"Ada apa ini? Kalian sepertinya sudah saling mengenal, tapi Kakek rasa bukan dalam keadaan baik. Apa itu benar?'' Kakek Othman memandang keduanya bergantian.
Spontan Shakira menghela napas dengan kesal dan menceritakan kejadian saat pertama kali bertemu Axel, seperti anak kecil yang sedang mengadukan kenakalan Kakaknya pada orang tuanya. Kakek Othman mendengarnya dengan antusias di selingi gelak tawanya menatap Shakira yang bersungut-sungut.
"Ya, mau bagaimana lagi. Axel sedang bosan, Kek. Apalagi saat tahu kalau dia pandai berkelahi, makanya Axel iseng sekalian saja,'' sahut Axel dengan santai sambil duduk di seberang kursi Kakeknya.
"Iseng! Yang benar saja!'' Shakira bersedekap defensif dan memandang Axel dengan masam, akan tetapi laki-laki tampan yang mempunyai lesung pipi itu mengabaikannya dengan sikap santai. Bahkan ia meneguk teh manisnya yang telah dingin.
"Iya Kek! Coba Kakek melihat sendiri, saat dia menghajar penjambret di jalanan, lalu menghajar preman-preman itu, kasihan Si Botak dia sampai sekarang 'adik’nya tidak bisa berdiri dengan benar karena di tendang dia! Keren sekali, Kek!'' Axel mengabaikan kekesalan Shakira dan sibuk bercerita pada Kakeknya hingga mereka tergelak bersama.
"Apa maksudmu? Jangan bilang mereka orang-orang bayaranmu?'' Shakira menebak-nebak. Dan Axel mengangguk dengan mantap yang langsung membuat Shakira melotot padanya.
"Hanya dua preman itu saja,, itu juga gara-gara aku melihat gayamu menghajar penjambret itu sangat .... Wow!'' Axel tertawa di sela gayanya mempraktikkan pukulan-pukulan Shakira. Kekesalan Shakira makin meledak jika saja ia tak melihat seseorang yang datang.
"Heh! Kamu ....!''
"Wah, wah ada apa ini, ramai sekali ya?'' Semua orang menoleh ke arah sumber suara, terutama Shakira yang sangat hafal suara tersebut.
"MAMA...! MAMAAAAA...!"
Shakira berlari memeluk Ibunya yang berjalan dengan anggun ke arahnya.
"Mama sehat? Mama baik-baik saja, kan?'' ucap Shakira berkaca-kaca sambil mengitari Ibunya untuk memastikan bahwa Ibunya baik-baik saja. Dan hal itu membuat Ibunya tergelak.
"Shakira, sayang... Mama baik-baik saja, Nak! Seperti yang Shaki lihat! Nih, Mama memakai sepatu hak tinggi lho,'' Natarina tertawa renyah dan Shakira baru menyadari penampilan Ibunya yang sangat berbeda dengan gaun setengah resmi yang ia pakai.
Shakira langsung memeluk Ibunya dengan sangat erat dan sempat terisak. Natarina tersenyum haru dan menghapus air mata Shakira dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau Mama sampai kenapa-kenapa Shakira bakal mati Ma,'' Shakira kembali berlinang mata.
"Hei, jangan menangis begitu, nanti cantiknya Anak Mama hilang, loh. Sudah, sudah,'' Natarina mencium kening Shakira dan memeluknya dengan erat kembali.
"Axel! Lihat! Itu karena perbuatanmu! Kau harus bertanggung jawab, hei bocah!'' sergah Kakek Othman dengan keras walau sebenarnya hanya ingin bercanda.
"Tentu saja, Kek. Aku ini pria sejati. Tentu saja aku akan bertanggung jawab sepenuhnya!'' Axel menjawab sambil menatap Shakira yang kini duduk bersebelahan dengan Ibunya dan berhadapan dengan Axel. Shakira hanya mencibir masam.
"Axel menjaga Mama dengan sangat baik,'' lanjut Natarina yang kemudian menatap Axel dengan terima kasih.
"Jadi Mama tinggal sama dia?'' potong Shakira terkaget-kaget.
"Bersama Kakek Othman tentunya, dan Axel juga tinggal di sana, dan sekarang akan semakin lengkap karena ada Shaki,'' Natarina menggenggam erat tangan Shakira yang kini kembali tersenyum pada ibunya.
