Dengan perasaan malu, Shakira mengamati dirinya di cermin kamar mandi. Ia benar-benar melihat tanda bekas ciuman seseorang. Bukan hanya satu, ada beberapa di leher, pundak dan dadanya. Shakira merabanya, ada getaran aneh yang ia rasakan. Ia juga meraba bibirnya yang terasa lebih tebal dan bengkak.
‘Itu kamar siapa? Tapi tak ada siapa pun di sana?’ batin Shakira penasaran, lalu segera memakai baju yang ia dapatkan dari Amelia.
‘Oh tidak! Apalagi ini? Kenapa pagi begini harus memakai gaun resmi seperti ini?’
Shakira menggerutu dalam hati. Lebih-lebih potongan baju yang agak rendah itu tak bisa menutupi tanda merah di leher dan pundaknya.
‘Sial! Sepertinya aku harus memakai syal tinggi untuk menutupinya. Ah tapi pasti akan terlihat aneh, kan? Ini masih terlalu pagi!’ gerutunya dalam hati.
Tok! Tok! Tok!
"Nona, apa Anda baik-baik saja?'' panggil Amelia dari balik pintu kamar mandi.
"I... Iya, sebentar lagi aku selesai,'' Shakira menjawab dengan gugup, karena terlalu lama diam di kamar mandi.
‘Kurasa Amelia harus menolongku.’
"Amel, boleh kan aku memanggilmu begitu?'' Shakira mendekati Amelia yang disambut wajah cerah gadis itu.
"Iya Nona, dengan senang hati!'' jawabnya merasa lebih dekat dengan majikan barunya itu.
"Ini, apa ada syal? Aku butuh syal, gaun ini membuatku tak nyaman dengan potongan rendah begini.'' Amelia langsung bergegas membuka lemari pakaian yang ada di sebuah ruangan sebelah kamar mandi.
"Di sini Nona, Anda bisa memilih syal, atau Nona ingin mengganti baju? Maaf itu tadi atas pilihan Bu Anna.''
"Kalau begitu syal saja. Aku tak ingin mengecewakan Bu Anna yang telah repot-repot memilihkan baju ini untukku,'' sahut Shakira yang langsung menambah kekaguman Amelia yang terpancar dari tatapan dan sikapnya.
Selama bekerja sebagai asisten rumah tangga di beberapa orang kaya, ia baru kali ini menemukan majikan yang begitu pengertian dan baik hati. Apalagi pemilik rumah ini adalah orang-orang dari golongan orang-orang yang kelewat kaya.
"Amel, semalam itu kamar siapa?'' tanya Shakira setelah mengenakan syal pilihannya dengan warna pastel yang senada dengan gaun berleher sabrina yang ia kenakan. Amelia kini sedang menyisir rambut panjang dan ikal Shakira yang lembut dan cantik.
"Itu, Kamar Tuan Aksa,'' Amelia menjawab sambil melihat rambut Shakira yang bergulung-gulung indah di bawah dengan alami.
‘Aksa? Apa dia calon suamiku? Apa jangan-jangan dia pelakunya semalam?’ Pikiran Shakira bekerja dengan cepat.
"Apa dia ada di sini?'' tanya Shakira takut-takut.
"Tidak, Nona, Tuan Aksa sedang ada di Amerika dan belum pulang kembali sejak setahun terakhir,'' lanjut Amelia dengan memasangkan jepitan rambut di pinggiran rambut Shakira.
‘Lalu bagaimana dengan kiss mark ini?’
"Apa kamar itu berhantu?''
"Ah, Nona! Itu, itu... Saya, saya tidak tahu, tapi, tapi kenapa Nona berpikir demikian?'' Amelia tiba-tiba tergagap ketakutan, spontan membuatnya celangak-celinguk memandang sekitarnya. Shakira tergelak melihat pantulan diri Amelia yang ketakutan di cermin.
"Jadi kamar itu tak berpenghuni?'' tanya Shakira dan membuat Amelia langsung mengangguk dengan gugup.
"Oke, ya sudah kalau begitu.''
"Nona Anda terlihat cantik sekali,'' puji Anna bersungguh-sungguh dari balik pintu kamar yang terbuka, ia datang untuk menjemput Shakira agar segera sarapan pagi karena waktu untuk sarapan pagi telah lewat, begitu juga vitamin yang harus diminum gadis itu.
