Arnie segera bergegas ke kamar, lalu merebahkan tubuh di sofa dan menutup dengan selimut. Ia berpura-pura tidur agar Daren tak tahu jika ia baru saja masuk ke kamar Dena.
Krieek ....
Suara pintu kamar terbuka dengan kencang, Daren masuk dalam keadaan mabuk, lalu ia langsung berjongkok di hadapan Arnie yang tidur di sofa.
"Hei Arnie, kau sungguh-sungguh mau cerai denganku? Hahaha ... Tidak mungkin, kau sudah mencintaiku sejak duduk di bangku SMA."
Arnie menghela nafas, berpura-pura tak mendengar apa yang di katakan Daren. Walau sesungguhnya ia sangat ingin menjawab ucapan lelaki itu, rasa cinta yang besar pun bisa hilang jika terus di sakiti dan di permainkan.
Saat Arnie mengira Daren akan berhenti mengecoh dan tidur, ia terkejut karena lelaki itu tiba-tiba mengangkat tubuh Arnie.
"Kau tidak akan kubiarkan lepas begitu saja! Dirimu, tubuhmu, bahkan nyawamu adalah milikku!" ucap Daren seraya melempar Arnie keatas ranjang.
Arnie terkejut dan membuka mata, ia takut Daren mabuk hingga tak sadar melukai nya. Namun, belum sempat bereaksi, Daren membungkus tubuh Arnie dengan selimut hingga Arnie tidak bisa bergerak.
"Apa yang kamu lakukan, Mas? Lepaskan aku!" teriak Arnie ketakutan.
"Hehehe ... Kau bangun? Tenang saja aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya memastikan kau tidak bisa kemana-mana," ucap Daren.
Lelaki itu membuka baju dan celananya, hingga menyisakan boxer yang ia gunakan. Lalu tidur diatas ranjang dan memeluk Arnie yang sudah terbungkus selimut, seakan-akan ia sedang memeluk guling besar.
"Ya ampun, Mas. Lepasin aku, ini gak nyaman aku gak bisa gerak!" ucap Arnie.
"Diam, malam ini kamu jadi guling. Kamu gak bisa kemana-mana," ucap Daren sambil tersenyum.
Keesokan paginya.
"Mama aku laper, mana sarapan aku?" rengek Clarisa.
"Mama juga laper, Sayang. Biasanya Arnie udah buat sarapan untuk kita, kenapa hari ini masih belum ada?" ucap Maya.
"Astaga, kemana Arnie? Kenapa sampai jam segini belum ada makanan di meja makan?!" gerutu Murni.
Murni berjalan cepat ke dapur, ia pikir menantunya itu sedang masak atau membereskan dapur seperti biasa. Namun, di dapur ia hanya melihat mbok Inah yang sedang mencuci piring.
"Kemana Arnie, Mbok? Kenapa sampai jam segini dia belum bikin sarapan?" tanya Murni dengan nada kesal.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Dari pagi saya belum lihat non Arnie," jawab Mbok Inah jujur.
"Jangan-jangan masih tidur! Keterlaluan perempuan itu, gak tahu apa aku dan cucuku sudah lapar!"
Murni berjalan cepat, menaiki tangga menuju kamar Daren. Setelah sampai pintu kamar ia mengetuknya dengan keras dan memanggil-manggil nama Arnie.
"Arnie, bangun kamu! Jangan males, lihat sudah jam berapa ini?! Cepat bangun dan masak sarapan, aku dan cucuku sudah lapar!" teriak Murni.
Di dalam kamar Arnie tertawa kecil mendengar teriakan sang mertua, ia sudah bangun sejak tadi, tetapi tubuhnya masih di kuasai Daren sehingga ia tidak bisa melakukan apa-apa. Arnie memanfaatkan hal itu untuk istirahat lebih lama, biasanya setelah subuh ia sudah sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk Daren dan keluarganya, menyiapkan baju kerja Daren, mencuci, dan merapihkan semuanya. Namun, setelah ini ia tidak mau melakukan itu semua lagi.
"Arnie, kamu tidur atau mati sih! Cepat bangun, aku tidak bisa menunggu lebih lama. Jika kamu masih pura-pura tidur, jangan salahkan aku akan kasar padamu!" teriak Murni sambil menggedor-gedor pintu kamar.
Arnie tetap tenang dan tersenyum, sementara Daren terusik dengan keributan itu ia membuka mata dan terkejut melihat Arnie ada di hadapannya, terbungkus selimut, bahkan sedang ia peluk erat.