"Iya, Ma,'' ucap Shakira lembut.
Tak beberapa lama Anna dan seorang asisten rumah tangga membawa baki cangkir teh untuk Axel dan Natarina. Lalu di belakang lagi menyusul dua orang asisten rumah tangga yang mengantre dengan baki penuh kue-kue. Mereka menerima hidangan makanan itu dengan wajah riang dan sangat berterima kasih.
Lalu setelah kepergian mereka, mereka segera makan dan minum kue-kue itu dengan senda gurau masa lalu tentang masa kecil Shakira dan Axel yang hanya sesekali bertemu namun tak pernah akur. Shakira dan Axel mendengar itu hanya bisa terkejut, malu serta menahan gelak tawa melihat Kakek tua Othman dan Natarina tertawa berderai mengenang semua itu.
Hingga ada perasaan duka yang mendalam saat kenangan mereka bergulir kepada kecelakaan pesawat yang merenggut Ayah dan Kakek Shakira serta kedua orang tua Axel.
"Jadi, mari sekarang kita menatap masa depan dan menatanya agar menjadi lebih baik lagi. Dan, karena semua sudah berkumpul mari kita mulai saja pembicaraan mengenai ikatan kedua keluarga kita. Walaupun satu cucuku belum bisa pulang hari ini,'' Kakek Othman kembali memulai percakapan utama mereka setelah sempat terdiam.
"Tidak apa-apa, Kek, lebih cepat lebih baik, lagi pula Kakak sudah mendengar kabar pernikahan ini.'' Axel menyela kakek Othman dengan cepat.
"Cucuku satu ini memang suka tak sabar ya! Baiklah, baiklah. Memang seharusnya semua segera disiapkan untuk mempercepat pernikahan ini.''
"Bulan depan!'' Axel menjawab dengan antusias.
"Tunggu! Kek, Ma, bukannya seharusnya kan sebelum menikah itu pacaran dulu, bertunangan dulu ....''
"Minggu depan!''
"Apa? Tunggu!''
"Besok!''
"Yang benar saja!"
Shakira berdiri dengan tegang. Membuat semua mata tertuju padanya dengan tatapan terkejut. Hal itu membuat gadis cantik bertai lalat manis di pipi itu jadi merona salah tingkah.
Shakira berusaha memberi kode kepada Axel yang dengan cueknya mengunyah potongan kue keju di sendok kecilnya. Namun karena terus diabaikan. Akhirnya Shakira dengan memberanikan diri menegur Axel. "Axel, aku ingin bicara berdua.''
Tanpa menunggu jawaban, Shakira meninggalkan ruang keluarga menuju lorong yang menghubungkan ruangan samping. Bertepatan dengan Amelia datang dengan tergopoh-gopoh dengan baki yang bergetar-getar berasal dari ponsel Shakira.
"Nona maaf mengganggu! Nona Shakira ini ponsel Nona berdering terus-menerus sejak tadi. Ada yang menelepon Nona.'' Amelia menjelaskan sambil takut-takut menatap ke arah Shakira dan semuanya.
"Tidak apa-apa, terima kasih Amel,'' sahut Shakira sambil mengambil ponsel dari baki yang dibawa Amelia dan wajahnya terlihat berbinar saat menerima panggilan telepon itu. Axel yang semula ingin mengacuhkan Shakira hanya untuk menggodanya, kini dengan bergegas ia mengikuti ke mana Shakira melangkah pergi setelah melihat raut wajah gadis itu yang terlihat senang dan merona.
"Halo, Pak?'' sapa Shakira saat melihat nama 'Pak Martin' yang terpampang di layar ponselnya.
"Halo Shakira? Ada apa, seharian ini kamu tidak ada kabar? Biasanya kamu selalu memberitahuku kalau kamu absen kerja? Lihat, baru ke sebelas kali kau baru angkat teleponku. Ada apa?'' cecar Martin terdengar sangat khawatir.
"Maafkan saya, Pak, saya ada sedikit masalah keluarga dan saya tidak sempat memberitahu Bapak ....''
"Ada apa? Kamu ada masalah apa?'' Suara Martin makin terdengar panik.
"Em... Ibu saya sedikit tidak enak badan, jadi ....'' Dengan kesal Axel menatap Shakira yang sibuk menjelaskan kepada seseorang di telepon, hingga tak lama kemudian Shakira mengakhiri pembicaraan.