''Terima kasih Bu Anna,'' jawab Shakira tersenyum sekedarnya, walaupun begitu tetap tak bisa menutupi aura kecantikannya.
"Mari Nona sudah waktunya Anda harus sarapan. Anda tak boleh melewatkan sarapan pagi. Mari ikuti saya.'' Anna berjalan mendahului Shakira menuju ruang makan yang cukup besar dan menyediakan kursi untuk lima orang.
Setelah selesai sarapan, kini Shakira sedang berdiri menyongsong kedatangan laki-laki berusia lanjut dengan tubuh tambun dan perutnya yang agak buncit. Namun aura laki-laki paruh baya itu terlihat sangat mendominasi dan kuat.
"Oh... Shakira sayang! Cucuku Shakira!'' pekik laki-laki paruh baya berambut putih itu dengan senyum mengembang langsung memeluk Shakira dengan sikap bangga.
'Cucu?’
Shakira terbelalak dengan apa yang ia dengar. Laki-laki tua itu terkekeh. Gurat ketampanan yang menghiasi wajah keriput itu masih terlihat jelas di mata Shakira yang berdiri sangat dekat dengannya.
"Kenapa kau begitu terkejut? Sebentar lagi kau akan menikahi cucuku, tentu saja kau akan menjadi cucuku juga, kan?'' Laki-laki tua itu merebahkan dirinya di atas kursi besar di ruangan besar itu.
"Iya, Kakek benar,'' sahut Shakira tersenyum canggung.
"Melihatmu yang seperti ini rasanya waktu berlalu sangat cepat. Aku jadi merasa tua. Orang tua ini sepertinya sudah sangat lelah. Kau pasti lupa dengan Kakekmu ini, Shakira,'' ujarnya terbahak-bahak. Shakira menahan tawanya.
Anna datang dengan seorang pelayan yang membawa nampan dengan teko teh dan dua cangkir berserta tatakannya. Lalu wanita itu dengan anggun meletakkannya di atas meja yang ada di hadapan mereka. "Ah terima kasih Anna. Aku memang sangat haus. Tapi aku ingin tanpa gula.''
"Baik Tuan Besar,'' sahut Anna dengan senyum khasnya. Lalu ia juga menuangkan air teh ke cangkir Shakira dan meletakkan gula dengan potongan balok mungil itu di sebuah stoples kecil. Shakira pun mengucapkan terima kasih kepada kedua wanita itu yang kembali ke dapur.
"Maksud Kakek, kita pernah bertemu?'' Shakira bertanya dengan antusias.
"Oh bukan hanya bertemu, Nak, tapi keluarga kita memang sangat dekat. Aku ini, Si Tua Othman adalah teman baik Kakekmu, Ansel. Dan melihatmu yang seperti ini aku jadi teringat padanya,'' kenang kakek tua itu dengan menatap Shakira penuh arti.
"Oh, Anda Kakek Othman? Kakek yang dulu sering datang ke rumah?'' Shakira mencoba mengingat.
"Ya, kau masih mengingatnya?''
"Shakira ingat seorang Kakek yang selalu datang dan membawakan permen dan manisan yang membuat gigiku jadi sakit!''
Mendengar ucapan Shakira keduanya tertawa berderai. Keduanya terlihat saling berebut bercerita dengan antusias hingga para pelayan melihat keakraban mereka yang benar-benar seperti seorang Cucu dan Kakek. Namun, tak berapa lama tawa itu terhenti berganti suasana tegang yang tiba-tiba menyeruak di seluruh ruangan. Pak Tua Othman menyeruput teh tanpa gula yang masih hangat. Laki-laki mendesah dengan berat.
"Shakira, apa kau tahu alasan kenapa kamu harus di bawa kemari? Maaf, Kakek harus menggunakan cara seperti ini. Karena kau terus melarikan diri.''
Shakira menegakkan punggungnya dan mulai merasakan aura ketegangan yang ada. Ia diam menunggu.
''Ya, mungkin itu yang terbaik melihat mereka juga menginginkanmu.''
‘Mereka?’
"Tapi Kakek lebih berhak mendapatkanmu karena semua ini Kakek lakukan untukmu, Nak, dan juga untuk Natarina, Mamamu. Karena ini merupakan wasiat dan perjanjian Kakekmu Ansel pada Kakek.''
"Perjanjian?'' ulang Shakira tanpa sadar.