"Sudah bangun, sudah sadar?! Cepetan lepasin aku!" ucap Arnie.
"Kenapa kamu bisa tidur di ranjangku?" tanya Daren ketus, ia bangkit dan menjauh dari Arnie.
Arnie memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan Daren, ia tahu lelaki itu pasti ingin menuduhnya macam-macam.
"Kamu lihat baik-baik, tubuhku terbungkus selimut sampai gak bisa gerak. Kamu pikir pakai logika, apa aku bisa jalan dan naik sendiri ke ranjangmu dalam keadaan seperti ini?!" ucap Arnie ketus.
"Kamu–"
Belum sempat Daren bicara, Arnie sudah berani memotong ucapannya. "Aku apa? Kamu pulang dalam keadaan mabuk tadi malam, terus tiba-tiba membungkus aku, melempar aku dengan kasar keatas tempat tidur, lalu menganggap aku sebagai guling, sampai aku gak bisa gerak sepanjang malam. Masih mau salahin aku juga?!" ucap Arnie dengan nada kesal.
Daren ternganga hingga membuka mulutnya seperti hurup o, selama pernikahan mereka baru kali ini ia mendengar Arnie berbicara dengan nada ketus padanya. Biasanya Arnie selalu lemah lembut, sedikit saja Daren marah, ia akan minta maaf meski tak ada kesalahan yang ia lakukan.
"Arnie ... Kamu pura-pura budek ya! Cepetan bangun!" teriak Murni dari luar kamar membuat Daren mengguyar rambutnya dengan kasar.
"Mama akan semakin berisik kalau kamu gak lepasin aku," urap Arnie.
Daren menghela nafas, lalu membantu Arnie terbebas dari selimut yang membungkus nya. Setelah itu Arnie turun dari ranjang, melewati Daren begitu saja.
Saat membuka pintu kamar, ia langsung di sambut oleh wajah Murni yang sudah memendam amarahnya.
"Dasar perempuan malas! Lihat jam berapa ini? Kenapa baru bangun?!" ucap Murni.
"Jangan salahkan aku atas insiden hari ini. Aku sudah bangun sejak pagi seperti biasa, tapi dari tadi malam mas Daren tidur sambil meluk aku begitu kuat. Jadi aku gak bisa bergerak, apalagi bangun untuk menyiapkan sarapan," jawab Arnie dengan santai.
"Daren peluk kamu? Mana mungkin, jangan ngarang kamu!" ucap Maya yang juga ada di samping Murni.
"Kenapa gak mungkin, dia kan suami aku, kita tidur satu kamar. Apa saja bisa kami lakukan dan bisa terjadi di dalam kamar," ucap Arnie.
"Kalian memang suami istri, tapi Daren gak pernah cinta sama kamu," ucap Maya dengan wajah memerah menahan kesal.
Arnie tersenyum tipis, melihat ekspresi Maya seperti itu ia yakin jika kakak iparnya itu menyimpan rasa pada Daren, selama ini ia selalu mencari perhatian Daren, berpura-pura lemah di hadapan Daren, sehingga Daren selalu membela Maya jika ada keributan antara Maya dan Arnie.
"Kamu dukun? Kok sok tahu isi hati mas Daren. Biarpun dia bilang ke semua orang kalau dia gak cinta sama aku, tapi siapa yang tahu isi hati dia yang sebenarnya! Yang jelas tadi malam dia memang peluk aku sampai aku gak bisa gerak sama sekali," ucap Arnie.
Maya mengepalkan tangannya, sementara Arnie hanya tersenyum tipis, merasa puas mengatakan itu dan melihat ekspresi Maya. Sementara Murni menatap Daren dengan tajam, hal itu membuat Daren melangkah pelan kearah sang mama.
"Mah, aku bisa jelasin!" ucap Daren.
"Mama gak mau dengar apa-apa, terserah kalian tadi malam mau ngapain. Sekarang yang penting Arnie masak untuk sarapan, Mama dan Clarisa sudah lapar!" ucap Murni.
"Arnie, cepat buatkan sarapan untuk mama!" ucap Daren.
Tanpa banyak bicara Arnie berjalan meninggalkan mereka, ia tersenyum karena tiba-tiba memiliki ide untuk mengerjai mereka.
"Aku akan buatkan sarapan spesial untuk kalian hari ini," gumam Arnie dalam hati.