"Kau membawaku ke sini hanya untuk melihat kemesraanmu dengan pria lain?'' sindir Axel.
“Maaf, maksudku, aku ingin bicara berdua dan membuat kesepakatan denganmu,'' Axel diam menunggu, "bagaimana kalau pernikahan ini dijadikan pertunangan dulu?'' lanjut Shakira mengalihkan matanya dari tatapan Axel yang makin tajam seolah merobek hatinya.
"Ya, kau tahu, kita berdua belum lulus kuliah, dan aku sibuk bekerja juga ....''
"Lalu?'' Tatapan Axel menajam.
"Aku masih ingin kuliah dan bekerja! Makanya aku ingin kita bertunangan dulu, lagi pula kau selalu dikelilingi perempuan jadi, emm jadi ....''
"Kau hanya membuang-buang waktuku, Nona!'' Axel melangkah perlahan mendekati Shakira yang otomatis mundur perlahan hingga ia tanpa sadar terjebak di dinding.
"Kau ingin mengulur-ulur waktu dan melarikan diri dari pernikahan ini?'' Axel mengungkung Shakira di dinding. Tatapan mereka saling bertemu.
"Aku, aku hanya tak ingin kehilangan kehidupanku! Pekerjaan! Pertemanan dan kuliahku,''
"Baiklah! Kau akan dapatkan apa yang kau inginkan, Nona.''
"Te...terima kasih!''
Axel mendekatkan bibirnya ke bibir Shakira dan membuat gadis itu menahan napas beberapa saat.
"Sesuai permintaanmu, Nonaku!'' bisik di bibir Shakira, hingga sedikit bersentuhan sebelum akhirnya Axel beranjak pergi.
Shakira terengah menatap punggung Axel yang menjauh. Tanpa sadar jantungnya berdegup kencang seperti melompat keluar. Di sisi lain ia juga merasa lega, karena Axel ternyata tidak sesulit perkiraannya. Akan tetapi, kelegaan itu seperti embusan angin.
"KAKEK! SHAKIRA INGIN KITA MENIKAH BESOK!"
‘APA!’
Shakira terbelalak, mendengar teriakan Axel yang langsung di sambut suara tawa riuh dari ruangan itu dan suara-suara perintah Sang Kakek untuk segera menyiapkan segala sesuatu secepatnya. Shakira mengepalkan tangannya dengan kesal dan menarik lengan Axel agar menghadapnya. Dengan wajah tanpa dosa, Axel menatap Shakira berpura-pura kaget.
"Sialan! Apa maksudmu? Bukankah aku sudah bilang, aku tak melepaskan kehidupanku! Pekerjaanku, kuliah dan teman-temanku!'' Shakira mendorong Axel hingga ke pintu hingga membuatnya tertutup.
"Hei, jangan marah. Aku akan memenuhi keinginanmu, kau akan tetap kuliah dan ... bekerja!'' Axel mengendikan bahu dengan santai kepada Shakira, ''kau inginkan itu, dan aku ingin kita segera menikah!''
"KAU ....!"
Shakira mendorong d**a Axel kuat-kuat menahan kesal, akan tetapi hal itu dimanfaatkan Axel untuk menarik kedua tangan Shakira dan mendekap gadis itu, hingga tanpa Shakira sadari bibirnya telah berada dalam pagutan bibir Axel. Shakira terbelalak, namun tak bisa mengelak.
Axel memperdalam lumatannya, hingga membuat Shakira terengah di tenggorokannya. Namun, ketika Axel berhasil meraih tengkuk Shakira untuk memperdalam aksinya, Shakira menggigit bibir Axel dan mendorongnya menjauh.
Axel meraba bibirnya yang memerah, menatap Shakira yang memerah dan berkaca-kaca. "Kurang ... ajar!'' pekik Shakira dengan suara tertahan dan bibir gemetar.
"Kenapa marah? Besok kita akan menikah dan kau akan menjadi istriku, apa salahnya?'' Axel mendekati Shakira, ''apa jangan-jangan ini adalah ciuman pertamamu?''
Shakira terbelalak malu sebelum akhirnya melarikan diri dari hadapan Axel.
‘Dasar br***sek kau Axel!’