"Ya, benar! Kakek berdua sahabat baik sejak masih Sekolah sampai membuat usaha bersama. Dan karena itulah kami berdua membuat kesepakatan untuk saling mengikat persaudaraan dengan menikahkan anak-anak kami.''
"Tapi Papa?''
"Ya. Karena kami berdua hanya punya satu anak laki-laki saja. Akhirnya kami batal merencanakan itu hingga kau lahir. Kelahiranmu benar-benar membawa kebahagiaan tersendiri buat kami. Kau tahu itu?''
Shakira menganga dengan wajah haru bercampur senang. Laki-laki tua itu menatap Shakira dengan tatapan penuh kasih sayang. "Lalu dibuatlah perjanjian itu kembali.''
"Eeemm... tapi Kakek tak ada di pemakaman Kakek dan Papa? Maaf maksud Shaki ....'' tanya Shakira dengan tak enak hati. Kakek Othman menepiskan tangannya memaklumi.
"Saat itu Kakek juga mengalami kesedihan luar biasa yang membuat Kakek jatuh sakit. Apa kau tak tahu, Anak dan Menantu Kakek ada dalam satu pesawat itu?'' Kakek Othman mulai berkaca-kaca. Shakira membekap mulutnya yang menganga terkejut. Gadis itu bergegas mendekati Kakek Othman dan mengelus pundak laki-laki itu.
Kakek Othman tertawa. “Tidak apa-apa, Nak. Itu semua sudah berlalu,'' Orang tua itu beralih kepada Shakira yang menatapnya dengan rasa duka yang mendalam.
"Terima kasih telah mengasihani laki-laki tua ini.'' Lagi-lagi kakek Othman terkekeh walau masih berkaca-kaca, ''Apa kau tahu? Kalau saja sekarang Kakekmu ada di sini dia pasti sedang menertawai Kakek. Heh, Othman kau ini laki-laki atau perempuan? Pakai rok sana!' Begitu pasti,'' Laki-laki tua itu tertawa berderai diikuti tawa Shakira yang menatap lucu Kakek tua itu mengikuti gaya Kakeknya.
"Jadi kau menerima pernikahan ini kan?'' Kakek Othman tiba-tiba berkata langsung ke inti permasalahan.
"Itu... Itu yang Shaki mau tanya, Kek. Apa setelah Shaki menikah, Mama Shaki akan dibebaskan?'' tanyanya dengan terus terang.
"Dibebaskan? Memangnya siapa yang menculik Mamamu?'' sahut laki-laki tua itu. Shakira melongo bengong.
‘Hah? Jadi?’
Lagi-lagi Kakek itu terkekeh.
"Ini pasti ulah bocah itu. Mana dia? Max, Panggil dia! Bukannya dia sudah datang lebih dulu? Panggil dia Max!'' perintah Kakek Othman setengah berteriak. Max yang berdiri tak jauh dari ruangan itu bergegas melaksanakan perintah tuannya.
‘Dia?’
"Maksud Kakek tadi apa?'' Shakira mengulangi.
"Iya, Kakek datang dan berbicara panjang lebar dengan Mama kamu. Kakek sangat merindukannya. Apa kau tahu berapa tahun Kakek mencari kalian? Maafkan Kakek yang tak datang tepat waktu saat kalian dalam masalah itu, tapi Kakek akan mendapatkan rumah itu kembali nanti,''
Shakira menggeleng sedih. "Tidak apa-apa Kek.''
"Lalu Mamamu setuju untuk ikut kami, dan Kakek mengirim Max untuk menjemputmu setelah kau pulang ke rumah. Memangnya apa yang terjadi?''
Dengan wajah bersungut-sungut Shakira menceritakan menemukan tulisan ancaman penculikan Ibunya di balik pintu hingga ia harus berdebat dengan Max, karena merasa terancam akan keselamatan Ibunya. Bahkan karena itu pulalah yang membuat Shakira pingsan. Kakek Othman tergelak tak percaya saat mendengar semua penuturan Shakira.
"Dasar bocah kurang ajar! Dia itu nakal sekali! Mana dia!''
"Aku di sini, Kek.''
Shakira menoleh ke sumber suara yang berasal dari belakangnya langsung terkejut dengan sosok itu sampai membuatnya berdiri. "Kamu!''
"Iya, Shakira. Dia inilah calon suamimu!''
"Apa? Axel?''
Axel tersenyum miring dengan angkuhnya, sementara Shakira menatap tak percaya.
‘Yang benar saja!’