannya! Dia minta cerai pasti tidak sungguh-sungguh, dia pasti hanya ingin menggertak saja! Dia pikir dia siapa?!" ucap Daren dengan senyum sinis.
Bibirnya berkata seperti itu, tetapi jauh di lubuk hatinya yang dalam ada perasaan lain. Perasaan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
Malam harinya, Daren tak pulang. Arnie tidur di sofa seperti biasa, tetapi pikirannya tak tenang. Ia ingin segera mencari bukti jika ia tak bersalah, tak ada hubungannya dengan kematian Dena.
Wanita yang sedang hamil muda itu pelan-pelan keluar dari kamar, lalu menatap pintu kamar Dena yang bersebrangan dengan pintu kamar Daren.
"Kamar itu selalu terkunci, dimana mama simpan kunci nya ya? Jika aku bisa menemukan kuncinya, lalu masuk ke kamar itu. Mungkin aku bisa menemukan bukti jika aku tidak terlibat dalam kepergian Dena," gumam Arnie dalam hati.
Matanya bergerak memperhatikan area sekitar kamar, lalu pandanganya tertuju pada meja tempat menyimpan beberapa Vas bunga dari keramik. Ada laci-laci kecil di sisi meja itu, Arnie melangkah perlahan-lahan hingga tiba di depan meja itu.
Pelan-pelan ia membuka satu persatu laci kecil di meja itu, berharap ada kunci kamar Dena di dalamnya. Setelah beberapa laci berhasil di buka, akhirnya Arnie menemukan sebuah kunci dengan gantungan foto idol Korea.
"Ini ... Kado dari aku saat Dena ulang tahun dulu, pasti ini kunci kamar Dena," gumam Arnie dengan suara sangat pelan.
Tangannya bergetar saat mencoba memasukan anak kunci, pelan-pelan ia putar kunci itu agar tak menimbulkan suara yang membuat curiga isi rumah. Hingga akhirnya ia berhasil 2 kali memutar anak kunci itu, lalu ia membuka pintu kamar itu secara perlahan. Arnie masuk ke kamar itu, lalu menutup pintunya kembali.
"Dena, kamarmu masih sama seperti dulu. Aku kangen kamu," ucap Arnie dengan nada lirih dan air mata yang menetes di pipi.
Ia langsung teringat kenangan-kenangan manis bersama sahabatnya itu, dulu hampir setiap hari Arnie mengajari Dena pelajaran yang tak ia mengerti, Dena selalu membawa Arnie ke kamarnya karena Dena merasa lebih enak belajar di kamar sendiri dengan sahabatnya itu.
Arnie menatap ranjang yang dulu di tempati Dena, ranjang yang sering digunakan mereka berbaring bersama, curhat, tertawa bahkan menangis bersama.
"Hahaha ... Ketahuan, kamu suka sama kak Daren ya! Ngaku sejak kapan?" tanya Dena saat tak sengaja membaca buku harian Arnie.
"Dena ih ... Kamu ya, ngapain sih baca-baca diary aku!" ucap Arnie malu.
"Ya ampun, ternyata pangeran impian kamu itu kakakku. Aku kasih tahu ya, kak Daren itu orangnya ngebosenin, kaku kaya kanebo kering. Lebih baik kamu cari cowok lain deh!" ucap Dena.
Brak ...
Suara benda jatuh terdengar cukup keras dari lantai bawah, membuat lamunan Arnie buyar. Ia takut Daren tiba-tiba pulang dan menyadari ia tak ada di kamar.
Arnie pun segera menghapus air mata, lalu keluar dari kamar Dena, menyimpan kembali kunci kedalam laci.
"Aku sudah tahu kuncinya di sini, besok saat semua orang gak ada di rumah, aku akan cari bukti di kamar Dena, semoga aku bisa menemukan bukti-bukti dikamar Dena," ucap Arnie.